Kamis, 05 April 2012

Crush


warning : fash and confusing plot, hurt failed

if you don't like, don't read
don't bash the author and any character in this story
this story is mine, please don't plagiat



 CRUSH
By : danhobak15
Inspired by : Sandeul B1A4 song – Crush
.

.

.

Aku menyukainya. Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya di hari pertama menginjakkan kakiku di sekolah ini pada tahun ajaran baru dua setengah tahun yang lalu. Beruntungnya selama hampir tiga tahun ini aku selalu satu kelas dengannya.

Dia gadis yang manis, tidak terlalu menonjol tapi menguasai berbagai hal. Dia juga gadis yang sangat ramah dan baik. Meski dia terlihat seperti anak-anak, dia adalah gadis yang berpikiran luas dan dewasa. Hampir semua masalah yang ku ceritakan padanya selalu mendapatkan tanggapan yang bijaksana. Satu keberuntungan lagi karena aku bisa menjadi sahabat baiknya, meskipun hal itu juga menjadi bencana untukku.

Bagaimana bisa aku mengatakan perasaan sukaku padanya jika statusku adalah sahabatnya? Memuakkan. Dadaku selalu ingin meledak jika mengingat itu.

“Sandeul, pagi-pagi sudah melamun...” sapanya sambil mengambil tempat di depanku. “Ada yang sedang kau pikirkan?”

Aku mengangguk dan tersenyum padanya, “Tak terasa ini tahun terakhir kita di sekolah ini,” kataku sambil mengingat bahwa aku sudah kelas 3 SMA.

“Benar, tak terasa ya? Padahal aku selalu merasa baru kemarin bertemu denganmu.”

“Waktu selalu meninggalkan kita. Memaksa mengubur kita dalam masa lalunya,” kataku sedih.
Sebentar lagi kelulusan, tak sampai, tinggal 6 bulan lagi. Setelah itu apa aku bisa bertemu dengannya lagi? Apa aku bisa melihat senyumnya lagi? Dan dalam waktu sesingkat itu apa aku bisa mengatakan perasaanku padanya?

“Kok melamun lagi,” tegurnya sambil melambai-lambaikan tangannya di depanku. “Ada yang dipikirkan lagi?”

‘Kau yang ada dipikiranku,’ ingin sekali aku menjawab seperti itu tapi yang ku lakukan adalah tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak ada yang menarik dipikiranku.”

“Haah~ kau....” dia meninju bahuku.

Aigo~~ sakit Hyomin.” Aku memegangi bahuku yang malang. Bagaimana tidak Hyomin adalah master taekwondo di sekolah, meski dia memukul pelan tetap saja sakit!

.

.

.

.

.

“Hai, Sandeul....” sapa seseorang.

Siapa sih? Apa tidak ada yang tahu kalau hari ini mood-ku sangat buruk? Yeah~ memang tak ada yang tahu karena aku memang tidak cerita pada siapa pun, bagaimana mereka bisa tahu?

Aku menoleh ke sumber suara dan cukup terkejut melihat siapa yang melambai-lambaikan tangannya penuh semangat di seberang jalan. Jinyoung hyung, kakak kelasku di SMP sekaligus sepupu jauhku. Ternyata dia baru datang dari Jepang, Jinyoung hyung memang meneruskan sekolahnya di sana.

Aku berlari ke arahnya dan langsung berhambur memeluknya, “Hyung, aku merindukanmu....” kataku dalam pelukannya.

Aku mendengar dia terkekeh geli melihat tingkahku, “Kau ini masih seperti anak kecil, ingat kau sudah kelas 3 SMA. Bagaimana bisa punya pacar kalau sikapmu seperti ini?” godanya.

Aku mempout bibirku sebal. Bukannya memberiku oleh-oleh malah aku diceramahi olehnya, dasar orang tua. “Kapan Jinyoung hyung sampai di sini? Kenapa tidak memberitahuku?” tanyaku sambil menariknya masuk ke dalam sebuah kedai kopi di dekat situ.

“Baru kemarin aku sampai. Maaf tak sempat memberi tahumu. Apa itu yang kau bawa?”

“Biasa eomma menyuruhku belanja,” jawabku sambil melirik kantong belanjaan di sampingku.

“Bukan yang itu tapi.....,” Jinyoung hyung menarik sesuatu dari kantong belanjaanku, “Ini? Kado untuk pacarmu ya? Huwaaa~~ adik kecilku ini sudah punya pacar ternyata,” katanya sambil mengacak-acak rambutku.

“Gyaa~~ hentikan,” aku menepis tangannya yang bersemangat menghancurkan tatanan rambutku. “Itu bukan untuk pacarku tapi temanku. Aku tidak punya pacar...” aku merebut kotak berwarna merah yang tadi Jinyoung hyung ambil. Buru-buru aku masukkan kotak itu ke dalam saku mantelku.

“Teman atau teman?” Jinyoung hyung menekan setiap kata-katanya. Sepertinya hyungku yang bermata sipit ini mencurigaiku. Hei, aku bukan pencuri..!!

“Teman. Dia teman baikku. Besok, hari ulang tahunnya,” jawabku sekenanya. Memang itu kenyataannya. Besok adalah ulang tahun Hyomin.

Jinyoung hyung mencebikkan bibirnya dan mengangguk-angguk. “Aku percaya tapi kau tidak bisa berbohong padaku, Sandeul. Aku yakin kalau dia teman yang selalu ada di hatimu.”

Deg! Bagaimana Jinyoung hyung bisa tahu? Apa selama di Jepang dia belajar meramal atau membaca pikiran orang. Aku mulai gugup menghadapi Jinyoung hyung. Jangan sampai dia tahu kalau aku suka pada Hyomin.

“Wajahmu itu tidak bisa berbohong, Sandeul. Lihat sekarang pipimu itu memerah. Hahahaha.....kau lucu sekali Sandeulie,” ejeknya.

Aku menatapnya sebal. Tega sekali dia menertawakanku. “Iya, aku menyukainya,” kataku jujur. Kalau terus bohong bisa dipastikan aku akan habis ditertawai olehnya. “Sayangnya aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.”

“Dia tahu kau menyukainya?” tanya Jinyoung hyung bijak. Dari suaranya terdengar seperti itu.

Aku menggeleng pelan. “Dia tidak tahu. Selama ini aku bingung apakah aku harus mengatakan rasa sukaku ini. Aku sangat khawatir kalau aku tidak bisa menahan semua ini terlalu lama.”

“Katakan saja padanya. Jangan pedulikan dia tahu atau tidak. Jangan sampai kau menyesal karena terus-terusan memendamnya sendiri.”

“Bagaimana kalau dia membenciku?”

Alis Jinyoung hyung naik sebelah. “Yang penting kau sudah mengatakannya. Tidak ada yang orang bisa membenci orang yang menyukainya dengan tulus. Dan jangan pedulikan dia menerimamu atau tidak. Hal-hal yang seperti itu hanya menghalangimu, jadi katakan saja apa pun resikonya.”

Aku terdiam meresapi nasehat dari Jinyoung hyung. Benar juga. Karena aku terlalu memikirkan hal-hal itu, aku jadi takut mengatakan perasaanku. Baiklah, besok aku akan mengatakan semuanya pada Hyomin tidak peduli dia suka atau tidak.

“Hwaiting!!” seru Jinyoung hyung memberiku semangat sambil mengepalkan tangannya.
Aku membalasnya dengan tersenyum. Terima kasih hyung, kau memang yang terbaik. Hehehehehe.....:D

.

.

.

.

.

Ku percepat langkah kakiku melintasi lorong kelas 3. Aigo~~ kenapa aku merasa jauh sekali jarak kelasku dengan pintu gerbang sekolah? Lain kali aku akan memberi usulan ke pihak sekolah untuk memperpendek jarak kelasku dengan pintu gerbang.

“Hyoo...min,” ucapku tertegun melihat pemandangan di depanku. Aku melihat Hyomin sedang mengobrol dengan Gongchan yang seingatku adalah adik kelasku.

“Sandeul,” sapanya gugup. Sedangkan Gongchan hanya menatap menunduk tak berani menatapku. Mereka terlihat seperti orang yang tertangkap basah melakukan tindakan kriminal.

“Apa aku mengganggu?” tanyaku berusaha menetralisir suasana.

Gongchan terlihat melirik ke arah ke arah Hyomin sebentar. “Ehm, tidak sunbaenim. Kami hanya membicarakan tentang klub taekwondo,” jawab Gongchan sambil sesekali melirik ke Hyomin.

Aku mengangguk maklum, “Kalian bisa lanjutkan,” kataku sambil melangkah santai ke arah bangkuku yang ada di pojok belakang.

“Gongchanie, kita lanjutkan di tempat lain saja,” kata Hyomin sambil menarik Gongchan keluar kelas.

Dahi mengenyit, aku tak salah dengarkan? Dia panggil apa tadi? Gongchanie? Yang benar saja. Aku yang sahabatnya saja tak pernah dipanggil semanis itu. Jangan-jangan? Tadi mereka itu? Aigo~~ aku bisa gila kalau seperti ini terus. Tanpa sadar tanganku mengacak-acak rambutku frustasi.

“Hei, Sandeul, kerasukan setan ya?” tanya Baro yang baru datang sambil menetapku takut.

Aku mendengus kesal. Enak saja aku dikira kerasukan setan tapi memang benar sih, ah, terserah. Sekali lagi kau mengacak-acak rambutku. Nafasku menderu setelah meluapkan kekesalanku pada rambut kesayanganku.

Sepertinya aku harus ke toilet. Tidak mungkin aku akan sekolah dengan rambut berantakan seperti tarzan. Kemana muka gantengku kalau itu sampai terjadi?

“Mau kemana?” tanya Baro lagi.

“Ke dukun. Keluarin setan,” jawabku sekena. Aku masih sempat mendengar dia berteriak, “Sandeul, kau sudah gila ya? Kalau cemburu bilang saja.”

Ingin sekali aku menyumpal mulut embernya itu dengan sepatu. Untung saja ini masih terlalu pagi untuk membuat kekacauan. Jadi, pagi ini kau selamat Baro!

.

.

.

.

.

“Saranghae....”

Entah kata itu meluncur dari siapa, aku tidak tahu. Tubuhku mendadak membeku sama sekali tak bisa digerakkan. Mataku terasa panas dan dadaku terasa sesak.

Saat aku baru keluar dari kamar mandi tadi, aku sengaja berjalan memutar sekedar untuk jalan-jalan. Masih terlalu pagi kembali ke kelas. Tapi yang kutemukan di taman belakang sekolah adalah Hyomin berpelukan dengan Gongchan sambil terus menggumamkan kata ‘Saranghae’.

Apa ini? Apa ini yang harus ku terima karena berani menyukai sahabatku sendiri? Tapi aku kan belum menyatakan perasaanku? Kenapa seperti ini? Kenapa?

Tanpa terasa kakiku melangkah meninggalkan Hyomin dan Gongchan. Tangan kananku meremas seragamku sebelah kiri. Kenapa rasanya sangat sakit di sini? Kenapa jantungku berdegup sangat kencang? Apa aku sakit jantung?

Aku tidak tahan. Ini terlalu sakit. Apa aku perlu pulang dan pergi ke dokter memeriksakan jantungku? Aku bersandar ke dinding dan mencoba menahan sakit yang aku rasakan. Sekarang nafasku juga terasa sesak.

“Jangan dipikirkan. Anggap tak pernah melihat dan mendengarnya,” kata Baro bijak sambil membimbingku berjalan. Aku tidak tahu anak itu datang darimana, yang aku butuhkan sekarang adalah sebuah uluran tangan. Jadi tanpa protes aku membiarkan Baro menuntunku masuk ke kelas.

“Sandeul kenapa?” tanya CNU, ketua kelasku.

Baro menggeleng. “Kerasukan setan mungkin,” jawabnya sekenanya, membuatku menjadi bahan tertawaan anak satu kelas. Anak ini? Niat membantu gak sih? Baro adalah satu-satunya temanku yang tahu kalau aku menyukai Hyomin. Meski kadang menyebalkan Baro adalah orang yang sangat pengertian.

“Oke~~ kita lanjutkan rapatnya,” kata CNU menengahi. Segera semua penghuni terdiam tak ada yang berani tertawa.

“Sandeul, kau sakit?” tanya Hyomin yang entah sejak kapan pula sudah ada di dalam kelas. Dia mencondongkan badannya dan mencoba menyentuh dahiku.

“Hentikan,” kataku dingin menepis tangannya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa bersikap seperti itu. Apa karena rasa sakit yang aku rasakan saat ini? Baro hanya melihatku saja tanpa mengatakan apa pun.

 “Biarkan dia, Hyomin,” bisik Baro memperingatkan.

“Sandeul....” gumamnya sambil menatapku tanpa mendengar peringatan Baro.

Aku berusaha tidak menoleh padanya. Bukan tak mau tapi aku memang tidak ingin melihatnya saat ini. Sama saja sebenarnya. Mataku memandang lurus pada CNU yang berdiri di depan kelas sambil mengetuk papan tulis meminta perhatian.

“Sandeul...” kata Hyomin sekali lagi.

Aku pura-pura tak mendengar. “Baro, ini rapat untuk apa?” tanyaku pada Baro dan mengabaikan Hyomin yang terus menatapku dengan sedih.

“Untuk festival tahunan, bulan depan,” jawab Baro. “Kau mau tampil? Lumayan untuk kenangan sebelum lulus.”

“Kau?”

Baro tersenyum dan berbisik, “Aku akan memperlihatkan keahlianku sebagai rapper.”

Aku menganggukkan kepalaku paham. “Apa semua siswa diharuskan tampil?”

“Tidak, hanya akan ada lima penampilan dari setiap kelas.”

Pletaaaak.....

Sebuah penghapus tiba-tiba nyasar ke bangkuku. Aku memandang ngeri ke arah datangnya penghapus itu, terlihat pandangan gusar dari CNU. Horor juga ini ketua kelas, kalau penghapus itu mampir ke kepalaku atau Baro bisa-bisa kami langsung masuk rumah sakit.

“Hentikan acara bisik-bisik kalian berdua,” tegur CNU. Aku dan Baro mengangguk mengerti yang dalam kata lainnya adalah takut. Daripada kena semprot CNU mending nurut deh! “Baiklah, kelas kita masih kurang satu penampil lagi, ada yang mau?” tawar CNU yang membuat semuanya terdiam.

“Aku mau....”

Eh, itu suara siapa barusan? Kenapa semuanya menatap ke arahku sekarang? Aku bingung membalas tatapan mereka. Akhirnya setelah tersadar aku menyadari kalau itu tadi suaraku. Aigo~~ Sandeul apa yang kau lakukan? Babo~~

“He..he..hehehehehehehe....” aku nyengir kuda sambil menurunkan tanganku yang tadi terangkat.

“Kau mau menampilkan apa Sandeul?” tanya CNU yang sudah siap dengan buku catatannya.

Mati aku! Aku mau menampilkan apa? Tanpa sadar aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Nanti akan ku pikirkan,” jawabku dengan cengengesan.

“Jangan bercanda, Sandeul,” kata CNU geram.

Aku terkekeh merasa konyol. Aku tatap seluruh penghuni kelas yang melayangkan tatapan membunuh ke arahku. Mati aku sekarang!

“Sandeul, bisa main gitar,” usul seseorang.

Suara siapa itu? Kulihat Hyomin tersenyum ke arahku. Anak ini seenaknya saja bicara, siapa juga yang mau main gitar?! Aku menatapnya sebal, “Aku tidak bisa main gitar,” jawabku ketus.

“Tapi kau....”

“Aku...aku main piano. Catat aku mau main piano,” kataku menekan kata piano sambil melirik jahat ke arahnya.

“Sandeul....” ujarnya lirih.

“Jangan bersikap selalu tahu tentangku,” kataku sarkatis.

Baru aku sadari bahwa efek orang patah hati itu besar sekali. Pantas saja banyak orang yang bunuh diri gara-gara patah patah hati. Dari seseorang yang sangat menyayangi menjadi seseorang yang sangat membenci. Maafkan aku, Hyomin. Aku tidak tahu kenapa aku bisa bersikap seperti ini. Satu hal yang aku tahu bahwa dadaku terasa sesak saat melihatmu.

.

.

.

.

.

“Sandeulie, kau kenapa? Patah hati?” tanya Jinyoung hyung yang kebetulan main ke rumahku. Dia datang menghampiriku yang dari tadi hanya duduk di depan piano sampai piano itu beruban (?)

“Sudah tahu pake nanya segala,” jawabku asal.

“Kau sudah mengatakan padanya?” tanya Jinyoung hyung lagi.

Aku menggeleng, mana bisa kau mengatakannya kalau sudah seperti ini, “Dia sudah punya pacar.”

Jinyoung hyung tersenyum sampai matanya tak kelihatan. “Jadi begitu dan kau menjauhinya?”

“Darimana hyung tahu?” aku balik bertanya padanya. Sepertinya aku mulai yakin kalau Jinyoung hyung belajar jadi peramal di Jepang.

“Dia menunggumu di luar dari tadi. Jangan memperlakukan dia seperti itu jika perasaanmu tak terbalas. Dia bukan tidak menyukaimu tapi dia hanya tidak tahu,” nasehat Jinyoung hyung. “Temui dia. Kasihan, dia tak tahu apa-apa.”

Aku terdiam. Sebenarnya aku tak tega membiarkan Hyomin menunggu di luar hanya saja aku masih tidak bisa menganggap semuanya seperti tidak terjadi apa-apa. Seharusnya aku tahu kalau akan berakhir seperti ini.

“Sandeulie....” kata Jinyoung hyung yang terdengar seperti perintah di telingaku.

Akhirnya dengan langkah gotai aku menemui Hyomin. ‘Tenang Sandeul, semuanya akan baik-baik saja,’ kataku dalam hati berusaha menenangkan diriku sendiri.

“Sandeul...” sapa Hyomin sambil tersenyum saat aku membukakan pintu untuknya.

“Ada apa? Tumben kemari. Tidak pergi dengan Gongchan?”

Hyomin tersentak kaget. Terlihat sekali kalau dia kaget dengan sikapku terhadapnya. “Sandeul, apa aku punya salah padamu?” tanyanya hati-hati. “Katakan saja.”

“Tidak.”

“Tapi kenapa kau tiba-tiba kau menjauhiku? Apa karena Gongchan? Maaf aku tak cerita padamu kalau.....”

“Itu hakmu. Cerita atau tidak, itu hakmu. Dan aku tidak mau tahu itu,” jawabku lagi. Aku merasa kalau setiap kata dari mulutku ini terdengar menyakitkan.

“Katakan saja apa salahku? Aku benar-benar tidak tahu, Sandeul,” mohonnya.

Ingin sekali aku mengatakan, ‘Kau tidak salah apa pun, semua kesalahan ada padaku,’ tapi aku tak mampu. Yang aku bisa, hanya menjawab, “Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Tenang saja.”

“Apa kau ada masalah? Ceritakan padaku?”

“Tidak ada. Aku hanya pusing memikirkan mau mainkan lagu apa untuk festival,” kataku setengah berbohong. Pada kenyataannya selain memikirkan masalah bodoh yang bernama patah hati, aku memang sedang pusing memikirkan lagu apa yang akan ku mainkan untuk festival bulan depan.

Hyomin menundukkan kepalanya sambil memainkan kakinya di tanah. “Aku minta maaf jika aku ada salah. 
Jangan pernah aku menganggapku akan meninggalkanmu karena Gongchan. Bagiku kau adalah temanku dan keluargaku. Jika kau butuh bantuanku katakan saja. Aku akan berusaha semampuku membantumu,” katanya terdengar hampir menangis.

“Hahahahaha....aku sudah sering mendengar yang seperti itu. Pulanglah. Apa perlu ku telpon Gongchan agar menjemputmu di sini?” kataku sambil tertawa sarkatis. Satu fakta lagi yang ku temukan, bahwa orang patah hati itu bisa menjadi orang jahat.

“Sandeul....” ujar Hyomin terkejut.

Apa kata-kataku mengejutkannya? Aku rasa tidak. Aku tidak membentaknya atau pun memarahinya. Kalau menusuk sepertinya iya. Tapi aku tak peduli. Lihat betapa jahatnya aku sekarang!

“Pulanglah. Ini sudah malam. Aku sibuk. Maaf tak bisa mengantar,” kataku sambil menutup pintu.

“Sandeul, aku akan menelponmu nanti,” katanya lagi. Sepertinya dia tak juga menyerah.

“Tidak usah,” teriakku dari dalam rumah.

Ingin rasanya aku melihatnya dari balik tirai tapi aku sudah tak sanggup lagi. Ini terlalu menyakitkan untukku. Kalau tidak ada Jinyoung hyung atau pun Baro mungkin aku tidak bisa bertahan selama ini menghadapi rasa sakit hatiku.

Maafkan aku, Hyomin. Aku hanya tidak ingin membencimu. Jadi biarkan semua seperti ini untuk sementara dan jangan memberi harapan lebih lagi padaku. Aku mohon!

My love, my love
Please open up your mind
I’ve been tired of waiting
So exhausted but so that I won’t fall
Please hold my hand

Terdengar suara petikan gitar dan suara Jinyoung hyung bernyanyi dari ruang tengah. Tanpa sadar aku melangkah menghampirinya. “Hyung.....” panggilku goyah. Kakiku terasa lemas sekarang.

“Kemarilah...” dengan lembut Jinyoung hyung memelukku. Membiarkan aku menangis di bahunya. Jangan heran kalau ada laki-laki menangis. Kami, laki-laki, juga manusia biasa yang bisa merasakan sakit hingga menangis.

“Kenapa rasanya sesakit ini? Dadaku ingin sekali meledak,” ucapku di tengah isakan. Tubuhku benar-benar terasa dingin meski keringat terus mengucur.

“Tenanglah. Masih banyak gadis lain. Kau harus berusaha melepaskannya.”

“Aku tidak bisa, hyung.”

“Cobalah pelan-pelan.....”

.

.

.

.

.                                                                                                  

Suara tepuk tangan di auditorium sekolah terdengar saat aku melangkahkan kaki ke panggung. Aku menatap teman-teman sekelasku yang ada di antara penonton yang memenuhi auditorium. Ekor mataku sempat melihat Hyomin di antara mereka. Meski masih ada rasa sakit saat melihatnya tapi aku berusaha mengatasinya. Hari ini sudah aku putuskan untuk mengatakan perasaanku padanya tanpa peduli dia tahu atau tidak. Jika kalian menganggapku tak tahu diri, silakan. Yang aku inginkan hanya mengatakan perasaanku, dengan begitu aku akan merasa sedikit lebih lega.

Aku membungkukkan badanku memberi salam pada penonton, kemudian berjalan ke arah pianoku. Aku memejamkan mataku dan berdoa, semoga semuanya baik-baik saja. Tak lama kemudian jemariku sudah mulai meraba tuts-tuts piano dan aku mulai bernyanyi.

It’s been so long
Me, liking you and you never know
I worry that I might get caught
Keep thinking if I should say or not
Do you know my mind?
Are you pretending like you don’t know?
Pretending like you can’t overcome it
Can’t you just accept my heart?
My love, my love
Please open up your mind
I’ve been tired of waiting
So exhausted but so that I won’t fall
Please hold my hand
Even I’m talking with people
but I still think of you all day
How to do so I can tell you about my mind
You’re my only one
My love, my love
Please open up your mind
I’ve been tired of waiting
So exhausted but so that I won’t fall
Please hold my hand
Because I love you so much,
Because I like you so much,
Please don’t turn away
Please accept my heart
I’ll make you happy forever
I want to be with you
Can’t you just come to me
My love, my love
Please open up your mind
You’re more important than my life
I love you, Until this world ends 
will you be with me

©Sandeul_B1A4 – Crush (english trans)©

Aku mengakhiri penampilanku dengan baik. Diam-diam aku menghapus airmataku yang jatuh di waktu aku beraksi. Senyumku terkembang menatap ke arah penonton. Pemandangan yang membuatku terkejut adalah hampir semuanya memegang tissue untuk menghapus airmata mereka. Oh~ apakah penampilanku begitu hebat?

Tiba-tiba badanku terasa sakit semua, tubuhku tak dapat bergerak, dan dadaku terasa sesak. Kali ini bukan karena aku patah hati dan bukan karena penonton tidak menyukai penampilanku, tapi karena semua teman sekelasku berlari ke arahku dan memelukku erat hingga aku jatuh terjerembab di panggung tertimpa mereka. Bayangkan isi kelasku ada 30 anak itu termasuk aku, kalau semuanya berlari dan memelukku ada 29 orang yang menimpaku sekarang. Yang ini bukan patah hati tapi patah tulang!

“Sandeuuuuuul daebaaaaaaaakkkk.....” seru mereka kompak.

Daebaaaak...Sandeulie,” ucap Baro mengacak-acak rambutku sambil menggoyang-goyangkan badannya. Aish~ menyebalkan. Dia berat juga ternyata.

“Iya, iya, tapi cepat menyingkir dari tubuhku. Kalian berat tahu...” protesku tak terdengar. Akhirnya setelah berjuang keras, mereka mau menyingkir dan membantuku berdiri. Aigo~~ aku merasa pinggangku mau patah....

“Sandeul....” panggil seseorang di tengah kerumunan teman-teman yang masih betah di atas panggung.

Aku menoleh. Terlihat Hyomin tersenyum ke arahku, sebisa mungkin aku tersenyum padanya seperti biasa. Sudah cukup aku menjauhinya selama satu bulan ini. Aku merasa hatiku jauh lebih baik daripada satu bulan yang lalu.

“Maafkan aku....” katanya sambil berhambur memelukku.

Aku merasa bahuku basah. Hyomin menangis? Tapi kenapa? Aku merasa tidak berkata kasar padanya hari ini, kenapa dia menangis?

Babo~~~,” kata Hyomin sambil melepas pelukannya. “Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal? Kau tak perlu sesakit itu.....”

Aku terdiam pongo di depannya. Gadis ini, kerasukan setan apa? Apa yang sedang dibicarakannya? “Apa maksudmu?”

“Lagu itu untuk siapa?”

Aku bertambah bengong. Tentu saja untuk penontonlah masak untuk burung beo yang ada di rumahku. “Aku tidak mengerti?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Untukku kan?”

“Kau bercanda. Percaya diri sekali,” jawabku sekenanya.

Sekali lagi dia memelukku dan membiarkan aku kebingungan. Ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku saat dia memelukku. Tanpa sadar aku tersenyum, dan tak sengaja aku juga melihat Gongchan tersenyum padaku sambil mengangguk dan bergumam kata ‘DAEBAK’. Apa maksudnya? Aku tak mengerti?

“Ini untukmu...” kata Hyomin setelah melepas pelukannya. Dia menyodorkan sebuket bunga mawar yang sedari tadi dia bawa.

“Untukku? Tapi untuk apa?” tanyaku bingung. Pasti sebentar lagi kalian akan men-cap-ku orang bodoh karena dari tadi mengeluh tak mengerti.

“Untuk penampilanmu, untuk lagumu, dan untuk perasaanmu padaku,” katanya sambil tersenyum dan kembali memelukku. Sepertinya Hyomin punya hobi baru sekarang yaitu memelukku. Semoga Gongchan tidak menghajarku dengan jurus taekwondonya saat melihat Hyomin berkali-kali memeluk seperti ini. Entah kenapa aku merasa sangat lega malam ini.

Jangan takut mengatakan apa yang kau rasakan. Jangan pernah berpikir kalau orang-orang akan membencimu dan menjauh jika kamu mengatakannya. Kau hanya perlu membulatkan tekad dan mengobarkan semangat saat mengatasi masalah apa pun. Seberat apa pun dan seburuk apa pun kau terjatuh, percayalah bahwa akan ada orang seperti Jinyoung hyung dan teman seperti Baro yang akan membantumu berdiri. J  

~e.n.d~

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates