The Name I Loved
By : danhobak15
.
.
.
“Selamat.....,” kata itu terucap dengan begitu mudahnya dari bibir
Luna. Benar-benar tanpa beban. Gadis itu menjabat erat tangan Langit tanpa
sedikit pun ada kesedihan yang tersirat di wajah cantiknya. Senyumnya mengembang
sempurna.
“Luna, maafkan aku,” balas Langit lirih.
“Raina,” panggil Luna seakan mengindahkan kata-kata Langit. Tangan Luna berusaha meraba-raba udara di sekitarnya. Mencari gadis lain yang bernama Raina yang diyakininya pasti berdiri di dekat Langit.
“Aku di sini,” sambut Raina memegang tangan Luna.
Luna tersenyum, “Selamat...Semoga kalian bahagia,” kata Luna penuh harapan.
“Terima kasih, Luna.”
Senyum Luna semakin mengembang setelah mendengar ucapan Raina. Kemudian Luna mulai menggerakkan tongkatnya, bersiap untuk pergi. Dalam kegelapan yang ada di depan matanya, Luna berusaha mencari jalan agar dia bisa pulang.
Akhirnya Luna sampai juga di pintu keluar. Di sana sudah ada Bintang, kakak laki-lakinya, yang sejak tadi menunggunya. “Kau tidak apa-apa?” tanya Bintang cemas. Dengan hati-hati dia lalu menuntun Luna ke mobil yang sengaja ia parkir di dekat pintu keluar gedung.
“Kakak lihat sendirikan kalau aku baik-baik saja,” jawab Luna.
“Benar?”
Luna mengangguk, “Aku bukan anak kecil lagi. Kakak, tak perlu khawatir.”
Bintang hanya terdiam pasrah melihat keadaan adiknya meski begitu ada guratan kecemasan di wajahnya. Hatinya merasa terluka melihat keadaan Luna. Setelah harus merelakan penglihatannya, Luna juga harus merelakan orang yang sangat disukainya menikah dengan orang lain. Dan Luna tetap bisa tersenyum di atas semua itu.
.
.
.
“Apa kau memikirkannya?” tanya Raina sambil memeluk Langit dari belakang. Wajahnya terlihat lelah setelah acara resepsi pernikahan mereka.
Langit melirik Raina dari ekor matanya. “Adakah alasan untuk tidak memikirnya?” Langit balik bertanya tanpa minat. Pemuda itu merasa hatinya terasa perih karena harus melihat Luna menderita. Langit tahu benar kalau di dalam hati Luna, dia menangis. Tapi untuk menyenangkan orang-orng di sekitarnya Luna harus memakai topengnya dan tersenyum tanpa beban.
“Tak bisakah aku menjadi alasan untukmu?”
“Tidak,” jawab Langit dingin. Dia lalu melepaskan pelukan Raina dan berjalan mendekati sofa yang ada di kamarnya.
Raina menarik nafasnya pelan. “Ini malam pertama kita,” ujar Raina lirih berharap ada sedikit kehangatan yang bisa diterimanya malam ini.
“Aku tak peduli,” lagi-lagi Langit bersikap dingin pada Raina. Pemuda itu kemudian memilih berbaring di sofa dan tertidur di sana.
~flashback~
Langit berusaha mengejar Luna yang berjalan cepat di depannya. Dengan postur badannya yang tinggi dia bisa mengimbangi langkah Luna dengan cepat. Tanpa banyak bicara Langit langsung mencekal pergelangan tangan Luna. “Tunggu aku...” katanya memohon.
“Untuk apa lagi? Aku merasa orang tuamu benar.”
Langit menatap tajam ke arah Luna. Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Luna. “Dengan menjodohkanku,” kata Langit berusaha menahan kemarahannya. “Lalu hubungan kita?”
“Tentu saja berakhir,” jawab Luna santai.
Wajah Langit mengeras menandakan pemuda itu benar-benar marah. Jauh di dalam hatinya, Langit sangat berharap Luna menentang sehingga ada alasan baginya untuk menolak rencana orang tuanya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. “Kenapa kau seperti ini? Apa kau tidak menyukaiku?”
“Aku menyukaimu. Sangat malah. Tapi orang tuamu benar, aku tak pantas untukmu. Seorang Langit terlalu sempurna untukku.”
Langit mengeram amarah. “Aku tidak peduli. Kau harus yang harus menikah denganku bukan Raina.”
“Tidak bisa.”
“Katakan sekali lagi,” tantang Langit dengan wajah memerah marah.
“Tidak bisa.”
Langit lalu berjalan menuju ke tengah jalan dan merentangkan tangannya seakan dia siap menyambut kendaraan yang lewat untuk menabraknya.
“Apa yang kau lakukan? Cepat minggir,” kata Luna panik.
Bukannya minggir Langit tetap bersikeras dengan niatnya, “Tidak sampai kau mau menikah denganku, Luna.”
Sepertinya malam itu berjalan sesuai dengan keinginan Langit. Tanpa Luna dia akan merasa mati jadi untuk
apa hidup. Tiba-tiba ada sebuah truk berkecepatan tinggi muncul dan melaju ke arah Langit. Dan.....
BRAAAAAKK....!!!
~flashback end~
“Aaaaarrgh.......”
Langit terbangun dengan nafas terengah-engah, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Tangannya mencengkram kemeja bagian kiri kuat-kuat mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Diliriknya Raina yang sudah tidur di ranjang. Sekuat tenaga Langit mengatur nafasnya yang kembali. Tanpa sadar airmatanya jatuh membasahi pipinya.
Di tempat lain, Luna juga terbangun dengan mimpi yang sama. Nafasnya terdengar berat, tubuhnya bergetar hebat, dan pipinya sudah basah karena airmatanya telah banjir sejak tadi. Luna memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di sana.
Kecelakaan yang terjadi enam bulan lalu itu menjadi mimpi buruk bagi Langit dan Luna. Setiap malam keduanya selalu bermimpi tentang hal yang sama, membawa ketakutan tersendiri bagi Luna dan rasa bersalah yang terlalu kuat untuk Langit.
.
.
.
Musim semi telah datang, bunga-bunga dengan senang hati bermekaran dan dengan senang hati membiarkan angin membawa aromanya terbang mengobati perasaan sepi yang timbul.
Luna menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam. Harum bunga yang bermekaran tercium lembut olehnya.
Meski dia tak dapat lagi melihat indahnya bunga yang mekar setidaknya aroma tadi sedikit menghiburnya. Gadis itu kemudian tersentak kaget saat aroma bunga tadi berganti dengan aroma khas yang sangat familiar baginya. “Langit,” tebak Luna.
Langit yang duduk di samping Luna tersenyum puas saat tahu Luna tetap mengenalinya, “Bagaimana kau tahu?” tanyanya antusias.
“Raina tidak memilihkan parfum baru untukmu?” bukannya menjawab Luna malah balik bertanya. Gadis itu masih ingat betul aroma khas parfum yang dipakai Langit, mengingat parfum itu adalah pilihannya sendiri beberapa tahun lalu.
“Aku sudah terlanjur suka jadi aku tak akan menggantinya apa pun yang terjadi,” jawab Langit cuek.
“Raina akan marah.”
“Aku tak peduli.”
“Tapi.....” kalimat Luna terhenti. Ada sesuatu yang lembut dan basah bergerak pelan di bibirnya.
Dengan lembut, Langit menumpahkan semua cinta, kerinduannya,dan permintaan maafnya lewat ciuman itu. “Aku menyukaimu, Luna,” bisiknya di sela-sela acaranya itu.
Luna langsung memberontak, mendorong tubuh Langit menjauh. “Apa yang kau lakukan? Ini tak boleh,” protes Luna marah. Gadis itu lalu berdiri, “Jika kau tetap keras kepala, jangan harap kau bisa menemuiku lagi,” kata Luna meluapkan kemarahannya.
Dia lalu berjalan menjauh meninggalkan Langit yang hanya bisa menatapnya pedih. Hati Langit terasa sakit saat melihat penolakkan dari gadis yang selalu datang ke dalam mimpinya dan gadis yang selalu memenuhi otaknya setiap detik.
.
.
.
Luna benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. Setelah kejadian itu, Langit semakin sulit untuk bertemu Luna bahkan sekadar melihat gadis itu dari kejauhan. Untuk Luna hal itu mudah karena setelah kecelakaan itu, dia sudah membiasakan diri tidak melihat wajah Langit yang tampan. Tapi tidak bagi Langit. Pemuda itu merasa tersiksa. Selama ini dia terbiasa melihat Luna setiap hari. Meskipun dia sudah menikah dan tak mungkin bersama Luna, dia merasa cukup jika bisa melihat Luna walau dari kejauhan.
“Kakak, kau tak apa?” tanya Sunny, adik perempuan Langit, pada kakaknya yang sedang melamun di beranda rumah. Tak ada jawaban. “Kakak merindukannya?” Sunny mencoba bertanya sekali lagi.
Langit lalu mengalihkan padangannya pada adiknya itu. Ada senyum tipis yang kemudian tercetak di bibirnya. “Aku sangat merindukannya.”
“Ikut aku sekarang. Kebetulan hari ini aku akan menemui Elang. Aku merasa ada berita baik yang akan datang hari ini.”
“Tidak mau.”
Tak hilang akal, Sunny lalu menarik tangan Langit dengan kasar. “Ikut saja apa susahnya?”
Elang adalah pacar Sunny. Dia adalah seorang dokter spesialis mata. Kebetulan Elang-lah yang merawat Luna setelah kecelakaan itu terjadi.
Hari ini adalah jadwal Luna berkunjung. Kini gadis itu tengah duduk di ruang tunggu untuk mengetahui hasil pemeriksaannya. Tanpa curiga Luna terus sabar menunggu padahal yang sebenarnya terjadi Elang berusaha menahan Luna pulang agar Langit bisa bertemu dengan gadis itu.
“Hai, Kak,” sapa Elang pada Langit yang baru datang bersama Sunny. Senyum manis terkembang dari wajah tampan dokter muda itu. “Ada kabar gembira untukmu.” Elang lalu menyerahkan sebuah surat dari rumah sakit.
Langit membaca surat itu dengan seksama, ada rasa khawatir yang bergelayut di hatinya. Namun kemudian mata cokelatnya berbinar. “Benarkah? Kau yakin?”
“Begitulah. Kebetulan ada donor kornea mata yang cocok untuk Luna. Tinggal tunggu kondisi terakhir Luna. Dia siap atau tidak?”
Tubuh Langit merasa dingin karena terlalu senang. Seperti kesetanan dia lalu menghampiri Luna yang masih setia duduk di ruang tunggu. Saat dia sudah ada di dekat Luna dengan sengaja dia meredam suara langkah kakinya. Pelan-pelan Langit duduk di samping Luna. Tanpa merasa bosan sedikit pun dia memandangi gadis yang disukainya itu dari dekat.
“Langit.....” tebak Luna yang menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya.
“......”
“Langit...itu kau kan?” tebak Luna sekali lagi dan siap beranjak dari tempatnya jika jawabannya benar.
Langit tersenyum. “Bagaimana kau tahu kalau ini aku? Padahal aku sudah tidak memakai parfum hari ini.”
Tak ada jawaban dari Luna. Wajah gadis itu mengeras menunjukkan rasa tak sukanya ada Langit secara terang-terangan. “Mau apa lagi?”
“Tidak ada. Aku kemari hanya untuk menyampaikan kabar baik untukmu?” Langit berusaha memperbaiki keadaan. “Tadi dokter Elang memberitahuku kalau ada donor korea mata yang cocok untukmu. Kau akan bisa melihat lagi, Luna.”
“Bohong. Jangan coba-coba membohongiku, Langit,” ucap Luna.
Senyum di wajah Langit menghilang berganti wajah memelas memohon, “Kau tak percaya padaku? Suratnya saja masih aku bawa,” Langit menyodorkan surat rumah sakit pada Luna, berharap gadis itu mau percaya padanya.
“Kau ingin menghinaku, hah?”
“Bukan begitu Luna. Sungguh.....” Langit berusaha meyakinkan. Digenggamnya tangan Luna erat.
“Baiklah, kali ini aku percaya padamu,” kata Luna.
“Mau kemana?” cegah Langit pada Luna yang akan melangkah meninggalkannya.
“Pulang.”
“Aku akan mengantarmu,” tanpa mempedulikan penolakan dari Luna, Langit tetap mengantarkan Luna pulang.
.
.
.
Langit menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Luna. Dengan sigap dia membukakan pintu mobil untuk Luna dan membantu gadis itu sampai di depan pintu masuk.
“Terima kasih sudah mengantarku. Kau bisa pulang sekarang,” kata Luna.
“Apa kau membenciku?” tanya Langit yang merasa sejak kejadian di taman itu, Luna menjauhinya.
Luna menggeleng pelan, “Aku hanya tak ingin berharap lebih dengan ada di dekatmu.”
“Kau masih menyukaiku?”
“Entahlah. Cukup Langit, jangan bicarakan masalah ini lagi. Aku lelah, aku ingin istrahat. Pulanglah,” usir Luna secara halus.
“Tunggu dulu,” cegah Langit cepat sebelum Luna masuk. “Bisakah kita berteman?” tanya Langit penuh harap, “Kita memang tidak bisa bersama tapi setidaknya hubungan kita tidak berakhir sebagai musuh.”
Luna terdiam. Dia terlihat berpikir dan benar tak lama kemudian dia mengangguk. “Teman.....” katanya dengan senyum tulus pada Langit. “Tapi berjanjilah padaku untuk melepaskanku.”
“Iya,” jawab Langit dengan suara getir. Dalam hatinya dia berkata, ‘Maafkan aku, Luna. Sepertinya aku tak bisa menepati janjiku.’
“Baiklah....”
“Boleh aku menemuimu setelah ini?” tanya Langit hati-hati.
Luna mengangguk, “Kita berteman sekarang. Asal Raina tak marah saja.”
“Aku jamin dia tak akan marah,” ujar Langit penuh keyakinan.
.
.
.
Operasi Luna akan segera dilaksanakan. Saat Luna menjalani pemeriksaan sebelum operasi, Langit selalu
menemaninya. Jika Luna bertanya apakah Raina tidak marah karena Langit terus-terusan bersamanya maka
Langit akan menjawab tidak. Entah apa yang sudah Langit katakan pada Raina saat istrinya itu protes tentang kedekatannya dengan Luna. Tidak ada yang tahu.
Besok Luna akan menjalani operasi. Jadi dia sudah ada di rumah sakit sejak kemarin untuk menjalani pemeriksaan terakhir.
“Luna....” sapa Langit saat menemui Luna di kamar rawatnya. Luna menoleh. “Boleh aku bersamamu hari ini?”
“Bagaimana dengan Raina?”
“Tak apa, dia akan mengerti,” jawab Langit tenang.
“Benarkah?”
Langit mengangguk meski anggukan kepalanya itu tidak terlihat oleh Luna. “Hari ini adalah sebagai ganti karena besok aku tak bisa menemanimu operasi.”
“Ada tugas di luar kota?” tebak Luna.
‘Lihat kau bahkan lebih tahu apa yang ku kerjakan dibanding Raina,’ hati Langit terasa miris karena gadis di depannya itu jauh lebih mengerti dirinya dibanding istrinya sendiri. “Iya, aku akan ke luar kota.”
“Hati-hati kalau begitu.”
“Pasti. Setelah itu aku akan langsung menemuimu,” janji Langit menggenggam tangan Luna erat. Hangat, itu yang Langit rasakan setiap dia bersama Luna. “Apa kau takut?”
“Sedikit,” jawab Luna.
Langit menatap sendu gadis yang sampai sekarang masih disukainya itu. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Luna dan menghapus jarak yang ada.
“Langit....” ucap Luna kaget saat Langit tiba-tiba mencium pipinya.
“Aku hanya merasa sangat merindukanmu. Maaf.....” sesal Langit. Luna hanya diam saja. “Luna, bolehkah aku mencium pipimu lagi?”
Tak ada jawaban dari Luna yang langsung diartikan Langit sebagai kata ‘iya’. Sekali lagi Langit mencium pipi Luna, tidak hanya pipi, ciuman itu lalu beralih ke semua bagian wajah Luna, termasuk bibirnya. Terlihat kalau Langit benar-benar sangat merindukan Luna.
Di luar kamar rawat Luna, Raina melihat semua kejadian di dalam kamar itu dengan sedih. Hatinya terasa sakit antara melihat suaminya jauh menyukai orang lain dibanding dirinya dan rasa tak tega memisahkan kedua orang yang dilihatnya barusan.
.
Langit menyelesaikan rapatnya di luar kotanya lebih cepat dari jadwal. Dia benar-benar tak bisa konsentrasi pada tugasnya karena pikiran penuh dengan Luna jadi Langit memilih menyelesaikan semuanya dengan cepat dan pulang.
“Direktur, anda akan pulang sekarang?” tanya sekretaris Langit.
“Iya. Bukankah semuanya sudah selesai. Kau urus sisanya. Aku akan pulang sekarang,” pamit Langit lalu masuk ke mobilnya.
Sekretaris mengangguk dan menunggu mobil Langit sampai tak terjangkau oleh pandangannya lagi sebelum masuk ke kembali ke ruang rapat.
Drrrrttt.....drttttt....
Ponsel Langit bergetar. Di layarnya terpampang nama Sunny, adiknya. Tanpa menghentikan mobilnya Langit mengangkat panggilan dari Sunny. “Hallo, Sunny, kau dimana?” tanya Langit cepat.
“.....”
“Rumah sakit? Baiklah kabari aku tentang keadaan Luna. Aku dalam perjalanan pulang sekarang.”
“.....”
“Baiklah.” Langit lalu menutup ponselnya dan mulai fokus menyetir kembali.
Sementara itu di ruang operasi, keadaan Luna ternyata kritis. Gadis itu mengalami pendarahan sehingga harus kehilangan banyak darah. Tim dokter yang mengoperasinya mulai tegang.
“Dokter, pasien menderita anemia,” kata perawat yang membantu jalannya operasi.
“Segera tranfusi darah.”
“Baik dokter.”
Mobil Langit melaju cepat membelah jalanan. Pemuda itu terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera tiba di rumah sakit. Entah kenapa perasaannya tak enak. “Luna, bertahanlah,” gumamnya tanpa sadar.
Sekalipun Langit sudah fokus menyetir tapi tetap saja konsentrasinya pecah karena memikirkan Luna. Tanpa disangka dari arah berlawanan ada sebuah truk yang oleng karena bannya pecah menuju ke mobil Langit. Pemuda itu sudah mencoba menghindar tapi terlambat dan.....
BRAAAAKKKKK..................
Ttiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttt..................
Terdengar suara radiovaskular dari ruang operasi berbunyi nyaring.
.
.
.
“Langit...” panggil seseorang.
Perlahan Langit membuka matanya. “Luna,” ujar Langit tak percaya.
Luna tersenyum lembut, “Sudah saatnya kau kembali.”
“Aku dimana?” tanya Langit bingung. Sepanjang yang dilihatnya hanyalah warna putih.
Bukannya menjawab Luna malah berkata, “Aku menyukaimu, Langit. Jaga dirimu baik-baik. berjanjilah untuk hidup bahagia.”
Langit menatap Luna tak mengerti, “Tentu saja aku akan behagia selama itu bersamamu. Aku juga menyukaimu, Luna.” Langit lalu memeluk Luna erat.
“Aku percaya padamu,” Luna melepaskan pelukan Langit dan beranjak pergi.
“Kau mau kemana?” tanya Langit menahan Luna.
Luna tersenyum dan menatap sedih, “Saatnya kau kembali, Langit.” Kemudian Luna menghilang.
~
“Lunaaaaa.....” pekik Langit tiba-tiba. Dia terbangun dan menatap tak mengerti sekelilingnya. Dia memang tetap berada di ruangan yang serba putih tapi ini berbau obat dan Luna tidak ada di sana bersamanya.
“Kakak, sudah sadar? Kau akan panggil dokter dulu,” kata Elang yang kebetulan masuk ke kamar rawat Langit.
“Tunggu...” cegah Langit. “Aku...aku dimana? Mana Luna? Bagaimana dengan Luna? Dimana dia sekarang?” berondong Langit panik. Pemuda itu berusaha bangun namun terhenti saat ada rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Jangan terlalu banyak bergerak. Kakak baru sadar. Aku akan memanggil dokter dulu,” kata Elang berjalan keluar dari kamar Langit.
Langit menatap pintu yang digunakan Elang untuk keluar tak mengerti, “A..apa yang terjadi?”
~
“Kakak mengalami kecelakaan 5 bulan yang lalu,” jelas Elang pada Langit setelah didesak sedemikian rupa.
“Beruntung Kak Langit bisa kembali.”
Langit mendengarkan cerita Elang dengan seksama tapi ada satu pertanyaan yang dari tadi ingin dia tanyakan, “Bagaimana keadaan Luna? Dia baik-baik saja?”
Dokter muda itu memandang ke arah pasiennya sebentar kemudian tersenyum, “Dia baik-baik saja. Operasinya berjalan lancar melebihi perkiraan kami.”
“Dimana dia sekarang? Apa dia sudah pulang? Aku ingin melihatnya,” desak Langit sekali lagi berusaha untuk turun dari tempat tidurnya.
“Tunggu..tunggu sebentar,” cegah Elang. Dokter muda itu lalu berjalan keluar dan baru kembali dengan sebuah cermin di tangannya. Kemudian Elang menyerahkan cermin itu pada Langit.
Langit menatap Elang bingung. Ada rasa marah di dadanya, “Apa maksudnya? Kau mau mempermainkanku?” tanya Langit berang pada Elang.
“Lihatlah, Luna baik-baik saja kan?!” tidak mempedulikan amukan Langit, dengan sabar Elang mengarahkan cermin itu tepat di wajah Langit.
Sekali lagi Langit menatap Elang heran. Apa maksud Elang memperlihatkan pantulan dirinya di cermin, dia kan ingin melihat Luna bukan pantulan dari wajahnya sendiri? “Jelaskan maksud semua ini, Elang,” bentak Langit kesal.
.
.
.
Langit menatap nanar sebuah batu nisan di depannya. Airmatanya mengalir perlahan menahan sakit yang menghujam dadanya. “Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tak mengajakku bersamamu? Kenapa kau biarkan aku sendirian di sini? Kenapa?” cecar Langit.
Kedua mata Langit menyiratkan penyesalan atas semua yang terjadi. Rasa sakit dan bersalahnya kini membuncah keluar dan membuat dadanya terasa sesak. Raina menatap Langit dengan sedih. Hatinya ikut sakit tapi tidak ada yang bisa dia lakukannya. Tangannya hanya bisa memegang bahu Langit berusaha menguatkan suaminya itu.
“Langit....” panggil seseorang.
Langit dan Raina menoleh. Langit buru-buru menghapus airmatanya saat tahu di belakangnya ada Bintang, kakak Luna. “Kak Bintang... Maaf kan aku,” kata Langit minta maaf.
Pemuda yang dipanggil itu tersenyum. “Bisakah kita bicara, Langit. Hanya berdua,” ucap Bintang sambil menatap Raina, memohon sedikit pengertian dari gadis itu.
“Bisa....” jawab Langit tanpa mendengar persetujuan Raina dulu. Dia lalu berjalan menghampiri Bintang.
Raina menatap punggung Bintang dan Langit sampai mereka benar-benar tak terlihat. Gadis itu lalu tersenyum tipis kemudian menatap sedih ke arah batu nisan Luna. “Kau lihat, dia sama sekali tak peduli padaku. Aku tak yakin bisa membuatnya melupakanmu. Selamanya dia hanya akan menyukaimu, Luna. Tapi bolehkah aku memilikinya meski bukan hatinya?” ujar Raina sedih.
~
Tanpa banyak bicara Langit mengikuti langkah Bintang yang mengajaknya masuk ke rumah. “Tunggulah di kamar Luna sebentar,” ucap Bintang lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
Mendengar permintaan Bintang, Langit kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Luna yang ada di lantai atas. Pemuda itu merasa gamang untuk saat sudah berada di depan kamar Luna tapi ada dorongan keras yang menyuruhnya masuk. Perlahan Langit membuka pintu kamar berwarna putih itu. Begitu masuk, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Jantungnya berdetak cepat saat dia berdiri tepat di depan cermin dan melihat pantulan dirinya sendiri. “Inikah yang kau rasakan saat kau melihatku?” tanya Langit lebih pada dirinya sendiri sambil memegang dada sebelah kirinya.
“Luna benar-benar menyukaimu. Aku tidak bisa menghentikan permintaan terakhirnya meski dia tahu tak mungkin. Dia tetap memilih bersamamu pada akhirnya,” kata Bintang yang tiba-tiba masuk ke kamar Luna.
Langit hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar penjelasan Bintang. Di tangannya kini sudah ada fotonya dirinya dan Luna saat acara kelulusan sekolah. Langit terus menggenggam erat foto yang dia temukan di laci meja Luna itu.
“Kami tak menyalahkanmu atas semua yang terjadi. Kami hanya ingin kau menjaganya sebaik mungkin. Jangan biarkan dia pergi untuk kedua kalinya,” mohon Bintang sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna putih pada Langit. “Itu dari Luna,” kata Bintang kemudian melangkah keluar.
Langit membuka kotak itu setelah Bintang keluar. Airmata Langit kembali turun saat melihat isi kotak tersebut. Kotak itu berisi setangkai mawar putih, sebuah syal berwarna krem, dan sepucuk surat. Perlahan Langit membaca isi surat dari Luna dengan tangan gemetar.
Untuk nama yang selalu aku sukai, Langit
Bagaimana kabarmu? Kau suka hadiahnya? Maaf, aku tidak bisa memberimu yang lebih bagus dari ini. Aku hanya berharap kau akan tetap hangat meski aku tak bisa memelukmu lagi. Apa harapanku terlalu berlebihan?
Jangan menangis.... Bukankah kau selalu melarangku menangis?!
Langit, maafkan aku karena aku masih menyukaimu. Benar-benar menyukaimu. Dulu ketika kita pergi berkencan untuk pertama kalinya, aku pernah berjanji akan terus bersamamu. Apa kau masih ingat?
Kini ku tepati janjiku dengan memberikan jantungku padamu. Aku ingin kau tetap hidup dan meraih mimpimu.
Jaga dirimu dan hiduplah dengan bahagia.....
Luna
Langit mendekap erat surat dari Luna. Airmatanya mengalir semakin deras. “Aku juga sangat menyukaimu, Luna. Hanya namamu yang akan ada untukku. Aku janji, aku akan bahagia karena kau telah bersamaku sekarang.”
~10 tahun kemudian~
Luna berlari menemui Raina, ibunya sambil menenteng sebuah buku keluaran terbaru yang ditulis oleh Langit.
“Ibu....” panggil Luna dengan terengah-engah.
Raina menoleh pada gadis mungil yang baru berusia 6 tahun itu. “Ada apa?” tanyanya lembut.
“Kenapa ayah selalu salah menulis namaku dalam bukunya?” gadis kecil itu mulai mengadu sambil menunjukkan buku yang dipegangnya.
Dengan lembut Raina membelai rambut putrinya tersebut. “Ayah tidak salah, sayang.”
“Tapi namaku Luna Rahadian bukan Luna Clarissa,” protes Luna menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
“Tak ada satu ptn buku ayah yang menyebutkan namaku dengan benar.”
Lagi-lagi Raina hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anaknya. “Ayahmu sangat menyukai gadis yang bernama Luna Clarissa. Jadi dia menulis namanya di setiap buku yang dia tulis,” jelas Raina memberi pengertian pada Luna.
“Lalu ayah tidak menyukai ibu?” tanya Luna polos.
“Hanya ada nama gadis itu di hati ayahmu. Tak ada seor`ng pun yang bisa menggantikannya.”
“Seperti apa gadis yang bernama Luna itu? Aku akan mencarinya dan akan memukulnya,” kata Luna bersungut-sngut marah. “Berani sekali dari merebut ayah dariku dan ibu.”
“Dia tidak merebutmu ayahmu, sayang. Ayahmu sudah bertemu dengannya sebelum ayah bertemu ibu. Luna tidak boleh padanya. Berkat dia, ayah Luna bisa kembali hidup,” cerita Raina sambil meletakkan tubuh mungil Luna di pangkuannya. “Dia adalah gadis yang memberikan seluruh cintanya pada ayah. Dia gadis yang luar biasa.”
Luna menganggukkan kepalanya mengerti. “Dimana dia sekara, Bu?”
“Di jantung ayahmu.”
~
Langit meletakkan sebuah buklet mawar putih di atas pusara Luna. Dibelainya batu nisan yang bertuliskan nama Luna Clarissa dengan sayang. Meski hampir setiap hari Langit berkunjung ke sana, pemuda itu tetap saja menangis. Dia tidak mudah untuk melupakan Luna meski jantung gadis itu sekarang berdetak bersamanya. “Kau lihat, Luna. Aku bisa bahagia. Apa kau juga bahagia di sana?” gumam Langit. “Aku merindukanmu, Luna. Aku ingin sekali memelukmu...”
Udara hangat tiba-tiba menyelimuti tubuh Langit dan memberi kehangatan selayaknya sebuah pelukan. Langit menutup kedua matanya menyesapi kehangatan yang dia rasakan seolah itu adalah pelukan Luna yang diberikan untuknya.
~e.n.d~
NB :
Dulunya
ini adalah fanfict pertamaku yang akhirnya diubah menjadi sebuah cerpen karena
author sadar kalau gak bakat bikin fanfict. Harus diakui, author waktu itu suka
banget sama suaranya Onew di lagu The Name I Loved, jadi author nekat bikin
cerita meski sama sekali gak tahu apa arti dan isi lagu itu. Mian, kalau
ternyata ada kesamaan, ini adalah hasil kerja keras sel-sel otak author. Mian
juga kalau banyak typo di sana-sini masih ditambah alur yang kecepatan dan gak jelas serta plotnya
yang bikin puyeng *bow*. Happy reading, readers ^^
Jangan
lupa RCL-nya ya....... ^^

0 komentar:
Posting Komentar