Sabtu, 31 Maret 2012

Let's Not




 Let’s Not

By : danhobak15

Inspired by : Super Junior song – Let’s Not
.
.
.
“Hai....bagaimana kabarmu? Kau tahu sekarang musim dingin. Kau senang? Apa? Oh, baiklah, aku akan memainkannya untukmu.”

Seorang pemuda berambut cokelat keemasan itu mengeluarkan sebuah biola dari tasnya. Nama pemuda itu adalah Kim Jinwoon, seorang pemain biola berbakat di sebuah orkestra yang sangat terkenal.

Kemudian mulailah terdengar suara biola yang mengalun lembut. Suara biola itu terdengar menyayat, setiap gesekan senarnya menggambarkan betapa terlukanya hati Jinwoon. Airmata itu menetes tanpa disadari. 

Setiap kali pemuda itu datang, dia selalu seperti itu. Memainkan biolanya dengan lagu yang sama dan untuk orang yang sama. Tak peduli orang menganggapnya gila, Jinwoon tak peduli.

“Kau senang?” tanya Jinwoon setelah dia selesai memainkan biola. “Kau ingat tentang hari ini? Benar, hari ini tanggal 24 Desember, besok hari Natal. Kau mau hadiah apa dariku?” Jinwoon terus saja berbicara sampai hatinya puas.

~flashback ~

*2 tahun yang lalu*

Jinwoon bergegas mengemasi barang-barangnya. Pemuda itu ingin sekali cepat pulang, selain karena udara sangat dingin, hari ini adalah tanggal 24 Desember, malam Natal, Jinwoon ingin berkumpul bersama keluarganya di malam itu.

Derap langkah Jinwoon menggema keras saat dia berlari melintasi lorong di lantai 2 tempat latihannya. Langkah itu tiba-tiba berhenti saat tanpa sengaja Jinwoon mendengar dentingan piano dari ruang latihan orkestra. Karena rasa ingin tahunya Jinwoon mengintipnya dari celah pintu yang terbuka.

Betapa terkejutnya pemuda itu. Seorang gadis berambut hitam lurus terlihat terampil memainkan tuts-tuts piano itu. Tanpa disadari Jinwoon melangkah masuk dan mendekati gadis itu.

“Eun Hwa, kenapa di sini?” tanya Jinwoon.

Gadis bernama Eun Hwa itu berhenti memainkan pianonya dan memandangi Jinwoon sambil tersenyum. “Aku menunggumu...”

“Menungguku?” Jinwoon menunjuk dirinya sendiri. “Untuk apa? Memangnya kau sudah sembuh?”

Eun Hwa mengangguk. “Aku bosan berbaring terus lagi pula aku ingin melewati malam Natal ini bersamamu. Kau mau kan?”

“Ehmm...” Jinwoon menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Sebenarnya aku sudah ada janji dengan adikku,” kata Jinwoon merasa tak enak.

Tak mau menyerah Eun Hwa terus membujuk Jinwoon, “Ayolah, aku mohon. Aku janji padamu ini yang terakhir kalinya. Kamu mau kan?”

“Bagaimana ya? Adikku sudah menunggu...”

“Jinwoon, aku mohon, kali ini saja. Aku jamin Natal tahun depan aku tak akan mengganggumu lagi. Mau ya...???” mohon Eun Hwa.

Jinwoon terdiam. Tak biasanya memohon hingga seperti itu padanya. “Baiklah, aku mau,” kata Jinwoon akhirnya.

“Yeiy~ akhirnya. Aku mau mengajakmu makan di restoran langgananku, kau mau kan?” ajak Eun Hwa bersemangat dan buru-buru menarik Jinwoon pergi.

“Hya~~ kenapa seperti kau mengajakku berkencan saja??” protes Jinwoon yang tak didengar oleh Eun Hwa.

.

“Kenapa kau malah mengajakku ke sini? Kau bilang mau makan di restoran bukan mau piknik di taman?” tanya Jinwoon bingung saat Eun Hwa mengajaknya duduk di bangku taman .

“Tidak apa-apa. Aku suka di sini. Dari sini aku bisa melihat salju.”

“Tapi ini dingin sekali Eun Hwa, memangnya kau tak kedinginan,” kata Jinwoon sambil mengeratkan mantelnya.

Eun Hwa menggeleng. “Selama aku bersamamu, aku akan merasa hangat,” balas Eun Hwa tersenyum.

“Kau pikir aku ini pemanas ruangan apa?” Jinwoon menanggapi sahabatnya itu dengan candaan.

“Jinwoon, apa artiku bagimu?” tanya Eun Hwa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jinwoon.

Alis Jinwoon mengenyit tak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Selama ini kau menganggapku apa?”

“Apa ya?” Jinwoon terlihat berpikir. “Kau adalah teman terbaik yang pernah aku miliki,” terang Jinwoon dengan seulas senyum tulus di bibirnya.

Eun Hwa bangkit dari tepatnya bersandar. “Hanya itu?” tanyanya dengan nada kecewa.

Jinwoon yang sama sekali tak menyadari perubahan nada bicara Eun Hwa, mengangguk mengiyakan, “Kau adalah sahabatku. Kau sudah seperti keluarga untukku. Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Tidak ada. Apa ada gadis yang kau sukai?”

Kepala Jinwoon menggeleng pelan, “Saat ini tak ada. Kalau kau? Adakah pemuda yang kau sukai?” kata Jinwoon balik bertanya.

Eun Hwa menggigit bibir bawahnya, “Bolehkah aku bercerita padamu?”

Sekali lagi Jinwoon mengangguk, “Cerita saja, kita kan teman.”

“Aku menyukai seorang pemuda. Hanya saja...dia...dia...” Eun Hwa tak melanjutkan kata-katanya dan terlihat berpikir.

“Dia kenapa?” tanya Jinwoon antusias.

“Aku tidak tahu dia juga menyukaiku atau tidak. Selama ini dia hanya menganggapku sama dengan temannya yang lain. Aku sudah suka padanya sejak lama, tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut dia marah dan meninggalkanku. Aku takut dia membenciku. Aku tidak mau sendirian. Aku.....” kali ini Eun Hwa tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, menyembunyikan setiap isakan yang keluar dari mulutnya. “Aku harus bagaimana? Jantungku seperti ingin meledak karena menyimpan ini terlalu lama...”

Tangan Jinwoon terulur menghapus airmata yang mengalir di pipi Eun Hwa. “Jangan menangis, Eun Hwa. Katakan saja padanya, aku yakin dia akan mengerti. Kalau pun nantinya dia tak menerimamu setidaknya kau sudah mengatakannya. Itu akan membuatmu lebih baik,” nasehat Jinwoon sambil menepuk-nepuk punggung Eun Hwa.

“Sayangnya itu tak mungkin. Kami ada di tempat berbeda sekarang,” kata Eun Hwa sedih. “Dia tak mungkin melihatku lagi.”

“Maksudmu?”

Eun Hwa mengangguk. “Itulah yang terjadi. Tragis sekali bukan?” gadis itu tertawa mengejek dirinya sendiri. “Selamanya dia tidak akan tahu kalau aku menyukainya.”

“Sudahlah, jangan bersedih. Sebagai gantinya bagaimana kalau kau mengatakannya padaku?” hibur Jinwoon yang tak tega sahabatnya itu bersedih.

“Benarkah?” tanya Eun Hwa tak percaya. “Kau mau?”

Jinwoon mengangguk. “Anggap saja aku pemuda yang kau sukai itu.”

“Aku tidak siap, Jinwoon-ah...”

“Tarik nafasmu dan katakan saja.”

Eun Hwa menarik nafasnya sesuai intruksi Jinwoon dan berkata, “Jinwoon-ah, saranghae. Jeongmal saranghae. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita masuk ke SMA. Aku....” Eun Hwa bingung harus berkata apalagi.

“Nado saranghae....,” balas Jinwoon dan langsung memeluk sahabatnya itu.

“Jeongmal saranghae, Jinwoon-ah,” ulang Eun Hwa sekali lagi. Hatinya terasa tercabik saat mengatakan itu. “Mau kah kau jadi pacarku?” tanya Eun Hwa lembut.

Mata Jinwoon membulat sempurna, “Apa? Tentu saja aku mau.” Dari mata itu terlihat kalau pemuda itu benar-benar tulus menghibur Eun Hwa. “Aku mau ja....”

CHU~

Lagi-lagi Jinwoon terkejut karena tiba-tiba Eun Hwa menciumnya. Ada rasa hangat yang menjalar keseluruhan tubuhnya saat Eun Hwa melakukannya. Entah kenapa jantung Jinwoon berdetak kencang seakan mau meledak.

“Maaf....” kata Eun Hwa setelah melepaskan ciuman mereka. Kepala gadis itu menunduk tak berani memandang ke arah Jinwoon. “Seharusnya aku....”

“Tak masalah apa pun asal kau lebih baik,” kata Jinwoon tetap tersenyum. “Pasti pemuda yang kau sukai itu beruntung sekali, andai pemuda itu aku,” andai Jinwoon sambil menengadah ke langit.

‘Pemuda itu kau, Jinwoon,’ kata Eun Hwa dalam hati. Gadis itu hanya bisa menatap sedih ke arah Jinwoon. “Boleh aku minta satu hadiah Natal darimu?”

Jinwoon menoleh pada Eun Hwa, “Hadiah Natal? Kau mau apa dariku?” tanya Jinwoon antusias.

“Kau mau?”
 
Jinwoon mengangguk. “Apa pun untukmu? Asal tidak membuatku bangkrut saja,” candanya yang membuat Eun Hwa tersenyum simpul.

“Aku ingin kau mainkan biola untukku,” minta Eun Hwa dengan sangat. “Kali ini saja, hanya untukku.”

“Tak masalah, kapan pun kau minta aku mau memainkannya khusus untukmu,” Jinwoon segera mengeluarkan biolanya. “Mau lagu apa?”

“Lagu yang kau mainkan saat pertama kali kita tampil di orkestra.”

“Kau menyukainya?”

Eun Hwa mengangguk. “Sangat menyukainya,” jawab Eun Hwa, ‘Sama seperti aku menyukai orang yang memainkannya,’ tambahnya dalam hati.

Jinwoon pun mulai memainkan lagu yang diminta Eun Hwa. Suara biola itu mengalun merdu. Siapa pun yang mendengar pasti akan terhanyut dalam nada-nada yang terangkai indah di dalamnya.

.

Saying that this moment is the last to you whom I loved so much

Even if you try to turn it back, even if you hold onto me crying

I was the one who said no and big our farewell

I always act strong but I’m a cowardly man

Didn’t have the confidence to protect you forever and left

.

“Eun Hwa kau kenapa?” tanya Jinwoon khawatir saat melihat gadis yang bersamanya itu mulai menggigil.

“Dingin, Jinwoon,” keluh Eun Hwa.

“Kita pulang sekarang,” Jinwoon lekas menyimpan kembali biolanya dan berjongkok di depan Eun Hwa.  
“Naiklah, aku akan menggendongmu sampai rumah.”

 “Aku bisa jalan sendiri...” tolak Eun Hwa.

“Sudah ayo naik,” paksa Jinwoon.

Mau tak mau akhirnya Eun Hwa menurut saja. Sebenarnya gadis itu sudah tak sanggup berjalan lagi. Penyakit yang ada di tubuhnya sudah terlalu lama merongrongnya. Eun Hwa mulai tak yakin bahwa dia bisa bertahan setelah ini. Semua yang dia punya telah terenggut tanpa sedikit pun perlawanan darinya. Tubuhnya, jiwanya, bahkan cintanya, semua itu tak dia miliki sekarang. mungkin adalah saatnya. Saat dia menyerah.

.

Don’t love someone like me again

Don’t make someone to miss again

One who looks at only you and needs only you

Meet someone who loves you so much they can’t go a day without you. Please!

.

“Jinwoon,” bisik Eun Hwa terdengar parau. “Aku mengantuk. Boleh aku tidur di punggungmu?”

“Tidurlah, Eun Hwa, sampai rumah aku akan membangunkanmu,” kata Jinwoon.

“Terima kasih. Jinwoon...”

“Ehmp, ada apa?”

“Kau akan selalu bahagia kan? Mau kah kau memainkan lagu itu untukku lagi besok?”

“Tentu saja. Kapan pun kau mau aku akan memainkannya.”

“Terima kasih, Jinwoon. Kau baik sekali. Saranghae, Jinwoon-ah. Jeongmal saranghae.”

“Nado, Eun Hwa. Sekarang tidurlah.....”

Setelah itu tak ada lagi percakapan lagi antara Jinwoon dan Eun Hwa, entah itu besok, lusa, minggu depan, atau pun tahun depan. Itulah malam Natal terakhir bagi Eun Hwa. Gadis itu telah menyerah. Menyerah pada penyakitnya dan juga menyerah pada cintanya.

.

Hurting, you try to hold me back

But I’m a cowardly man who doesn’t have the confidence to give happines to anymore beside him

Don’t love someone like me again

Don’t make someone to miss again

One who looks at only you and needs only you

Meet someone who loves you so much they can’t go a day without you

~flashback end~

Jinwoon menyeka airmatanya menggunakan ujung lengan mantelnya. Dengan senyum mengembang pemuda itu menatap batu nisan bertuliskan nama “Jung Eun Hwa” yang berdiri di hadapanya sekarang. “Kenapa kau lakukan ini padaku, Eun Hwa? Kenapa kau meninggalkanku seperti ini?”

“Aku pernah berkata bahwa kalau aku akan sangat beruntung jika pemuda yang kau sukai itu aku. Lalu kenapa kau tak mengatakannya? Kenapa kau hanya diam dan menyembunyikan semuanya? Kenapa aku harus tahu dari ibumu dan itu setelah 2 tahun? Katakan kenapa, Eun Hwa?”

“Maaf kan aku, Eun Hwa. Maaf kan aku,” sesal Jinwoon. Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya di tanah, dengan bertumpu pada lututnya, Jinwoon menunduk memohon maaf dari Eun Hwa. “Maaf kan aku yang tak peka atas kehadiranmu. Maaf kan aku yang tak menyadari perasaanmu. Maaf kan aku, Eun Hwa. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik. Mau kan kau memaafkanku? Aku mohon, Eun Hwa, maafkan aku.....”

“Oppa....” terdengar suara gadis yang memanggil Jinwoon. Dengan susah payah gadis itu berjalan mendekati Jinwoon. “Oppa....” panggil gadis itu terdengar manja, tangan gadis itu terus saja mengusap perutnya yang membuncit.

“Sebentar lagi, Hye Joo,” kata Jinwoon pada gadis itu. “Eun Hwa, kenalkan. Dia istriku, Kim Hye Joo. Kami menikah tahun ini, Eun Hwa. Seperti katamu waktu itu, aku bahagia, Eun Hwa.”

Hye Joo memegang bahu Jinwoon lembut. “Salam kenal, Eun Hwa. Maafkan aku baru mengunjungimu sekarang,” ujarnya.

“Sekali lagi maafkan aku, Eun Hwa,” ucap Jinwoon. “Semoga bahagia di sana, Eun Hwa. Tunggulah sampai aku menemuimu nanti, aku akan memainkan biola untukmu setiap hari. Selama itu jagalah dirimu dengan baik.”

.

Even if we are ever to regret our break up

I can’t do anything but give you our farewell

Don’t cry in pain counting the time that’s passed

Don’t miss a foolish love that’s already passed

One who looks at you and needs only you

Meet someone who loves you so much they can’t stand a day without you

Please, I hope that you’ll be happy

Let’s never meet again

~e.n.d~

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates