Sabtu, 07 April 2012

SF_PLAY YOUR LOVE_After School


Play Your Love
Written by M.V.P
Inspire by A song of After School – Play You Love


                Udara di apartemen ini entah kenapa terasa sesak sekali. Yang dilakukan kedua orang itu hanya duduk di sofa dan membisu, menyimpan hati itu dalam-dalam. Sesekali menghela nafas lalu mengadahkan kepalanya. Si prianya terlihat gusar, ingin mengatakan sesuatu tapi yang dia lakukan hanya membolak-balikkan telapak tangannya. Sedangkan si wanitanya menyibukkan diri memilin-milin rambutnya.

                “Um…” sepertinya wanitanya akan membuka percakapan ini,”Kau lapar? Aku masakkan sesuatu ya?”

                Belum sempat melangkahkan kaki, si prianya sudah menahannya pergi. Mengenggam pergelangan tangan yang kecil itu dan menuntunnya untuk kembali duduk. “Aku tidak lapar,” katanya pelan.
                “Ada apa? Apa sesuatu telah terjadi?” terdengar dari nada suaranya dia takut untuk menanyakan ini pada kekasihnya itu.

                Tangan pria itu menggenggam tangan wanita itu agak lama lalu melepaskannya dan menghela nafas. “Kita… Kita akhir saja sampai di sini,” suaranya agak berat tapi tegas.

                Tubuhnya gemetar mendengar kata-kata itu langsung. “Apa? Jangan bercanda,” kata wanita itu sambil mendekatkan diri dan memegang siku pria itu, “Katakan kau hanya bercanda. Kak Iqbal, kita… pertunangan kita bagaimana? Kau bercanda kan, umh? Iya kan?”

                Nama pria itu adalah Iqbal dan mereka seharusnya akan bertunangan 2 minggu lagi. “Namira…” kata Iqbal menyebut namanya dengan helaan nafas panjang.

                “Kakak, ini tidak mungkin. Jangan lakukan ini. Kumohon,” pinta gadis di hadapannya itu, Namira.

                Iqbal menggelengkan kepalanya. Mencoba tersenyum dan membelai wajahnya. Dia tahu ini sulit untuk mereka berdua, tapi memang semuanya harus begini. “Kau bisa hidup tanpa aku. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku sudah menemui orang tuamu dan meminta maaf. Ku harap kau mau mengerti,” kata Iqbal merayunya untuk memahaminya.

                “Tidak. Tidak. Tunggu sebenentar,” kata Namira dan berlari ke dalam kamarnya.

                “Namira!” Iqbal berusaha memanggilnya. Kamarnya terkunci, Iqbal tidak bisa masuk ke dalam sana untuk membujuknya.

                Sudah hampir 10 menit Namira mengurung dirinya. Iqbal duduk di sofa sambil berusaha menyuruhnya keluar dengan menelepon ke ponsel Namira, tapi dia tidak mengangkatnya. “Kak Iqbal,” Namira muncul dari balik kamarnya dengan gaun pertunangan mereka,”kau tidak suka? Apa ini sebabnya? Aku harus mengecilkan di bagian mana? Atau warnanya? Ini tidak cocok untukku?” Namira berlari ke sana-kemari bercermin, merias wajahnya di depan Iqbal, sampai mengambil gunting untuk memotong gaun itu.

                “Hentikan,” tangan Iqbal menghentikan Namira yang ingin menggunting gaun itu,”Namira…”

                Gadis itu terduduk di lantai. Menangis sejadi-jadinya, bingung dengan semua yang terjadi. Pria itu tidak menjelaskan apapun. Alasannya saja tidak, lalu bagaimana ini bisa diterima Namira dengan mudah? Sebentar lagi akan bertunangan namun tiba-tiba saja ingin mengakhiri semuanya bahkan sebelum pertunangan diadakan.

                Keduanya sama-sama diam lagi. Namira duduk di sudut ruangan masih dengan mengenakan gaunnya, sedangkan Iqbal duduk di sofa sambil memejamkan matanya. Anggrek hitam di dalam ruangan itu serasa ingin layu karena udara di ruangan yang sangat buruk. Ikan hias milik Namira dan Iqbal yang mereka beli saat tamasya tahun lalu, tidak berusaha membuat tingkah lucu untuk membuat keduanya memperhatikan mereka. Hari ini adalah hari terburuk sepanjang hidup keduanya.

                Mencintai selama lebih dari 3 tahun dan berakhir dengan kata-kata seperti itu tanpa ada penyebabnya. Dipikir-pikir lagi, tidak pernah mereka bertengkar akhir-akhir ini. Hanya saja tidka bisa saling menghubungi satu sama lain karena pekerjaan masing-masing. Iqbal dengan pekerjaannya sebagai dokter dan Namira sebagai designer di suatu perusahaan fashion.

                “Aku ingin istrirahat,” kata Namira berjalan dengan gantai ke arah kamarnya,”besok aku ada Fashion Show.”

                “Lalu bag...” kata-kata Iqbal terputus.

                GRRKK…

                Ia tidak sengaja menjatuhkan recorder Namira, yang ada di sofa,  ke lantai.

                “Kak Iqbal, aku merindukanmu. Aku dapat pekerjaan besar! Designku berhasil di rilis lagi. setelah ini, aku yang traktir. Kakak, apa kau sibuk sekali dengan pasien-pasien itu? umh, menyebalkan. Tapi, luangkan waktu sebentar untukku, kita makan diluar? Kakak~ Kakak~ Kakak~ aku merancang sendiri gaun pertunangan kita. Oh! Aku juga membuatkan tuxedo untukmu. Kakak, terima kasih karena kau memilihku. Mulai sekarang dan sampai nanti aku akan menjadi lebih baik lagi demi kakak. Aku mencintaimu. Kakak sek---“ kaset recorder itu menyala sendiri, tapi Namira buru-buru mengambilnya.

                “Bukan apa-apa,” kata Namira menjelaskan dengan sangat singkat.

                GREPP…

                Iqbal memeluknya dari belakang. Menempelkan pipinya pada pipi Namira dan saat itu juga air mata Namira membasahi pipinya. Gadis itu, dia tidak akan bisa melukai gadis yang satu ini. Bukan hanya tidak bisa, tapi tidak boleh. Jemari Iqbal menggenggam tangan yang gemetar itu, berusaha menenangkannya.

                “Maaf. Maaf. Maaf,” katanya berulang kali,”jangan takut. Aku salah, aku minta maaf.”

                Poni Iqbal menyentuh mata Namira yang terpejam sambil menangis. Mencium kening Namira pelan. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sinarnya membuat siluet kedua orang itu terlihat indah. Rambut merah Iqbal berkilauan terkena sinarnya. Gaun yang dibuat sendiri oleh Namira terlihat indah saat sinar matahari menerpanya. Memancarkan kilau dari permata-permata yang ia pasang. Apakah hari ini akan berakhir buruk atau malah sebaliknya.



                ***
“Ibu, sepatuku dimana?!” teriak Dion, anak yang paling tua dan duduk di bangku SMA.

                “Ibu?! Pitaku yang baru ibu buatkan, apa ibu melihatnya?” kalau yang ini Jessica, anak normor dua dan umurnya beda 4 tahun dengan kakaknya.

                “Ibu- ibu- ibu!” teriak si kembar yang berlari-lari di kaki meja karena tubuh mereka yang masih pendek. Umur mereka 6 tahun.

               “Sayang, tolong bantu Dion dan Jessica~!” seseorang keluar dari balik dapur dengan celemeknya, dia adalah Namira.

                “Sedang aku lakukan,” teriaknya dari kamar Jessica. ”Kau harus belajar untuk mengingat semua benda yang kau letakkan,” komentarnya menasihati, dia adalah Iqbal, dialah suami Namira.

                Jessica memakai pita rambutnya. “Ibu bilang, kau cinta pertamanya. Haduh, kau bahkan lebih baik dari ayah kandungku dan Dion. Lebih tampan dan kaya. Harusnya ayah menikah dengan ibu sebelum ayah kandung kami melamarnya. Entah kenapa aku menyesal sekali harus mengakui orang itu adalah ayah kandungku,” cicitnya dan menggandeng tangan Iqbal,”Ayah, hari ini antarkan aku ke sekolah lagi ya. Mereka bilang, ayahku tampan sekali. 7 tahun ini hidupku bahagia sekali, akan aku anggap kau ayah kandungku.”

                “Kau bicara apa? Sekolahku yang paling jauh. Lagipula hari ini adalah jadwal ayah mengantarkanku,” protes Dion pada Jessica.

                “Kau kan laki-laki. Naik saja kendaraan umum,” kata Jessica bersungut-sungut.

                “Tidak mau!” teriaknya dan menoleh pada Ayahnya,”hari ini aku ada pertandingan basket. Apa… um, Ayah akan datang?”

                Iqbal menatap kedua anak tirinya yang ada dihadapannya dengan rasa sayang.

                “Kali ini sebagai ayah kandungku. Kemarin kau membelaku saat guru-guru menuduhku menyontek. Kau bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan ayahku dulu.  Selama 7 tahun yang lalu, anggap saja aku anak durhaka karena tidak bisa menerimamu dengan baik,” kata Iqbal dewasa sekali.

                Iqbal tertawa sejenak. “Kemari kalian berdua,” dia memeluk anak-anak itu dengan hangat,”jadi, baru sekarang aku menjadi ayah kalian secara resmi? Hahaha~ tidak masalah. Aku akan datang ke pertandinganmu. Tidak, semuanya. Kita semua akan datang. Jessy, aku, Ibumu, dan si kembar Mika dan Kael. Aku janji.”

                Di luar Namira menggendong Mika dan Kael, anak hasil pernikahannya dengan Iqbal. Menatap kedua anak itu sambil tersenyum. “Ayahmu, mencintainya hal yang paling indah walaupun ada kalanya cintanya terasa menyesakkan. Anakku sayang,” katanya sambil mencium kedua anak itu.
***

gak akan lari gunung dikejar, kalau jodoh ya gak kemana kan? ^^v #M.V.P

1 komentar:

Sandra Ann mengatakan...

bikin SF yang lain donk. request MBLAQ - its war atau Super Junior - Opera, Jay Park - Girlfriend, NUEST - Face.

gomawo~

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates