Play
Your Love
Written
by M.V.P
Inspire by A song of After School – Play You
Love
Udara di
apartemen ini entah kenapa terasa sesak sekali. Yang dilakukan kedua orang itu
hanya duduk di sofa dan membisu, menyimpan hati itu dalam-dalam. Sesekali
menghela nafas lalu mengadahkan kepalanya. Si prianya terlihat gusar, ingin
mengatakan sesuatu tapi yang dia lakukan hanya membolak-balikkan telapak
tangannya. Sedangkan si wanitanya menyibukkan diri memilin-milin rambutnya.
“Um…”
sepertinya wanitanya akan membuka percakapan ini,”Kau lapar? Aku masakkan
sesuatu ya?”
Belum
sempat melangkahkan kaki, si prianya sudah menahannya pergi. Mengenggam
pergelangan tangan yang kecil itu dan menuntunnya untuk kembali duduk. “Aku
tidak lapar,” katanya pelan.
“Ada
apa? Apa sesuatu telah terjadi?” terdengar dari nada suaranya dia takut untuk
menanyakan ini pada kekasihnya itu.
Tangan
pria itu menggenggam tangan wanita itu agak lama lalu melepaskannya dan
menghela nafas. “Kita… Kita akhir saja sampai di sini,” suaranya agak berat
tapi tegas.
Tubuhnya
gemetar mendengar kata-kata itu langsung. “Apa? Jangan bercanda,” kata wanita
itu sambil mendekatkan diri dan memegang siku pria itu, “Katakan kau hanya
bercanda. Kak Iqbal, kita… pertunangan kita bagaimana? Kau bercanda kan, umh? Iya
kan?”
Nama
pria itu adalah Iqbal dan mereka seharusnya akan bertunangan 2 minggu lagi.
“Namira…” kata Iqbal menyebut namanya dengan helaan nafas panjang.
“Kakak,
ini tidak mungkin. Jangan lakukan ini. Kumohon,” pinta gadis di hadapannya itu,
Namira.
Iqbal
menggelengkan kepalanya. Mencoba tersenyum dan membelai wajahnya. Dia tahu ini
sulit untuk mereka berdua, tapi memang semuanya harus begini. “Kau bisa hidup
tanpa aku. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku sudah menemui orang tuamu dan
meminta maaf. Ku harap kau mau mengerti,” kata Iqbal merayunya untuk
memahaminya.
“Tidak.
Tidak. Tunggu sebenentar,” kata Namira dan berlari ke dalam kamarnya.
“Namira!”
Iqbal berusaha memanggilnya. Kamarnya terkunci, Iqbal tidak bisa masuk ke dalam
sana untuk membujuknya.
Sudah
hampir 10 menit Namira mengurung dirinya. Iqbal duduk di sofa sambil berusaha
menyuruhnya keluar dengan menelepon ke ponsel Namira, tapi dia tidak
mengangkatnya. “Kak Iqbal,” Namira muncul dari balik kamarnya dengan gaun
pertunangan mereka,”kau tidak suka? Apa ini sebabnya? Aku harus mengecilkan di
bagian mana? Atau warnanya? Ini tidak cocok untukku?” Namira berlari ke
sana-kemari bercermin, merias wajahnya di depan Iqbal, sampai mengambil gunting
untuk memotong gaun itu.
“Hentikan,”
tangan Iqbal menghentikan Namira yang ingin menggunting gaun itu,”Namira…”
Gadis
itu terduduk di lantai. Menangis sejadi-jadinya, bingung dengan semua yang
terjadi. Pria itu tidak menjelaskan apapun. Alasannya saja tidak, lalu
bagaimana ini bisa diterima Namira dengan mudah? Sebentar lagi akan bertunangan
namun tiba-tiba saja ingin mengakhiri semuanya bahkan sebelum pertunangan
diadakan.
Keduanya
sama-sama diam lagi. Namira duduk di sudut ruangan masih dengan mengenakan
gaunnya, sedangkan Iqbal duduk di sofa sambil memejamkan matanya. Anggrek hitam
di dalam ruangan itu serasa ingin layu karena udara di ruangan yang sangat
buruk. Ikan hias milik Namira dan Iqbal yang mereka beli saat tamasya tahun
lalu, tidak berusaha membuat tingkah lucu untuk membuat keduanya memperhatikan
mereka. Hari ini adalah hari terburuk sepanjang hidup keduanya.
Mencintai
selama lebih dari 3 tahun dan berakhir dengan kata-kata seperti itu tanpa ada
penyebabnya. Dipikir-pikir lagi, tidak pernah mereka bertengkar akhir-akhir
ini. Hanya saja tidka bisa saling menghubungi satu sama lain karena pekerjaan
masing-masing. Iqbal dengan pekerjaannya sebagai dokter dan Namira sebagai
designer di suatu perusahaan fashion.
“Aku
ingin istrirahat,” kata Namira berjalan dengan gantai ke arah kamarnya,”besok aku
ada Fashion Show.”
“Lalu
bag...” kata-kata Iqbal terputus.
GRRKK…
Ia tidak
sengaja menjatuhkan recorder Namira, yang ada di sofa, ke lantai.
“Kak Iqbal, aku merindukanmu. Aku dapat
pekerjaan besar! Designku berhasil di rilis lagi. setelah ini, aku yang
traktir. Kakak, apa kau sibuk sekali dengan pasien-pasien itu? umh,
menyebalkan. Tapi, luangkan waktu sebentar untukku, kita makan diluar? Kakak~
Kakak~ Kakak~ aku merancang sendiri gaun pertunangan kita. Oh! Aku juga
membuatkan tuxedo untukmu. Kakak, terima kasih karena kau memilihku. Mulai
sekarang dan sampai nanti aku akan menjadi lebih baik lagi demi kakak. Aku
mencintaimu. Kakak sek---“ kaset recorder itu menyala sendiri, tapi Namira
buru-buru mengambilnya.
“Bukan
apa-apa,” kata Namira menjelaskan dengan sangat singkat.
GREPP…
Iqbal
memeluknya dari belakang. Menempelkan pipinya pada pipi Namira dan saat itu
juga air mata Namira membasahi pipinya. Gadis itu, dia tidak akan bisa melukai
gadis yang satu ini. Bukan hanya tidak bisa, tapi tidak boleh. Jemari Iqbal
menggenggam tangan yang gemetar itu, berusaha menenangkannya.
“Maaf.
Maaf. Maaf,” katanya berulang kali,”jangan takut. Aku salah, aku minta maaf.”
Poni
Iqbal menyentuh mata Namira yang terpejam sambil menangis. Mencium kening
Namira pelan. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sinarnya membuat siluet
kedua orang itu terlihat indah. Rambut merah Iqbal berkilauan terkena sinarnya.
Gaun yang dibuat sendiri oleh Namira terlihat indah saat sinar matahari
menerpanya. Memancarkan kilau dari permata-permata yang ia pasang. Apakah hari
ini akan berakhir buruk atau malah sebaliknya.
***
“Ibu, sepatuku dimana?!” teriak Dion, anak
yang paling tua dan duduk di bangku SMA.
“Ibu?!
Pitaku yang baru ibu buatkan, apa ibu melihatnya?” kalau yang ini Jessica, anak
normor dua dan umurnya beda 4 tahun dengan kakaknya.
“Ibu-
ibu- ibu!” teriak si kembar yang berlari-lari di kaki meja karena tubuh mereka
yang masih pendek. Umur mereka 6 tahun.
“Sayang,
tolong bantu Dion dan Jessica~!” seseorang keluar dari balik dapur dengan
celemeknya, dia adalah Namira.
“Sedang
aku lakukan,” teriaknya dari kamar Jessica. ”Kau harus belajar untuk mengingat
semua benda yang kau letakkan,” komentarnya menasihati, dia adalah Iqbal,
dialah suami Namira.
Jessica
memakai pita rambutnya. “Ibu bilang, kau cinta pertamanya. Haduh, kau bahkan
lebih baik dari ayah kandungku dan Dion. Lebih tampan dan kaya. Harusnya ayah
menikah dengan ibu sebelum ayah kandung kami melamarnya. Entah kenapa aku
menyesal sekali harus mengakui orang itu adalah ayah kandungku,” cicitnya dan
menggandeng tangan Iqbal,”Ayah, hari ini antarkan aku ke sekolah lagi ya.
Mereka bilang, ayahku tampan sekali. 7 tahun ini hidupku bahagia sekali, akan
aku anggap kau ayah kandungku.”
“Kau
bicara apa? Sekolahku yang paling jauh. Lagipula hari ini adalah jadwal ayah
mengantarkanku,” protes Dion pada Jessica.
“Kau kan
laki-laki. Naik saja kendaraan umum,” kata Jessica bersungut-sungut.
“Tidak
mau!” teriaknya dan menoleh pada Ayahnya,”hari ini aku ada pertandingan basket.
Apa… um, Ayah akan datang?”
Iqbal
menatap kedua anak tirinya yang ada dihadapannya dengan rasa sayang.
“Kali
ini sebagai ayah kandungku. Kemarin kau membelaku saat guru-guru menuduhku
menyontek. Kau bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan ayahku dulu. Selama 7 tahun yang lalu, anggap saja aku
anak durhaka karena tidak bisa menerimamu dengan baik,” kata Iqbal dewasa
sekali.
Iqbal
tertawa sejenak. “Kemari kalian berdua,” dia memeluk anak-anak itu dengan
hangat,”jadi, baru sekarang aku menjadi ayah kalian secara resmi? Hahaha~ tidak
masalah. Aku akan datang ke pertandinganmu. Tidak, semuanya. Kita semua akan
datang. Jessy, aku, Ibumu, dan si kembar Mika dan Kael. Aku janji.”
Di luar
Namira menggendong Mika dan Kael, anak hasil pernikahannya dengan Iqbal.
Menatap kedua anak itu sambil tersenyum. “Ayahmu, mencintainya hal yang paling
indah walaupun ada kalanya cintanya terasa menyesakkan. Anakku sayang,” katanya
sambil mencium kedua anak itu.
***
gak akan lari gunung dikejar, kalau jodoh ya gak kemana kan? ^^v #M.V.P

1 komentar:
bikin SF yang lain donk. request MBLAQ - its war atau Super Junior - Opera, Jay Park - Girlfriend, NUEST - Face.
gomawo~
Posting Komentar