Nagging
Written by MVP
Inspire by Song of IU
feat Seulong 2AM– Nagging
YYY
Stop staying out so late~ Try not to drink so often
You never listen to me just like a 10 years old child~
Really, I can only laugh~ Who are you
calling a child? ~Really, I can help but laughing
You don’t know how it feels for me to say those things
You don’t know that I just only want to
have nice conversations with you
Should we stop? ~(Let’s stop)
Na
Hyun seperti penampakan di depan apartemen Sung Yeol. Berkacak pinggang dan
melotot ke arahnya. Ini sudah kesekian
kalinya pria itu terlambat pulang. Di tahun pertama mereka kuliah, Sung Yeol
jadi berubah 90o tidak seperti dirinya yang dahulu. Di Incheon ini,
dua sejoli itu tinggal bersama karena biaya hidup yang terlalu berat untuk
ditanggung sendirian. Mereka berdua berasal dari Seoul, berkelana ke Incheon
hanya untuk mendapat beasiswa yang mereka inginkan.
“tto~ tto~” gadis itu melipat tangannya di dada,”ini sudah ratusan
kalinya kau pulang malam. Hiya, Sung Yeol-ah… besok kau harus kuliah pagi-pagi
sekali.”
Pria itu mengacak-acak rambut Na
Hyun. Seluruh tubuhnya bau alkohol, dengan tangannya yang besar dia
menyingkirkan Na Hyun dari depan pintu masuk. “Sana tidur,” katanya sambil
berlalu.
“Kau minum lagi?!” Na Hyun
berteriak di telinganya.
“Hyun-nah, kau tahu aku kan?
Sebanyak apapun yang aku minum, aku tidak pernah mabuk. Kau lihat sendiri aku
kembali dengan sadarkan?” kata Sung Yeol menjawab ocehan Na Hyun.
Sung Yeol meraih daun pintu
kamarnya dan membukanya, tapi Na Hyun sengaja menghalanginya masuk ke dalam
kamar. “Aku belum selesai bicara,” katanya menatap ke dalam bola mata Sung Yeol
yang berwarna coklat tua,”jangan begini. Hentikan. Ini sudah keterlaluan. kau
harus ingat apa yang kita lakukan demi beasiswa ini.”
Sung Yeol tidak menjawabnya.
Sejujurnya, kepalanya berat sekali hari ini.
“Kenapa kau tidak menjawab?”
ocehan Na Hyun malah membuat kepala Sung Yeol semakin berdenyut-denyut,”apakah
kau harus selalu pulang malam begini? Berhentilah minum-minum. Aku tahu kau
tidak mudah mabuk, tapi kau harus lebih perhatikan kesehatanmu. Kenapa kau
bertingkah seperti anak kecil seperti ini?”
“Borago?” Sung Yeol akhirnya membuka mulutnya,”kau bilang anak
kecil. Hu- siapa yang kau sebut anak kecil? Aku? naega? Cih—“
Percakapan ini tidak bisa
diteruskan karena kalau tidak, mereka akan berakhir dengan pertengkaran. Na
Hyun mengerutkan keningnya, takut kalau dia salah bicara. “Oppa~” panggilnya
lembut.
“Haruskah setiap hari kau
menyambutku seperti ini? Kapan kau akan berhenti mengkuliahiku?” katanya
sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.
Di luar pintu kamar Sung Yeol,
Na Hyun menundukkan wajahnya sedih. Memukul-mukulkan kepalan tanganya pelan ke
dinding. Dia sengaja bergadang begini agar dapat bicara dengan Sung Yeol, tapi
malah berakhir hanya seperti ini. “Hummp~” Na Hyun menghela nafasnya
panjang-panjang.
Pigura di ruang tengah itu
terlihat usang. Itu hanya foto musim panas tahun lalu, mereka tidak memiliki
foto bersama lagi sejak Sung Yeol menjadi lebih sibuk seperti ini. Berangkat
kuliah tidak selalu bersama, berkencan juga jarang, satu-satunya waktu bersama
mereka hanyalah di apartemen kecil ini. Tapi, kalau bertengkar begini apa yang
harus dilakukan?
“Hummp~ apa kau tahu aku ingin
kita mengobrol bersama dan bukan seperti ini?” di kamarnya, Sung Yeol bicara
sendiri pada dirinya,”Na Hyun…”
YYY
From one to ten, They’re all words to make you better
But since you don’t listen to me, it’s only sound like a
nag to you
Let’s stop, let’s stop~ There’s not even
enough time for us to just love
This nagging is said from my heart not just randomly
I can’t help but keep nagging even if you hate it
Let’s stop, let’s stop~ All I can hear is
your nagging
Naskah tebal berserakan di
bangku kuliah Na Hyun. Deadline
penyerahan naskah sudah hampir dekat, tapi semuanya masih berantakan. Beberapa
adegan harus diperbaiki ulang karena unsur fiksi-nya terlalu berlebihan untuk genre yang ia tawarkan. Na Hyun mengikat
rambutnya ke atas, menarik syal rajutannya menutupi dagunya yang kedinginan.
Sudah beberapa hari ini hubungannya dengan Sung yeol juga tidak begitu baik.
Ini memperparah masalahnya.
“Tidak mencariku,” gumamnya
pelan setelah melihat ponselnya.
Layar ponsel sentuh itu bergerak
naik-turun karena Na Hyun sedang memainkan tampilan utamanya. Memandangi screen server ponselnya yang bergambar
Sung Yeol sedang tidur dan gambar saat keduanya berfoto di Namsan Tower bersama
saat masih SMA dulu. Wajah polos Sung Yeol di foto membuat secercah senyum dari
bibir Na Hyun. Memberinya sedikit kekuatan untuk menghadapi test uji naskah-nya
besok.
“Berikan aku vitamin, Sung
Yeol-ah~” gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba saja layar ponselnya
menyala. Sung Yeol menghubunginya!
“Oh! Oppa~” Na Hyun buru-buru menjawab panggilan itu dan tidak lupa
untuk menggunakan aegyo-nya.
“Hyun-na, hari ini aku harus
berlatih untuk pementasan musik. Aku akan tidur di kampus hari ini. Jangan
menungguku di luar. Ok?,” kata Sung Yeol dari seberang sana.
ZZIIINNNKKK…
Hati Na Hyun serasa hampa.
Separuh kesadarannya seperti keluar dari tubuh dan segera terbang mencari
sumber suara yang membuat hatinya begitu hampa begitu untuk membuat perhitungan
dengannya.
“enngg… Jin- Jinjaro?” suara
gadis itu melemah,”tapi, besok aku ada—“
“Aku harus segera pergi. Aku
tutup ya,” kata Sung Yeol buru-buru.
“HIYA!” Na Hyun tidak bisa
menahan dirinya untuk tidak marah pada Sung Yeol,”kau benar akan pergi hari
ini?! Oppa, apa kau mau
meninggalkanku lagi sendirian hari ini? Ah~ Jajangna~”
Na Hyun menyebutnya Jajangna yang
artinya menyebalkan.
“Jangiya, besok aku harus ke Hongdae untuk pementasaannya. Ku mohon,
kali ini aku tidak pergi untuk minum,” pria itu berusaha menjelaskan dengan
sepenuh hatinya.
Tetapi bagi Na Hyun itu bukan
suatu pengecualian untuk meninggalkannya lagi hari ini. “Apa aku bisa ikut
bersamamu?” kata Na Hyun singkat.
“mmhhh…” gumam Sung Yeol di
telepon,”aku tutup. Latihan sudah dimulai. Sampai jumpa nanti.”
Suara yang ia dengar menghilang
dari percakapan. Meletakkan ponselnya di antara tumpukan naskahnya tanpa
semangat. Lagi-lagi Sung Yeol seperti ini, dari hati kecil Na Hyun yang ia
inginkan adalah waktu bersama dengan Sung Yeol seperti saat mereka SMA dulu.
Membeli ddeokbokki di depan sekolah, kencan di Myeondong pada hari libur sekolah atau
sekedar duduk di taman sambil memakan es krim dan snack kecil.
Lagu-lagu dari hallyu idol yang diperdengarkan di radio
kampus sama sekali tidak bisa merubah suasana hati Na Hyun. Perlahan Na Hyun
membiarkan naskah-naskah itu menyanggah kepalanya, sementara tangannya menutupi
wajah sedih yang tidak ingin diperlihatkan pada siapapun. Hati kecilnya
mengharapkan Sung Yeol menghubunginya lagi sekedar untuk meminta maaf atau
menggodanya untuk tidak marah. Tapi, itu tidak terjadi.
YYY
Are you eating at the right time~ Are you keeping
distances from other girls
I just want to be by your side~
That’s my feeling to you~ If I could put
you in my pocket~ I will be really happy
The nagging is just about us
A nagging that will make anyone laugh if
they hear
Should we stop? ~Let’s stop
Ruang tengah sekaligus ruang tamu apartemen itu berantakan
sekali. Dipenuhi kertas-kertas bekas tulisan naskah yang gagal. Tidak tahu
harus menulis apa pada bagian akhir naskahnya, yang dilakukan Na Hyun hanya
mondar-mandir dari dapur ke depan laptopnya lalu ke dapur lagi kemudian kembali
duduk di depan laptopnya. Tidak ada ide dan mood
yang bisa membantu melancarkan tulisannya. Segala cara sudah ia lakukan untuk
mengembalikan mood-nya. Dari mulai
pergi ke salon untuk mewarnai rambutnya menjadi coklat kemerahan, hingga mencat
kuku-kukunya dengan warna biru. Tapi, tidak ada satupun ide yang muncul dan ini
membuatnya frustasi.
“Ide. Aku butuh ide. Ahhh! Ini
menyebalkan sekali!” dia berteriak-teriak sendiri.
Di saat seperti ini, biasanya
Sung Yeol keluar dari kamar untuk melihat yang ia kerjakan. Memberikannya
masukkan di sana-sini, menyuruhnya mengganti adegan yang buruk dengan idenya.
Sung Yeol kuliah di jurusan seni, sedangkan Na Hyun di jurusan perfilman. Itu
sebabnya mereka saling melengkapi. Actor
Sung Yeol, begitu Na Hyun menyebutnya karena acting-nya yang sangat baik. Saat Na Hyun menjadi keras kepala dan
ingin mempertahankan adegan itu, Sung Yeol selalu mencoba adegan itu dan
memperlihatkan kelemahan adegan itu.
“Apa yang kau lakukan saat ini?”
tanyanya pada sebuah bingkai kecil di atas buffet kecil, foto saat mereka lulus
SMA.
Matanya seperti melihat bayangan
dirinya dan Sung Yeol saat pertama kali pindah di sini. Mengangkati
barang-barang itu sendiri, membeli tirai diskon dan memasangnya di ruangan ini,
berlarian ke sana-kemari saat Na Hyun menumpahkan satu panci panas ramyeon, dan duduk bersama di depan tv
saat malam telah tiba.
“Apa pertunjukkanmu di Hongdae
telah berakhir? Ummm, tapi… mana mungkin kau pulang hari ini. Ini kan sudah
malam, kau pasti tidur di rumah temanmu. Iya kan?” katanya berbicara pada foto
Sung Yeol.
Naskah-naskah gagal itu mulai dibersihkan.
Meletakkannya di keranjang sampah lalu Na Hyun mematikan laptopnya. “Yang
kubutuhkan hanyalah istirahat. Iya, istirahat. Na Hyun, kau pasti bisa.
Fighting!” katanya menyemangati dirinya sendiri.
Tit-tiit-tiiit (TINUNIT…)
Pintu apartemen mendadak
terbuka. Sung Yeol muncul dari sana dengan tas kostum-nya. Mata mereka saling
bertatapan. Memandangi satu sama lain beberapa saat. “Kau mewarnai rambutmu?
Sejak kapan kau boleh memakai celana pendek di rumah?” komentar Sung Yeol pada
penampilan gadis itu.
Memang mereka membuat peraturan
untuk tidak memakai celana pendek di dalam rumah apalagi saat mereka bersama.
Na Hyun mengira, Sung Yeol tidak akan pulang hari ini dan memutuskan memakai
celana pendek karena aktivitasnya yang padat dan bisa membuat tubuhnya gerah.
“Selamat datang,” katanya lalu masuk ke dalam kamar.
“Na Hyun…,” panggil Sung Yeol.
“Apa kau sudah makan? Aku makan
di luar hari ini. Kalau lapar, kau… em, telepon saja restoran 24 jam,” kata Na
Hyun padanya dan menutup pintu kamarnya.
Dibalik tangannya, Sung Yeol
menyembunyikan sesuatu untuk Na Hyun tapi karena Na Hyun sedang marah. Niat itu
ia urungkan. Ponsel Sung Yeol berdering,”yeobseo? Ah~ Shin Hye-nah, keluar?
Tidak, aku baru sampai. Di sekitar sini? Ah, aku akan turun sebentar lagi. ung~
ung~ araso~ bye-bye,” Sung Yeol menutup percakapan itu.
Kakinya sudah ingin melangkah
keluar dari apartemen itu, namun hatinya menyuruhnya untuk tetap di rumah kali
ini saja. Dari balik pintu kamarnya, Na Hyun mendengarkan percakapan Sung Yeol
ditelepon. Menangisi pria bertubuh tinggi 180 cm berambut hitam kebiru-biruan
gelap itu.
“Pergi.. Pergi saja,” keluh Na
Hyun setengah menangis.
YYY
From one to ten, They’re all words to make you better
But since you don’t listen to me, it’s only sound like a nag
to you
Let’s stop, let’s stop~ There’s not even
enough time for us to just love
This nagging is said from my heart not just randomly
I can’t help but keep nagging even if you hate it
Let’s stop, let’s stop~ All I can hear is your nagging
|
Caramel Milk Tea Pic by Usami Maki
|
Setengah mengeluh, Na Hyun memasak sup tahu lalu
menghidangkannya di meja. Menuangkan jus jeruk untuk dirinya sendiri dan
mengambil semangkuk nasi untuk dirinya sendiri juga. Biasanya dia membuat double untuk dirinya dan Sung Yeol tapi
pagi ini Sung Yeol pasti sedang tidak di rumah. Setidaknya itu yang dipikirkan
Na Hyun saat menyiapkan sarapan.
“Kenapa hanya itu? Mana
untukku?” protes Sung Yeol padanya.
Sung Yeol baru saja selesai
mandi dan berjalan menghampirinya dengan handuk membungkus tubuh bagian
bawahnya.
“Oh! Ya Tuhan!” Na Hyun
berjingkat kaget, dia tidak mengira Sung Yeol ada di rumah,”oh~ HIYA! Apa yang
kau lakukan di sini? Siapa yang membolehkanmu menggunakan itu di ruangan selain
kamar pribadi?!”
Sung Yeol menggosok telinganya
kasar. “Teriakanmu itu… sebaiknya nanti setelah menjadi PD, kau tidak usah
memakai pengeras suara untuk berteriak,” oceh Sung Yeol kesal,”aku sudah lelah
dengan peraturan itu. Nanti juga akhirnya kita akan tidur bersama. Apa
pengaruhnya peraturan seperti itu? oh! Satu lagi.”
“mwo?!” kali ini pun Na Hyun
bertanya dengan nada yang sama tingginya dengan tadi.
“’apa yang kau lakukan di sini?’
apa aku sudah tidak dianggap penghuni lagi?” tanyanya sedikit tersinggung dengan
kata-kata Na Hyun tadi.
Na Hyun membuang mukanya, tidak
ingin menjawab pertanyaan Sung Yeol. Dia tidak bermaksud begitu, tapi biar saja
pria itu salah mengerti tentang maksud kata hatinya. Hitung-hitung sebagai
tanda bahwa dia sedang marah padanya.
“Um… baiklah,” kata Sung Yeol
menganggukkan kepalanya.
Di depan meja makan, Na Hyun
tidak memakan sarapannya. Mengaduk-aduk nasinya dan membuat tampilannya menjadi
sangat aneh. Di depannya mangkuk Sung Yeol masih kosong dan tertata rapi,
melihat tempat duduk Sung Yeol yang kosong sedikit memunculkan perasaan
menyesal telah berkata begitu pada kekasihnya itu.
Pintu kamar Sung Yeol menjeblak terbuka.
Muncul pria tampan dengan coat dan
sweeter rajut berwarna abu-abu di lehernya. Rambutnya tertata rapi dan tampaknya
dia mengenakan sedikit eyeliner di matanya untuk menyegarkan matanya yang sudah
berkantung karena kurang tidur. “Aku pergi dulu,” kata Sung Yeol pamit pada Na
Hyun.
GRREEEPPP!!!
Na Hyun memeluknya dari
belakang. Menangis di punggunya tersedu-sedu. “Maaf… Maaf… Tapi, bisakah kau
tidak pergi lagi?” suara Na Hyun bergetar.
Sung Yeol tidak membalas pelukan
Na Hyun. Ini membuat Na Hyun menjadi patah semangat dan melepaskan pelukannya
pelan-pelan. Berulang kali Na Hyun mengusap air matanya dengan kasar. Ia tidak
berusaha mengatakan sepatah katapun dan yang ia lakukan hanya menangis di
belakang tubuh tinggi Sung Yeol.
“Jangan menangis,” kata Sung
Yeol dan mengusap air mata Na Hyun dengan tangannya,”aku saja yang minta maaf.”
Satu senyum paling lembut dari Sung Yeol untuknya dengan diringi kata-kata
maaf.
Na Hyun terisak-isak,”wae?”
“Kau pasti sangat membenciku
karena kau menangis sampai sesak begini. Lihat wajahmu itu, sepertinya kau
bergadang terus. Coba aku lihat lagi matamu,” kata Sung Yeol mendekatkan
wajahnya pada wajah Na Hyun dan…
CHU~~~~
*di sensor ya… kekekeke~*
“Kemari gadis bodoh,” katanya
dan memeluk Na Hyun dengan sayang,”lebih baik karena sudah menangis? Aku
menyesal sekali kita selalu tidak ada waktu dan terus saja bertengkar satu sama
lain. Apa kau sedih kalau aku pergi lagi?”
Na Hyun menganggukan kepalanya
cepat.
“Aigooo~ baiklah kalau begitu, hari ini aku akan makan di rumah
saja. Tapi, Hyun-nah… kenapa kau pendek sekali?” kata Sung Yeol menggodanya
tapi gadis itu tetap saja menangis,”aiggoo~~
PD-ku yang cantik ini sangat sedih rupanya. Yeobbo, kau bisa membuat banjir
apartemen kita.”
Na Hyun mendorong Sung Yeol
menjauh dan menendang tulang kering Sung Yeol.
“ARGGHH!!!” pekik Sung Yeol
memegangi kakinya.
“Nappun namja~” kata Na Hyun untuk Sung Yeol.
Sung Yeol berhenti berteriak.
“Song Na Hyun, ayo kita menikah saja,” kata Sung Yeol sambil meraih tangan Na
Hyun dan mencium punggung tangannya.
PLLAAAAKK!!!
“AAARGGHHH!!!” Sung Yeol memekik
kesakitan lagi,”HIYA! Kenapa kau ini?! Apa yang kau lakukan?!”
Na Hyun baru saja mengeplak
kepala Sung Yeol,”apa kau kira pernikahan itu main-main? Apa yang harus
kulakukan pada suami yang suka keluyuran sepertimu? Ha?!”
Sung Yeol meliriknya tajam
berusaha membuat tampang mengerikan tapi wajah Sung Yeol terlalu tampan untuk
membuat Na Hyun ketakutan. “Kau ini! Kenapa kau selalu memukul dan memarahiku?!
Hiya!” Sung Yeol berteriak padanya,”baik, kau tidak mau menikah denganku
sekarang? Kalau begitu… ennggg… bagaimana ya… aku kan juga pria.. eh?”
Sung Yeol berjalan mendekatinya,
melepas syal rajutnya, dan menggoda Na Hyun dengan wajah nakalnya.
“Hiya~ Lee Sung Yeol. Apa yang
mau kau lakukan?” Na Hyun berjalan mundur menjauhinya,”tunggu sebentar. Hiya~
kita be- be- belum menyelesaikan sekolah kita kan? Eng…”
“Ah… berapa lama ya kita sudah
tinggal bersama? Hum… Hiya~ Song Na Hyuunnn~” Sung Yeol berbicara dengan
aegyo-nya.
“MENYINGKIR KAU!” pekik Na Hyun.
DUAAAAAKKK!
AAARRRRGGGHHHHH
Na Hyun membeturkan kepalanya ke
kepala Sung Yeol saat Sung Yeol hendak menciumnya dan mengambil langkah seribu
masuk ke dalam kamarnya.
“HIYYAAA! Song Na Hyun! Tubuhku
ini di asuransikan karena aku aktor! Bagaimana kau bisa melukai wajahku!
Aarrrghhh!” Sung Yeol terkapar di sofa dengan dahinya yang memar,”kau! Aku akan
menuntutmu atas tindakanmu ini. HIYA! Keluar kau sekarang!”
Di balik pintu, Na Hyun tertawa
senang. Akhirnya, mereka bisa bercanda seperti ini setelah sekian lama. “Mari
mulai dari awal lagi…”
“Song Na Hyun…”
“Lee Sung Yeol…”
“saranghye~” gumam keduanya
dalam hati.
YYY
Even if you glare at me and try to scare me~ your face is
just so cute to me
Are you going to keep nagging? (you~) I can’t ignore
anymore (anymore)
I really might get angry
A nagging that wouldn’t be told if I want to break up
Deep inside my heart, I always think about you
Even if you’re angry, even if you yell at
me~ Your nagging is just so sweet to me
A nagging that can only be told if we are in love
But since you don’t listen to me, it’s only sound like a
nag to you
Let’s stop, let’s stop~ And trust my feeling
YYY


0 komentar:
Posting Komentar