Kamis, 12 April 2012

SF_IU ft Seulong 2AM_Nagging


Nagging
Written by MVP
Inspire by Song of IU feat Seulong 2AMNagging



YYY
Stop staying out so late~ Try not to drink so often
You never listen to me just like a 10 years old child~
Really, I can only laugh~ Who are you calling a child? ~Really, I can help but laughing
You don’t know how it feels for me to say those things
You don’t know that I just only want to have nice conversations with you
Should we stop? ~(Let’s stop)

                Na Hyun seperti penampakan di depan apartemen Sung Yeol. Berkacak pinggang dan melotot ke arahnya.  Ini sudah kesekian kalinya pria itu terlambat pulang. Di tahun pertama mereka kuliah, Sung Yeol jadi berubah 90o tidak seperti dirinya yang dahulu. Di Incheon ini, dua sejoli itu tinggal bersama karena biaya hidup yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Mereka berdua berasal dari Seoul, berkelana ke Incheon hanya untuk mendapat beasiswa yang mereka inginkan.

                tto~ tto~” gadis itu melipat tangannya di dada,”ini sudah ratusan kalinya kau pulang malam. Hiya, Sung Yeol-ah… besok kau harus kuliah pagi-pagi sekali.”

                Pria itu mengacak-acak rambut Na Hyun. Seluruh tubuhnya bau alkohol, dengan tangannya yang besar dia menyingkirkan Na Hyun dari depan pintu masuk. “Sana tidur,” katanya sambil berlalu.

                “Kau minum lagi?!” Na Hyun berteriak di telinganya.

                “Hyun-nah, kau tahu aku kan? Sebanyak apapun yang aku minum, aku tidak pernah mabuk. Kau lihat sendiri aku kembali dengan sadarkan?” kata Sung Yeol menjawab ocehan Na Hyun.

                Sung Yeol meraih daun pintu kamarnya dan membukanya, tapi Na Hyun sengaja menghalanginya masuk ke dalam kamar. “Aku belum selesai bicara,” katanya menatap ke dalam bola mata Sung Yeol yang berwarna coklat tua,”jangan begini. Hentikan. Ini sudah keterlaluan. kau harus ingat apa yang kita lakukan demi beasiswa ini.”

                Sung Yeol tidak menjawabnya. Sejujurnya, kepalanya berat sekali hari ini.

             “Kenapa kau tidak menjawab?” ocehan Na Hyun malah membuat kepala Sung Yeol semakin berdenyut-denyut,”apakah kau harus selalu pulang malam begini? Berhentilah minum-minum. Aku tahu kau tidak mudah mabuk, tapi kau harus lebih perhatikan kesehatanmu. Kenapa kau bertingkah seperti anak kecil seperti ini?”

              Borago?” Sung Yeol akhirnya membuka mulutnya,”kau bilang anak kecil. Hu- siapa yang kau sebut anak kecil? Aku? naega? Cih—“
 
                Percakapan ini tidak bisa diteruskan karena kalau tidak, mereka akan berakhir dengan pertengkaran. Na Hyun mengerutkan keningnya, takut kalau dia salah bicara. “Oppa~” panggilnya lembut.

                “Haruskah setiap hari kau menyambutku seperti ini? Kapan kau akan berhenti mengkuliahiku?” katanya sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.

                Di luar pintu kamar Sung Yeol, Na Hyun menundukkan wajahnya sedih. Memukul-mukulkan kepalan tanganya pelan ke dinding. Dia sengaja bergadang begini agar dapat bicara dengan Sung Yeol, tapi malah berakhir hanya seperti ini. “Hummp~” Na Hyun menghela nafasnya panjang-panjang.

                Pigura di ruang tengah itu terlihat usang. Itu hanya foto musim panas tahun lalu, mereka tidak memiliki foto bersama lagi sejak Sung Yeol menjadi lebih sibuk seperti ini. Berangkat kuliah tidak selalu bersama, berkencan juga jarang, satu-satunya waktu bersama mereka hanyalah di apartemen kecil ini. Tapi, kalau bertengkar begini apa yang harus dilakukan?

                “Hummp~ apa kau tahu aku ingin kita mengobrol bersama dan bukan seperti ini?” di kamarnya, Sung Yeol bicara sendiri pada dirinya,”Na Hyun…”

YYY
From one to ten, They’re all words to make you better
But since you don’t listen to me, it’s only sound like a nag to you
Let’s stop, let’s stop~ There’s not even enough time for us to just love
This nagging is said from my heart not just randomly
I can’t help but keep nagging even if you hate it
Let’s stop, let’s stop~ All I can hear is your nagging

                Naskah tebal berserakan di bangku kuliah Na Hyun. Deadline penyerahan naskah sudah hampir dekat, tapi semuanya masih berantakan. Beberapa adegan harus diperbaiki ulang karena unsur fiksi-nya terlalu berlebihan untuk genre yang ia tawarkan. Na Hyun mengikat rambutnya ke atas, menarik syal rajutannya menutupi dagunya yang kedinginan. Sudah beberapa hari ini hubungannya dengan Sung yeol juga tidak begitu baik. Ini memperparah masalahnya.

                “Tidak mencariku,” gumamnya pelan setelah melihat ponselnya.

                Layar ponsel sentuh itu bergerak naik-turun karena Na Hyun sedang memainkan tampilan utamanya. Memandangi screen server ponselnya yang bergambar Sung Yeol sedang tidur dan gambar saat keduanya berfoto di Namsan Tower bersama saat masih SMA dulu. Wajah polos Sung Yeol di foto membuat secercah senyum dari bibir Na Hyun. Memberinya sedikit kekuatan untuk menghadapi test uji naskah-nya besok.

                “Berikan aku vitamin, Sung Yeol-ah~” gumamnya dalam hati.

                Tiba-tiba saja layar ponselnya menyala. Sung Yeol menghubunginya!

                “Oh! Oppa~” Na Hyun buru-buru menjawab panggilan itu dan tidak lupa untuk menggunakan aegyo-nya.

                “Hyun-na, hari ini aku harus berlatih untuk pementasan musik. Aku akan tidur di kampus hari ini. Jangan menungguku di luar. Ok?,” kata Sung Yeol dari seberang sana.

                ZZIIINNNKKK…

                Hati Na Hyun serasa hampa. Separuh kesadarannya seperti keluar dari tubuh dan segera terbang mencari sumber suara yang membuat hatinya begitu hampa begitu untuk membuat perhitungan dengannya.

                “enngg… Jin- Jinjaro?” suara gadis itu melemah,”tapi, besok aku ada—“ 

                “Aku harus segera pergi. Aku tutup ya,” kata Sung Yeol buru-buru.

                “HIYA!” Na Hyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak marah pada Sung Yeol,”kau benar akan pergi hari ini?! Oppa, apa kau mau meninggalkanku lagi sendirian hari ini? Ah~ Jajangna~” Na Hyun menyebutnya Jajangna yang artinya menyebalkan.

                Jangiya, besok aku harus ke Hongdae untuk pementasaannya. Ku mohon, kali ini aku tidak pergi untuk minum,” pria itu berusaha menjelaskan dengan sepenuh hatinya.

                Tetapi bagi Na Hyun itu bukan suatu pengecualian untuk meninggalkannya lagi hari ini. “Apa aku bisa ikut bersamamu?” kata Na Hyun singkat.

                “mmhhh…” gumam Sung Yeol di telepon,”aku tutup. Latihan sudah dimulai. Sampai jumpa nanti.”
 
                Suara yang ia dengar menghilang dari percakapan. Meletakkan ponselnya di antara tumpukan naskahnya tanpa semangat. Lagi-lagi Sung Yeol seperti ini, dari hati kecil Na Hyun yang ia inginkan adalah waktu bersama dengan Sung Yeol seperti saat mereka SMA dulu. Membeli ddeokbokki di depan sekolah, kencan di Myeondong pada hari libur sekolah atau sekedar duduk di taman sambil memakan es krim dan snack kecil. 

                Lagu-lagu dari hallyu idol yang diperdengarkan di radio kampus sama sekali tidak bisa merubah suasana hati Na Hyun. Perlahan Na Hyun membiarkan naskah-naskah itu menyanggah kepalanya, sementara tangannya menutupi wajah sedih yang tidak ingin diperlihatkan pada siapapun. Hati kecilnya mengharapkan Sung Yeol menghubunginya lagi sekedar untuk meminta maaf atau menggodanya untuk tidak marah. Tapi, itu tidak terjadi.

YYY
Are you eating at the right time~ Are you keeping distances from other girls
I just want to be by your side~
That’s my feeling to you~ If I could put you in my pocket~ I will be really happy
The nagging is just about us
A nagging that will make anyone laugh if they hear
Should we stop? ~Let’s stop

Ruang tengah sekaligus ruang tamu apartemen itu berantakan sekali. Dipenuhi kertas-kertas bekas tulisan naskah yang gagal. Tidak tahu harus menulis apa pada bagian akhir naskahnya, yang dilakukan Na Hyun hanya mondar-mandir dari dapur ke depan laptopnya lalu ke dapur lagi kemudian kembali duduk di depan laptopnya. Tidak ada ide dan mood yang bisa membantu melancarkan tulisannya. Segala cara sudah ia lakukan untuk mengembalikan mood-nya. Dari mulai pergi ke salon untuk mewarnai rambutnya menjadi coklat kemerahan, hingga mencat kuku-kukunya dengan warna biru. Tapi, tidak ada satupun ide yang muncul dan ini membuatnya frustasi.

                “Ide. Aku butuh ide. Ahhh! Ini menyebalkan sekali!” dia berteriak-teriak sendiri. 

                Di saat seperti ini, biasanya Sung Yeol keluar dari kamar untuk melihat yang ia kerjakan. Memberikannya masukkan di sana-sini, menyuruhnya mengganti adegan yang buruk dengan idenya. Sung Yeol kuliah di jurusan seni, sedangkan Na Hyun di jurusan perfilman. Itu sebabnya mereka saling melengkapi. Actor Sung Yeol, begitu Na Hyun menyebutnya karena acting-nya yang sangat baik. Saat Na Hyun menjadi keras kepala dan ingin mempertahankan adegan itu, Sung Yeol selalu mencoba adegan itu dan memperlihatkan kelemahan adegan itu.

               “Apa yang kau lakukan saat ini?” tanyanya pada sebuah bingkai kecil di atas buffet kecil, foto saat mereka lulus SMA.

                Matanya seperti melihat bayangan dirinya dan Sung Yeol saat pertama kali pindah di sini. Mengangkati barang-barang itu sendiri, membeli tirai diskon dan memasangnya di ruangan ini, berlarian ke sana-kemari saat Na Hyun menumpahkan satu panci panas ramyeon, dan duduk bersama di depan tv saat malam telah tiba. 

                “Apa pertunjukkanmu di Hongdae telah berakhir? Ummm, tapi… mana mungkin kau pulang hari ini. Ini kan sudah malam, kau pasti tidur di rumah temanmu. Iya kan?” katanya berbicara pada foto Sung Yeol.

                Naskah-naskah gagal itu mulai dibersihkan. Meletakkannya di keranjang sampah lalu Na Hyun mematikan laptopnya. “Yang kubutuhkan hanyalah istirahat. Iya, istirahat. Na Hyun, kau pasti bisa. Fighting!” katanya menyemangati dirinya sendiri.

                Tit-tiit-tiiit (TINUNIT…)

                Pintu apartemen mendadak terbuka. Sung Yeol muncul dari sana dengan tas kostum-nya. Mata mereka saling bertatapan. Memandangi satu sama lain beberapa saat. “Kau mewarnai rambutmu? Sejak kapan kau boleh memakai celana pendek di rumah?” komentar Sung Yeol pada penampilan gadis itu.

                Memang mereka membuat peraturan untuk tidak memakai celana pendek di dalam rumah apalagi saat mereka bersama. Na Hyun mengira, Sung Yeol tidak akan pulang hari ini dan memutuskan memakai celana pendek karena aktivitasnya yang padat dan bisa membuat tubuhnya gerah. “Selamat datang,” katanya lalu masuk ke dalam kamar.

                “Na Hyun…,” panggil Sung Yeol.

                “Apa kau sudah makan? Aku makan di luar hari ini. Kalau lapar, kau… em, telepon saja restoran 24 jam,” kata Na Hyun padanya dan menutup pintu kamarnya.

                Dibalik tangannya, Sung Yeol menyembunyikan sesuatu untuk Na Hyun tapi karena Na Hyun sedang marah. Niat itu ia urungkan. Ponsel Sung Yeol berdering,”yeobseo? Ah~ Shin Hye-nah, keluar? Tidak, aku baru sampai. Di sekitar sini? Ah, aku akan turun sebentar lagi. ung~ ung~ araso~ bye-bye,” Sung Yeol menutup percakapan itu.

                Kakinya sudah ingin melangkah keluar dari apartemen itu, namun hatinya menyuruhnya untuk tetap di rumah kali ini saja. Dari balik pintu kamarnya, Na Hyun mendengarkan percakapan Sung Yeol ditelepon. Menangisi pria bertubuh tinggi 180 cm berambut hitam kebiru-biruan gelap itu.
                “Pergi.. Pergi saja,” keluh Na Hyun setengah menangis.

YYY
From one to ten, They’re all words to make you better
But since you don’t listen to me, it’s only sound like a nag to you
Let’s stop, let’s stop~ There’s not even enough time for us to just love
This nagging is said from my heart not just randomly
I can’t help but keep nagging even if you hate it
Let’s stop, let’s stop~ All I can hear is your nagging


Caramel Milk Tea Pic by Usami Maki


Setengah mengeluh, Na Hyun memasak sup tahu lalu menghidangkannya di meja. Menuangkan jus jeruk untuk dirinya sendiri dan mengambil semangkuk nasi untuk dirinya sendiri juga. Biasanya dia membuat double untuk dirinya dan Sung Yeol tapi pagi ini Sung Yeol pasti sedang tidak di rumah. Setidaknya itu yang dipikirkan Na Hyun saat menyiapkan sarapan.

                “Kenapa hanya itu? Mana untukku?” protes Sung Yeol padanya.

                Sung Yeol baru saja selesai mandi dan berjalan menghampirinya dengan handuk membungkus tubuh bagian bawahnya.

                “Oh! Ya Tuhan!” Na Hyun berjingkat kaget, dia tidak mengira Sung Yeol ada di rumah,”oh~ HIYA! Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang membolehkanmu menggunakan itu di ruangan selain kamar pribadi?!”

                Sung Yeol menggosok telinganya kasar. “Teriakanmu itu… sebaiknya nanti setelah menjadi PD, kau tidak usah memakai pengeras suara untuk berteriak,” oceh Sung Yeol kesal,”aku sudah lelah dengan peraturan itu. Nanti juga akhirnya kita akan tidur bersama. Apa pengaruhnya peraturan seperti itu? oh! Satu lagi.”

                “mwo?!” kali ini pun Na Hyun bertanya dengan nada yang sama tingginya dengan tadi.
                “’apa yang kau lakukan di sini?’ apa aku sudah tidak dianggap penghuni lagi?” tanyanya sedikit tersinggung dengan kata-kata Na Hyun tadi.

                Na Hyun membuang mukanya, tidak ingin menjawab pertanyaan Sung Yeol. Dia tidak bermaksud begitu, tapi biar saja pria itu salah mengerti tentang maksud kata hatinya. Hitung-hitung sebagai tanda bahwa dia sedang marah padanya.

                “Um… baiklah,” kata Sung Yeol menganggukkan kepalanya.

                Di depan meja makan, Na Hyun tidak memakan sarapannya. Mengaduk-aduk nasinya dan membuat tampilannya menjadi sangat aneh. Di depannya mangkuk Sung Yeol masih kosong dan tertata rapi, melihat tempat duduk Sung Yeol yang kosong sedikit memunculkan perasaan menyesal telah berkata begitu pada kekasihnya itu.

                Pintu kamar Sung Yeol menjeblak terbuka. Muncul pria tampan dengan coat dan sweeter rajut berwarna abu-abu di lehernya. Rambutnya tertata rapi dan tampaknya dia mengenakan sedikit eyeliner di matanya untuk menyegarkan matanya yang sudah berkantung karena kurang tidur. “Aku pergi dulu,” kata Sung Yeol pamit pada Na Hyun.

                GRREEEPPP!!!

                Na Hyun memeluknya dari belakang. Menangis di punggunya tersedu-sedu. “Maaf… Maaf… Tapi, bisakah kau tidak pergi lagi?” suara Na Hyun bergetar.

                Sung Yeol tidak membalas pelukan Na Hyun. Ini membuat Na Hyun menjadi patah semangat dan melepaskan pelukannya pelan-pelan. Berulang kali Na Hyun mengusap air matanya dengan kasar. Ia tidak berusaha mengatakan sepatah katapun dan yang ia lakukan hanya menangis di belakang tubuh tinggi Sung Yeol.

                “Jangan menangis,” kata Sung Yeol dan mengusap air mata Na Hyun dengan tangannya,”aku saja yang minta maaf.” Satu senyum paling lembut dari Sung Yeol untuknya dengan diringi kata-kata maaf.

                Na Hyun terisak-isak,”wae?”

                “Kau pasti sangat membenciku karena kau menangis sampai sesak begini. Lihat wajahmu itu, sepertinya kau bergadang terus. Coba aku lihat lagi matamu,” kata Sung Yeol mendekatkan wajahnya pada wajah Na Hyun dan…

                CHU~~~~

                *di sensor ya… kekekeke~*

                “Kemari gadis bodoh,” katanya dan memeluk Na Hyun dengan sayang,”lebih baik karena sudah menangis? Aku menyesal sekali kita selalu tidak ada waktu dan terus saja bertengkar satu sama lain. Apa kau sedih kalau aku pergi lagi?”

                Na Hyun menganggukan kepalanya cepat.

                Aigooo~ baiklah kalau begitu, hari ini aku akan makan di rumah saja. Tapi, Hyun-nah… kenapa kau pendek sekali?” kata Sung Yeol menggodanya tapi gadis itu tetap saja menangis,”aiggoo~~ PD-ku yang cantik ini sangat sedih rupanya. Yeobbo, kau bisa membuat banjir apartemen kita.”

                Na Hyun mendorong Sung Yeol menjauh dan menendang tulang kering Sung Yeol.

                “ARGGHH!!!” pekik Sung Yeol memegangi kakinya.

                Nappun namja~” kata Na Hyun untuk Sung Yeol.

                Sung Yeol berhenti berteriak. “Song Na Hyun, ayo kita menikah saja,” kata Sung Yeol sambil meraih tangan Na Hyun dan mencium punggung tangannya.

                PLLAAAAKK!!!

                “AAARGGHHH!!!” Sung Yeol memekik kesakitan lagi,”HIYA! Kenapa kau ini?! Apa yang kau lakukan?!”

                Na Hyun baru saja mengeplak kepala Sung Yeol,”apa kau kira pernikahan itu main-main? Apa yang harus kulakukan pada suami yang suka keluyuran sepertimu? Ha?!”

                Sung Yeol meliriknya tajam berusaha membuat tampang mengerikan tapi wajah Sung Yeol terlalu tampan untuk membuat Na Hyun ketakutan. “Kau ini! Kenapa kau selalu memukul dan memarahiku?! Hiya!” Sung Yeol berteriak padanya,”baik, kau tidak mau menikah denganku sekarang? Kalau begitu… ennggg… bagaimana ya… aku kan juga pria.. eh?”

                Sung Yeol berjalan mendekatinya, melepas syal rajutnya, dan menggoda Na Hyun dengan wajah nakalnya.

                “Hiya~ Lee Sung Yeol. Apa yang mau kau lakukan?” Na Hyun berjalan mundur menjauhinya,”tunggu sebentar. Hiya~ kita be- be- belum menyelesaikan sekolah kita kan? Eng…”

                “Ah… berapa lama ya kita sudah tinggal bersama? Hum… Hiya~ Song Na Hyuunnn~” Sung Yeol berbicara dengan aegyo-nya.

                “MENYINGKIR KAU!” pekik Na Hyun.

                DUAAAAAKKK!

                AAARRRRGGGHHHHH

                Na Hyun membeturkan kepalanya ke kepala Sung Yeol saat Sung Yeol hendak menciumnya dan mengambil langkah seribu masuk ke dalam kamarnya. 

                “HIYYAAA! Song Na Hyun! Tubuhku ini di asuransikan karena aku aktor! Bagaimana kau bisa melukai wajahku! Aarrrghhh!” Sung Yeol terkapar di sofa dengan dahinya yang memar,”kau! Aku akan menuntutmu atas tindakanmu ini. HIYA! Keluar kau sekarang!”

                Di balik pintu, Na Hyun tertawa senang. Akhirnya, mereka bisa bercanda seperti ini setelah sekian lama. “Mari mulai dari awal lagi…”

                “Song Na Hyun…”

                “Lee Sung Yeol…”

                “saranghye~” gumam keduanya dalam hati.


YYY
Even if you glare at me and try to scare me~ your face is just so cute to me
Are you going to keep nagging? (you~) I can’t ignore anymore (anymore)
I really might get angry

A nagging that wouldn’t be told if I want to break up
Deep inside my heart, I always think about you
Even if you’re angry, even if you yell at me~ Your nagging is just so sweet to me
A nagging that can only be told if we are in love
But since you don’t listen to me, it’s only sound like a nag to you
Let’s stop, let’s stop~ And trust my feeling
YYY

 

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates