Dead
at Heart
By :
danhobak15
Inspired
by : Super Junior song – Dead at Heart
.
.
.
Min-Ah....saranghae...
Nado saranghae...
.
Maaf, seharusnya kita
pergi kencan sekarang, kenapa harus hujan?
Tidak apa-apa. Kita
bisa berkencan di rumahmu, Min-Ah.
.
Changi, akhirnya aku
berhasil debut...
Selamat
Minho...bagaimana kita merayakannya?
.
Ada apa?
Minho, aku ing.....
Tut...tut...tut....
.
“Hya~~ Minho oppa....”
“Minho oppa lihat
kemari.....”
Terdengar teriakan yeoja-yeoja
yang memekak telinga. Mereka sedang meneriaki seorang aktor muda yang tengah
bersinar. Choi Minho!
Diantara yeoja-yeoja
itu terlihat seorang yeoja berambut
cokelat ikal melihat semua itu dari jauh. Dia tak berani mendekat, hanya
sanggup berdiri di kejauhan. Di tangan gadis itu ada sebuah tas kecil berisi
makanan.
To : my Minho
Aku ingin mengajakmu
makan siang. Apa kau bisa?
Tulis yeoja itu di
ponselnya lalu mengirimnya pada nomor orang yang dituju. Balasan pesan yeoja itu pada hari itu tak juga datang
hingga hari beranjak menggelap.
Yeoja melangkah
meninggalkan tempatnya berdiri. Terus melangkah membawa rasa kecewanya. Dia
baru berhenti di sebuah taman dekat rumahnya. Dengan sedih dia memandang bekal
makan siang yang telah ia buat. Bekal itu terabaikan seperti dirinya.
“Noona, aku lapar....”
seorang anak laki-laki memohon padanya dengan
mata penuh belas kasihan. Tangan anak itu memegangi perutnya.
“Kau lapar?” tanya yeoja itu yang dibalas oleh sebuah
anggukan kepala lemah. “Aku punya roti,
kau mau?” yeoja itu lalu membuka
kotak bekalnya dan menyodorkannya pada anak kecil tadi.
Yeoja itu
memandangi anak kecil itu dengan iba. Sesekali dibersihkannya sisa roti yang
ada di ujung bibir anak kecil itu. “Pelan-pelan
makannya,” yeoja itu kemudian
menyodorkan sebuah botol minum.
“Terima kasih, noona. Roti
ini sangat enak sekali,” puji anak laki-laki kecil itu.
“Sama-sama. Aku senang
karena kau menyukainya.”
Kedua orang itu duduk lama di sana. Membicarakan apa saja
yang membuat diri mereka merasa lebih baik. Tanpa disadari mereka saling
menguatkan satu sama lain.
“Kenapa justru orang
lain yang menghiburku? Seorang anak kecil yang baru pertama kali ku temui dan
aku sama sekali tak mengenalnya. Kenapa dia bukan dirimu? Sampai kapan kau
menjadikan ku seperti ini?” gumam yeoja
itu sambil menatap punggung anak laki-laki kecil itu yang perlahan menghilang.
Yeoja itu lalu
membereskan kotak bekalnya karena ingin segera pulang. Malam sudah semakin
larut. Dia tak mau terlalu lama di taman ini, dia ingin cepat pulang ke rumah
untuk mendinginkan hatinya.
“Min-Ah......”
panggil seseorang yang mau tak mau membuat yeoja
itu menoleh.
“Minho?”
“Kenapa kau begitu
terkejut, hm?” tanya Minho lalu memeluk yeoja
bernama Min-Ah itu dari belakang.
“Mana
makan siangku?” katanya manja.
Yeoja itu terdiam. “Aku..aku sudah memberikannya pada seorang
anak kecil tadi.”
“Begitu ya? Lalu aku
harus makan apa? Aku lapar,” Minho merajuk pada Min-Ah seperti anak kecil.
“Kita pulang saja
sekarang. Aku akan membuatkanmu makan malam,” kata Min-Ah dan membalikkan
badannya agar bisa melihat Minho.
Kedua tangan Minho membelai lembut pipi chubby Min-Ah. Aktor
muda itu tersenyum, “Tidak usah, aku
makan ini saja,” katanya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah manis milik
Min-Ah.
“Minho....” tolak
Min-Ah.
“Kenapa?”
“Ini tempat umum.”
Minho mengangkat bahunya tak peduli. “Memangnya kenapa?” katanya kemudian tetap melakukan niatnya. Perlu
waktu lama namja itu menghabiskan
makanannya meski dia terus makan dengan lahap.
.
Hari ini adalah ulang tahun Minho. Sejak beberapa hari lalu
banyak sekali hadiah dari fans yang berdatangan. Tapi karena terlalu sibuk, namja tampan itu tidak punya waktu untuk
membuka kadonya satu per satu.
“Minho, hari ini
sepulang sekolah kau ada jadwal syuting,” kata manajer Park.
Minho mengangguk sambil terus merapikan seragamnya. “Aku tahu,” jawabnya singkat dan
menyambar tasnya sembarangan.
Seperti biasa setiap Minho datang ke sekolah, lorong-lorong
akan dipenuhi oleh yeoja-yeoja yang
meneriakan namanya sedangkan para namja memilih melempar tatapan iri padanya.
Tapi bukan seorang
Minho jika peduli dengan semua itu. Sejak dulu bahkan
sebelum dia menjadi artis, sudah banyak yeoja yang menyukainya. Pesona seorang
Choi Minho memang tak bisa diabaikan begitu saja.
Dengan cepat Minho melangkahkan kakinya meninggalkan lorong
itu. Gendang telinga namja itu serasa bisa pecah jika terus berlama-lama di
sana. Setelah mencapai kelasnya, Minho segera menjatuhkan kepalanya di atas
meja. Terlihat sekali kalau Minho kurang tidur.
Min-Ah yang duduk tak jauh dari sana hanya memandang iba
padanya. Yeoja manis berkulit putih
itu tak berani mendekat jika dia dan Minho berada di tempat umum.
Di jam istirahat barulah Min-Ah beranjak mendekat ke arah
Minho. Ruang kelasnya sedang kosong karena semua penghuninya memilih mengungsi
ke kantin sekolah karena kelaparan. Di tangan Min-Ah ada sebuah bekal makan siang untuk Minho. “Minho...ayo makan siang dulu,” bujuk
Min-Ah sambil membelai lembut rambut hitam milik Minho.
Namja itu tak bergeming. Dengan penuh kesabaran Min-Ah terus
membujuk Minho untuk makanan.
“Minho....”
Braaaak.....
Kotak bekal Min-Ah jatuh berantakan di lantai. Yeoja itu mundur menjauh dari Minho dan
menatap namja Choi dengan pandangan tak percaya.
“Berisik.....”
bentak Minho dengan penuh amarah. “Kenapa
kau selalu mengganggu?”
“.....” seluruh tubuh Min-Ah tak bisa bergerak. Yeoja itu terlampau kaget dengan sikap
Minho padanya. “Aku...aku...ha..nya....”
“Apa?” potong
Minho. “Dengar aku tidak akan kelaparan
jika aku tidak makan bekal darimu. Menjauhlah....aku lelah, Lee Min-Ah. Aku
ingin istirahat...” kata Minho dan pergi meninggalkan Min-Ah yang masih
berdiri kaku di tempatnya.
“Maaf... Maafkan aku...
Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu,” jelas Min-Ah
dengan terisak yang tak mungkin didengar oleh Minho.
.
“Min-Ah, ada acara
tidak hari ini?” tanya Donghyun, tetangga Min-Ah yang kebetulan satu kelas
dengannya.
“Memangnya ada?”
Min-Ah balik bertanya.
“Aku ingin kau
menemaniku ke taman bermain hari ini.”
Min-Ah mendongakkan kepalanya menatap Donghyun. “Kenapa tak mengajak Hyuna saja? Kalau dia
tahu aku pergi denganmu, aku bisa dibunuh olehnya,” ujar Min-Ah setengah
bergidik ngeri mengingat betapa galaknya pacar Donghyun.
“Tidak akan. Aku dan
Hyuna baru putus minggu lalu. Kemarin aku dapat 2 buah tiket gratis, sayang kalau
tidak digunakan. Aku lihat hari ini kau tak bersemangat, jadi kita pergi saja
untuk bersenang-senang. Bagaimana?”
Min-Ah menggeleng. “Tidak,
aku malas pergi kemana-mana.”
“Oh~ ayolah, Min-Ah.
Mau ya?” bujuk Donghyun tak
menyerah.
Setelah beberapa lama usaha Donghyun untuk merayu Min-Ah
membuahkan hasil. Akhirnya yeoja itu
mengiyakan ajakan Donghyun. “Baiklah-baiklah,
aku mau. Sekarang pergilah, jangan menggangguku,” kata Min-Ah malas.
Donghyun bersorak senang, “Itu
namanya teman. Nanti sore aku akan menjemputmu.”
“Terserah...”
.
Donghyun benar-benar serius dengan perkataannya. Sore harinya
namja berhidung mancung itu sudah berdiri dengan penuh semangat di depan pintu
rumah Min-Ah.
Setiba di taman bermain, Donghyun terus-terusan menyeret
Min-Ah untuk mencoba satu per satu semua wahana yang ada di sana. Melihat
Donghyun begitu bersemangat, mau tak mau, Min-Ah pun ikut tersenyum.
Yeoja itu bisa sedikit melupakan
masalahnya dengan Minho.
“Min-Ah kita naik ini
ya....” ajak Donghyun ke arah sebuah wahana bianglala.
“Itu mainan anak kecil,
Donghyun,” tolak Min-Ah.
“Oh~ ayolah. Kau kan
belum merasakannya....” Donghyun sengan susah payah menyeret Min-Ah untuk
menaiki wahana itu.
“Nah~ baguskan?”
tanya Donghyun pada Min-Ah saat mereka berada di atas bianglala.
Min-Ah mengangguk dan tersenyum, “Aku bisa melihat seluruh Seoul dari sini. Keren sekali....”
“Tentu
sa...huwaaaa...kau tak apa-apa Min-Ah?” tanya Donghyun khawatir sambil
menahan tubuh Min-Ah yang hampir jatuh karena bianglala mereka tiba-tiba
berhenti di tengah-tengah.
“Ah~ aku tak apa-apa.
Tenang saja. Terima kasih,” kata Min-Ah sambil berusaha bangkit dari
pelukan Donghyun.
Di tempat yang sama, Minho sedang sibuk melakukan syuting
untuk drama terbarunya. Untuk scene kali ini memang mengambil lokasi di sebuah
taman hiburan.
“CUT...” teriak
sang sutradara. “Bagus, Minho. Kita
lanjutkan syuting 1 jam lagi,” sutradara memberi waktu istirahat untuk
semua krunya.
Minho menghela nafasnya berat. Hari yang sangat melelahkan. “Hyung, aku jalan-jalan sebentar,”
pamitnya.
“Jangan lama-lama,”
pesan manajer Park sebelum Minho pergi.
Namja dengan tinggi 180 cm itu melangkahkan kakinya mengitari
taman bermain itu. Dia sama sekali tidak tertarik untuk mencoba wahana yang
ada, Minho hanya ingin melepaskan penat yang menderanya saja. Langkahnya
tiba-tiba berhenti saat melihat bayangan orang yang dikenalnya naik ke sebuah
bianglala. “Min-Ah,” kata
Minho geram. Namja Choi menahan amarahnya saat melihat yeoja yang dicintainya
bercanda dengan teman sekelasnya, Donghyun. Bagaimana bisa Min-Ah tertawa di
depan namja lain sedangkan di depan dirinya sama sekali tak pernah?
Wajahnya semakin mengeras saat bianglala di depannya mendadak
berhenti. Mata obsidiannya berkilat marah saat melihat Donghyun memeluk Min-Ah.
Tanpa sadar Minho melangkah gusar ke wahana itu.
“Ah~ aku pikir aku akan
mati di atas sana,” ujar Min-Ah mengelus dadanya saat dia turun dari
bianglala.
“Hahahahaha~~ kau ini
lucu sekali, Min-Ah,” tanggap Donghyun sambil mengacak-acak rambut Min-Ah.
Min-Ah tertawa tanpa menyadari ada seseorang yang menatapnya
dengan tatapan membunuh.
“Oh~ Minho....”
sapa Donghyun saat melihat Minho. “Kita
bertemu di sini.”
Tawa Min-Ah langsung menghilang seketika. Matanya segera
memandang ke arah namja yang dimaksud Donghyun. Yeoja terdiam tak bersuara.
“Sedang apa kau di
sini?” tanya Donghyun ramah.
Mata Minho berkilat marah. Tanpa banyak bicara, dia langsung
meraih kerah baju Donghyun dan memukulnya telak di tulang pipinya. “Seharusnya itu pertanyaanku?” kata
Minho dingin sekali lagi melayangkan pukulan.
Buaaakk.....
Minho terus menghajar Donghyun tanpa jeda.
“Minho...hentikaaaaaan!!!”
lerai Min-Ah merentangkan tangannya di depan Donghyun yang sudah tak berdaya.
Gadis itu menghalangi Minho untuk memukul Donghyun sekali lagi. “Hentikan Minho, kenapa kau memukulnya?”
“Jadi kau membelanya
sekarang?” tanya Minho sarkatis. Nafas Minho menderu menahan amarah.
Min-Ah tak menjawab. Dia hanya menatap waspada ke arah Minho.
“Kau tak apa-apa Donghyun?” tanya
Min-Ah. Tangan gadis itu terulur membantu Donghyun berdiri.
Greeep....
Tangan Min-Ah tiba-tiba ditarik oleh Minho. Namja itu lalu
membawa pergi Min-Ah ke parkiran mobil dan memaksa gadis itu masuk.
Dengan kecepatan tinggi Minho membawa mobilnya tanpa
mendengar sedikit pun protes dari Min-Ah. Namja itu seperti buta sekarang.
Sesampainya di apartemennya Minho memaksa Min-Ah masuk. Dan
matanya menantang menutut jawaban dari Min-Ah.
“Lepaskan....”
minta Min-Ah. “Kau tak lihat Donghyun
terluka....”
“Kenapa kau harus
mengurusinya? Biarkan saja...”
“Minho...” bentak
Min-Ah. “Kau keterlaluan...”
“Apa kau bilang?”
tanya Minho dengan nada mengejek. “Siapa
yang keterlaluan, Min-Ah? Kau atau aku?” Nafas namja Choi itu semakin
menderu. “Kau ingat ini hari apa?
Seharusnya sekarang kau merayakan hari ulang tahunku bersamaku. Tapi apa yang
kau lakukan? Kau malah dengan Donghyun dan tertawa bersamanya.”
“Cukup Minho. Kau yang
menolakku tadi pagi bahkan mengusirku saat itu. Aku tertawa bersamanya karena
kau sama sekali tidak pernah membuatku tertawa. Aku lelah, Minho. Aku lelah
diperlakukan seperti ini olehmu,” isak Min-Ah tanpa sadar. “Sebaiknya kita akhiri semuanya di sini,”
putus Min-Ah dan beranjak pergi.
Belum mencapai pintu, Minho sudah menghalanginya, “Tidak bisa. Kau tidak bisa seperti ini
padaku. Kau milikku, Min-Ah. Milikku...” amuk Minho.
“Minho, aku....hmpp..” Pembelaan Min-Ah
terpotong karena Minho telah membungkam jalan satu-satunya suaranya dengan
bibirnya. Dengan kasar namja itu melumat bibir plump Min-Ah.
“Min..ho...hentikaaaaan.....”
cegah Minho berusaha mendorong Minho menjauh saat namja itu mulai beralih ke
leher jenjangnya.
“Kau milikku, Min-Ah.
Milikku....” gumam Minho tanpa sadar.
Airmata Min-Ah mengalir semakin deras saat Minho merobek
kemejanya dengan paksa dan mulai menandai bahu putih milik Min-Ah. “Minhooo...akuuuu...mohoooon
hentikaaaaa.....hmmp...” sekali lagi Minho membukam mulut Min-Ah.
“Kau terlalu cerewet,
Min-Ah....” desah Minho diantara kesibukannya. Namja itu bahkan tak peduli
saat ponselnya berbunyi. Itu pasti manajer Park yang menelpon untuk memintanya
kembali syuting.
Tangan Min-Ah terus mendorong bahu Minho agar menjauh namun
tetap gagal. Namja Choi terus saja memaksanya. Tak peduli apa pun akibatnya
setelah ini.
.
Airmata itu terus turun tanpa diminta. Berusaha dihentikan
pun dia akan tetap mengalir, bagai menggambarkan betapa hancurnya pemilik
airmata itu sekarang. Selama hidupnya Min-Ah tak pernah membayangkan dan tak
mau membayangkan hal ini terjadi dalam hidupnya. Namja yang selama ini
dibanggakannya dengan tega melakukan hal yang tak pernah dia duga sebelumnya.
Tubuh Min-Ah terus saja bergetar. Matanya kosong, sama sekali
tak cahaya kehidupan di sana. Min-Ah terlihat ketakutan saat Minho mempererat
pelukannya, namja itu membawa tubuh polos Min-Ah semakin dalam ke rengkuhannya.
Ponsel Minho kembali berdering namun namja itu tak peduli.
Dia hanya menggeliat pelan dari tidurnya. Namun ponsel itu sepertinya tak putus
asa untuk mengganggu pemiliknya. Akhirnya dengan malas Minho pun bangun dan
mengangkatnya. “Ada apa, hyung?”
“.....”
“Maaf, aku ada urusan
sebentar tadi.”
“.....”
Minho menatap Min-Ah sebentar lalu menjawab, “Baik, aku akan ke sana sekarang,” kata
Minho lalu menutup telponnya.
Dengan tergesa-gesa Minho memakai kembali pakaiannya. Dia
mengecup dahi Min-Ah sekilas lalu beranjak pergi.
“Kenapa? Kenapa kau
lakukan ini padaku, Minho?” tuntut Min-Ah meminta penjelasan. Tangannya
menahan pergelangan Minho, mencegah namja itu pergi.
Minho menatap datar pada Min-Ah. “Aku harus pergi, Min. Lepaskan aku....” dengan kasar Minho
melepaskan cekalan Min-Ah.
“Serendah itukah kau
memandangku? Setelah kau bersenang-senang, kau mencampakkan aku begitu saja,”
kata Min-Ah menahan tangisnya agar tak pecah.
“......” lagi-lagi Minho menatapnya datar dan dingin. “Itu hukuman untukmu!”
“Hukuman untukku?”
ulang Min-Ah. “Kau bilang ini hukuman
untukku? Dengar Minho selangkah saja kau melangkah dari pintu itu dan pergi
meninggalkanku, aku pastikan setelah itu kau akan merasakan hukuman dariku!”
kata Min-Ah memperingatkan.
Tapi Minho sama sekali tak peduli dengan ancaman Min-Ah.
Tanpa rasa bersalah, namja itu malah melangkahkan kakinya keluar dari
apartemennya. Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Hiiiksss.....”
isak Min-Ah meratap. “Aku membencimu,
Minho. Aku tak akan memaafkanmu meski aku berlutut di kakiku sekalipun.”
.
.
Really,
what did you do during this love year
After
letting you go, I felt like I was going to go crazy and die up until yesterday
.
.
Min-Ah tak main-main dengan ucapannya. Malam itu adalah
pembicaraan terakhirnya dengan seorang Choi Minho. Karena saat pagi menjelang
keesokkan harinya, Minho tidak menemukan Min-Ah di apartemennya. Dia baru
bertemu Min-Ah di sekolah seminggu kemudian, tepat di hari kelulusan mereka.
“Min-Ah....” tahan
Minho sebelum Min-Ah pergi. “Aku minta
maaf tentang kejadian malam itu.”
Min-Ah hanya terdiam. Yeoja itu menatap datar ke arah Minho.
Dia bersikap seolah Minho tidak ada di sekitarnya.
“Min....”
“Jangan pernah
memanggil namaku lagi!” kata Min-Ah. “Aku
tidak sudi namaku keluar dari mulutmu itu.”
“Maaf. Aku benar-benar
minta maaf padamu. Aku mengaku salah. Aku akan.....”
“Itu tak berguna. Kita
impas sekarang. Malam itu kau sudah menghukumku dan membuatku merasakan sakit
seumur hidupku. Dan sekarang, aku akan memastikan kau merasakan hal yang sama
dengan apa yang aku rasakan!”
Minho terbelalak kaget. Namja itu lalu bersujud di depan
Min-Ah, meminta belas kasih yeoja itu untuk memaafkannya. “Maafkan aku....aku salah...aku janji akan memperbaikinya...aku akan
mempertanggung jawabkan kesalahanku itu....”
Dengan kasar Min-Ah melepaskan tangannya Minho dari kedua
kakinya. “Tak akan. Aku tak akan
memaafkanmu, Choi Minho,” katanya kemudian pergi meninggalkan Minho bagai
seorang pengemis.
.
.
In
that long period of time, there’s only you who left me...
Having
no other thoughts but of you... that’s how this year is passing by
The
memories of that rainy day when I went to go find you
The
clear sunshine that shined down on us
when we walked together
None
of these have left me... inside my head, it makes me slowly die
.
.
Setelah itu Minho terus menjalani
hidupnya seperti biasa. Meski kata maaf dari Min-Ah tak dia dapatkan, namja itu
masih bisa tersenyum lebar di depan kamera. Bahkan Minho bersikap seolah tak
terjadi apa pun di hadapan penggemarnya. Semuanya terlihat baik-baik saja jika
orang lain yang melihatnya.
Namun dibalik itu semua jika Minho
tak di depan kamera dan penggemarnya, jangankan tertawa, senyum saja Minho tak
mampu lagi melakukannya. Dia tersenyum, tertawa, dan bahagia karena sebuah nama
yaitu scenario. Tanpa itu Minho tak
bisa melakukan apa pun.
Hidupnya seperti seorang robot
sekarang. Bergerak jika digerakkan, bicara jika disuruh, dan tertawa jika
diminta. Minho benar-benar seperti orang mati.
Setiap hari dihabiskannya berdiam diri
di kamar. Manajer Park bahkan sampai harus bersusah payah menyeretnya jika ada
jadwal syuting. Pernah suatu kali manajer Park menemukan Minho pingsan di
apartemennya karena sudah berhari-hari namja itu tidak makan.
Berulangkali manajer Park menasehatinya
tapi tak pernah didengarkan oleh Minho. Minho juga pernah dibawa ke psikiater
untuk membantunya namun itu tidak menghasilkan apa pun. Manajer Park bahkan
membantu Minho untuk mencari Min-Ah tapi yeoja itu tidak ditemukan dimana pun.
Dia telah pindah entah kemana.
Mungkin inilah hukuman yang
dijatuhkan Min-Ah pada Minho. Membiarkan namja itu merasakan luka di seumur
hidupnya. Sakit yang tak termaafkan,
sakit yang tak akan pernah ada obatnya, dimana pun dia berada akan terus dibayangin
rasa sakit itu. Kemudian secara perlahan-lahan rasa sakit itu akan membunuhnya
dalam duka yang dalam.
.
.
All
of my friend have become adults... but me... still like an immature child
Having
no other thoughts but of you... it’s just like being dead
The
memories of that rainy day when I went to go find you
The
clear sunshine that shined down on us
when we walked together
None
of these have left me... inside my head, it makes me slowly die
.
.
Waktu itu terus berjalan tanpa peduli apa yang telah kita
lakukan. Waktu selalu meninggalkan kita tanpa menyadarinya. Waktu telah
berjalan selama 5 tahun. Dan keadaan Minho tetaplah sama.
Dari hari ke hari namja itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda
kehidupannya. Kedua bola matanya tak lagi memancarkan sinar karismatiknya yang
begitu cemerlang. Semuanya telah menghilang dan mati. Manajer Park telah
menyerah untuk memaksanya dan memilih membiarkan Minho melakukan apa pun yang
dia mau. Bahkan orang tua Minho pun tak sanggup memaksa Minho untuk keluar dari
jurang kesedihannya. Namja itu telah mati. Hatinya telah dingin dan membeku.
Tak ada lagi yang sanggup mencairkannya.
“Minho, kita istirahat
sebentar. Kau mau makan?” tanya manajer Park penuh rasa iba.
Minho tak beraksi. Itulah yang terjadi jika namja itu kembali
ke dunianya. Apa pun yang kau lakukan tak akan pernah dia respon. Menjawab
dengan anggukan kepala saja itu adalah sebuah keberuntungan.
“Eomma, lihat ahjussi
itu tampan sekali ya?” seru anak laki-laki berumur 5 tahun saat melintasi
cafe tempat Minho melakukan syuting. Kebetulan saat ini Minho duduk di depan
jendala kaca besar sehingga dapat dengan mudah terlihat dari luar.
“Eomma, lihat kemari
sebentar,” rengek anak itu menarik ujung mantel ibunya dan menyeret ibunya
agar mendekat ke poster Minho yang kebetulan terpasang di pintu masuk. “Apa aku tampan seperti ahjussi ini, eomma?”
tanya anak itu imut.
Yeoja yang dipanggil eomma itu berlutut mensejajarkan
tingginya dengan bocah laki-laki itu, “Menurut
eomma tidak. Minwoo jauh lebih tampan daripada ahjussi ini.”
“Benarkah?” seru
bocah itu girang. Kemudian lagi-lagi bocah itu menarik mantel eommanya, “Eomma, aku mau beli kue, aku lapar....”
rengeknya.
“Ayo kita pergi dari
sini....” ajak yeoja itu lembut.
Bocah laki-laki bernama Minwoo itu menggeleng. “Tidak mau,” tolaknya sambil mempout
bibir mungilnya. “Aku mau beli di sini.
Siapa tahu aku bisa bertemu dengan ahjussi itu?”
“Tidak, Minwoo,”
tapi sebelum sempat mencegah Minwoo
telah berlari masuk ke dalam cafe. “Minwoo,
kembali,” kejar yeoja tadi.
Bruuuk...
Tanpa sengaja Minwoo menabrak Minho yang kebetulan baru
kembali ke toilet. Bocah itu jatuh terduduk di depan Minho. Meski terjatuh,
Minwoo sama sekali tak menangis malah menatap Minho dengan takjub.
“Kau tak apa-apa, anak
manis?” tanya Minho dengan lembut dan membantunya berdiri.
Manajer Park sampai terperangah melihatnya. Baru kali ini
setelah kejadian itu, Minho bersikap lembut bahkan di depan penggemarnya
sekalipun. Dia hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangannya jika di depan
penggemarnya tanpa mengatakan apa pun.
“Minwooo.....”
eomma Minwoo tergesa-gesa menghampiri anaknya.
“Min-Ah,” kata
Minho tanpa sadar saat yeoja itu berdiri di hadapannya.
.
.
I
can’t understand our break up... even now I imagine our future
Even
after our break up, just like how my heart is always living by your side...
It’s
as if it’s dead
I
stop the moments that I loved you
Even
when we’re together, I won’t be able to remember you
If I
just think that I wasn’t any of these... then it’s nothing
If I
can’t forget you... it’s as if I’m dead
©Super
Junior – Dead at Heart (english trans)©
~e.n.d~
NB :
Author tahu kalau banyak songfic maupun ff yang berjudul sama, itu efek samping dari lagu ini yang begitu amazing,...tapi meski diambil dari lagu yang sama,,songfic ini *kalau boleh dibilang gitu* adalah hasil dari imajinasi author sendiri dan asli dari otak author yang udah mengalami kegilaan akut.
So, don't bash author or any character in this story .......
Happy reading and RCL ^^

1 komentar:
Amazing~~~ Minwoo~ aq jadi ingat boyfriend deh... kekekeke
Posting Komentar