Sabtu, 07 April 2012

Dead at Heart




Dead at Heart

By : danhobak15

Inspired by : Super Junior song – Dead at Heart
.

.

.

Min-Ah....saranghae...

Nado saranghae...

.

Maaf, seharusnya kita pergi kencan sekarang, kenapa harus hujan?

Tidak apa-apa. Kita bisa berkencan di rumahmu, Min-Ah.

.

Changi, akhirnya aku berhasil debut...

Selamat Minho...bagaimana kita merayakannya?

.

Ada apa?

Minho, aku ing.....

Tut...tut...tut....

.

“Hya~~ Minho oppa....”

“Minho oppa lihat kemari.....”

Terdengar teriakan yeoja-yeoja yang memekak telinga. Mereka sedang meneriaki seorang aktor muda yang tengah bersinar. Choi Minho!

Diantara yeoja-yeoja itu terlihat seorang yeoja berambut cokelat ikal melihat semua itu dari jauh. Dia tak berani mendekat, hanya sanggup berdiri di kejauhan. Di tangan gadis itu ada sebuah tas kecil berisi makanan.

To : my Minho
Aku ingin mengajakmu makan siang. Apa kau bisa?

Tulis yeoja itu di ponselnya lalu mengirimnya pada nomor orang yang dituju. Balasan pesan yeoja itu pada hari itu tak juga datang hingga hari beranjak menggelap.

Yeoja melangkah meninggalkan tempatnya berdiri. Terus melangkah membawa rasa kecewanya. Dia baru berhenti di sebuah taman dekat rumahnya. Dengan sedih dia memandang bekal makan siang yang telah ia buat. Bekal itu terabaikan seperti dirinya.

“Noona, aku lapar....” seorang anak laki-laki memohon padanya dengan  mata penuh belas kasihan. Tangan anak itu memegangi perutnya.

“Kau lapar?” tanya yeoja itu yang dibalas oleh sebuah anggukan kepala lemah. “Aku punya roti, kau mau?” yeoja itu lalu membuka kotak bekalnya dan menyodorkannya pada anak kecil tadi.

Yeoja itu memandangi anak kecil itu dengan iba. Sesekali dibersihkannya sisa roti yang ada di ujung bibir anak kecil itu. “Pelan-pelan makannya,” yeoja itu kemudian menyodorkan sebuah botol minum.

“Terima kasih, noona. Roti ini sangat enak sekali,” puji anak laki-laki kecil itu.

“Sama-sama. Aku senang karena kau menyukainya.”

Kedua orang itu duduk lama di sana. Membicarakan apa saja yang membuat diri mereka merasa lebih baik. Tanpa disadari mereka saling menguatkan satu sama lain.

“Kenapa justru orang lain yang menghiburku? Seorang anak kecil yang baru pertama kali ku temui dan aku sama sekali tak mengenalnya. Kenapa dia bukan dirimu? Sampai kapan kau menjadikan ku seperti ini?” gumam yeoja itu sambil menatap punggung anak laki-laki kecil itu yang perlahan menghilang.

Yeoja itu lalu membereskan kotak bekalnya karena ingin segera pulang. Malam sudah semakin larut. Dia tak mau terlalu lama di taman ini, dia ingin cepat pulang ke rumah untuk mendinginkan hatinya.

“Min-Ah......” panggil seseorang yang mau tak mau membuat yeoja itu menoleh.

“Minho?”

“Kenapa kau begitu terkejut, hm?” tanya Minho lalu memeluk yeoja bernama Min-Ah itu dari belakang. 

“Mana makan siangku?” katanya manja.

Yeoja itu terdiam. “Aku..aku sudah memberikannya pada seorang anak kecil tadi.”

“Begitu ya? Lalu aku harus makan apa? Aku lapar,” Minho merajuk pada Min-Ah seperti anak kecil.

“Kita pulang saja sekarang. Aku akan membuatkanmu makan malam,” kata Min-Ah dan membalikkan badannya agar bisa melihat Minho.

Kedua tangan Minho membelai lembut pipi chubby Min-Ah. Aktor muda itu tersenyum, “Tidak usah, aku makan ini saja,” katanya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah manis milik Min-Ah.

“Minho....” tolak Min-Ah.

“Kenapa?”

“Ini tempat umum.”

Minho mengangkat bahunya tak peduli. “Memangnya kenapa?” katanya kemudian tetap melakukan niatnya. Perlu waktu lama namja itu menghabiskan makanannya meski dia terus makan dengan lahap.

.

Hari ini adalah ulang tahun Minho. Sejak beberapa hari lalu banyak sekali hadiah dari fans yang berdatangan. Tapi karena terlalu sibuk, namja tampan itu tidak punya waktu untuk membuka kadonya satu per satu.

“Minho, hari ini sepulang sekolah kau ada jadwal syuting,” kata manajer Park.

Minho mengangguk sambil terus merapikan seragamnya. “Aku tahu,” jawabnya singkat dan menyambar tasnya sembarangan.

Seperti biasa setiap Minho datang ke sekolah, lorong-lorong akan dipenuhi oleh yeoja-yeoja yang meneriakan namanya sedangkan para namja memilih melempar tatapan iri padanya. Tapi bukan seorang 
 Minho jika peduli dengan semua itu. Sejak dulu bahkan sebelum dia menjadi artis, sudah banyak yeoja yang menyukainya. Pesona seorang Choi Minho memang tak bisa diabaikan begitu saja.

Dengan cepat Minho melangkahkan kakinya meninggalkan lorong itu. Gendang telinga namja itu serasa bisa pecah jika terus berlama-lama di sana. Setelah mencapai kelasnya, Minho segera menjatuhkan kepalanya di atas meja. Terlihat sekali kalau Minho kurang tidur.

Min-Ah yang duduk tak jauh dari sana hanya memandang iba padanya. Yeoja manis berkulit putih itu tak berani mendekat jika dia dan Minho berada di tempat umum.

Di jam istirahat barulah Min-Ah beranjak mendekat ke arah Minho. Ruang kelasnya sedang kosong karena semua penghuninya memilih mengungsi ke kantin sekolah karena kelaparan. Di tangan Min-Ah  ada sebuah bekal makan siang untuk Minho. “Minho...ayo makan siang dulu,” bujuk Min-Ah sambil membelai lembut rambut hitam milik Minho.

Namja itu tak bergeming. Dengan penuh kesabaran Min-Ah terus membujuk Minho untuk makanan.  

“Minho....”

Braaaak.....

Kotak bekal Min-Ah jatuh berantakan di lantai. Yeoja itu mundur menjauh dari Minho dan menatap namja Choi dengan pandangan tak percaya.

“Berisik.....” bentak Minho dengan penuh amarah. “Kenapa kau selalu mengganggu?”

“.....” seluruh tubuh Min-Ah tak bisa bergerak. Yeoja itu terlampau kaget dengan sikap Minho padanya. “Aku...aku...ha..nya....”

“Apa?” potong Minho. “Dengar aku tidak akan kelaparan jika aku tidak makan bekal darimu. Menjauhlah....aku lelah, Lee Min-Ah. Aku ingin istirahat...” kata Minho dan pergi meninggalkan Min-Ah yang masih berdiri kaku di tempatnya.

“Maaf... Maafkan aku... Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu,” jelas Min-Ah dengan terisak yang tak mungkin didengar oleh Minho.

.

“Min-Ah, ada acara tidak hari ini?” tanya Donghyun, tetangga Min-Ah yang kebetulan satu kelas dengannya.

“Memangnya ada?” Min-Ah balik bertanya.

“Aku ingin kau menemaniku ke taman bermain hari ini.”

Min-Ah mendongakkan kepalanya menatap Donghyun. “Kenapa tak mengajak Hyuna saja? Kalau dia tahu aku pergi denganmu, aku bisa dibunuh olehnya,” ujar Min-Ah setengah bergidik ngeri mengingat betapa galaknya pacar Donghyun.

“Tidak akan. Aku dan Hyuna baru putus minggu lalu. Kemarin aku dapat 2 buah tiket gratis, sayang kalau tidak digunakan. Aku lihat hari ini kau tak bersemangat, jadi kita pergi saja untuk bersenang-senang. Bagaimana?”

Min-Ah menggeleng. “Tidak, aku malas pergi kemana-mana.”

“Oh~ ayolah, Min-Ah. Mau ya?”  bujuk Donghyun tak menyerah.

Setelah beberapa lama usaha Donghyun untuk merayu Min-Ah membuahkan hasil. Akhirnya yeoja itu mengiyakan ajakan Donghyun. “Baiklah-baiklah, aku mau. Sekarang pergilah, jangan menggangguku,” kata Min-Ah malas.

Donghyun bersorak senang, “Itu namanya teman. Nanti sore aku akan menjemputmu.”

“Terserah...”

.

Donghyun benar-benar serius dengan perkataannya. Sore harinya namja berhidung mancung itu sudah berdiri dengan penuh semangat di depan pintu rumah Min-Ah.

Setiba di taman bermain, Donghyun terus-terusan menyeret Min-Ah untuk mencoba satu per satu semua wahana yang ada di sana. Melihat Donghyun begitu bersemangat, mau tak mau, Min-Ah pun ikut tersenyum.  
Yeoja itu bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Minho.

“Min-Ah kita naik ini ya....” ajak Donghyun ke arah sebuah wahana bianglala.

“Itu mainan anak kecil, Donghyun,” tolak Min-Ah.

“Oh~ ayolah. Kau kan belum merasakannya....” Donghyun sengan susah payah menyeret Min-Ah untuk menaiki wahana itu.

“Nah~ baguskan?” tanya Donghyun pada Min-Ah saat mereka berada di atas bianglala.

Min-Ah mengangguk dan tersenyum, “Aku bisa melihat seluruh Seoul dari sini. Keren sekali....”

“Tentu sa...huwaaaa...kau tak apa-apa Min-Ah?” tanya Donghyun khawatir sambil menahan tubuh Min-Ah yang hampir jatuh karena bianglala mereka tiba-tiba berhenti di tengah-tengah.

“Ah~ aku tak apa-apa. Tenang saja. Terima kasih,” kata Min-Ah sambil berusaha bangkit dari pelukan Donghyun.

Di tempat yang sama, Minho sedang sibuk melakukan syuting untuk drama terbarunya. Untuk scene kali ini memang mengambil lokasi di sebuah taman hiburan.

“CUT...” teriak sang sutradara. “Bagus, Minho. Kita lanjutkan syuting 1 jam lagi,” sutradara memberi waktu istirahat untuk semua krunya.

Minho menghela nafasnya berat. Hari yang sangat melelahkan. “Hyung, aku jalan-jalan sebentar,” pamitnya.

“Jangan lama-lama,” pesan manajer Park sebelum Minho pergi.

Namja dengan tinggi 180 cm itu melangkahkan kakinya mengitari taman bermain itu. Dia sama sekali tidak tertarik untuk mencoba wahana yang ada, Minho hanya ingin melepaskan penat yang menderanya saja. Langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat bayangan orang yang dikenalnya naik ke sebuah bianglala. “Min-Ah,” kata Minho geram. Namja Choi menahan amarahnya saat melihat yeoja yang dicintainya bercanda dengan teman sekelasnya, Donghyun. Bagaimana bisa Min-Ah tertawa di depan namja lain sedangkan di depan dirinya sama sekali tak pernah?
Wajahnya semakin mengeras saat bianglala di depannya mendadak berhenti. Mata obsidiannya berkilat marah saat melihat Donghyun memeluk Min-Ah. Tanpa sadar Minho melangkah gusar ke wahana itu.

“Ah~ aku pikir aku akan mati di atas sana,” ujar Min-Ah mengelus dadanya saat dia turun dari bianglala.

“Hahahahaha~~ kau ini lucu sekali, Min-Ah,” tanggap Donghyun sambil mengacak-acak rambut Min-Ah.

Min-Ah tertawa tanpa menyadari ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Oh~ Minho....” sapa Donghyun saat melihat Minho. “Kita bertemu di sini.”

Tawa Min-Ah langsung menghilang seketika. Matanya segera memandang ke arah namja yang dimaksud Donghyun. Yeoja terdiam tak bersuara.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Donghyun ramah.

Mata Minho berkilat marah. Tanpa banyak bicara, dia langsung meraih kerah baju Donghyun dan memukulnya telak di tulang pipinya. “Seharusnya itu pertanyaanku?” kata Minho dingin sekali lagi melayangkan pukulan.

Buaaakk.....

Minho terus menghajar Donghyun tanpa jeda.

“Minho...hentikaaaaaan!!!” lerai Min-Ah merentangkan tangannya di depan Donghyun yang sudah tak berdaya. Gadis itu menghalangi Minho untuk memukul Donghyun sekali lagi. “Hentikan Minho, kenapa kau memukulnya?”

“Jadi kau membelanya sekarang?” tanya Minho sarkatis. Nafas Minho menderu menahan amarah.

Min-Ah tak menjawab. Dia hanya menatap waspada ke arah Minho. “Kau tak apa-apa Donghyun?” tanya Min-Ah. Tangan gadis itu terulur membantu Donghyun berdiri.

Greeep....

Tangan Min-Ah tiba-tiba ditarik oleh Minho. Namja itu lalu membawa pergi Min-Ah ke parkiran mobil dan memaksa gadis itu masuk.

Dengan kecepatan tinggi Minho membawa mobilnya tanpa mendengar sedikit pun protes dari Min-Ah. Namja itu seperti buta sekarang.

Sesampainya di apartemennya Minho memaksa Min-Ah masuk. Dan matanya menantang menutut jawaban dari Min-Ah.

“Lepaskan....” minta Min-Ah. “Kau tak lihat Donghyun terluka....”

“Kenapa kau harus mengurusinya? Biarkan saja...”

“Minho...” bentak Min-Ah. “Kau keterlaluan...”

“Apa kau bilang?” tanya Minho dengan nada mengejek. “Siapa yang keterlaluan, Min-Ah? Kau atau aku?” Nafas namja Choi itu semakin menderu. “Kau ingat ini hari apa? Seharusnya sekarang kau merayakan hari ulang tahunku bersamaku. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah dengan Donghyun dan tertawa bersamanya.”

“Cukup Minho. Kau yang menolakku tadi pagi bahkan mengusirku saat itu. Aku tertawa bersamanya karena kau sama sekali tidak pernah membuatku tertawa. Aku lelah, Minho. Aku lelah diperlakukan seperti ini olehmu,” isak Min-Ah tanpa sadar. “Sebaiknya kita akhiri semuanya di sini,” putus Min-Ah dan beranjak pergi.

Belum mencapai pintu, Minho sudah menghalanginya, “Tidak bisa. Kau tidak bisa seperti ini padaku. Kau milikku, Min-Ah. Milikku...” amuk Minho.

“Minho, aku....hmpp..” Pembelaan  Min-Ah terpotong karena Minho telah membungkam jalan satu-satunya suaranya dengan bibirnya. Dengan kasar namja itu melumat bibir plump Min-Ah.

“Min..ho...hentikaaaaan.....” cegah Minho berusaha mendorong Minho menjauh saat namja itu mulai beralih ke leher jenjangnya.

“Kau milikku, Min-Ah. Milikku....” gumam Minho tanpa sadar.

Airmata Min-Ah mengalir semakin deras saat Minho merobek kemejanya dengan paksa dan mulai menandai bahu putih milik Min-Ah. “Minhooo...akuuuu...mohoooon hentikaaaaa.....hmmp...” sekali lagi Minho membukam mulut Min-Ah.

“Kau terlalu cerewet, Min-Ah....” desah Minho diantara kesibukannya. Namja itu bahkan tak peduli saat ponselnya berbunyi. Itu pasti manajer Park yang menelpon untuk memintanya kembali syuting.

Tangan Min-Ah terus mendorong bahu Minho agar menjauh namun tetap gagal. Namja Choi terus saja memaksanya. Tak peduli apa pun akibatnya setelah ini.

.

Airmata itu terus turun tanpa diminta. Berusaha dihentikan pun dia akan tetap mengalir, bagai menggambarkan betapa hancurnya pemilik airmata itu sekarang. Selama hidupnya Min-Ah tak pernah membayangkan dan tak mau membayangkan hal ini terjadi dalam hidupnya. Namja yang selama ini dibanggakannya dengan tega melakukan hal yang tak pernah dia duga sebelumnya.

Tubuh Min-Ah terus saja bergetar. Matanya kosong, sama sekali tak cahaya kehidupan di sana. Min-Ah terlihat ketakutan saat Minho mempererat pelukannya, namja itu membawa tubuh polos Min-Ah semakin dalam ke rengkuhannya.

Ponsel Minho kembali berdering namun namja itu tak peduli. Dia hanya menggeliat pelan dari tidurnya. Namun ponsel itu sepertinya tak putus asa untuk mengganggu pemiliknya. Akhirnya dengan malas Minho pun bangun dan mengangkatnya. “Ada apa, hyung?”

“.....”

“Maaf, aku ada urusan sebentar tadi.”

“.....”

Minho menatap Min-Ah sebentar lalu menjawab, “Baik, aku akan ke sana sekarang,” kata Minho lalu menutup telponnya.

Dengan tergesa-gesa Minho memakai kembali pakaiannya. Dia mengecup dahi Min-Ah sekilas lalu beranjak pergi.

“Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku, Minho?” tuntut Min-Ah meminta penjelasan. Tangannya menahan pergelangan Minho, mencegah namja itu pergi.

Minho menatap datar pada Min-Ah. “Aku harus pergi, Min. Lepaskan aku....” dengan kasar Minho melepaskan cekalan Min-Ah.

“Serendah itukah kau memandangku? Setelah kau bersenang-senang, kau mencampakkan aku begitu saja,” kata Min-Ah menahan tangisnya agar tak pecah.

“......” lagi-lagi Minho menatapnya datar dan dingin. “Itu hukuman untukmu!”

“Hukuman untukku?” ulang Min-Ah. “Kau bilang ini hukuman untukku? Dengar Minho selangkah saja kau melangkah dari pintu itu dan pergi meninggalkanku, aku pastikan setelah itu kau akan merasakan hukuman dariku!” kata Min-Ah memperingatkan.

Tapi Minho sama sekali tak peduli dengan ancaman Min-Ah. Tanpa rasa bersalah, namja itu malah melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya. Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Hiiiksss.....” isak Min-Ah meratap. “Aku membencimu, Minho. Aku tak akan memaafkanmu meski aku berlutut di kakiku sekalipun.”

.

.

Really, what did you do during this love year
After letting you go, I felt like I was going to go crazy and die up until yesterday

.

.

Min-Ah tak main-main dengan ucapannya. Malam itu adalah pembicaraan terakhirnya dengan seorang Choi Minho. Karena saat pagi menjelang keesokkan harinya, Minho tidak menemukan Min-Ah di apartemennya. Dia baru bertemu Min-Ah di sekolah seminggu kemudian, tepat di hari kelulusan mereka.

“Min-Ah....” tahan Minho sebelum Min-Ah pergi. “Aku minta maaf tentang kejadian malam itu.”

Min-Ah hanya terdiam. Yeoja itu menatap datar ke arah Minho. Dia bersikap seolah Minho tidak ada di sekitarnya.

“Min....”

“Jangan pernah memanggil namaku lagi!” kata Min-Ah. “Aku tidak sudi namaku keluar dari mulutmu itu.”

“Maaf. Aku benar-benar minta maaf padamu. Aku mengaku salah. Aku akan.....”

“Itu tak berguna. Kita impas sekarang. Malam itu kau sudah menghukumku dan membuatku merasakan sakit seumur hidupku. Dan sekarang, aku akan memastikan kau merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan!”

Minho terbelalak kaget. Namja itu lalu bersujud di depan Min-Ah, meminta belas kasih yeoja itu untuk memaafkannya. “Maafkan aku....aku salah...aku janji akan memperbaikinya...aku akan mempertanggung jawabkan kesalahanku itu....”

Dengan kasar Min-Ah melepaskan tangannya Minho dari kedua kakinya. “Tak akan. Aku tak akan memaafkanmu, Choi Minho,” katanya kemudian pergi meninggalkan Minho bagai seorang pengemis.

.

.

In that long period of time, there’s only you who left me...
Having no other thoughts but of you... that’s how this year is passing by
The memories of that rainy day when I went to go find you
The clear sunshine that shined down  on us when we walked together
None of these have left me... inside my head, it makes me slowly die

.

.

Setelah itu Minho terus menjalani hidupnya seperti biasa. Meski kata maaf dari Min-Ah tak dia dapatkan, namja itu masih bisa tersenyum lebar di depan kamera. Bahkan Minho bersikap seolah tak terjadi apa pun di hadapan penggemarnya. Semuanya terlihat baik-baik saja jika orang lain yang melihatnya.

Namun dibalik itu semua jika Minho tak di depan kamera dan penggemarnya, jangankan tertawa, senyum saja Minho tak mampu lagi melakukannya. Dia tersenyum, tertawa, dan bahagia karena sebuah nama yaitu scenario. Tanpa itu Minho tak bisa melakukan apa pun.

Hidupnya seperti seorang robot sekarang. Bergerak jika digerakkan, bicara jika disuruh, dan tertawa jika diminta. Minho benar-benar seperti orang mati.

Setiap hari dihabiskannya berdiam diri di kamar. Manajer Park bahkan sampai harus bersusah payah menyeretnya jika ada jadwal syuting. Pernah suatu kali manajer Park menemukan Minho pingsan di apartemennya karena sudah berhari-hari namja itu tidak makan.

Berulangkali manajer Park menasehatinya tapi tak pernah didengarkan oleh Minho. Minho juga pernah dibawa ke psikiater untuk membantunya namun itu tidak menghasilkan apa pun. Manajer Park bahkan membantu Minho untuk mencari Min-Ah tapi yeoja itu tidak ditemukan dimana pun. Dia telah pindah entah kemana.

Mungkin inilah hukuman yang dijatuhkan Min-Ah pada Minho. Membiarkan namja itu merasakan luka di seumur hidupnya.  Sakit yang tak termaafkan, sakit yang tak akan pernah ada obatnya, dimana pun dia berada akan terus dibayangin rasa sakit itu. Kemudian secara perlahan-lahan rasa sakit itu akan membunuhnya dalam duka yang dalam.
.

.

All of my friend have become adults... but me... still like an immature child
Having no other thoughts but of you... it’s just like being dead
The memories of that rainy day when I went to go find you
The clear sunshine that shined down  on us when we walked together
None of these have left me... inside my head, it makes me slowly die

.

.

Waktu itu terus berjalan tanpa peduli apa yang telah kita lakukan. Waktu selalu meninggalkan kita tanpa menyadarinya. Waktu telah berjalan selama 5 tahun. Dan keadaan Minho tetaplah sama.

Dari hari ke hari namja itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Kedua bola matanya tak lagi memancarkan sinar karismatiknya yang begitu cemerlang. Semuanya telah menghilang dan mati. Manajer Park telah menyerah untuk memaksanya dan memilih membiarkan Minho melakukan apa pun yang dia mau. Bahkan orang tua Minho pun tak sanggup memaksa Minho untuk keluar dari jurang kesedihannya. Namja itu telah mati. Hatinya telah dingin dan membeku. Tak ada lagi yang sanggup mencairkannya.

“Minho, kita istirahat sebentar. Kau mau makan?” tanya manajer Park penuh rasa iba.

Minho tak beraksi. Itulah yang terjadi jika namja itu kembali ke dunianya. Apa pun yang kau lakukan tak akan pernah dia respon. Menjawab dengan anggukan kepala saja itu adalah sebuah keberuntungan.

“Eomma, lihat ahjussi itu tampan sekali ya?” seru anak laki-laki berumur 5 tahun saat melintasi cafe tempat Minho melakukan syuting. Kebetulan saat ini Minho duduk di depan jendala kaca besar sehingga dapat dengan mudah terlihat dari luar.

“Eomma, lihat kemari sebentar,” rengek anak itu menarik ujung mantel ibunya dan menyeret ibunya agar mendekat ke poster Minho yang kebetulan terpasang di pintu masuk. “Apa aku tampan seperti ahjussi ini, eomma?” tanya anak itu imut.

Yeoja yang dipanggil eomma itu berlutut mensejajarkan tingginya dengan bocah laki-laki itu, “Menurut eomma tidak. Minwoo jauh lebih tampan daripada ahjussi ini.”

“Benarkah?” seru bocah itu girang. Kemudian lagi-lagi bocah itu menarik mantel eommanya, “Eomma, aku mau beli kue, aku lapar....” rengeknya.

“Ayo kita pergi dari sini....” ajak yeoja itu lembut.

Bocah laki-laki bernama Minwoo itu menggeleng. “Tidak mau,” tolaknya sambil mempout bibir mungilnya. “Aku mau beli di sini. Siapa tahu aku bisa bertemu dengan ahjussi itu?”

“Tidak, Minwoo,” tapi sebelum  sempat mencegah Minwoo telah berlari masuk ke dalam cafe. “Minwoo, kembali,” kejar yeoja tadi.

Bruuuk...

Tanpa sengaja Minwoo menabrak Minho yang kebetulan baru kembali ke toilet. Bocah itu jatuh terduduk di depan Minho. Meski terjatuh, Minwoo sama sekali tak menangis malah menatap Minho dengan takjub.

“Kau tak apa-apa, anak manis?” tanya Minho dengan lembut dan membantunya berdiri.

Manajer Park sampai terperangah melihatnya. Baru kali ini setelah kejadian itu, Minho bersikap lembut bahkan di depan penggemarnya sekalipun. Dia hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangannya jika di depan penggemarnya tanpa mengatakan apa pun.

“Minwooo.....” eomma Minwoo tergesa-gesa menghampiri anaknya.

“Min-Ah,” kata Minho tanpa sadar saat yeoja itu berdiri di hadapannya.

.

.

I can’t understand our break up... even now I imagine our future

Even after our break up, just like how my heart is always living by your side...
It’s as if it’s dead
I stop the moments that I loved you
Even when we’re together, I won’t be able to remember you
If I just think that I wasn’t any of these... then it’s nothing
If I can’t forget you... it’s as if I’m dead

©Super Junior – Dead at Heart (english trans)©

~e.n.d~


NB :
Author tahu kalau banyak songfic maupun ff yang berjudul sama, itu efek samping dari lagu ini yang begitu amazing,...tapi meski diambil dari lagu yang sama,,songfic ini *kalau boleh dibilang gitu* adalah hasil dari imajinasi author sendiri dan asli dari otak author yang udah mengalami kegilaan akut. 
So, don't bash author or any character in this story .......

Happy reading and RCL ^^

1 komentar:

M.V.P_InspiritELKIDSuNGYeOL mengatakan...

Amazing~~~ Minwoo~ aq jadi ingat boyfriend deh... kekekeke

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates