Senin, 16 April 2012

The Reason


The Reason
.

.

.

.
Meski aku bisa melihatnya, aku tak pernah bisa menyentuhnya. Bagai bayangan yang datang dan pergi. Sekali saja aku ingin bertemu dan mengatakan terima kasih itu.

.

.

.

Pintu berwarna putih itu terbuka lebar. Seorang gadis berjalan masuk. Langkah kakinya anggun, gerakannya lembut, dan mata cokelatnya berbinar terang bagai bintang.

Seulas senyum terukir di bibir tipisnya. Ada rasa senang yang membucah saat dia sampai ke tempat itu. Tempat yang menurut orang lain mengerikan. Bagi gadis itu, tempat dengan dominan warna putih itu memiliki banyak arti. Di sana dia telah melewati berbagai hal sulit dan menjalani waktu yang mengerikan.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Bagian dari tempat itu, bagian dimana dia bisa menyebutnya sebuah kamar. Meski kamar itu bukan miliknya setidaknya dia pernah tinggal di sana.

Di sudut ruangan, gadis berambut hitam ikal itu mengulurkan tangannya yang putih untuk menyentuh sebuah lukisan. Sebuah lukisan yang bagi orang lain tak berharga. Lukisan yang telah menjadi bagian hidupnya, menjadi semangatnya, dan menjadi pusat dunianya.

Berapa harga dan darimana lukisan itu tak ada yang tahu. Gadis manis itu tak sengaja menemukan lukisan itu di gudang belakang saat dia kabur. Dia telah jatuh saat pertama kali melihat lukisan usang itu.

Dalam lukisan itu tergambar seorang pemuda berkulit putih dengan mata yang sangat indah. Meski dalam lukisan itu sang pemuda tak menunjukkan senyumnya, tetap saja matanya yang bermanik hitam itu dapat menjebak dalam dimensi tersendiri. Kesempurnaan yang diciptakan Tuhan untuk pemuda itu tergambar jelas dalam lukisan itu.

Lama gadis itu menatap lukisan yang sudah dianggap miliknya. Senyum manisnya telah berganti senyum pahit entah sejak kapan. Sorot kesedihan terpancar jelas di matanya. Beberapa bulir kristal bening meluncur mulus di pipinya yang merona. Gadis itu teringat saat pertama kali dia datang ke tempat itu.



~

Aura gelap menguar saat pertama kali gadis itu menginjakkan kakinya di tempat yang biasa disebut rumah rehabilitasi itu. Gadis itu bernama Dae Hye, Min Dae Hye. Tak ada yang tahu alasan kenapa gadis semanis itu bisa masuk ke tempat itu.

Dae Hye terlihat santai saat dia baru datang. Waktu itu ia langsung ditempatkan di ruang isolasi. Seingat Dae Hye, dia tidak gila, dia sehat tapi kenapa dia harus berada di tempat terkutuk ini. Kenapa?

Selama seminggu Dae Hye hanya berdiam diri di tempat yang bisa disebut kamarnya saat ini. Dia tak mau keluar berbaur dengan yang lain. Makanan kesukaannya pun tak tersentuh. Dia hanya menatap jendela dengan tatapan dingin dan tak terbaca. Tak ada kehangatan yang terpancar dari wajah gadis itu.

Sebenarnya tak ada yang berbeda antara Dae Hye dengan gadis seusianya. Dilihat dari fisiknya, dia lumayan. Meski tergolong mungil, Dae Hye memiliki kulit seputih salju, rambut hitam legam yang sedikit ikal, wajah yang manis, dan penampilan bisa dibilang rapi. Sekilas dia terlihat tak ada yang aneh dengan gadis itu.

Namun saat ada yang mengajaknya bicara barulah terlihat apa yang membedakannya dari gadis lain di luar sana. Tak ada kehangatan yang terpancar dari kedua bola matanya. Sinarnya redup dan sayu. Dia punya kepribadian yang sangat dingin dan tak peduli sekelilingannya. Kata kelembutan jauh dari dirinya. Tak ada gambaran gadis anggun dan lembut dari diri Dae Hye.

Dae Hye telah kehilangan kedua orang tuanya sekitar 2 tahun yang lalu. Ketika itu dia baru berusia 17 tahun. Dia sendirian. Tak ada satu pun anggota keluarga dari kedua orang tuanya yang datang pemakaman orang tuanya. Gadis itu benar-benar sendiri.

Di sekolah, Dae Hye cukup pintar. Dia juga cukup dikenal sebagai siswi yang aktif. Sebelum orang tuanya meninggal, Dae Hye mempunyai banyak sahabat. Namun setelah kecelakaan mobil itu, Dae Hye akhirnya tahu bahwa selama ini hanya dimanfaatkan saja. Kini orang yang bisa disebut sahabat tak ada lagi. Semuanya menjauh saat orang tua Dae Hye tiada.

Sejak itu Dae Hye tak lagi percaya pada kata cinta, ketulusan, dan persahabatan. Dia tumbuh menjadi gadis yang sanggup membekukan sekitarnya. Dari seorang gadis yang periang manjadi seorang pendiam. Dae Hye tak lagi menjalin hubungan dengan orang-orang sekitarnya. Dia tak mau dimanfaatkan dan tak mau dikasihani.

Baginya ketiga kata di atas hanyalah sebuah kebohongan. Dae Hye hanya mengenal cinta untuk Tuhan dan kedua orang tuanya. Hanya ada ketulusan yang dari hubungannya dengan Tuhan dan orang tuanya. Namun untuk persahabatan, Dae Hye merasa tak ada lagi alasan untuk percaya.

Lalu apa hanya itu alasan Dae Hye yang membuatnya masuk ke tempat itu? Ternyata semua itu bukan keinginan gadis mungil itu. Alasan utama kenapa Dae Hye ada di sana adalah neneknya. Neneknya-lah yang sengaja memasukkannya ke tempat itu. Mungkin wanita setengah baya itu tak lagi sanggup merawat gadis sedingin Dae Hye. Tapi Dae Hye punya alasan lain untuk neneknya. Dia tahu bahwa neneknya hanya ingin harta peninggalan kedua orangtuannya. Untuk itu lah kenapa dia disingkirkan.

Kemudian apa hubungan Dae Hye dengan lukisan pemuda yang telah disebut di atas?

Di suatu sore yang hujan dan dingin. Dae Hye merasa lelah terus berada di tempat mengerikan itu. Seluruh tubuhnya remuk redam bekas rehabilitasi. Karena itu Dae Hye kabur dari kamarnya. Dia tak tahu harus pergi kemana, dia hanya menginginkan tempat berdiam diri yang tenang. Bukan dalam artian kabur yang sebenarnya karena tempat rehabilitasi itu terpencil dan sangat luas.

Akhirnya Dae Hye masuk ke sebuah gudang belakang gedung tempatnya tinggal. Tempat itu tak terlalu gelap. Meski disebut gudang, tempat itu tertata dan bersih hanya mungkin jarang didatangi saja.

Dae Hye melangkahkan kakinya mengelilingi gudang. Ada sesuatu yang menarik dari gudang tersebut karena itu dia melihat-lihat banyak barang yang ada di sana. Hingga akhirnya kedua matanya tertuju oleh sebuah lukisan yang tergeletak di dinding, tersembunyi oleh meja dan lemari. Penasaran, Dae Hye mengangkat lukisan yang tidak terlalu besar itu, menyibak kain putih yang menutupinya, dan membersihkan debu yang menempel.

Kedua mata cokelat Dae Hye terbelalak lebar saat melihat gambar yang ada dilukisan itu. Gambar close up seorang pemuda. Kulitnya putih, matanya hitam, berhidung mancung, rambutnya segelap matanya, pipinya merona. Dan dengan bibir tipis dan mungil yang sedikit terbuka, lukisan pemuda itu terlihat mengagumkan.

Bola mata Dae Hye bergerak liar mangamati lukisan pemuda itu. Belum pernah dia melihat yang  sesempurna ini, ada kehangatan yang menjalar dari dalam dirinya. Entah kenapa tubuhnya bergetar karena senang. Nafasnya memburu tak percaya. Dan untuk pertama kalinya Dae Hye tersenyum dengan manis.

Ckleeeek..... 

Terdengar sebuah alunan musik terdengar. Ternyata ada sebuah tape recorder yang tak sengaja Dae Hye senggol saat mengambil lukisan tadi. Suara dalam lagu sangat lembut bagaikan malaikat.

Suara pintu gudang terbuka. Dae Hye menoleh dan senyumnya telah hilang berganti rasa tak suka. Buru-buru dia mematikan tape recorder tadi. Seorang pemuda berbadan kurus dan tinggi datang menghampirinya. Rambut pemuda itu berwarna cokelat dan sedikit ikal. Baju yang dikenakannya tetap kering walaupun tetesan hujan yang tak kunjung berhenti di luar sana.

“Wow, aku pikir tak ada yang akan datang ke sini,” katanya menatap Dae Hye takjub.

Dae Hye hanya diam, tak merespon omongan pemuda itu. Kedua matanya mengamati pemuda itu dengan seksama. Terlihat sekali kewaspadaannya sangat tinggi.

“Tak perlu seperti itu. Eh, kau menemukannya ya?” pemuda itu terkejut saat melihat lukisan yang ada ditangan Dae Hye. “Apa kau suka?”

Sekali lagi hanya Dae Hye hanya bisa diam. Pemuda itu jadi ikutan diam menatap Dae Hye. Namun sedetik kemudian dia kembali tersenyum. “Dingin sekali,” pemuda itu kemudian dia menyalakan musik dari ponselnya. 

“Ini lagu dari pemuda yang ada di lukisan itu. Tadinya aku ke sini karena mencari ketenangan, tenyata ada kau,” ujar pemuda itu sambil mendudukkan dirinya di sofa kecil yang usang. “Sudah berapa lama kau di sini?”

Dae Hye hanya mengerjapkan matanya. Mulutnya terkunci rapat sekedar untuk memberi jawaban singkat untuk pemuda itu. Meski bagitu Dae Hye tak lagi merasa terganggu dengan kehadiran pemuda jangkung itu.

“Namaku Kyuhyun. Aku dulu juga pernah tinggal di sini, sama sepertimu. Kau tahu kenapa?” mata pemuda bernama Kyuhyun itu menerawang saat dimulai menceritakan dirinya sendiri. “Aku di sini karena pemuda yang ada di lukisan itu.”

“Eh...” Dae Hye menoleh pada Kyuhyun. “Dia ada?” tanyanya menunjuk ke lukisan itu.

Kyuhyun terkekeh geli. “Tentu saja. Kau kira apa? Pemuda yang ada di lukisan itu namanya Sungmin. Jung Sungmin. Dia seorang artis, penyanyi, aktor, dan lainnya...hehehehehe.”

“Jadi kau penggemarnya?”

“Mungkin. Bisa dibilang penggemar nomor satunya mungkin,” jawab Kyuhyun mencebikkan bibirnya.

“Dibawa kemari hanya karena seorang artis. Itu sedikit aneh.”

Kali ini Kyuhyun tergelak oleh kata-kata Dae Hye. “Sungmin itu kakakku. Lukisan itu juga aku yang buat. Aku masuk kemari karena setelah dia jadi artis, aku menjadi kesepian. Makanya aku sedikit mengalami masalah. Karena sejak kecil selalu bersama saat dia pergi aku jadi kehilangan.”

“Kau kan bisa menemuinya? Tidak harus masuk kemari,” ucap Dae Hye polos.

“Kami ini hanya dua bersaudara. Orang tua kami sering pergi untuk bisnis. Aku sudah terbiasa bersamanya. Awalnya aku tak masalah, dia jadi artis. Toh, aku adiknya jadi aku tetap bisa menemuinya. Tapi kenyataannya tidak. Jadwalnya sangat padat dan sibuk. Dia sama sekali tak sempat menemuiku, aku pun tak bisa menemuinya. Aku merasa kehilangan dirinya, kasih sayangnya, dan perhatiannya.”

“Brothercomplex?” tanya Dae Hye hati-hati.

“Mungkin begitu, hanya saja aku tak menyadarinya. Sejak itu aku jadi kesepian. Aku menutup diri dan tak peduli pada sekitarku lagi. Hingga akhirnya sampai kemari.”

Dae Hye menatap Kyuhyun dengan seksama. “Lalu apa yang membuatmu keluar dari sini?”

“Aku pikir kau betah di sini?” goda Kyuhyun pada Dae Hye.

Gadis mungil itu menggeleng. “Tempat ini membuatku muak. Aku merasa sesak di sini.”

“Aku tahu,” jawab Kyuhyun sambil terkekeh. “Yang membuatku keluar adalah orang yang sama dengan yang membuatku masuk ke tempat ini.”

“Dia...Sungmin...” tunjuk Dae Hye pada lukisan yang sudah berganti berada di tangan Kyuhyun entah sejak kapan.

Pemuda itu mengangguk, “Benar. Sepertinya dia tahu kenapa aku bisa datang ke tempat ini. Dia merasa bersalah dan berusaha mengunjungiku meski dia lelah. Dari situ aku tahu kalau kakakku masih menyayangiku, memikirkanku, dan memperhatikanku. Waktu itu dia bilang jika aku merindukannya maka aku harus memikirkannya. Dia mengirimiku foto-fotonya dan juga video-video kegiatannya,” cerita Kyuhyun senang.

“Hubungan kalian sedikit mengerikan...” komentar Dae Hye.

“Hei, bagaimana rasanya kalau keluargamu menghilang tanpa kabar? Kakakku sama sekali tidak mengirimiku kabar ketika dia menjadi artis. Dengan melihat foto dan videonya, aku jadi tahu apa yang dilakukannya dan apa dia baik-baik saja atau tidak. Kalau sempat aku biasa mencari jadwalnya di search engine. Kan dia artis jadi pasti ketemu.”

“Kalau sudah tahu bisa dicari di search engine kenapa kau harus stress?”

“Itulah bodohnya aku. Kurang memanfaatkan teknologi.....hehehehehe. Oh ya, tujuan lain aku datang kemari adalah untuk mengambil lukisan itu,” ucap Kyuhyun.

“Kau akan mengambilnya?” tanya Dae Hye yang entah kenapa terdengar tak rela.

Kyuhyun mengangguk, “Benar. Aku akan memajangnya saat pameran lukisan pertamaku.”

“Begitu ya?”

Dae Hye kembali diam sambil menundukkan kepalanya. Saat dia diabaikan oleh keluarga dan teman-temannya rasanya tak sesedih ini. Tapi ini hanya karena lukisan yang pertama kali dilihatnya, airmata Dae Hye bahkan sampai jatuh.

“Kalau begitu lukisan ini untukmu saja,” Kyuhyun mengulurkan lukisannya pada Dae Hye. “Jadikan dia alasanmu untuk keluar dari tempat membosankan ini. Buka dirimu, lihat sekelilingmu. Ada hal yang indah di luar sana. Jangan menutup mata karena kau bisa kehilangan cahaya.”

“Tapi bagaimana aku bisa menjadikannya alasan? Dia bahkan tak mengenalku. Menjadi fansnya saja tidak,” kata Dae Hye sambil menatap lekat-lekat wajah pemuda di lukisan itu.

Kyuhyun tersenyum lalu mengacak-acak rambut Dae Hye. “Kata kakakku, tidak perlu menjadi fans sejak awal tapi jadilah fans sampai akhir. Dia juga pernah bilang kalau dia milik semua orang. Jadi meski kakakku tidak mengenalmu, dia akan tetap menyanyangimu sama seperti yang lain. Dia akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu senang dan tersenyum. Dia akan menghiburmu bagaimana pun caranya. Jadi jangan berpikir kau sendirian. Di luar sana masih ada banyak orang yang bersamamu.”

“......” Dae Hye tidak mengatakan apa pun. Dengan seksama dia mendengarkan semua yang Kyuhyun katakan. Seperti disiram air, perasaan Dae Hye menjadi sangat tenang.

“Meski begitu jangan lupakan Tuhanmu. Jadikan dia alasan utamamu untuk hidup lebih baik. Isilah hidup yang telah diberikan-Nya dengan sesuatu yang bermanfaat.”

Dae Hye mengangguk. Matanya masih menatap lekat pada lukisan itu. “Aku janji akan menjadi lebih baik setelah ini,” janji Dae Hye. Dia kemudian tersenyum tulus kearah Kyuhyun. “Terima kasih.”

Pemuda bermata hitam itu mengangguk, “Sama-sama. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang kakakku katakan saat mengunjungiku pertama kali.”

“Apa setelah ini kau akan kemari lagi?” tanya Dae Hye. Ada sedikit harapan di mata indahnya.

“Mungkin tidak,” ucap Kyuhyun sedih. “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di beberapa tempat. Kalau pun kemari akan butuh waktu yang lama. Oh ya, jangan berpikir kau akan menemuiku di sini. Aku tak mau. Kalau pun aku kembali ke kota ini, aku tak mau menemuimu di tempat ini. Kau harus sembuh dan menemuiku di luar tempat ini.”

“Jika aku bisa sembuh dan berhasil keluar dari tempat ini, aku bisa bertemu dengan Sungmin?” tanya Dae Hye polos.

Kyuhyun tersenyum lembut, “Tentu saja. Eh, namamu siapa ya?”

“Dae Hye. Min Dae Hye.....” jawab Dae Hye tegas.

“Aku akan mengingatnya. Sepertinya sudah malam, aku harus pergi. Jaga lukisan kakakku baik-baik ya dan cepatlah sembuh,” Kyuhyun beranjak dari duduknya. “Mau aku antar ke kamarmu?”

Dae Hye mengangguk cepat seperti anak kecil. Dia kemudian mengikuti langkah Kyuhyun dan terus mengobrol. Sebelum pergi Kyuhyun meninggalkan sebuah laptop untuk Dae Hye dan berpesan untuk menjaganya baik-baik.

“Meski kau tak percaya pada kata cinta, ketulusan, dan persahabatan, setidaknya kau harus mempercayai Tuhan dan dirimu sendiri,” pesan Kyuhyun.

Setelah itu Kyuhyun tak pernah lagi ke tempat rehabilitasi lagi. Namun pertemuannya dengan Dae Hye membawa perubahan besar bagi gadis itu. Dae Hye mulai membuka dirinya. Sikapnya juga tak sedingin sebelumnya. Tujuan utamanya adalah sembuh dan keluar dari rumah rehabilitasi itu hingga dia bisa berjuang untuk bisa bertemu dengan pemuda yang bernama Sungmin itu.

Dae Hye tak lagi peduli pandangan keluarganya dan teman-teman lamanya. Apa dia kembali diterima atau tetap diabaikan? Dae Hye tak lagi memikirkan hal itu. Dia percaya Tuhan akan menuntunnya dan menunjukkan jalan untuknya. Mimpinya adalah bertemu Sungmin dan jika beruntung dia akan bertemu Kyuhyun kembali. Di luar itu Dae Hye berhasil menjadi gadis yang tegar karena pelajaran di masa lalunya.



~

Dae Hye terkikik geli  sambil menutup mulutnya agar suara tawanya sedikit teredam. Di depannya sebuah laptop menyala dan menampilkan sebuah acara yang menurut orang lain buang-buang waktu saja untuk dilihat. Dalam acara itu ada Sungmin dan beberapa member group lain.

Laptop yang dipakai Dae Hye adalah pemberian Kyuhyun waktu itu. Setahun lalu Dae Hye keluar dari rumah rehabilitasi lebih cepat dari yang diperkirakan. Berkat pertemuannya dengan Kyuhyun dan kehadiran Sungmin dalam hidupnya. Tak terlalu istimewa tapi itu cukup membuat Dae Hye menata hidupnya. Memberi gadis itu kekuatan untuk bertahan.

Kedatangan Dae Hye ke tempat rehabilitasi itu adalah untuk berkunjung sekaligus mengambil lukisan Sungmin yang masih tertinggal di sana. Dae Hye berhasil membuat senyum Sungmin menjadi senyumnya dan semangat Kyuhyun sebagai semangatnya. Walaupun sampai kini Dae Hye belum bisa bertemu Sungmin dan menemukan Kyuhyun kembali, gadis itu tetap percaya kalau mereka bersamanya. Karena itu pusat dunianya.

“Dae Hye, sudah malam. Ayo, pulang....” ajak Minho, kekasih Dae Hye.

Gadis itu mengangguk. Dia mematikan laptopnya dan menjinjingnya bersama lukisan Sungmin. Sebelum benar-benar pergi Dae Hye sempat membalikkan badannya melihat kamarnya untuk terakhir kalinya. “Aku ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih untuk kalian,” gumam Dae Hye menatap lukisan Sungmin dan laptop pemberian Kyuhyun.

“Aku berhasil mendapatkan informasi tentang Kyuhyun, adik dari Jung Sungmin,” kata Minho saat mereka dalam perjalanan pulang.

Dae Hye menoleh kearah pemuda tinggi itu. “Benarkah dimana dia sekarang?” tanggap Dae Hye bersemangat.

“Jung Kyuhyun adik Sungmin sudah meninggal 2 tahun lalu.”

“Tak mungkin. Aku masih bertemu dengannya 2 tahun lalu. Ingat saat aku cerita...kau percaya padaku kan, Minho?” bantah Dae Hye tak percaya.

“Aku percaya, ”Minho berusaha menenangkan kekasihnya, “Tapi itu yang terjadi. Dia kecelakaan saat akan mengambil salah satu lukisan yang akan ia pamerkan saat pameran pertamanya.”

Kedua mata Dae Hye bergerak liar. Bergantian dia menatap lukisan Sungmin dan laptop pemberian Kyuhyun yang ada dipangkuannya. Semua terdengar aneh, orang yang memberinya motivasi dan semangat itu tak pernah ada. Hanya lukisan Sungmin yang tertinggal. Kalau Kyuhyun meninggal 2 tahun lalu lantas siapa yang ditemui Dae Hye waktu itu?

Kalau Kyuhyun meninggal bagaimana Dae Hye bisa mengucapkan rasa terima kasihnya? Sungmin? Kemungkinan Dae Hye bertemu dengan Sungmin sangat kecil. Lalu setelah ini bagaimana cara Dae Hye menyampaikan rasa terima kasihnya pada dua orang pemuda yang telah mengubah dunianya itu?

Di tempat lain yang tak tersentuh, Kyuhyun menatap sendu ke arah Sungmin, kakaknya. “Aku sudah menyampaikan pesan kakak untuk semua penggemarmu. Tapi kenapa aku tak juga bisa kembali padamu dan mengucapkan terima kasihku?”

.

Meski aku bisa melihatnya, aku tak pernah bisa menyentuhnya. Bagai bayangan yang datang dan pergi. Sekali saja aku ingin bertemu dan mengatakan terima kasih itu.

~e.n.d~ 

note :
diangkat dari kisah nyata dengan sedikit bumbu dapur dan menyebabkan sakit perut karena kebanyakan cabe *author mulai ngawur*
asli dari tetesan ide author yang gak waras, jadi aku mohooooooooon.....jangan copy and paste *nyanyi lagu boa*

happy reading ^^

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates