The Reason
.
.
.
.
Meski aku bisa melihatnya, aku tak pernah
bisa menyentuhnya. Bagai bayangan yang datang dan pergi. Sekali saja aku ingin
bertemu dan mengatakan terima kasih itu.
.
.
.
Pintu
berwarna putih itu terbuka lebar. Seorang gadis berjalan masuk. Langkah kakinya
anggun, gerakannya lembut, dan mata cokelatnya berbinar terang bagai bintang.
Seulas
senyum terukir di bibir tipisnya. Ada rasa senang yang membucah saat dia sampai
ke tempat itu. Tempat yang menurut orang lain mengerikan. Bagi gadis itu,
tempat dengan dominan warna putih itu memiliki banyak arti. Di sana dia telah
melewati berbagai hal sulit dan menjalani waktu yang mengerikan.
Gadis
itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Bagian dari tempat itu,
bagian dimana dia bisa menyebutnya sebuah kamar. Meski kamar itu bukan miliknya
setidaknya dia pernah tinggal di sana.
Di
sudut ruangan, gadis berambut hitam ikal itu mengulurkan tangannya yang putih
untuk menyentuh sebuah lukisan. Sebuah lukisan yang bagi orang lain tak
berharga. Lukisan yang telah menjadi bagian hidupnya, menjadi semangatnya, dan
menjadi pusat dunianya.
Berapa
harga dan darimana lukisan itu tak ada yang tahu. Gadis manis itu tak sengaja
menemukan lukisan itu di gudang belakang saat dia kabur. Dia telah jatuh saat
pertama kali melihat lukisan usang itu.
Dalam
lukisan itu tergambar seorang pemuda berkulit putih dengan mata yang sangat
indah. Meski dalam lukisan itu sang pemuda tak menunjukkan senyumnya, tetap
saja matanya yang bermanik hitam itu dapat menjebak dalam dimensi tersendiri.
Kesempurnaan yang diciptakan Tuhan untuk pemuda itu tergambar jelas dalam
lukisan itu.
Lama
gadis itu menatap lukisan yang sudah dianggap miliknya. Senyum manisnya telah
berganti senyum pahit entah sejak kapan. Sorot kesedihan terpancar jelas di matanya.
Beberapa bulir kristal bening meluncur mulus di pipinya yang merona. Gadis itu
teringat saat pertama kali dia datang ke tempat itu.
~
Aura
gelap menguar saat pertama kali gadis itu menginjakkan kakinya di tempat yang
biasa disebut rumah rehabilitasi itu. Gadis itu bernama Dae Hye, Min Dae Hye.
Tak ada yang tahu alasan kenapa gadis semanis itu bisa masuk ke tempat itu.
Dae
Hye terlihat santai saat dia baru datang. Waktu itu ia langsung ditempatkan di
ruang isolasi. Seingat Dae Hye, dia tidak gila, dia sehat tapi kenapa dia harus
berada di tempat terkutuk ini. Kenapa?
Selama
seminggu Dae Hye hanya berdiam diri di tempat yang bisa disebut kamarnya saat
ini. Dia tak mau keluar berbaur dengan yang lain. Makanan kesukaannya pun tak
tersentuh. Dia hanya menatap jendela dengan tatapan dingin dan tak terbaca. Tak
ada kehangatan yang terpancar dari wajah gadis itu.
Sebenarnya
tak ada yang berbeda antara Dae Hye dengan gadis seusianya. Dilihat dari
fisiknya, dia lumayan. Meski tergolong mungil, Dae Hye memiliki kulit seputih
salju, rambut hitam legam yang sedikit ikal, wajah yang manis, dan penampilan
bisa dibilang rapi. Sekilas dia terlihat tak ada yang aneh dengan gadis itu.
Namun
saat ada yang mengajaknya bicara barulah terlihat apa yang membedakannya dari
gadis lain di luar sana. Tak ada kehangatan yang terpancar dari kedua bola
matanya. Sinarnya redup dan sayu. Dia punya kepribadian yang sangat dingin dan
tak peduli sekelilingannya. Kata kelembutan jauh dari dirinya. Tak ada gambaran
gadis anggun dan lembut dari diri Dae Hye.
Dae
Hye telah kehilangan kedua orang tuanya sekitar 2 tahun yang lalu. Ketika itu
dia baru berusia 17 tahun. Dia sendirian. Tak ada satu pun anggota keluarga
dari kedua orang tuanya yang datang pemakaman orang tuanya. Gadis itu
benar-benar sendiri.
Di
sekolah, Dae Hye cukup pintar. Dia juga cukup dikenal sebagai siswi yang aktif.
Sebelum orang tuanya meninggal, Dae Hye mempunyai banyak sahabat. Namun setelah
kecelakaan mobil itu, Dae Hye akhirnya tahu bahwa selama ini hanya dimanfaatkan
saja. Kini orang yang bisa disebut sahabat tak ada lagi. Semuanya menjauh saat
orang tua Dae Hye tiada.
Sejak
itu Dae Hye tak lagi percaya pada kata cinta, ketulusan, dan persahabatan. Dia
tumbuh menjadi gadis yang sanggup membekukan sekitarnya. Dari seorang gadis
yang periang manjadi seorang pendiam. Dae Hye tak lagi menjalin hubungan dengan
orang-orang sekitarnya. Dia tak mau dimanfaatkan dan tak mau dikasihani.
Baginya
ketiga kata di atas hanyalah sebuah kebohongan. Dae Hye hanya mengenal cinta
untuk Tuhan dan kedua orang tuanya. Hanya ada ketulusan yang dari hubungannya
dengan Tuhan dan orang tuanya. Namun untuk persahabatan, Dae Hye merasa tak ada
lagi alasan untuk percaya.
Lalu
apa hanya itu alasan Dae Hye yang membuatnya masuk ke tempat itu? Ternyata semua
itu bukan keinginan gadis mungil itu. Alasan utama kenapa Dae Hye ada di sana
adalah neneknya. Neneknya-lah yang sengaja memasukkannya ke tempat itu. Mungkin
wanita setengah baya itu tak lagi sanggup merawat gadis sedingin Dae Hye. Tapi
Dae Hye punya alasan lain untuk neneknya. Dia tahu bahwa neneknya hanya ingin
harta peninggalan kedua orangtuannya. Untuk itu lah kenapa dia disingkirkan.
Kemudian
apa hubungan Dae Hye dengan lukisan pemuda yang telah disebut di atas?
Di
suatu sore yang hujan dan dingin. Dae Hye merasa lelah terus berada di tempat
mengerikan itu. Seluruh tubuhnya remuk redam bekas rehabilitasi. Karena itu Dae
Hye kabur dari kamarnya. Dia tak tahu harus pergi kemana, dia hanya
menginginkan tempat berdiam diri yang tenang. Bukan dalam artian kabur yang
sebenarnya karena tempat rehabilitasi itu terpencil dan sangat luas.
Akhirnya
Dae Hye masuk ke sebuah gudang belakang gedung tempatnya tinggal. Tempat itu
tak terlalu gelap. Meski disebut gudang, tempat itu tertata dan bersih hanya
mungkin jarang didatangi saja.
Dae
Hye melangkahkan kakinya mengelilingi gudang. Ada sesuatu yang menarik dari
gudang tersebut karena itu dia melihat-lihat banyak barang yang ada di sana.
Hingga akhirnya kedua matanya tertuju oleh sebuah lukisan yang tergeletak di dinding,
tersembunyi oleh meja dan lemari. Penasaran, Dae Hye mengangkat lukisan yang
tidak terlalu besar itu, menyibak kain putih yang menutupinya, dan membersihkan
debu yang menempel.
Kedua
mata cokelat Dae Hye terbelalak lebar saat melihat gambar yang ada dilukisan
itu. Gambar close up seorang pemuda. Kulitnya putih, matanya hitam, berhidung
mancung, rambutnya segelap matanya, pipinya merona. Dan dengan bibir tipis dan
mungil yang sedikit terbuka, lukisan pemuda itu terlihat mengagumkan.
Bola
mata Dae Hye bergerak liar mangamati lukisan pemuda itu. Belum pernah dia
melihat yang sesempurna ini, ada
kehangatan yang menjalar dari dalam dirinya. Entah kenapa tubuhnya bergetar
karena senang. Nafasnya memburu tak percaya. Dan untuk pertama kalinya Dae Hye
tersenyum dengan manis.
Ckleeeek.....
Terdengar
sebuah alunan musik terdengar. Ternyata ada sebuah tape recorder yang tak
sengaja Dae Hye senggol saat mengambil lukisan tadi. Suara dalam lagu sangat
lembut bagaikan malaikat.
Suara
pintu gudang terbuka. Dae Hye menoleh dan senyumnya telah hilang berganti rasa
tak suka. Buru-buru dia mematikan tape recorder tadi. Seorang pemuda berbadan
kurus dan tinggi datang menghampirinya. Rambut pemuda itu berwarna cokelat dan
sedikit ikal. Baju yang dikenakannya tetap kering walaupun tetesan hujan yang
tak kunjung berhenti di luar sana.
“Wow,
aku pikir tak ada yang akan datang ke sini,” katanya menatap Dae Hye takjub.
Dae
Hye hanya diam, tak merespon omongan pemuda itu. Kedua matanya mengamati pemuda
itu dengan seksama. Terlihat sekali kewaspadaannya sangat tinggi.
“Tak
perlu seperti itu. Eh, kau menemukannya ya?” pemuda itu terkejut saat melihat
lukisan yang ada ditangan Dae Hye. “Apa kau suka?”
Sekali
lagi hanya Dae Hye hanya bisa diam. Pemuda itu jadi ikutan diam menatap Dae
Hye. Namun sedetik kemudian dia kembali tersenyum. “Dingin sekali,” pemuda itu kemudian
dia menyalakan musik dari ponselnya.
“Ini
lagu dari pemuda yang ada di lukisan itu. Tadinya aku ke sini karena mencari
ketenangan, tenyata ada kau,” ujar pemuda itu sambil mendudukkan dirinya di
sofa kecil yang usang. “Sudah berapa lama kau di sini?”
Dae
Hye hanya mengerjapkan matanya. Mulutnya terkunci rapat sekedar untuk memberi
jawaban singkat untuk pemuda itu. Meski bagitu Dae Hye tak lagi merasa
terganggu dengan kehadiran pemuda jangkung itu.
“Namaku
Kyuhyun. Aku dulu juga pernah tinggal di sini, sama sepertimu. Kau tahu
kenapa?” mata pemuda bernama Kyuhyun itu menerawang saat dimulai menceritakan
dirinya sendiri. “Aku di sini karena pemuda yang ada di lukisan itu.”
“Eh...”
Dae Hye menoleh pada Kyuhyun. “Dia ada?” tanyanya menunjuk ke lukisan itu.
Kyuhyun
terkekeh geli. “Tentu saja. Kau kira apa? Pemuda yang ada di lukisan itu
namanya Sungmin. Jung Sungmin. Dia seorang artis, penyanyi, aktor, dan
lainnya...hehehehehe.”
“Jadi
kau penggemarnya?”
“Mungkin.
Bisa dibilang penggemar nomor satunya mungkin,” jawab Kyuhyun mencebikkan
bibirnya.
“Dibawa
kemari hanya karena seorang artis. Itu sedikit aneh.”
Kali
ini Kyuhyun tergelak oleh kata-kata Dae Hye. “Sungmin itu kakakku. Lukisan itu
juga aku yang buat. Aku masuk kemari karena setelah dia jadi artis, aku menjadi
kesepian. Makanya aku sedikit mengalami masalah. Karena sejak kecil selalu
bersama saat dia pergi aku jadi kehilangan.”
“Kau
kan bisa menemuinya? Tidak harus masuk kemari,” ucap Dae Hye polos.
“Kami
ini hanya dua bersaudara. Orang tua kami sering pergi untuk bisnis. Aku sudah
terbiasa bersamanya. Awalnya aku tak masalah, dia jadi artis. Toh, aku adiknya
jadi aku tetap bisa menemuinya. Tapi kenyataannya tidak. Jadwalnya sangat padat
dan sibuk. Dia sama sekali tak sempat menemuiku, aku pun tak bisa menemuinya.
Aku merasa kehilangan dirinya, kasih sayangnya, dan perhatiannya.”
“Brothercomplex?”
tanya Dae Hye hati-hati.
“Mungkin
begitu, hanya saja aku tak menyadarinya. Sejak itu aku jadi kesepian. Aku menutup
diri dan tak peduli pada sekitarku lagi. Hingga akhirnya sampai kemari.”
Dae
Hye menatap Kyuhyun dengan seksama. “Lalu apa yang membuatmu keluar dari sini?”
“Aku
pikir kau betah di sini?” goda Kyuhyun pada Dae Hye.
Gadis
mungil itu menggeleng. “Tempat ini membuatku muak. Aku merasa sesak di sini.”
“Aku
tahu,” jawab Kyuhyun sambil terkekeh. “Yang membuatku keluar adalah orang yang
sama dengan yang membuatku masuk ke tempat ini.”
“Dia...Sungmin...”
tunjuk Dae Hye pada lukisan yang sudah berganti berada di tangan Kyuhyun entah
sejak kapan.
Pemuda
itu mengangguk, “Benar. Sepertinya dia tahu kenapa aku bisa datang ke tempat
ini. Dia merasa bersalah dan berusaha mengunjungiku meski dia lelah. Dari situ
aku tahu kalau kakakku masih menyayangiku, memikirkanku, dan memperhatikanku.
Waktu itu dia bilang jika aku merindukannya maka aku harus memikirkannya. Dia
mengirimiku foto-fotonya dan juga video-video kegiatannya,” cerita Kyuhyun
senang.
“Hubungan
kalian sedikit mengerikan...” komentar Dae Hye.
“Hei,
bagaimana rasanya kalau keluargamu menghilang tanpa kabar? Kakakku sama sekali
tidak mengirimiku kabar ketika dia menjadi artis. Dengan melihat foto dan
videonya, aku jadi tahu apa yang dilakukannya dan apa dia baik-baik saja atau
tidak. Kalau sempat aku biasa mencari jadwalnya di search engine. Kan dia artis
jadi pasti ketemu.”
“Kalau
sudah tahu bisa dicari di search engine kenapa kau harus stress?”
“Itulah
bodohnya aku. Kurang memanfaatkan teknologi.....hehehehehe. Oh ya, tujuan lain
aku datang kemari adalah untuk mengambil lukisan itu,” ucap Kyuhyun.
“Kau
akan mengambilnya?” tanya Dae Hye yang entah kenapa terdengar tak rela.
Kyuhyun
mengangguk, “Benar. Aku akan memajangnya saat pameran lukisan pertamaku.”
“Begitu
ya?”
Dae Hye
kembali diam sambil menundukkan kepalanya. Saat dia diabaikan oleh keluarga dan
teman-temannya rasanya tak sesedih ini. Tapi ini hanya karena lukisan yang
pertama kali dilihatnya, airmata Dae Hye bahkan sampai jatuh.
“Kalau
begitu lukisan ini untukmu saja,” Kyuhyun mengulurkan lukisannya pada Dae Hye.
“Jadikan dia alasanmu untuk keluar dari tempat membosankan ini. Buka dirimu,
lihat sekelilingmu. Ada hal yang indah di luar sana. Jangan menutup mata karena
kau bisa kehilangan cahaya.”
“Tapi
bagaimana aku bisa menjadikannya alasan? Dia bahkan tak mengenalku. Menjadi
fansnya saja tidak,” kata Dae Hye sambil menatap lekat-lekat wajah pemuda di
lukisan itu.
Kyuhyun
tersenyum lalu mengacak-acak rambut Dae Hye. “Kata kakakku, tidak perlu menjadi
fans sejak awal tapi jadilah fans sampai akhir. Dia juga pernah bilang kalau
dia milik semua orang. Jadi meski kakakku tidak mengenalmu, dia akan tetap
menyanyangimu sama seperti yang lain. Dia akan melakukan yang terbaik untuk
membuatmu senang dan tersenyum. Dia akan menghiburmu bagaimana pun caranya.
Jadi jangan berpikir kau sendirian. Di luar sana masih ada banyak orang yang
bersamamu.”
“......”
Dae Hye tidak mengatakan apa pun. Dengan seksama dia mendengarkan semua yang
Kyuhyun katakan. Seperti disiram air, perasaan Dae Hye menjadi sangat tenang.
“Meski
begitu jangan lupakan Tuhanmu. Jadikan dia alasan utamamu untuk hidup lebih
baik. Isilah hidup yang telah diberikan-Nya dengan sesuatu yang bermanfaat.”
Dae
Hye mengangguk. Matanya masih menatap lekat pada lukisan itu. “Aku janji akan
menjadi lebih baik setelah ini,” janji Dae Hye. Dia kemudian tersenyum tulus
kearah Kyuhyun. “Terima kasih.”
Pemuda
bermata hitam itu mengangguk, “Sama-sama. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang
kakakku katakan saat mengunjungiku pertama kali.”
“Apa
setelah ini kau akan kemari lagi?” tanya Dae Hye. Ada sedikit harapan di mata
indahnya.
“Mungkin
tidak,” ucap Kyuhyun sedih. “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di beberapa
tempat. Kalau pun kemari akan butuh waktu yang lama. Oh ya, jangan berpikir kau
akan menemuiku di sini. Aku tak mau. Kalau pun aku kembali ke kota ini, aku tak
mau menemuimu di tempat ini. Kau harus sembuh dan menemuiku di luar tempat
ini.”
“Jika
aku bisa sembuh dan berhasil keluar dari tempat ini, aku bisa bertemu dengan
Sungmin?” tanya Dae Hye polos.
Kyuhyun
tersenyum lembut, “Tentu saja. Eh, namamu siapa ya?”
“Dae
Hye. Min Dae Hye.....” jawab Dae Hye tegas.
“Aku
akan mengingatnya. Sepertinya sudah malam, aku harus pergi. Jaga lukisan
kakakku baik-baik ya dan cepatlah sembuh,” Kyuhyun beranjak dari duduknya. “Mau
aku antar ke kamarmu?”
Dae
Hye mengangguk cepat seperti anak kecil. Dia kemudian mengikuti langkah Kyuhyun
dan terus mengobrol. Sebelum pergi Kyuhyun meninggalkan sebuah laptop untuk Dae
Hye dan berpesan untuk menjaganya baik-baik.
“Meski
kau tak percaya pada kata cinta, ketulusan, dan persahabatan, setidaknya kau
harus mempercayai Tuhan dan dirimu sendiri,” pesan Kyuhyun.
Setelah
itu Kyuhyun tak pernah lagi ke tempat rehabilitasi lagi. Namun pertemuannya
dengan Dae Hye membawa perubahan besar bagi gadis itu. Dae Hye mulai membuka
dirinya. Sikapnya juga tak sedingin sebelumnya. Tujuan utamanya adalah sembuh
dan keluar dari rumah rehabilitasi itu hingga dia bisa berjuang untuk bisa
bertemu dengan pemuda yang bernama Sungmin itu.
Dae
Hye tak lagi peduli pandangan keluarganya dan teman-teman lamanya. Apa dia
kembali diterima atau tetap diabaikan? Dae Hye tak lagi memikirkan hal itu. Dia
percaya Tuhan akan menuntunnya dan menunjukkan jalan untuknya. Mimpinya adalah
bertemu Sungmin dan jika beruntung dia akan bertemu Kyuhyun kembali. Di luar
itu Dae Hye berhasil menjadi gadis yang tegar karena pelajaran di masa lalunya.
~
Dae
Hye terkikik geli sambil menutup
mulutnya agar suara tawanya sedikit teredam. Di depannya sebuah laptop menyala
dan menampilkan sebuah acara yang menurut orang lain buang-buang waktu saja
untuk dilihat. Dalam acara itu ada Sungmin dan beberapa member group lain.
Laptop
yang dipakai Dae Hye adalah pemberian Kyuhyun waktu itu. Setahun lalu Dae Hye
keluar dari rumah rehabilitasi lebih cepat dari yang diperkirakan. Berkat
pertemuannya dengan Kyuhyun dan kehadiran Sungmin dalam hidupnya. Tak terlalu
istimewa tapi itu cukup membuat Dae Hye menata hidupnya. Memberi gadis itu
kekuatan untuk bertahan.
Kedatangan
Dae Hye ke tempat rehabilitasi itu adalah untuk berkunjung sekaligus mengambil
lukisan Sungmin yang masih tertinggal di sana. Dae Hye berhasil membuat senyum
Sungmin menjadi senyumnya dan semangat Kyuhyun sebagai semangatnya. Walaupun
sampai kini Dae Hye belum bisa bertemu Sungmin dan menemukan Kyuhyun kembali,
gadis itu tetap percaya kalau mereka bersamanya. Karena itu pusat dunianya.
“Dae
Hye, sudah malam. Ayo, pulang....” ajak Minho, kekasih Dae Hye.
Gadis
itu mengangguk. Dia mematikan laptopnya dan menjinjingnya bersama lukisan
Sungmin. Sebelum benar-benar pergi Dae Hye sempat membalikkan badannya melihat
kamarnya untuk terakhir kalinya. “Aku ingin bertemu dan mengucapkan terima
kasih untuk kalian,” gumam Dae Hye menatap lukisan Sungmin dan laptop pemberian
Kyuhyun.
“Aku
berhasil mendapatkan informasi tentang Kyuhyun, adik dari Jung Sungmin,” kata
Minho saat mereka dalam perjalanan pulang.
Dae
Hye menoleh kearah pemuda tinggi itu. “Benarkah dimana dia sekarang?” tanggap
Dae Hye bersemangat.
“Jung
Kyuhyun adik Sungmin sudah meninggal 2 tahun lalu.”
“Tak
mungkin. Aku masih bertemu dengannya 2 tahun lalu. Ingat saat aku cerita...kau
percaya padaku kan, Minho?” bantah Dae Hye tak percaya.
“Aku
percaya, ”Minho berusaha menenangkan kekasihnya, “Tapi itu yang terjadi. Dia
kecelakaan saat akan mengambil salah satu lukisan yang akan ia pamerkan saat
pameran pertamanya.”
Kedua
mata Dae Hye bergerak liar. Bergantian dia menatap lukisan Sungmin dan laptop
pemberian Kyuhyun yang ada dipangkuannya. Semua terdengar aneh, orang yang
memberinya motivasi dan semangat itu tak pernah ada. Hanya lukisan Sungmin yang
tertinggal. Kalau Kyuhyun meninggal 2 tahun lalu lantas siapa yang ditemui Dae
Hye waktu itu?
Kalau
Kyuhyun meninggal bagaimana Dae Hye bisa mengucapkan rasa terima kasihnya?
Sungmin? Kemungkinan Dae Hye bertemu dengan Sungmin sangat kecil. Lalu setelah
ini bagaimana cara Dae Hye menyampaikan rasa terima kasihnya pada dua orang
pemuda yang telah mengubah dunianya itu?
Di
tempat lain yang tak tersentuh, Kyuhyun menatap sendu ke arah Sungmin,
kakaknya. “Aku sudah menyampaikan pesan kakak untuk semua penggemarmu. Tapi
kenapa aku tak juga bisa kembali padamu dan mengucapkan terima kasihku?”
.
Meski aku bisa melihatnya, aku tak pernah
bisa menyentuhnya. Bagai bayangan yang datang dan pergi. Sekali saja aku ingin
bertemu dan mengatakan terima kasih itu.
~e.n.d~
note :
diangkat dari kisah nyata dengan sedikit bumbu dapur dan menyebabkan sakit perut karena kebanyakan cabe *author mulai ngawur*
asli dari tetesan ide author yang gak waras, jadi aku mohooooooooon.....jangan copy and paste *nyanyi lagu boa*
happy reading ^^


0 komentar:
Posting Komentar