Rabu, 25 April 2012

Cold Sense


"Apa itu arti persahabatan?"

Saat ada orang yang bertanya padaku tentang hal itu aku hanya bisa diam tanpa menjawab. Apa arti persahabatan yang sebenarnya? Apa peran sahabat itu sesungguhnya? Dan apa perbedaan antara teman dan sahabat? Satu pun dari pertanyaan itu aku sama sekali tak mengerti jawabannya.

Mungkin orang lain akan menganggapku orang yang tak tahu diri. Itu terserah saja. Karena aku memang tidak memiliki arti khusus untuk persahabatan itu sendiri. Aku belum pernah mengenal arti persahabatan itu sesungguhnya. Dulu aku mengira telah memiliki persahabatan tapi aku salah. Itu hanyalah sebuah hubungan simbiosis. Ya simbiosis...

Antara teman dan sahabat itu tak ada bedanya. Sampai saat ini aku masih suka menggunakan kata teman dibanding sahabat. Tak peduli seberapa dekatnya orang itu untukku, bagiku dia akan tetap menjadi teman dan tak akan pernah menjadi sahabat. Itu lebih terdengar tak mengikat.

Kalau ada yang mengatakan aku tak percaya pada persahabatan. Maka aku akan membenarkannya untuk saat ini. Iya, aku memang tak percaya pada persahabatan. Aku telah kehilangan arti persahabatan itu sendiri sejak 2,5 tahun yang lalu dan benar-benar kehilangan kepercayaan pada persahabatan sejak ada seorang yang meninggalkanku.

Mungkin bukan meninggalkan, anggap saja dia ingin membuatku lebih dewasa. Dia seseorang yang sudah aku anggap saudara namun kenyataan memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Ikatan yang terjadi bukanlah sebuah persaudaraan atau pun persahabatan tapi hanya saling membutuhkan dan saling memanfaatkan. Aku beruntung telah disakiti olehnya. Aku jadi tahu bagaimana diriku yang sebenarnya dan bagaimana aku bangkit setelahnya.

Satu setengah tahun setelahnya, ada orang lain lagi yang meninggalkanku dengan kata persahabatan yang mudah sekali dia ucapkan. Bodohnya aku dulu karena telah menggantungkan harapan yang begitu tinggi padanya. Aku berharap dia mampu membawaku menerima masa lalu yang terlewat. Sayangnya harapanku itu dipatahkannya dengan mudah.

Sekarang aku hanya tertawa saat dia kembali dan menawarkan kembali persahabatan itu. Dengan mudahnya dia berkata kalau aku adalah sahabat dan keluarganya serta dia selalu ada untukku. Sejujurnya aku sudah mendengar kalimat seperti itu banyak kali. Apa dia korban sinetron? Kau juga tidak tahu. Aku tidak bisa lagi menerima dan mempercayai setiap kata yang dikeluarkannya.

Jika dulu aku mampu membenci seseorang dengan hubungan yang dingin, sekarang aku ingin berubah. Aku ingin tetap menerimanya sebagai teman. Teman biasa sama seperti yang lain. Tak akan ku gantungkan harapanku lagi padanya. Dia bukan orang yang tepat untuk itu. Meski beribu kata maaf keluar dari mulutnya, ketahuilah itu semua hanya pemanis saja. Kenyataannya dia tetap menganggapku transparan. Jadi, percuma saja aku muncul di depannya.

Sejak dulu aku memang bukan orang yang baik. Aku punya caraku sendiri untuk menghadapi orang lain. Harus diakui aku punya banyak topeng yang siap aku pakai. Aku tak lagi peduli anggapan orang lain, toh mereka selalu menganggapku buruk.

Rasa dingin yang ditinggalkan dari sebuah persahabatan di masa lalu, membawaku menjadi orang yang dingin dan tak terkendali. Rasa ini terlalu membekukan. Matahari yang aku harap akan mencairkannya masih jauh untuk digapai. Aku tidak tahu sampai kapan rasa dingin ini akan bertahan....

Selama rasa dingin itu masih menyelimutiku, selama itu pula aku tak tahu arti persahabatan. Karena bagiku persahabatan itu tidak ada?!?!?!?!

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates