"Apa itu arti persahabatan?"
Saat ada orang yang
bertanya padaku tentang hal itu aku hanya bisa diam tanpa menjawab. Apa
arti persahabatan yang sebenarnya? Apa peran sahabat itu sesungguhnya?
Dan apa perbedaan antara teman dan sahabat? Satu pun dari pertanyaan itu
aku sama sekali tak mengerti jawabannya.
Mungkin orang
lain akan menganggapku orang yang tak tahu diri. Itu terserah saja.
Karena aku memang tidak memiliki arti khusus untuk persahabatan itu
sendiri. Aku belum pernah mengenal arti persahabatan itu sesungguhnya.
Dulu aku mengira telah memiliki persahabatan tapi aku salah. Itu
hanyalah sebuah hubungan simbiosis. Ya simbiosis...
Antara
teman dan sahabat itu tak ada bedanya. Sampai saat ini aku masih suka
menggunakan kata teman dibanding sahabat. Tak peduli seberapa dekatnya
orang itu untukku, bagiku dia akan tetap menjadi teman dan tak akan
pernah menjadi sahabat. Itu lebih terdengar tak mengikat.
Kalau
ada yang mengatakan aku tak percaya pada persahabatan. Maka aku akan
membenarkannya untuk saat ini. Iya, aku memang tak percaya pada
persahabatan. Aku telah kehilangan arti persahabatan itu sendiri sejak
2,5 tahun yang lalu dan benar-benar kehilangan kepercayaan pada
persahabatan sejak ada seorang yang meninggalkanku.
Mungkin
bukan meninggalkan, anggap saja dia ingin membuatku lebih dewasa. Dia
seseorang yang sudah aku anggap saudara namun kenyataan memang tak
selalu berjalan sesuai harapan. Ikatan yang terjadi bukanlah sebuah
persaudaraan atau pun persahabatan tapi hanya saling membutuhkan dan
saling memanfaatkan. Aku beruntung telah disakiti olehnya. Aku jadi tahu
bagaimana diriku yang sebenarnya dan bagaimana aku bangkit setelahnya.
Satu
setengah tahun setelahnya, ada orang lain lagi yang meninggalkanku
dengan kata persahabatan yang mudah sekali dia ucapkan. Bodohnya aku
dulu karena telah menggantungkan harapan yang begitu tinggi padanya. Aku
berharap dia mampu membawaku menerima masa lalu yang terlewat.
Sayangnya harapanku itu dipatahkannya dengan mudah.
Sekarang
aku hanya tertawa saat dia kembali dan menawarkan kembali persahabatan
itu. Dengan mudahnya dia berkata kalau aku adalah sahabat dan
keluarganya serta dia selalu ada untukku. Sejujurnya aku sudah mendengar
kalimat seperti itu banyak kali. Apa dia korban sinetron? Kau juga
tidak tahu. Aku tidak bisa lagi menerima dan mempercayai setiap kata
yang dikeluarkannya.
Jika dulu aku mampu membenci
seseorang dengan hubungan yang dingin, sekarang aku ingin berubah. Aku
ingin tetap menerimanya sebagai teman. Teman biasa sama seperti yang
lain. Tak akan ku gantungkan harapanku lagi padanya. Dia bukan orang
yang tepat untuk itu. Meski beribu kata maaf keluar dari mulutnya,
ketahuilah itu semua hanya pemanis saja. Kenyataannya dia tetap
menganggapku transparan. Jadi, percuma saja aku muncul di depannya.
Sejak
dulu aku memang bukan orang yang baik. Aku punya caraku sendiri untuk
menghadapi orang lain. Harus diakui aku punya banyak topeng yang siap
aku pakai. Aku tak lagi peduli anggapan orang lain, toh mereka selalu
menganggapku buruk.
Rasa dingin yang ditinggalkan dari
sebuah persahabatan di masa lalu, membawaku menjadi orang yang dingin
dan tak terkendali. Rasa ini terlalu membekukan. Matahari yang aku harap
akan mencairkannya masih jauh untuk digapai. Aku tidak tahu sampai
kapan rasa dingin ini akan bertahan....
Selama rasa dingin
itu masih menyelimutiku, selama itu pula aku tak tahu arti
persahabatan. Karena bagiku persahabatan itu tidak ada?!?!?!?!

0 komentar:
Posting Komentar