Senin, 16 April 2012

Fans, Dream, and Idol


Fans, Dream, and Idol


Maaf karena aku menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini dan tak mampu meraihmu.

.

.

.

“Kyaaaaaa...............

Teriakan membahana memenuhi seluruh sudut universitas. Jangan tanya dari siapa teriakan itu berasal dan apa alasannya karena sebentar lagi kau akan tahu sendiri.

“Kyaaaaaaaaaa...........Donghae sunbae!!!”

“Donghae sunbae, saranghae..!!!”

Selalu dan akan terus begitu jika namja yang bernama Donghae itu datang. Seluruh penghuni tempat ini akan heboh menyambutnya baik itu yeoja ataupun namja, mungkin juga penunggu tempat ini juga (?). Sangat mengganggu sebenarnya tapi mau bagaimana lagi. Bukan salah dia juga, salahkan saja kenapa dia itu tampan, baik, dan sangat sempurna. Jangan lupakan juga kalau dia adalah satu member dari boyband yang sangat terkenal, Super Junior, yang kebetulan memang kuliah di tepat ini. Aku sendiri heran dulu eomma-nya itu makan apa saat mengandung Donghae sunbae.

.

Aku menghempaskan tubuhku di atas rumput hijau yang terhampar di halaman belakang universitas. Tempat yang sangat bagus untuk bersantai dan mengerjakan tugas kuliah yang menggunung. Saat mataku akan terpejam tanpa sengaja aku menangkap sesuatu di sudut mataku. Ada seorang yeoja sedang mengintip dari balik pohon, entah apa yang dilihatnya. Karena tergelitik untuk tahu kuputuskan membatalkan istirahat siangku dan berjalan menghampirinya.

Langkah kakiku berhenti tepat di sampingnya tanpa suara. Ku julurkan leherku berusaha mencari tahu apa yang dilihatnya sedari tadi. Mataku membulat saat tahu objek apa yang membuat yeoja ini di sini. Donghae sunbae!

Aigo, aku pikir apa? Baiklah tidak salah sih tapi kenapa yeoja ini harus melihat Donghae sunbae dari sini, dengan cara seperti ini, dan dari jarak yang sejauh ini? Meski tempat ini sangat strategis untuk mengintai karena ketinggiannya tapi kalau sejauh ini Donghae sunbae hanya terlihat sangat kecil sekali. Yeoja ini?

“Kenapa tidak mendekat saja?”

Dia terlonjak kaget karena aku tiba-tiba bertanya padanya. Terlihat ada sinar takut di matanya.

“...”

Dia diam tak menjawab. Sepertinya yeoja ini benar-benar kaget. “Unni, kau baik-baik saja?” tanyaku sedikit khawatir. Gawat juga jika dia terkena serangan jantung, kan repot?!

“Ka-kau ma-mau a-apa?” tanyanya balik.

Aku mengenyitkan dahi. Oh, baiklah yeoja ini tidak serangan jantung tapi saraf otaknya konslet! Kenapa dia yang bertanya untuk apa aku di sini? Memangnya karena apa aku di sini?

Tunggu! Sebenarnya untuk apa aku di sini? Baiklah, sekarang otakku juga ikut konslet.

Dia memandangiku penuh tuntutan. “Se-jak ka-pan kau di-sini?”

Nah kalau ini aku tahu jawabannya. “Sejak tadi,” jawabku mantap.

Mata yeoja itu terbelalak, dia kemudian menunduk dan berjalan pergi.

“Tunggu unni!” cegahku mencekal pergelangan tangannya.

“Ad-a a-apa?”

Aku menyipitkan mataku. Ada satu pertanyaan di kepalaku ‘Unni ini gagap ya?’

“Kenapa unni melakukan itu?”

Alis yeoja itu bertemu. “Ma-maksudmu?”

“Unni, ingin melihat Donghae sunbae kan?” tanyaku terus terang. Dia diam saja. “Tapi kenapa harus dari sini? Unni bisa mendekat kan ke lapangan tengah universitas?”

“Itu terserah padaku,” jawabnya seraya melepaskan tangannya dan melangkah pergi.

Mataku terus menatap punggungnya sampai benar-benar tak terlihat. Seulas senyum tertarik dari bibirku. Setidaknya aku tahu kalau unni itu tidak gagap!

.

Aku harus berjuang keras keluar dari kerumunan orang yang menyerbu papan pengumuman. Setelah bersimbah peluh dan darah(?) akhirnya aku bisa keluar juga dari tempat mengerikan itu. Aku berjalan menjauh sambil melihat kearah kumpulan orang-orang yang berebut melihat papan pengumuman. Kenapa seperti orang mau antre sembako ya?

“Ada apa sih?” tanyaku pada salah satu hobae yang aku temui di kantin.

“Oh, itu noona. Ada pengumuman tentang konser Super Junior.”

“Super Junior?” dahiku mengenyit.

“Noona tidak tahu Super Junior ya?” tebak hobae itu dengan sangat kurang ajarnya.

Tanpa babibu langsung kulemparkan deathglear andalanku yang kepelajari dari salah satu teman oppa-ku padanya. Seenaknya saja menyebutku tidak tahu Super Junior tentu saja aku tahu. Jangan bercanda!

“Aku tahu babo. Ya sudah terima kasih atas informasinya,” kataku sambil menegak habis air mineral di tanganku. Setelah hobae itu pergi aku mulai berpikir ‘konser Super Junior? Ehm, promo album ya? Lihat tidak ya?’

Saat seru-serunya berpikir, lagi-lagi mataku menangkap sosok yeoja yang terpegok olehku mengintip Donghae sunbae di halaman belakang. Berbeda saat aku pertama kali aku bertemu dengannya dulu. Dulu matanya berbinar indah bak bintang tapi entah kenapa sinar itu meredup. Dia menatap nanar kerumunan orang-orang tadi dari kejauhan.

“Unni perlu bantuan?” tawarku. Bukannya aku sok kenal apalagi sok tahu, salahkan saja perasaan sensitive yang diturunkan oppa padaku. Dari matanya saja aku tahu bahwa yeoja ini sedang sedih.

Dia menoleh ke arahku. “Kau lagi?” tanyanya heran, tentunya tidak gagap lagi.

“Kebetulan..hehehehe...” jawabku tanpa dosa.

“Mau apa?”

“Tidak ada hanya penasaran kenapa unni bersedih di sini? Aku tahu unni ingin mendekat ke papan pengumuman itu kan?”

Dia terbelalak kaget seakan tebakanku tepat. “Darimana kau tahu? Dan siapa kau?”

Aku tersenyum simpul, “Mata unni yang mengatakannya. Kenalkan namaku Lee Donghwa, mahasiswa baru di sini, ” aku mengulurkan tanganku.

“Pantas saja aku tidak pernah melihatmu. Aku Sungyoung,” katanya lumayan ramah.

“Maaf jika aku menganggu unni. Sungguh aku tidak bemaksud apa-apa hanya penasaran saja.”

Sungyoung unni tersenyum manis. “Tidak masalah. Aku pergi dulu, ne?” pamitnya.

“Tunggu apa unni seorang ELF?” tanyaku. Dia tidak menjawab hanya tersenyum dari kejauhan. Seratus Donghwa, tebakanmu tepat lagi.

Aku yakin sekali kalau yeoja itu adalah ELF dan penggemar Donghae sunbae. Tidak salah sih dan itu wajar. Aku juga suka Super Junior dan Donghae sunbae tapi aku lebih suka SHINee...hahahahahaha, ehmp. Kenapa membekap mulutku seenaknya saja? Aku kan tidak melakukan apa pun? Baiklah-baiklah jangan melototiku seperti itu. Aku akan diam saja sekarang.

.

“Unni sedang apa di sini?” tanyaku terkejut saat tanpa sengaja bertemu dengan Sungyoung unni di sebuah minimarket.

Dia tersenyum manis. “Aku bekerja part time di sini,” jawabnya lembut.

“Ouw..” aku manggut-manggut paham. “Unni sudah lama bekerja di sini?”

“Lumayan. Sekitar 1 tahun.”

“Daebak. Aku juga ingin kerja part time sayang oppa tidak mengijinkanku.”

“Kau butuh sesuatu?” tanyanya ramahnya.

Aku melihat sekelilingku, “Ramyeon 10 bungkus,” seruku dengan wajah tanpa dosa.

Dia terkekeh lalu beranjak mengambilkan ramyeon untukku.

“Terima kasih unni,” kataku setelah membayar semua belanjaanku. Sebelum pergi aku merogoh tas ranselku dan menyerahkan sebuah gulungan kertas pada Sungyoung unni. “Ini untuk unni.”

Matanya membulat saat membuka gulungan kertas dariku. “Ini....” serunya tak percaya. “Kau dapat darimana?”

“Papan pengumuman tadi,” jawabku jujur. “Aku tahu unni ingin membacanya jadi aku ambil saja tadi pas pulang kuliah.”

“Apa tidak apa-apa?”

“Ada banyak di papan pengumuman. Diambil satu, orang lain masih bisa membaca yang lainnya. Dan ini..” aku membalik halaman poster. “Kebetulan aku mendapat hadiah poster Donghae sunbae. Aku tahu unni pasti sudah punya banyak tapi ini asli tanda tangan darinya.”

“Jinjja?”

Aku mengangguk karena itu memang kenyataannya. Oppa-ku yang memberikannya padaku beberapa waktu lalu. Aku sempat bertanya bagaimana caranya mendapatkan poster+tandatangan itu sebanyak 5 buah. Aku sudah memajang 1 di dinding kamar sejajar dengan poster Minho SHINee, jadi aku rasa tak masalah memberi Sungyoung unni satu. Ada yang mau lagi?

.

“Wah, Sungyoung unni, kita bertemu lagi? Sedang apa malam-malam di sini?” kali ini aku bertemu Sungyoung unni saat melintasi taman dekat rumahku.

“Donghwa,” sapanya. “Darimana?” dia terus bertanya padaku sambil terus memunguti sampah yang berserakan di taman itu.

“Dari membeli kopi,” jawabku. Karena tidak tega aku pun membantunya memunguti sampah-sampah itu.

“Tidak usah nanti tanganmu kotor,” cegahnya.

Aku mengerjapkan menatapnya. “Sudah terlanjur lagipula nantikan bisa cuci tangan. Sabun banyak di rumahku. Unni tenang saja.”

Dia terkekeh. “Kenapa beli kopi malam-malam begini?”

“Unni kenapa malam-malam di sini? Jangan bilang part time lagi?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya.

Lagi-lagi Sungyoung unni terbelalak. Hei, jangan bilang kalau tebakanku tepat lagi.

“Kau ini peramal ya? Kau berhasil menebak semua yang ada dipikiranku.”

“Jadi benar unni part time di sini juga? Jadi pemungut sampah?” seruku.

Sungyoung unni menghentikan aktivitasnya. “Memangnya kenapa? Aku tidak mencuri.”

“Tapi untuk apa?”

“Pasti ada hal yang seseorang inginkan dalam hidupnya,” katanya lalu melanjutkan mengambil sampah.

Aku tertegun sebentar. Aku memikirkan kata-kata Sungyoung unni. ‘Pasti ada hal yang seseorang inginkan dalam hidupnya.’

Ada yang Sungyoung unni inginkan. Tapi apa? Aku yakin hal itu benar-benar dia inginkan sampai-sampai dia mau melakukan semua ini. Yang aku tahu dia kerja part time di 2 tempat sekaligus dalam 1 hari itu belum termasuk dia yang tetap pergi kuliah. Yeoja macam apa yang ada di depanku sekarang?

“Donghwa...”

Lamunanku langsung pecah saat dia memanggilku. “Ne unni? Ada apa?”

“Kau tidak pulang? Ini sudah malam.”

Aku berjalan menghampirinya, “Apa unni sudah selesai? Aku akan menunggu sampai unni selesai,” ujarku sambil membantunya lagi.

“Orang tuamu akan mencemaskanmu, pulanglah dulu,” mintanya.

“Tidak apa-apa. Nanti eomma-ku juga akan kemari kalau mencariku,” jawabku sekenanya.

Tak kupedulikan apa yang sedang dia katakan padaku. Sepertinya dia sedang mengomeliku tapi apa peduliku. Dia juga yeoja dan punya orang tua yang mencemaskannya juga. Jadi kalau ingin cepat pulang berarti aku harus membantunya.

.

Akhirnya aku tahu apa Sungyoung unni inginkan. Keinginannya adalah melihat konser Super Junior secara live! Dengar, secara live!

Apa? Apa susahnya? Ya memang gak susah. Tinggal antre tiket, bayar, datang, masuk ke ruangan, dan nonton deh. Gak susah kan?

Tapi ada satu hal yang terlupa. Harga tiketnya! Bahkan untuk tempat duduk yang ada di barisan paling belakang dan nyempil tak terlihat saja Sungyoung unni tak mampu membelinya, jadi apakah itu sekarang terlihat mudah?

Tidak! Aku tahu rasanya itu sangat tidak mudah. Saat kita benar-benar menginginkan sesuatu pasti sekuat tenaga kita akan mewujudkannya. Itu juga yang terjadi pada Sungyoung unni dan mungkin jutaan fans Super Junior di seluruh dunia.

Kalau Sungyoung unni berasal dari keluarga menengah ke atas mungkin itu akan mudah baginya. Namun Sungyoung unni berasal dari kalangan yang berkecukupan. Keluarganya memang mampu untuk menopang hidupnya dan membiayai sekolahnya, hanya saja orang tuanya tidak mungkin untuk memberi uang lebih untuk hal-hal yang tidak masuk dalam kebutuhan wajib. Menurut keluarganya pengeluaran seperti untuk menonton konser termasuk pemborosan.

Itulah alasan mengapa Sungyoung unni memilih kerja part time di 2 tempat sekaligus. Dia sudah melakukan hal itu sejak Super Junior mengadakan konser untuk pertama kalinya. Ehm, aku lupa itu tahun berapa? Ada yang tahu? Seingatku tahun 2005 ya. Ups, itu kan debut Super Junior. Tahun 2008? Benar tidak? Salah lagi? Lalu tahun berapa Super Junior ngadain Super Show pertama kali? *T_T*

Dalam waktu selama itu uang Sungyoung unni belum juga terkumpul.  Ada yang bertanya berapa total bayarannya? Aku juga tidak tahu dan tidak mau mencari tahu.

.

Aku sudah mengenal Sungyoung unni selama 2 tahun lebih. Selama itu pula aku membantunya mewujudkan keinginannya. Tak banyak hanya menemaninya saat membersihkan sampah di taman dekat rumah dan mengajar anak-anak kecil di salah satu taman bermain. Lumayanlah, itung-itung aku juga mau nonton konser juga.

Hari ini aku kembali melihat mata Sungyoung unni meredup sekali lagi. Di tangannya ada sebuah kertas yang entah apa isinya.

“Lihat ini....” menyodorkan kertas berwarna  biru safir itu ke arahku.

Aku menjulurkan leherku dan membaca semua isi kertas itu. Ternyata kertas itu adalah sebuah poster, isinya adalah Super Junior akan melakukan tour Super Show 4. Wow, daebak!

“Sayangnya aku masih belum bisa melihatnya,” ujarnya dengan nada sedikit tersendat.

Aku menatap heran ke arahnya. “Kenapa? Aku rasa tabungan unni sudah lebih dari cukup?” tanyaku. Sedikit heran kenapa Sungyoung unni menunda keinginannya itu? Aku yakin tabungannya lebih dari cukup untuk membeli tiket kelas festival atau mungkin VIP. Dia sudah menabung untuk itu cukup lama. Punyaku saja sudah cukup untuk membeli tiket konser meski duduknya ada di deretan paling belakang, sih, hehehehehe. Yang pentingkan datang ke konser live meski lihat yang nyanyi dari fullscreen yang pentingkan sensasinya...kekekekekeke.

Kembali ke Sungyoung unni. Dia menggelengkan kepalanya sedih. “Adikku masuk rumah sakit jadi terpaksa aku menggunakan tabunganku untuk biaya rumah sakit,” ujar lirih.

“Apa? Unni kan sudah menabung, aish, haruskah unni menundanya? Belum tentu tahun depan Super Junior akan konser lagi?”

Dia tersenyum manis meski aku tahu kalau dia terpaksa tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku yakin akan ada konser Super Junior lagi tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.”

“Iya, kalau mereka akan mengeluarkan album lagi tahun depan,” aku menggigit ujung syalku sebal. “Dan iya kalau tabungan unni sudah kembali ke jumlah semula tahun depan. Kalau tidak bagaimana? Ingat mereka akan masuk wamil,” kataku.

“Aku yakin mereka akan kembali setelah wamil,” ucap Sungyoung unni penuh keyakinan.

“Kalau mereka tak akan pernah lagi mengadakan konser bagaimana?” untuk yang ini aku berdoa semoga tak terjadi. Sungguh aku ngeri membayangkannya. Bagaimana pun Super Junior juga telah menjadi bagian hidupku. Kalau mereka tak ada tentu akan ada yang kurang.

Sungyoung unni terkekeh pelan. “Mungkin ini sudah waktunya aku menyerah,” katanya tiba-tiba.

Aku tersentak kaget. Mataku mengerjap ke arahnya. “Ya, apa yang unni katakan?” teriakku putus asa.

.

Aku tahu Sungyoung unni tidak semudah itu menyerah. Dia masih pantang menyerah untuk meraih keinginan. Saat aku pamit dan meninggalkannya untuk pergi mengikuti ujian praktek di luar kota, dia masih Sungyoung unni yang ku kenal. Bahkan kami sempat berjanji untuk datang ke konser Super Junior apa pun itu bersama-sama.

Tapi segalanya memiliki batas. Bahkan orang yang sangat sabar pun bisa marah. Namun di dalam hati aku percaya kalau semangat Sungyoung unni tidak ada batasnya.

Sayangnya harapanku itu kacau saat aku kembali bertemu dengannya tanpa sengaja. Saat itu aku baru saja pulang dari ujian praktek. Aku kembali bertemu dengannya di taman dekat rumah. Aku melihat Sungyoung unni duduk di bangku taman sambil memandangi sesuatu.

Aku berjalan mendekatinya. Namun langkahku terhenti saat aku mendengar suara isakannya yang sangat pelan. Sungyoung unni menangis! Diantara isakannya aku sempat mendengar dia mengucapkan sesuatu.

”Maaf karena aku sudah menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini dan tak mampu meraihmu lebih jauh lagi.”

Aigo, apa maksudnya? Aku tak mengerti. Sampai Sungyoung unni pergi dan meninggalkan kertas di tangannya tadi, aku tetap berdiri mematung di tempat. Kemudian aku memungut kertas usang yang dia tinggalkan di bangku taman itu.

Aku sedikit terkejut meski aku tahu pasti apa isinya. Dari warnanya saja aku tahu. Biru safir warna kebesaran untuk ELF. Sekali lagi kertas di tanganku ini adalah poster Super Show 4.

.

‘Unni, kenapa kau menyerah?’ tanyaku dalam hati. Tanganku saling meremas satu sama lain. Ada sedikit rasa was-was di hatiku. Mataku terus memperhatikan sekeliling taman, mencari Sungyoung unni yang aku yakin akan datang ke tempat ini untuk membersihkan sampah. Aku harus menemuinya.

“Donghwa sedang apa di sini?” tanya oppa-ku yang entah datang darimana.

Aku hanya diam tak menjawab. Tak peduli sekarang oppa yang manja bin cengeng ini memelukku dari belakang dan mengendus-endus rambutku.

“Kau mau berkencan ya?” tanyanya lagi. “Rambutmu wangi sekali. Ganti shampoo?”

Aku menatap oppa-ku sebal. Namja ini benar-benar mengganggu. Aku tahu dia memang jarang ada di rumah sejak dulu karena pekerjaannya tapi ya tidak harus seperti ini juga. “Aku tidak sedang berkencan, oppa. Dan aku juga tidak ganti shampoo dari dulu jadi wanginya tetap sama.”

“Cepat pulang sana. Gawat jika ada fans-mu yang melihat. Mau terjadi skandal?” usirku sengaja.

Oppa-ku mencebik sebal. “Aku rindu pada dongsaeng-ku sendiri  memangnya tidak boleh?”

“Tidak sekarang. Aku sedang ada urusan.”

“Iya tidak usah ketus seperti itu. Cepet tua, katanya mau awet muda seperti Sungmin Super Junior.”

Aku memutar bola mataku kesal. Kalau Sungmin oppa masih terlihat muda meski berumur 27 tahun itu karena imut-imutnya yang gak ketulungan, gak ada hubungannya sama sewot ke oppa sendiri.

“Iya sudah, oppa nunggu di rumah saja,” kata oppa mengalah. “Jangan pulang terlalu malam,” pesannya sebelum pergi.

.

“Tidak Donghwa. Ini tabunganmu. Seharusnya kau yang menggunakannya untuk datang ke konser itu bukan aku,” tolak Sungyoung unni saat aku menyerahkan tabunganku padanya.

Aku tahu bahwa dia tidak mungkin datang melihat konser itu lagi karena tabungannya telah habis untuk biaya pengobatan adiknya. Jika ada yang mengatakan kemungkinannya sangat tipis, itu memang benar. Bahkan kemungkinan itu sudah tidak ada sekarang.  Waktu Sungyoung unni untuk mengumpulkan uang sangat sedikit. Dia hanya punya waktu 1 bulan untuk menabung di tengah keadaan yang membelit dirinya.

Meski aku tahu sangat tidak etis saat kita bersenang-senang melihat konser sedangkan di sisi lainnya dongsaeng kita sedang sakit. Tapi aku juga tidak mau Sungyoung unni membuang mimpinya begitu saja. Lalu apa artinya perjuangannya selama ini?

Aku tahu bagaimana Sungyoung unni menahan keinginan yang besar untuk mendekati Donghae sunbae yang kebetulan satu universitas dengan kami. Aku tahu bagaimana Sungyoung unni sering diejek karena menyukai Super Junior. Aku tahu betapa inginnya Sungyoung unni datang ke konser itu. Tapi mengapa saat keinginan itu mendekat dia harus menyerah seperti ini?

“Unni pakai saja. Tidak apa-apa, aku bisa meminta oppa-ku untuk membelikan aku tiket. Unni pakai uangku saja. Ayolah. Aku mohon jangan menyerah semudah ini,” bujukku.

“Maafkan aku, Donghwa. Maaf karena aku menyerah seperti ini. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Seharusnya aku sadar ini dari awal. Aku bukanlah fans yang beruntung yang bisa membeli album dan menonton konser dengan mudahnya. Aku tidak seperti itu,” Sungyoung unni mulai terisak. Tubuhnya melorot ke tanah.

Airmataku ikut meleleh bersamanya. Ku peluk dia erat-erat. Aku tahu rasanya. Aku tahu. Terkadang apa yang kita inginkan memang tidak terwujud. Sekeras apa pun kita berusaha jika Tuhan mengatakan tidak maka itu akan tidak akan terjadi. Tapi percayalah bahwa usaha yang kita tidak akan sia-sia. Akan ada rencana Tuhan dibalik itu semua dan itu akan jauh lebih indah dari yang kita pikirkan.

Betapa beruntungnya orang di luar sana yang bisa mewujudkan mimpinya dengan mudah. Bersyukurlah karena selalu diberi kemudahan oleh Tuhan.

Jika kalian datang ke konser Super Junior, sampaikan salam dari Songyoung unni untuk Donghae sunbae, ups, Donghae oppa ya...hehehehehehe. Bercanda. Sampaikan saja rasa cinta kalian pada mereka, bukan hanya pada Donghae oppa tapi juga pada Leeteuk oppa, Heechul oppa, Hankyung oppa, Yesung oppa, Kangin oppa, Shindong oppa, Sungmin oppa, Eunhyuk oppa, Siwon oppa, Ryeowook oppa, Kibum oppa, dan uri magnae Kyuhyun oppa serta Zhoumi oppa dan Henry oppa. J

.

“Ya, Hae, kau apa kan Donghwa, hah?”

Aku mendengar eomma sedang mengomeli oppa. Aku tersenyum geli. Rasakan....kekekekkek.

“Aku tidak melakukan apa pun eomma? Sejak dia pulang dari taman, dia sudah menangis. Mungkin dia kesambet penunggu taman,” kali suara oppa yang terdengar di telinga. Huh, lagi-lagi dia asal jawab.

Aku keluar kamar dan memeluk oppa dari belakang. Ada sedikit perasaan lega. Meski Sungyoung unni tidak datang ke konser Super Junior dan menolak ku belikan tiket, setidaknya dia masih mau menerima uang tabunganku. Aku mengatakan padanya agar untuk biaya pengobatan adiknya. Aku tahu itu sangat sedikit tapi aku senang membantunya.

“Ada apa ini? Gara-gara kau, aku kena semprot eomma tahu?” omel oppa.

Aku tersenyum di balik punggungnya tak menjawab apa pun.

“Hei, Donghwa...” panggil oppa.

“Ne?”

“Mau nonton konser Super Junior bersamaku? Hari ini hari terakhir lho?” oppa melambai-lambaikan dua buah tiket di depan mataku.

Mataku mengerjap memperhatikannya. Kemudian aku menggeleng mantap. “Tidak mau.”

Oppa mengenyitkan dahinya heran, “Eomma bilang kau rela menabung untuk menonton konser ini. Donghae akan marah kalau tahu kau tidak mau datang.”

“Coba saja,” tantangku santai. Aku tahu namja itu tidak akan bisa marah padaku. Sekali dia marah maka habislah dia, tidak akan punya dongsaeng seimut aku...kekekekekeke. “Aku tidak mau nonton kalau Sungyoung unni tidak melihatnya juga. Lagi pula kalau aku nonton bareng Hae oppa, yang nyanyi di atas panggung siapa?”

“Siapa Sungyoung? Selingkuhanmu?”

“Enak saja. Dia adalah satu diantara fans yang sedikit kurang beruntung.”

Oppa terlihat berpikir, “Jadi ada ELF yang seperti itu ya?”

Aku mengangguk. Aku yakin ada banyak fans yang sedikit kurang beruntung seperti Sungyoung unni tapi meski begitu mereka akan tetap mencintai idola mereka sepenuh hati dan akan terus mewujudkan mimpi mereka dengan cara masing-masing.

‘You don’t have to be an ELF from the beginning, you just have to be an ELF until the end’

Aku mendapat banyak hal dari Sungyoung unni yang mungkin tidak akan aku dapat di bangku sekolah manapun. Aku beruntung mengenalnya.

“Oppa kapan SuShow akan ada lagi? Aku ingin menontonnya.”

“Aku berharap sampai tua kami akan tetap mengadakan SuShow. Apa kau akan menabung juga  seperti kemarin?”

“Tentu saja. Aku akan melakukannya untuk Sungmin oppa...heheheheehe”

“Ya, kau! Yang oppa-mu itu aku......”

.

Maaf karena aku menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini dan tak mampu meraihmu. Tapi ketahuilah bahwa aku sangat beruntung mengenalmu. Kau mengubah cara pandang dan hidup. Terima kasih telah mau hadir di duniaku yang kecil ini.


~e.n.d~ 

note : 
lagi-lagi dari kisah nyata dengan bumbu dapur. ini gara-gara author lagi UTS pas ada SS4 INA....dengan gak rela terpaksa author gak nonton....nasib.....
kata maaf mampir buat Lee Donghwa oppa....waktu cerita ini dibuat author sama sekali gak tahu klo sodaranya Donghae oppa itu namanya Donghwa....
mianhe.....

happy reading ^^

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates