Maaf
karena aku menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak
bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini
dan tak mampu meraihmu.
.
.
.
“Kyaaaaaa...............
Teriakan membahana memenuhi seluruh sudut
universitas. Jangan tanya dari siapa teriakan itu berasal dan apa alasannya
karena sebentar lagi kau akan tahu sendiri.
“Kyaaaaaaaaaa...........Donghae
sunbae!!!”
“Donghae
sunbae, saranghae..!!!”
Selalu
dan akan terus begitu jika namja yang bernama Donghae itu datang. Seluruh
penghuni tempat ini akan heboh menyambutnya baik itu yeoja ataupun namja,
mungkin juga penunggu tempat ini juga (?). Sangat mengganggu sebenarnya tapi
mau bagaimana lagi. Bukan salah dia juga, salahkan saja kenapa dia itu tampan,
baik, dan sangat sempurna. Jangan lupakan juga kalau dia adalah satu member
dari boyband yang sangat terkenal, Super Junior, yang kebetulan memang kuliah
di tepat ini. Aku sendiri heran dulu eomma-nya itu makan apa saat mengandung Donghae
sunbae.
.
Aku
menghempaskan tubuhku di atas rumput hijau yang terhampar di halaman belakang
universitas. Tempat yang sangat bagus untuk bersantai dan mengerjakan tugas
kuliah yang menggunung. Saat mataku akan terpejam tanpa sengaja aku menangkap
sesuatu di sudut mataku. Ada seorang yeoja sedang mengintip dari balik pohon,
entah apa yang dilihatnya. Karena tergelitik untuk tahu kuputuskan membatalkan
istirahat siangku dan berjalan menghampirinya.
Langkah
kakiku berhenti tepat di sampingnya tanpa suara. Ku julurkan leherku berusaha
mencari tahu apa yang dilihatnya sedari tadi. Mataku membulat saat tahu objek
apa yang membuat yeoja ini di sini. Donghae sunbae!
Aigo,
aku pikir apa? Baiklah tidak salah sih tapi kenapa yeoja ini harus melihat Donghae
sunbae dari sini, dengan cara seperti ini, dan dari jarak yang sejauh ini?
Meski tempat ini sangat strategis untuk mengintai karena ketinggiannya tapi
kalau sejauh ini Donghae sunbae hanya terlihat sangat kecil sekali. Yeoja ini?
“Kenapa
tidak mendekat saja?”
Dia
terlonjak kaget karena aku tiba-tiba bertanya padanya. Terlihat ada sinar takut
di matanya.
“...”
Dia
diam tak menjawab. Sepertinya yeoja ini benar-benar kaget. “Unni, kau baik-baik
saja?” tanyaku sedikit khawatir. Gawat juga jika dia terkena serangan jantung,
kan repot?!
“Ka-kau
ma-mau a-apa?” tanyanya balik.
Aku
mengenyitkan dahi. Oh, baiklah yeoja ini tidak serangan jantung tapi saraf
otaknya konslet! Kenapa dia yang bertanya untuk apa aku di sini? Memangnya
karena apa aku di sini?
Tunggu!
Sebenarnya untuk apa aku di sini? Baiklah, sekarang otakku juga ikut konslet.
Dia
memandangiku penuh tuntutan. “Se-jak ka-pan kau di-sini?”
Nah
kalau ini aku tahu jawabannya. “Sejak tadi,” jawabku mantap.
Mata
yeoja itu terbelalak, dia kemudian menunduk dan berjalan pergi.
“Tunggu
unni!” cegahku mencekal pergelangan tangannya.
“Ad-a
a-apa?”
Aku
menyipitkan mataku. Ada satu pertanyaan di kepalaku ‘Unni ini gagap ya?’
“Kenapa
unni melakukan itu?”
Alis
yeoja itu bertemu. “Ma-maksudmu?”
“Unni,
ingin melihat Donghae sunbae kan?” tanyaku terus terang. Dia diam saja. “Tapi
kenapa harus dari sini? Unni bisa mendekat kan ke lapangan tengah universitas?”
“Itu
terserah padaku,” jawabnya seraya melepaskan tangannya dan melangkah pergi.
Mataku
terus menatap punggungnya sampai benar-benar tak terlihat. Seulas senyum
tertarik dari bibirku. Setidaknya aku tahu kalau unni itu tidak gagap!
.
Aku
harus berjuang keras keluar dari kerumunan orang yang menyerbu papan
pengumuman. Setelah bersimbah peluh dan darah(?) akhirnya aku bisa keluar juga
dari tempat mengerikan itu. Aku berjalan menjauh sambil melihat kearah kumpulan
orang-orang yang berebut melihat papan pengumuman. Kenapa seperti orang mau
antre sembako ya?
“Ada
apa sih?” tanyaku pada salah satu hobae yang aku temui di kantin.
“Oh,
itu noona. Ada pengumuman tentang konser Super Junior.”
“Super
Junior?” dahiku mengenyit.
“Noona
tidak tahu Super Junior ya?” tebak hobae itu dengan sangat kurang ajarnya.
Tanpa
babibu langsung kulemparkan deathglear andalanku yang kepelajari dari salah
satu teman oppa-ku padanya. Seenaknya saja menyebutku tidak tahu Super Junior
tentu saja aku tahu. Jangan bercanda!
“Aku
tahu babo. Ya sudah terima kasih atas informasinya,” kataku sambil menegak
habis air mineral di tanganku. Setelah hobae itu pergi aku mulai berpikir
‘konser Super Junior? Ehm, promo album ya? Lihat tidak ya?’
Saat
seru-serunya berpikir, lagi-lagi mataku menangkap sosok yeoja yang terpegok
olehku mengintip Donghae sunbae di halaman belakang. Berbeda saat aku pertama
kali aku bertemu dengannya dulu. Dulu matanya berbinar indah bak bintang tapi
entah kenapa sinar itu meredup. Dia menatap nanar kerumunan orang-orang tadi
dari kejauhan.
“Unni
perlu bantuan?” tawarku. Bukannya aku sok kenal apalagi sok tahu, salahkan saja
perasaan sensitive yang diturunkan oppa padaku. Dari matanya saja aku tahu
bahwa yeoja ini sedang sedih.
Dia
menoleh ke arahku. “Kau lagi?” tanyanya heran, tentunya tidak gagap lagi.
“Kebetulan..hehehehe...”
jawabku tanpa dosa.
“Mau
apa?”
“Tidak
ada hanya penasaran kenapa unni bersedih di sini? Aku tahu unni ingin mendekat
ke papan pengumuman itu kan?”
Dia
terbelalak kaget seakan tebakanku tepat. “Darimana kau tahu? Dan siapa kau?”
Aku
tersenyum simpul, “Mata unni yang mengatakannya. Kenalkan namaku Lee Donghwa,
mahasiswa baru di sini, ” aku mengulurkan tanganku.
“Pantas
saja aku tidak pernah melihatmu. Aku Sungyoung,” katanya lumayan ramah.
“Maaf
jika aku menganggu unni. Sungguh aku tidak bemaksud apa-apa hanya penasaran
saja.”
Sungyoung
unni tersenyum manis. “Tidak masalah. Aku pergi dulu, ne?” pamitnya.
“Tunggu
apa unni seorang ELF?” tanyaku. Dia tidak menjawab hanya tersenyum dari
kejauhan. Seratus Donghwa, tebakanmu tepat lagi.
Aku
yakin sekali kalau yeoja itu adalah ELF dan penggemar Donghae sunbae. Tidak
salah sih dan itu wajar. Aku juga suka Super Junior dan Donghae sunbae tapi aku
lebih suka SHINee...hahahahahaha, ehmp. Kenapa membekap mulutku seenaknya saja?
Aku kan tidak melakukan apa pun? Baiklah-baiklah jangan melototiku seperti itu.
Aku akan diam saja sekarang.
.
“Unni
sedang apa di sini?” tanyaku terkejut saat tanpa sengaja bertemu dengan
Sungyoung unni di sebuah minimarket.
Dia
tersenyum manis. “Aku bekerja part time di sini,” jawabnya lembut.
“Ouw..”
aku manggut-manggut paham. “Unni sudah lama bekerja di sini?”
“Lumayan.
Sekitar 1 tahun.”
“Daebak.
Aku juga ingin kerja part time sayang oppa tidak mengijinkanku.”
“Kau
butuh sesuatu?” tanyanya ramahnya.
Aku
melihat sekelilingku, “Ramyeon 10 bungkus,” seruku dengan wajah tanpa dosa.
Dia terkekeh
lalu beranjak mengambilkan ramyeon untukku.
“Terima
kasih unni,” kataku setelah membayar semua belanjaanku. Sebelum pergi aku
merogoh tas ranselku dan menyerahkan sebuah gulungan kertas pada Sungyoung
unni. “Ini untuk unni.”
Matanya
membulat saat membuka gulungan kertas dariku. “Ini....” serunya tak percaya.
“Kau dapat darimana?”
“Papan
pengumuman tadi,” jawabku jujur. “Aku tahu unni ingin membacanya jadi aku ambil
saja tadi pas pulang kuliah.”
“Apa
tidak apa-apa?”
“Ada
banyak di papan pengumuman. Diambil satu, orang lain masih bisa membaca yang
lainnya. Dan ini..” aku membalik halaman poster. “Kebetulan aku mendapat hadiah
poster Donghae sunbae. Aku tahu unni pasti sudah punya banyak tapi ini asli
tanda tangan darinya.”
“Jinjja?”
Aku
mengangguk karena itu memang kenyataannya. Oppa-ku yang memberikannya padaku
beberapa waktu lalu. Aku sempat bertanya bagaimana caranya mendapatkan
poster+tandatangan itu sebanyak 5 buah. Aku sudah memajang 1 di dinding kamar
sejajar dengan poster Minho SHINee, jadi aku rasa tak masalah memberi Sungyoung
unni satu. Ada yang mau lagi?
.
“Wah,
Sungyoung unni, kita bertemu lagi? Sedang apa malam-malam di sini?” kali ini
aku bertemu Sungyoung unni saat melintasi taman dekat rumahku.
“Donghwa,”
sapanya. “Darimana?” dia terus bertanya padaku sambil terus memunguti sampah
yang berserakan di taman itu.
“Dari
membeli kopi,” jawabku. Karena tidak tega aku pun membantunya memunguti
sampah-sampah itu.
“Tidak
usah nanti tanganmu kotor,” cegahnya.
Aku
mengerjapkan menatapnya. “Sudah terlanjur lagipula nantikan bisa cuci tangan.
Sabun banyak di rumahku. Unni tenang saja.”
Dia
terkekeh. “Kenapa beli kopi malam-malam begini?”
“Unni
kenapa malam-malam di sini? Jangan bilang part time lagi?” tanyaku balik tanpa
menjawab pertanyaannya.
Lagi-lagi
Sungyoung unni terbelalak. Hei, jangan bilang kalau tebakanku tepat lagi.
“Kau
ini peramal ya? Kau berhasil menebak semua yang ada dipikiranku.”
“Jadi
benar unni part time di sini juga? Jadi pemungut sampah?” seruku.
Sungyoung
unni menghentikan aktivitasnya. “Memangnya kenapa? Aku tidak mencuri.”
“Tapi
untuk apa?”
“Pasti
ada hal yang seseorang inginkan dalam hidupnya,” katanya lalu melanjutkan
mengambil sampah.
Aku
tertegun sebentar. Aku memikirkan kata-kata Sungyoung unni. ‘Pasti ada hal yang
seseorang inginkan dalam hidupnya.’
Ada
yang Sungyoung unni inginkan. Tapi apa? Aku yakin hal itu benar-benar dia
inginkan sampai-sampai dia mau melakukan semua ini. Yang aku tahu dia kerja
part time di 2 tempat sekaligus dalam 1 hari itu belum termasuk dia yang tetap
pergi kuliah. Yeoja macam apa yang ada di depanku sekarang?
“Donghwa...”
Lamunanku
langsung pecah saat dia memanggilku. “Ne unni? Ada apa?”
“Kau
tidak pulang? Ini sudah malam.”
Aku
berjalan menghampirinya, “Apa unni sudah selesai? Aku akan menunggu sampai unni
selesai,” ujarku sambil membantunya lagi.
“Orang
tuamu akan mencemaskanmu, pulanglah dulu,” mintanya.
“Tidak
apa-apa. Nanti eomma-ku juga akan kemari kalau mencariku,” jawabku sekenanya.
Tak
kupedulikan apa yang sedang dia katakan padaku. Sepertinya dia sedang
mengomeliku tapi apa peduliku. Dia juga yeoja dan punya orang tua yang
mencemaskannya juga. Jadi kalau ingin cepat pulang berarti aku harus
membantunya.
.
Akhirnya
aku tahu apa Sungyoung unni inginkan. Keinginannya adalah melihat konser Super
Junior secara live! Dengar, secara live!
Apa?
Apa susahnya? Ya memang gak susah. Tinggal antre tiket, bayar, datang, masuk ke
ruangan, dan nonton deh. Gak susah kan?
Tapi
ada satu hal yang terlupa. Harga tiketnya! Bahkan untuk tempat duduk yang ada
di barisan paling belakang dan nyempil tak terlihat saja Sungyoung unni tak
mampu membelinya, jadi apakah itu sekarang terlihat mudah?
Tidak!
Aku tahu rasanya itu sangat tidak mudah. Saat kita benar-benar menginginkan
sesuatu pasti sekuat tenaga kita akan mewujudkannya. Itu juga yang terjadi pada
Sungyoung unni dan mungkin jutaan fans Super Junior di seluruh dunia.
Kalau
Sungyoung unni berasal dari keluarga menengah ke atas mungkin itu akan mudah
baginya. Namun Sungyoung unni berasal dari kalangan yang berkecukupan.
Keluarganya memang mampu untuk menopang hidupnya dan membiayai sekolahnya,
hanya saja orang tuanya tidak mungkin untuk memberi uang lebih untuk hal-hal
yang tidak masuk dalam kebutuhan wajib. Menurut keluarganya pengeluaran seperti
untuk menonton konser termasuk pemborosan.
Itulah
alasan mengapa Sungyoung unni memilih kerja part time di 2 tempat sekaligus.
Dia sudah melakukan hal itu sejak Super Junior mengadakan konser untuk pertama
kalinya. Ehm, aku lupa itu tahun berapa? Ada yang tahu? Seingatku tahun 2005
ya. Ups, itu kan debut Super Junior. Tahun 2008? Benar tidak? Salah lagi? Lalu
tahun berapa Super Junior ngadain Super Show pertama kali? *T_T*
Dalam
waktu selama itu uang Sungyoung unni belum juga terkumpul. Ada yang bertanya berapa total bayarannya?
Aku juga tidak tahu dan tidak mau mencari tahu.
.
Aku
sudah mengenal Sungyoung unni selama 2 tahun lebih. Selama itu pula aku
membantunya mewujudkan keinginannya. Tak banyak hanya menemaninya saat
membersihkan sampah di taman dekat rumah dan mengajar anak-anak kecil di salah
satu taman bermain. Lumayanlah, itung-itung aku juga mau nonton konser juga.
Hari
ini aku kembali melihat mata Sungyoung unni meredup sekali lagi. Di tangannya
ada sebuah kertas yang entah apa isinya.
“Lihat
ini....” menyodorkan kertas berwarna biru
safir itu ke arahku.
Aku
menjulurkan leherku dan membaca semua isi kertas itu. Ternyata kertas itu
adalah sebuah poster, isinya adalah Super Junior akan melakukan tour Super Show
4. Wow, daebak!
“Sayangnya
aku masih belum bisa melihatnya,” ujarnya dengan nada sedikit tersendat.
Aku
menatap heran ke arahnya. “Kenapa? Aku rasa tabungan unni sudah lebih dari
cukup?” tanyaku. Sedikit heran kenapa Sungyoung unni menunda keinginannya itu?
Aku yakin tabungannya lebih dari cukup untuk membeli tiket kelas festival atau
mungkin VIP. Dia sudah menabung untuk itu cukup lama. Punyaku saja sudah cukup
untuk membeli tiket konser meski duduknya ada di deretan paling belakang, sih,
hehehehehe. Yang pentingkan datang ke konser live meski lihat yang nyanyi dari
fullscreen yang pentingkan sensasinya...kekekekekeke.
Kembali
ke Sungyoung unni. Dia menggelengkan kepalanya sedih. “Adikku masuk rumah sakit
jadi terpaksa aku menggunakan tabunganku untuk biaya rumah sakit,” ujar lirih.
“Apa?
Unni kan sudah menabung, aish, haruskah unni menundanya? Belum tentu tahun
depan Super Junior akan konser lagi?”
Dia
tersenyum manis meski aku tahu kalau dia terpaksa tersenyum. “Tidak apa-apa.
Aku yakin akan ada konser Super Junior lagi tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.”
“Iya,
kalau mereka akan mengeluarkan album lagi tahun depan,” aku menggigit ujung
syalku sebal. “Dan iya kalau tabungan unni sudah kembali ke jumlah semula tahun
depan. Kalau tidak bagaimana? Ingat mereka akan masuk wamil,” kataku.
“Aku
yakin mereka akan kembali setelah wamil,” ucap Sungyoung unni penuh keyakinan.
“Kalau
mereka tak akan pernah lagi mengadakan konser bagaimana?” untuk yang ini aku
berdoa semoga tak terjadi. Sungguh aku ngeri membayangkannya. Bagaimana pun
Super Junior juga telah menjadi bagian hidupku. Kalau mereka tak ada tentu akan
ada yang kurang.
Sungyoung
unni terkekeh pelan. “Mungkin ini sudah waktunya aku menyerah,” katanya
tiba-tiba.
Aku
tersentak kaget. Mataku mengerjap ke arahnya. “Ya, apa yang unni katakan?”
teriakku putus asa.
.
Aku
tahu Sungyoung unni tidak semudah itu menyerah. Dia masih pantang menyerah
untuk meraih keinginan. Saat aku pamit dan meninggalkannya untuk pergi
mengikuti ujian praktek di luar kota, dia masih Sungyoung unni yang ku kenal.
Bahkan kami sempat berjanji untuk datang ke konser Super Junior apa pun itu bersama-sama.
Tapi
segalanya memiliki batas. Bahkan orang yang sangat sabar pun bisa marah. Namun
di dalam hati aku percaya kalau semangat Sungyoung unni tidak ada batasnya.
Sayangnya
harapanku itu kacau saat aku kembali bertemu dengannya tanpa sengaja. Saat itu
aku baru saja pulang dari ujian praktek. Aku kembali bertemu dengannya di taman
dekat rumah. Aku melihat Sungyoung unni duduk di bangku taman sambil memandangi
sesuatu.
Aku
berjalan mendekatinya. Namun langkahku terhenti saat aku mendengar suara
isakannya yang sangat pelan. Sungyoung unni menangis! Diantara isakannya aku
sempat mendengar dia mengucapkan sesuatu.
”Maaf
karena aku sudah menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku
tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai
di sini dan tak mampu meraihmu lebih jauh lagi.”
Aigo,
apa maksudnya? Aku tak mengerti. Sampai Sungyoung unni pergi dan meninggalkan
kertas di tangannya tadi, aku tetap berdiri mematung di tempat. Kemudian aku
memungut kertas usang yang dia tinggalkan di bangku taman itu.
Aku
sedikit terkejut meski aku tahu pasti apa isinya. Dari warnanya saja aku tahu. Biru
safir warna kebesaran untuk ELF. Sekali lagi kertas di tanganku ini adalah poster
Super Show 4.
.
‘Unni,
kenapa kau menyerah?’ tanyaku dalam hati. Tanganku saling meremas satu sama
lain. Ada sedikit rasa was-was di hatiku. Mataku terus memperhatikan sekeliling
taman, mencari Sungyoung unni yang aku yakin akan datang ke tempat ini untuk
membersihkan sampah. Aku harus menemuinya.
“Donghwa
sedang apa di sini?” tanya oppa-ku yang entah datang darimana.
Aku
hanya diam tak menjawab. Tak peduli sekarang oppa yang manja bin cengeng ini
memelukku dari belakang dan mengendus-endus rambutku.
“Kau
mau berkencan ya?” tanyanya lagi. “Rambutmu wangi sekali. Ganti shampoo?”
Aku
menatap oppa-ku sebal. Namja ini benar-benar mengganggu. Aku tahu dia memang
jarang ada di rumah sejak dulu karena pekerjaannya tapi ya tidak harus seperti
ini juga. “Aku tidak sedang berkencan, oppa. Dan aku juga tidak ganti shampoo
dari dulu jadi wanginya tetap sama.”
“Cepat
pulang sana. Gawat jika ada fans-mu yang melihat. Mau terjadi skandal?” usirku
sengaja.
Oppa-ku
mencebik sebal. “Aku rindu pada dongsaeng-ku sendiri memangnya tidak boleh?”
“Tidak
sekarang. Aku sedang ada urusan.”
“Iya
tidak usah ketus seperti itu. Cepet tua, katanya mau awet muda seperti Sungmin
Super Junior.”
Aku
memutar bola mataku kesal. Kalau Sungmin oppa masih terlihat muda meski berumur
27 tahun itu karena imut-imutnya yang gak ketulungan, gak ada hubungannya sama
sewot ke oppa sendiri.
“Iya
sudah, oppa nunggu di rumah saja,” kata oppa mengalah. “Jangan pulang terlalu
malam,” pesannya sebelum pergi.
.
“Tidak
Donghwa. Ini tabunganmu. Seharusnya kau yang menggunakannya untuk datang ke
konser itu bukan aku,” tolak Sungyoung unni saat aku menyerahkan tabunganku
padanya.
Aku
tahu bahwa dia tidak mungkin datang melihat konser itu lagi karena tabungannya
telah habis untuk biaya pengobatan adiknya. Jika ada yang mengatakan
kemungkinannya sangat tipis, itu memang benar. Bahkan kemungkinan itu sudah tidak
ada sekarang. Waktu Sungyoung unni untuk
mengumpulkan uang sangat sedikit. Dia hanya punya waktu 1 bulan untuk menabung
di tengah keadaan yang membelit dirinya.
Meski
aku tahu sangat tidak etis saat kita bersenang-senang melihat konser sedangkan
di sisi lainnya dongsaeng kita sedang sakit. Tapi aku juga tidak mau Sungyoung
unni membuang mimpinya begitu saja. Lalu apa artinya perjuangannya selama ini?
Aku
tahu bagaimana Sungyoung unni menahan keinginan yang besar untuk mendekati Donghae
sunbae yang kebetulan satu universitas dengan kami. Aku tahu bagaimana
Sungyoung unni sering diejek karena menyukai Super Junior. Aku tahu betapa
inginnya Sungyoung unni datang ke konser itu. Tapi mengapa saat keinginan itu mendekat
dia harus menyerah seperti ini?
“Unni
pakai saja. Tidak apa-apa, aku bisa meminta oppa-ku untuk membelikan aku tiket.
Unni pakai uangku saja. Ayolah. Aku mohon jangan menyerah semudah ini,” bujukku.
“Maafkan
aku, Donghwa. Maaf karena aku menyerah seperti ini. Bukan karena aku tidak
berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Seharusnya
aku sadar ini dari awal. Aku bukanlah fans yang beruntung yang bisa membeli
album dan menonton konser dengan mudahnya. Aku tidak seperti itu,” Sungyoung
unni mulai terisak. Tubuhnya melorot ke tanah.
Airmataku
ikut meleleh bersamanya. Ku peluk dia erat-erat. Aku tahu rasanya. Aku tahu.
Terkadang apa yang kita inginkan memang tidak terwujud. Sekeras apa pun kita
berusaha jika Tuhan mengatakan tidak maka itu akan tidak akan terjadi. Tapi
percayalah bahwa usaha yang kita tidak akan sia-sia. Akan ada rencana Tuhan
dibalik itu semua dan itu akan jauh lebih indah dari yang kita pikirkan.
Betapa
beruntungnya orang di luar sana yang bisa mewujudkan mimpinya dengan mudah.
Bersyukurlah karena selalu diberi kemudahan oleh Tuhan.
Jika
kalian datang ke konser Super Junior, sampaikan salam dari Songyoung unni untuk
Donghae sunbae, ups, Donghae oppa ya...hehehehehehe. Bercanda. Sampaikan saja
rasa cinta kalian pada mereka, bukan hanya pada Donghae oppa tapi juga pada Leeteuk
oppa, Heechul oppa, Hankyung oppa, Yesung oppa, Kangin oppa, Shindong oppa,
Sungmin oppa, Eunhyuk oppa, Siwon oppa, Ryeowook oppa, Kibum oppa, dan uri
magnae Kyuhyun oppa serta Zhoumi oppa dan Henry oppa. J
.
“Ya,
Hae, kau apa kan Donghwa, hah?”
Aku
mendengar eomma sedang mengomeli oppa. Aku tersenyum geli. Rasakan....kekekekkek.
“Aku
tidak melakukan apa pun eomma? Sejak dia pulang dari taman, dia sudah menangis.
Mungkin dia kesambet penunggu taman,” kali suara oppa yang terdengar di
telinga. Huh, lagi-lagi dia asal jawab.
Aku
keluar kamar dan memeluk oppa dari belakang. Ada sedikit perasaan lega. Meski
Sungyoung unni tidak datang ke konser Super Junior dan menolak ku belikan
tiket, setidaknya dia masih mau menerima uang tabunganku. Aku mengatakan
padanya agar untuk biaya pengobatan adiknya. Aku tahu itu sangat sedikit tapi
aku senang membantunya.
“Ada
apa ini? Gara-gara kau, aku kena semprot eomma tahu?” omel oppa.
Aku
tersenyum di balik punggungnya tak menjawab apa pun.
“Hei,
Donghwa...” panggil oppa.
“Ne?”
“Mau
nonton konser Super Junior bersamaku? Hari ini hari terakhir lho?” oppa
melambai-lambaikan dua buah tiket di depan mataku.
Mataku
mengerjap memperhatikannya. Kemudian aku menggeleng mantap. “Tidak mau.”
Oppa
mengenyitkan dahinya heran, “Eomma bilang kau rela menabung untuk menonton
konser ini. Donghae akan marah kalau tahu kau tidak mau datang.”
“Coba
saja,” tantangku santai. Aku tahu namja itu tidak akan bisa marah padaku.
Sekali dia marah maka habislah dia, tidak akan punya dongsaeng seimut aku...kekekekekeke.
“Aku tidak mau nonton kalau Sungyoung unni tidak melihatnya juga. Lagi pula
kalau aku nonton bareng Hae oppa, yang nyanyi di atas panggung siapa?”
“Siapa
Sungyoung? Selingkuhanmu?”
“Enak
saja. Dia adalah satu diantara fans yang sedikit kurang beruntung.”
Oppa
terlihat berpikir, “Jadi ada ELF yang seperti itu ya?”
Aku
mengangguk. Aku yakin ada banyak fans yang sedikit kurang beruntung seperti
Sungyoung unni tapi meski begitu mereka akan tetap mencintai idola mereka
sepenuh hati dan akan terus mewujudkan mimpi mereka dengan cara masing-masing.
‘You don’t have to be an ELF from the
beginning, you just have to be an ELF until the end’
Aku
mendapat banyak hal dari Sungyoung unni yang mungkin tidak akan aku dapat di
bangku sekolah manapun. Aku beruntung mengenalnya.
“Oppa
kapan SuShow akan ada lagi? Aku ingin menontonnya.”
“Aku
berharap sampai tua kami akan tetap mengadakan SuShow. Apa kau akan menabung
juga seperti kemarin?”
“Tentu
saja. Aku akan melakukannya untuk Sungmin oppa...heheheheehe”
“Ya,
kau! Yang oppa-mu itu aku......”
.
Maaf
karena aku menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak
bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini
dan tak mampu meraihmu. Tapi ketahuilah bahwa aku sangat beruntung mengenalmu.
Kau mengubah cara pandang dan hidup. Terima kasih telah mau hadir di duniaku
yang kecil ini.
~e.n.d~
note :
lagi-lagi dari kisah nyata dengan bumbu dapur. ini gara-gara author lagi UTS pas ada SS4 INA....dengan gak rela terpaksa author gak nonton....nasib.....
kata maaf mampir buat Lee Donghwa oppa....waktu cerita ini dibuat author sama sekali gak tahu klo sodaranya Donghae oppa itu namanya Donghwa....
mianhe.....
happy reading ^^


0 komentar:
Posting Komentar