Rabu, 25 April 2012

Super Junior - OPERA (Japan version) short version





Demi apa aku buka-buka link dan nemuin MV ini??
Padahal aku udah cuti buat gak lihat apa pun yang berhubungan sama SJ,.tapi dasar gak bisa,,ya udah akhirnya danhobak pasrah....kekekekekeke

Bulan lalu *kalau gak salah, danhobak lupa* udah lihat teasernya SJ - Opera Japan version. Nah, kali ini danhobak bawa MV SJ - Opera Japan short version....

Ini bukan MV full version hanya short version,,jadi ya nanggung sebenarnya. Kalau readers tanya kapan full versionnya keluar? Danhobak bakal jawab -mungkin- bulan depan kalau gak salah sih tanggal 9 Mei 2012,...

Di MV ini,, oppadeul makin  keren lho,....gak percaya lihat aja.....

Happy watching ^^

Cold Sense


"Apa itu arti persahabatan?"

Saat ada orang yang bertanya padaku tentang hal itu aku hanya bisa diam tanpa menjawab. Apa arti persahabatan yang sebenarnya? Apa peran sahabat itu sesungguhnya? Dan apa perbedaan antara teman dan sahabat? Satu pun dari pertanyaan itu aku sama sekali tak mengerti jawabannya.

Mungkin orang lain akan menganggapku orang yang tak tahu diri. Itu terserah saja. Karena aku memang tidak memiliki arti khusus untuk persahabatan itu sendiri. Aku belum pernah mengenal arti persahabatan itu sesungguhnya. Dulu aku mengira telah memiliki persahabatan tapi aku salah. Itu hanyalah sebuah hubungan simbiosis. Ya simbiosis...

Antara teman dan sahabat itu tak ada bedanya. Sampai saat ini aku masih suka menggunakan kata teman dibanding sahabat. Tak peduli seberapa dekatnya orang itu untukku, bagiku dia akan tetap menjadi teman dan tak akan pernah menjadi sahabat. Itu lebih terdengar tak mengikat.

Kalau ada yang mengatakan aku tak percaya pada persahabatan. Maka aku akan membenarkannya untuk saat ini. Iya, aku memang tak percaya pada persahabatan. Aku telah kehilangan arti persahabatan itu sendiri sejak 2,5 tahun yang lalu dan benar-benar kehilangan kepercayaan pada persahabatan sejak ada seorang yang meninggalkanku.

Mungkin bukan meninggalkan, anggap saja dia ingin membuatku lebih dewasa. Dia seseorang yang sudah aku anggap saudara namun kenyataan memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Ikatan yang terjadi bukanlah sebuah persaudaraan atau pun persahabatan tapi hanya saling membutuhkan dan saling memanfaatkan. Aku beruntung telah disakiti olehnya. Aku jadi tahu bagaimana diriku yang sebenarnya dan bagaimana aku bangkit setelahnya.

Satu setengah tahun setelahnya, ada orang lain lagi yang meninggalkanku dengan kata persahabatan yang mudah sekali dia ucapkan. Bodohnya aku dulu karena telah menggantungkan harapan yang begitu tinggi padanya. Aku berharap dia mampu membawaku menerima masa lalu yang terlewat. Sayangnya harapanku itu dipatahkannya dengan mudah.

Sekarang aku hanya tertawa saat dia kembali dan menawarkan kembali persahabatan itu. Dengan mudahnya dia berkata kalau aku adalah sahabat dan keluarganya serta dia selalu ada untukku. Sejujurnya aku sudah mendengar kalimat seperti itu banyak kali. Apa dia korban sinetron? Kau juga tidak tahu. Aku tidak bisa lagi menerima dan mempercayai setiap kata yang dikeluarkannya.

Jika dulu aku mampu membenci seseorang dengan hubungan yang dingin, sekarang aku ingin berubah. Aku ingin tetap menerimanya sebagai teman. Teman biasa sama seperti yang lain. Tak akan ku gantungkan harapanku lagi padanya. Dia bukan orang yang tepat untuk itu. Meski beribu kata maaf keluar dari mulutnya, ketahuilah itu semua hanya pemanis saja. Kenyataannya dia tetap menganggapku transparan. Jadi, percuma saja aku muncul di depannya.

Sejak dulu aku memang bukan orang yang baik. Aku punya caraku sendiri untuk menghadapi orang lain. Harus diakui aku punya banyak topeng yang siap aku pakai. Aku tak lagi peduli anggapan orang lain, toh mereka selalu menganggapku buruk.

Rasa dingin yang ditinggalkan dari sebuah persahabatan di masa lalu, membawaku menjadi orang yang dingin dan tak terkendali. Rasa ini terlalu membekukan. Matahari yang aku harap akan mencairkannya masih jauh untuk digapai. Aku tidak tahu sampai kapan rasa dingin ini akan bertahan....

Selama rasa dingin itu masih menyelimutiku, selama itu pula aku tak tahu arti persahabatan. Karena bagiku persahabatan itu tidak ada?!?!?!?!

Selasa, 17 April 2012

Note for my friend ^^

 Sometimes, "Good-bye" Means "Stop Hurting Each Other."
.

.

.

 

Yeah~ aku gak tahu kenapa harus nulis ini?! Hanya sedikit inspirasi dari salah satu status temen lama yang entah dia dapat dari mana. Mungkin dia baru nyari wangsit dimana gitu jadinya statusnya kayak gitu. Maaf.....kekekekekeke. *Nyantai aja karna statusku juga gak ada bagus-bagusnya*. Kata lainnya adalah aku udah lama gak ketemu sama dia....hehehehehehe. Dan kalau aku udah kayak gini biasanya suka nyampah jadi maaf-maaf aja kalau tiba-tiba abis ini readers sekalian mules-mules. Danhobak, minta maaf....hehehehehe.

Ini bunyi statusnya, Terkadang, "Selamat tinggal" berarti "Berhenti saling menyakiti."

Jujur aja aku gak ngerti apa yang dia maksud tapi kalimat itu dikiiiiiit nohok aja ke aku-nya.....hehehehehehe. Kalimat itu sedikit menggelitik untuk diulas dan dijawab. Beneran deh!!!

Aku setuju dengan kalimat itu. Kenapa? Menurutku berpisah itu jauh lebih baik daripada terus-terusan tersakiti. Entah itu sengaja atau enggak, meski pada akhirnya bilangnya gak sengaja. (-_-")

Dengan berpisah kita bisa tahu apa artinya kita untuk mereka dan arti mereka untuk kita. Aku ngomong kayak gitu bukan berarti aku suka dengan perpisahan. Sama kayak yang lain, aku juga gak suka dengan yang namanya perpisahan. Rasanya berat banget buat bilang "Selamat tinggal".

Tapi dengan perpisahan kita bisa tumbuh menjadi sosok yang kuat dan berbeda. Mau tahu kenapa? Karena dengan perpisahan kita bisa tahu sampai dimana kemampuan kita untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Apa kita cukup kuat menghadapi tantangan tanpa orang-orang yang biasanya bantu kita? Dan harus bagaimana kita menjalani kehidupan yang baru tanpa orang-orang itu?

Aku bisa ngomong gitu karena sebelum itu aku udah menjalaninya duluan. Mungkin apa yang kita rasain berbeda satu sama lain tapi intinya sama, yaitu belajar dari setiap kejadian dan menjadi diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku sampai sekarang sering speechless pas baca, lihat, atau dengerin cerita orang yang lagi galau gara-gara perpisahan. Aku juga pernah galau bahkan mungkin udah sekarat pas itu...kekekeke. Untungnya aja waktu itu aku gak bunuh diri di pohon toge.

Balik lagi ke kata "Selamat tinggal."

Kadang dalam suatu keadaan kita bisa nyakitin orang tanpa sengaja. Yeah~ itu sangat wajar, namanya juga manusia. Tapi kalau kita gak sadar-sadar, itu kelewatan...... Kasian banget orang itu, dia harus menderita tanpa tahu salahnya apa, ya kan?

Makanya itu kenapa kata "Selamat tinggal" itu jauh lebih baik daripada terus bersama-sama meski keduanya sama-sama menyakitkan. Biar aku tebak, di dunia gak ada satu pun orang di dunia ini nyantai-nyatai aja pas ngucapin "Selamat tinggal." Kalau gak percaya lihat aja di acara perpisahan sekolah, wisuda, ending konser *apalagi konser SJ* dan acara-acara lainnya. Dari sekian banyak orang itu lalu terbagi menjadi beberapa kelompok, seperti kelompok orang yang terus saja menyesali perpisahan itu dan kelompok orang yang bersyukur dengan perpisahan.

Aku ngrasa kita udah cukup dewasa untuk milih kita mau masuk ke kelompok yang mana? Dua kelompok di atas hanya sebuah contoh. Berikutnya bergantung pada kita untuk menyikapi perpisahan itu sendiri. Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengubah arti kata "Selamat tinggal" dalam hidupnya.

"Selamat tinggal" bukanlah kata yang menunjukkan akhir tapi dia adalah awal dari sesuatu yang baru. Misalnya ya itu tadi kata "Selamat tinggal" itu adalah awal dari suatu hubungan yang tak lagi menyakiti satu sama lain. Itu menurutku, bagaimana menurutmu? *berasa iklan*. Jadi hadapi aja karena dengan gitu bisa tumbuh kuat.....

Buat temenku O_chan:
Maaf kalau pengertianku soal kalimatku yang tadi salah. Sumpah dah~ di sini aku gak maksud buat ngajarin yang aneh-aneh. Aku cuma mau nyampah doang sebenarnya.......hehehehehehe. Sayang kalau gak diabadikan *apa deh*
Aku emang gak ngerti apa yang kamu pikirkan tapi biarkan temenmu yang buruk ini berharap kalau kamu baik-baik aja. Gak galau tingkat dewa kayak aku.....hehehehehehe.
Ppyooooooong~~~

NB :
kalau gak suka dan menyebabkan diare langsung dihapus aja..... ^^



sign,
danhobak ^^

Senin, 16 April 2012

Fans, Dream, and Idol


Fans, Dream, and Idol


Maaf karena aku menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini dan tak mampu meraihmu.

.

.

.

“Kyaaaaaa...............

Teriakan membahana memenuhi seluruh sudut universitas. Jangan tanya dari siapa teriakan itu berasal dan apa alasannya karena sebentar lagi kau akan tahu sendiri.

“Kyaaaaaaaaaa...........Donghae sunbae!!!”

“Donghae sunbae, saranghae..!!!”

Selalu dan akan terus begitu jika namja yang bernama Donghae itu datang. Seluruh penghuni tempat ini akan heboh menyambutnya baik itu yeoja ataupun namja, mungkin juga penunggu tempat ini juga (?). Sangat mengganggu sebenarnya tapi mau bagaimana lagi. Bukan salah dia juga, salahkan saja kenapa dia itu tampan, baik, dan sangat sempurna. Jangan lupakan juga kalau dia adalah satu member dari boyband yang sangat terkenal, Super Junior, yang kebetulan memang kuliah di tepat ini. Aku sendiri heran dulu eomma-nya itu makan apa saat mengandung Donghae sunbae.

.

Aku menghempaskan tubuhku di atas rumput hijau yang terhampar di halaman belakang universitas. Tempat yang sangat bagus untuk bersantai dan mengerjakan tugas kuliah yang menggunung. Saat mataku akan terpejam tanpa sengaja aku menangkap sesuatu di sudut mataku. Ada seorang yeoja sedang mengintip dari balik pohon, entah apa yang dilihatnya. Karena tergelitik untuk tahu kuputuskan membatalkan istirahat siangku dan berjalan menghampirinya.

Langkah kakiku berhenti tepat di sampingnya tanpa suara. Ku julurkan leherku berusaha mencari tahu apa yang dilihatnya sedari tadi. Mataku membulat saat tahu objek apa yang membuat yeoja ini di sini. Donghae sunbae!

Aigo, aku pikir apa? Baiklah tidak salah sih tapi kenapa yeoja ini harus melihat Donghae sunbae dari sini, dengan cara seperti ini, dan dari jarak yang sejauh ini? Meski tempat ini sangat strategis untuk mengintai karena ketinggiannya tapi kalau sejauh ini Donghae sunbae hanya terlihat sangat kecil sekali. Yeoja ini?

“Kenapa tidak mendekat saja?”

Dia terlonjak kaget karena aku tiba-tiba bertanya padanya. Terlihat ada sinar takut di matanya.

“...”

Dia diam tak menjawab. Sepertinya yeoja ini benar-benar kaget. “Unni, kau baik-baik saja?” tanyaku sedikit khawatir. Gawat juga jika dia terkena serangan jantung, kan repot?!

“Ka-kau ma-mau a-apa?” tanyanya balik.

Aku mengenyitkan dahi. Oh, baiklah yeoja ini tidak serangan jantung tapi saraf otaknya konslet! Kenapa dia yang bertanya untuk apa aku di sini? Memangnya karena apa aku di sini?

Tunggu! Sebenarnya untuk apa aku di sini? Baiklah, sekarang otakku juga ikut konslet.

Dia memandangiku penuh tuntutan. “Se-jak ka-pan kau di-sini?”

Nah kalau ini aku tahu jawabannya. “Sejak tadi,” jawabku mantap.

Mata yeoja itu terbelalak, dia kemudian menunduk dan berjalan pergi.

“Tunggu unni!” cegahku mencekal pergelangan tangannya.

“Ad-a a-apa?”

Aku menyipitkan mataku. Ada satu pertanyaan di kepalaku ‘Unni ini gagap ya?’

“Kenapa unni melakukan itu?”

Alis yeoja itu bertemu. “Ma-maksudmu?”

“Unni, ingin melihat Donghae sunbae kan?” tanyaku terus terang. Dia diam saja. “Tapi kenapa harus dari sini? Unni bisa mendekat kan ke lapangan tengah universitas?”

“Itu terserah padaku,” jawabnya seraya melepaskan tangannya dan melangkah pergi.

Mataku terus menatap punggungnya sampai benar-benar tak terlihat. Seulas senyum tertarik dari bibirku. Setidaknya aku tahu kalau unni itu tidak gagap!

.

Aku harus berjuang keras keluar dari kerumunan orang yang menyerbu papan pengumuman. Setelah bersimbah peluh dan darah(?) akhirnya aku bisa keluar juga dari tempat mengerikan itu. Aku berjalan menjauh sambil melihat kearah kumpulan orang-orang yang berebut melihat papan pengumuman. Kenapa seperti orang mau antre sembako ya?

“Ada apa sih?” tanyaku pada salah satu hobae yang aku temui di kantin.

“Oh, itu noona. Ada pengumuman tentang konser Super Junior.”

“Super Junior?” dahiku mengenyit.

“Noona tidak tahu Super Junior ya?” tebak hobae itu dengan sangat kurang ajarnya.

Tanpa babibu langsung kulemparkan deathglear andalanku yang kepelajari dari salah satu teman oppa-ku padanya. Seenaknya saja menyebutku tidak tahu Super Junior tentu saja aku tahu. Jangan bercanda!

“Aku tahu babo. Ya sudah terima kasih atas informasinya,” kataku sambil menegak habis air mineral di tanganku. Setelah hobae itu pergi aku mulai berpikir ‘konser Super Junior? Ehm, promo album ya? Lihat tidak ya?’

Saat seru-serunya berpikir, lagi-lagi mataku menangkap sosok yeoja yang terpegok olehku mengintip Donghae sunbae di halaman belakang. Berbeda saat aku pertama kali aku bertemu dengannya dulu. Dulu matanya berbinar indah bak bintang tapi entah kenapa sinar itu meredup. Dia menatap nanar kerumunan orang-orang tadi dari kejauhan.

“Unni perlu bantuan?” tawarku. Bukannya aku sok kenal apalagi sok tahu, salahkan saja perasaan sensitive yang diturunkan oppa padaku. Dari matanya saja aku tahu bahwa yeoja ini sedang sedih.

Dia menoleh ke arahku. “Kau lagi?” tanyanya heran, tentunya tidak gagap lagi.

“Kebetulan..hehehehe...” jawabku tanpa dosa.

“Mau apa?”

“Tidak ada hanya penasaran kenapa unni bersedih di sini? Aku tahu unni ingin mendekat ke papan pengumuman itu kan?”

Dia terbelalak kaget seakan tebakanku tepat. “Darimana kau tahu? Dan siapa kau?”

Aku tersenyum simpul, “Mata unni yang mengatakannya. Kenalkan namaku Lee Donghwa, mahasiswa baru di sini, ” aku mengulurkan tanganku.

“Pantas saja aku tidak pernah melihatmu. Aku Sungyoung,” katanya lumayan ramah.

“Maaf jika aku menganggu unni. Sungguh aku tidak bemaksud apa-apa hanya penasaran saja.”

Sungyoung unni tersenyum manis. “Tidak masalah. Aku pergi dulu, ne?” pamitnya.

“Tunggu apa unni seorang ELF?” tanyaku. Dia tidak menjawab hanya tersenyum dari kejauhan. Seratus Donghwa, tebakanmu tepat lagi.

Aku yakin sekali kalau yeoja itu adalah ELF dan penggemar Donghae sunbae. Tidak salah sih dan itu wajar. Aku juga suka Super Junior dan Donghae sunbae tapi aku lebih suka SHINee...hahahahahaha, ehmp. Kenapa membekap mulutku seenaknya saja? Aku kan tidak melakukan apa pun? Baiklah-baiklah jangan melototiku seperti itu. Aku akan diam saja sekarang.

.

“Unni sedang apa di sini?” tanyaku terkejut saat tanpa sengaja bertemu dengan Sungyoung unni di sebuah minimarket.

Dia tersenyum manis. “Aku bekerja part time di sini,” jawabnya lembut.

“Ouw..” aku manggut-manggut paham. “Unni sudah lama bekerja di sini?”

“Lumayan. Sekitar 1 tahun.”

“Daebak. Aku juga ingin kerja part time sayang oppa tidak mengijinkanku.”

“Kau butuh sesuatu?” tanyanya ramahnya.

Aku melihat sekelilingku, “Ramyeon 10 bungkus,” seruku dengan wajah tanpa dosa.

Dia terkekeh lalu beranjak mengambilkan ramyeon untukku.

“Terima kasih unni,” kataku setelah membayar semua belanjaanku. Sebelum pergi aku merogoh tas ranselku dan menyerahkan sebuah gulungan kertas pada Sungyoung unni. “Ini untuk unni.”

Matanya membulat saat membuka gulungan kertas dariku. “Ini....” serunya tak percaya. “Kau dapat darimana?”

“Papan pengumuman tadi,” jawabku jujur. “Aku tahu unni ingin membacanya jadi aku ambil saja tadi pas pulang kuliah.”

“Apa tidak apa-apa?”

“Ada banyak di papan pengumuman. Diambil satu, orang lain masih bisa membaca yang lainnya. Dan ini..” aku membalik halaman poster. “Kebetulan aku mendapat hadiah poster Donghae sunbae. Aku tahu unni pasti sudah punya banyak tapi ini asli tanda tangan darinya.”

“Jinjja?”

Aku mengangguk karena itu memang kenyataannya. Oppa-ku yang memberikannya padaku beberapa waktu lalu. Aku sempat bertanya bagaimana caranya mendapatkan poster+tandatangan itu sebanyak 5 buah. Aku sudah memajang 1 di dinding kamar sejajar dengan poster Minho SHINee, jadi aku rasa tak masalah memberi Sungyoung unni satu. Ada yang mau lagi?

.

“Wah, Sungyoung unni, kita bertemu lagi? Sedang apa malam-malam di sini?” kali ini aku bertemu Sungyoung unni saat melintasi taman dekat rumahku.

“Donghwa,” sapanya. “Darimana?” dia terus bertanya padaku sambil terus memunguti sampah yang berserakan di taman itu.

“Dari membeli kopi,” jawabku. Karena tidak tega aku pun membantunya memunguti sampah-sampah itu.

“Tidak usah nanti tanganmu kotor,” cegahnya.

Aku mengerjapkan menatapnya. “Sudah terlanjur lagipula nantikan bisa cuci tangan. Sabun banyak di rumahku. Unni tenang saja.”

Dia terkekeh. “Kenapa beli kopi malam-malam begini?”

“Unni kenapa malam-malam di sini? Jangan bilang part time lagi?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya.

Lagi-lagi Sungyoung unni terbelalak. Hei, jangan bilang kalau tebakanku tepat lagi.

“Kau ini peramal ya? Kau berhasil menebak semua yang ada dipikiranku.”

“Jadi benar unni part time di sini juga? Jadi pemungut sampah?” seruku.

Sungyoung unni menghentikan aktivitasnya. “Memangnya kenapa? Aku tidak mencuri.”

“Tapi untuk apa?”

“Pasti ada hal yang seseorang inginkan dalam hidupnya,” katanya lalu melanjutkan mengambil sampah.

Aku tertegun sebentar. Aku memikirkan kata-kata Sungyoung unni. ‘Pasti ada hal yang seseorang inginkan dalam hidupnya.’

Ada yang Sungyoung unni inginkan. Tapi apa? Aku yakin hal itu benar-benar dia inginkan sampai-sampai dia mau melakukan semua ini. Yang aku tahu dia kerja part time di 2 tempat sekaligus dalam 1 hari itu belum termasuk dia yang tetap pergi kuliah. Yeoja macam apa yang ada di depanku sekarang?

“Donghwa...”

Lamunanku langsung pecah saat dia memanggilku. “Ne unni? Ada apa?”

“Kau tidak pulang? Ini sudah malam.”

Aku berjalan menghampirinya, “Apa unni sudah selesai? Aku akan menunggu sampai unni selesai,” ujarku sambil membantunya lagi.

“Orang tuamu akan mencemaskanmu, pulanglah dulu,” mintanya.

“Tidak apa-apa. Nanti eomma-ku juga akan kemari kalau mencariku,” jawabku sekenanya.

Tak kupedulikan apa yang sedang dia katakan padaku. Sepertinya dia sedang mengomeliku tapi apa peduliku. Dia juga yeoja dan punya orang tua yang mencemaskannya juga. Jadi kalau ingin cepat pulang berarti aku harus membantunya.

.

Akhirnya aku tahu apa Sungyoung unni inginkan. Keinginannya adalah melihat konser Super Junior secara live! Dengar, secara live!

Apa? Apa susahnya? Ya memang gak susah. Tinggal antre tiket, bayar, datang, masuk ke ruangan, dan nonton deh. Gak susah kan?

Tapi ada satu hal yang terlupa. Harga tiketnya! Bahkan untuk tempat duduk yang ada di barisan paling belakang dan nyempil tak terlihat saja Sungyoung unni tak mampu membelinya, jadi apakah itu sekarang terlihat mudah?

Tidak! Aku tahu rasanya itu sangat tidak mudah. Saat kita benar-benar menginginkan sesuatu pasti sekuat tenaga kita akan mewujudkannya. Itu juga yang terjadi pada Sungyoung unni dan mungkin jutaan fans Super Junior di seluruh dunia.

Kalau Sungyoung unni berasal dari keluarga menengah ke atas mungkin itu akan mudah baginya. Namun Sungyoung unni berasal dari kalangan yang berkecukupan. Keluarganya memang mampu untuk menopang hidupnya dan membiayai sekolahnya, hanya saja orang tuanya tidak mungkin untuk memberi uang lebih untuk hal-hal yang tidak masuk dalam kebutuhan wajib. Menurut keluarganya pengeluaran seperti untuk menonton konser termasuk pemborosan.

Itulah alasan mengapa Sungyoung unni memilih kerja part time di 2 tempat sekaligus. Dia sudah melakukan hal itu sejak Super Junior mengadakan konser untuk pertama kalinya. Ehm, aku lupa itu tahun berapa? Ada yang tahu? Seingatku tahun 2005 ya. Ups, itu kan debut Super Junior. Tahun 2008? Benar tidak? Salah lagi? Lalu tahun berapa Super Junior ngadain Super Show pertama kali? *T_T*

Dalam waktu selama itu uang Sungyoung unni belum juga terkumpul.  Ada yang bertanya berapa total bayarannya? Aku juga tidak tahu dan tidak mau mencari tahu.

.

Aku sudah mengenal Sungyoung unni selama 2 tahun lebih. Selama itu pula aku membantunya mewujudkan keinginannya. Tak banyak hanya menemaninya saat membersihkan sampah di taman dekat rumah dan mengajar anak-anak kecil di salah satu taman bermain. Lumayanlah, itung-itung aku juga mau nonton konser juga.

Hari ini aku kembali melihat mata Sungyoung unni meredup sekali lagi. Di tangannya ada sebuah kertas yang entah apa isinya.

“Lihat ini....” menyodorkan kertas berwarna  biru safir itu ke arahku.

Aku menjulurkan leherku dan membaca semua isi kertas itu. Ternyata kertas itu adalah sebuah poster, isinya adalah Super Junior akan melakukan tour Super Show 4. Wow, daebak!

“Sayangnya aku masih belum bisa melihatnya,” ujarnya dengan nada sedikit tersendat.

Aku menatap heran ke arahnya. “Kenapa? Aku rasa tabungan unni sudah lebih dari cukup?” tanyaku. Sedikit heran kenapa Sungyoung unni menunda keinginannya itu? Aku yakin tabungannya lebih dari cukup untuk membeli tiket kelas festival atau mungkin VIP. Dia sudah menabung untuk itu cukup lama. Punyaku saja sudah cukup untuk membeli tiket konser meski duduknya ada di deretan paling belakang, sih, hehehehehe. Yang pentingkan datang ke konser live meski lihat yang nyanyi dari fullscreen yang pentingkan sensasinya...kekekekekeke.

Kembali ke Sungyoung unni. Dia menggelengkan kepalanya sedih. “Adikku masuk rumah sakit jadi terpaksa aku menggunakan tabunganku untuk biaya rumah sakit,” ujar lirih.

“Apa? Unni kan sudah menabung, aish, haruskah unni menundanya? Belum tentu tahun depan Super Junior akan konser lagi?”

Dia tersenyum manis meski aku tahu kalau dia terpaksa tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku yakin akan ada konser Super Junior lagi tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.”

“Iya, kalau mereka akan mengeluarkan album lagi tahun depan,” aku menggigit ujung syalku sebal. “Dan iya kalau tabungan unni sudah kembali ke jumlah semula tahun depan. Kalau tidak bagaimana? Ingat mereka akan masuk wamil,” kataku.

“Aku yakin mereka akan kembali setelah wamil,” ucap Sungyoung unni penuh keyakinan.

“Kalau mereka tak akan pernah lagi mengadakan konser bagaimana?” untuk yang ini aku berdoa semoga tak terjadi. Sungguh aku ngeri membayangkannya. Bagaimana pun Super Junior juga telah menjadi bagian hidupku. Kalau mereka tak ada tentu akan ada yang kurang.

Sungyoung unni terkekeh pelan. “Mungkin ini sudah waktunya aku menyerah,” katanya tiba-tiba.

Aku tersentak kaget. Mataku mengerjap ke arahnya. “Ya, apa yang unni katakan?” teriakku putus asa.

.

Aku tahu Sungyoung unni tidak semudah itu menyerah. Dia masih pantang menyerah untuk meraih keinginan. Saat aku pamit dan meninggalkannya untuk pergi mengikuti ujian praktek di luar kota, dia masih Sungyoung unni yang ku kenal. Bahkan kami sempat berjanji untuk datang ke konser Super Junior apa pun itu bersama-sama.

Tapi segalanya memiliki batas. Bahkan orang yang sangat sabar pun bisa marah. Namun di dalam hati aku percaya kalau semangat Sungyoung unni tidak ada batasnya.

Sayangnya harapanku itu kacau saat aku kembali bertemu dengannya tanpa sengaja. Saat itu aku baru saja pulang dari ujian praktek. Aku kembali bertemu dengannya di taman dekat rumah. Aku melihat Sungyoung unni duduk di bangku taman sambil memandangi sesuatu.

Aku berjalan mendekatinya. Namun langkahku terhenti saat aku mendengar suara isakannya yang sangat pelan. Sungyoung unni menangis! Diantara isakannya aku sempat mendengar dia mengucapkan sesuatu.

”Maaf karena aku sudah menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini dan tak mampu meraihmu lebih jauh lagi.”

Aigo, apa maksudnya? Aku tak mengerti. Sampai Sungyoung unni pergi dan meninggalkan kertas di tangannya tadi, aku tetap berdiri mematung di tempat. Kemudian aku memungut kertas usang yang dia tinggalkan di bangku taman itu.

Aku sedikit terkejut meski aku tahu pasti apa isinya. Dari warnanya saja aku tahu. Biru safir warna kebesaran untuk ELF. Sekali lagi kertas di tanganku ini adalah poster Super Show 4.

.

‘Unni, kenapa kau menyerah?’ tanyaku dalam hati. Tanganku saling meremas satu sama lain. Ada sedikit rasa was-was di hatiku. Mataku terus memperhatikan sekeliling taman, mencari Sungyoung unni yang aku yakin akan datang ke tempat ini untuk membersihkan sampah. Aku harus menemuinya.

“Donghwa sedang apa di sini?” tanya oppa-ku yang entah datang darimana.

Aku hanya diam tak menjawab. Tak peduli sekarang oppa yang manja bin cengeng ini memelukku dari belakang dan mengendus-endus rambutku.

“Kau mau berkencan ya?” tanyanya lagi. “Rambutmu wangi sekali. Ganti shampoo?”

Aku menatap oppa-ku sebal. Namja ini benar-benar mengganggu. Aku tahu dia memang jarang ada di rumah sejak dulu karena pekerjaannya tapi ya tidak harus seperti ini juga. “Aku tidak sedang berkencan, oppa. Dan aku juga tidak ganti shampoo dari dulu jadi wanginya tetap sama.”

“Cepat pulang sana. Gawat jika ada fans-mu yang melihat. Mau terjadi skandal?” usirku sengaja.

Oppa-ku mencebik sebal. “Aku rindu pada dongsaeng-ku sendiri  memangnya tidak boleh?”

“Tidak sekarang. Aku sedang ada urusan.”

“Iya tidak usah ketus seperti itu. Cepet tua, katanya mau awet muda seperti Sungmin Super Junior.”

Aku memutar bola mataku kesal. Kalau Sungmin oppa masih terlihat muda meski berumur 27 tahun itu karena imut-imutnya yang gak ketulungan, gak ada hubungannya sama sewot ke oppa sendiri.

“Iya sudah, oppa nunggu di rumah saja,” kata oppa mengalah. “Jangan pulang terlalu malam,” pesannya sebelum pergi.

.

“Tidak Donghwa. Ini tabunganmu. Seharusnya kau yang menggunakannya untuk datang ke konser itu bukan aku,” tolak Sungyoung unni saat aku menyerahkan tabunganku padanya.

Aku tahu bahwa dia tidak mungkin datang melihat konser itu lagi karena tabungannya telah habis untuk biaya pengobatan adiknya. Jika ada yang mengatakan kemungkinannya sangat tipis, itu memang benar. Bahkan kemungkinan itu sudah tidak ada sekarang.  Waktu Sungyoung unni untuk mengumpulkan uang sangat sedikit. Dia hanya punya waktu 1 bulan untuk menabung di tengah keadaan yang membelit dirinya.

Meski aku tahu sangat tidak etis saat kita bersenang-senang melihat konser sedangkan di sisi lainnya dongsaeng kita sedang sakit. Tapi aku juga tidak mau Sungyoung unni membuang mimpinya begitu saja. Lalu apa artinya perjuangannya selama ini?

Aku tahu bagaimana Sungyoung unni menahan keinginan yang besar untuk mendekati Donghae sunbae yang kebetulan satu universitas dengan kami. Aku tahu bagaimana Sungyoung unni sering diejek karena menyukai Super Junior. Aku tahu betapa inginnya Sungyoung unni datang ke konser itu. Tapi mengapa saat keinginan itu mendekat dia harus menyerah seperti ini?

“Unni pakai saja. Tidak apa-apa, aku bisa meminta oppa-ku untuk membelikan aku tiket. Unni pakai uangku saja. Ayolah. Aku mohon jangan menyerah semudah ini,” bujukku.

“Maafkan aku, Donghwa. Maaf karena aku menyerah seperti ini. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Seharusnya aku sadar ini dari awal. Aku bukanlah fans yang beruntung yang bisa membeli album dan menonton konser dengan mudahnya. Aku tidak seperti itu,” Sungyoung unni mulai terisak. Tubuhnya melorot ke tanah.

Airmataku ikut meleleh bersamanya. Ku peluk dia erat-erat. Aku tahu rasanya. Aku tahu. Terkadang apa yang kita inginkan memang tidak terwujud. Sekeras apa pun kita berusaha jika Tuhan mengatakan tidak maka itu akan tidak akan terjadi. Tapi percayalah bahwa usaha yang kita tidak akan sia-sia. Akan ada rencana Tuhan dibalik itu semua dan itu akan jauh lebih indah dari yang kita pikirkan.

Betapa beruntungnya orang di luar sana yang bisa mewujudkan mimpinya dengan mudah. Bersyukurlah karena selalu diberi kemudahan oleh Tuhan.

Jika kalian datang ke konser Super Junior, sampaikan salam dari Songyoung unni untuk Donghae sunbae, ups, Donghae oppa ya...hehehehehehe. Bercanda. Sampaikan saja rasa cinta kalian pada mereka, bukan hanya pada Donghae oppa tapi juga pada Leeteuk oppa, Heechul oppa, Hankyung oppa, Yesung oppa, Kangin oppa, Shindong oppa, Sungmin oppa, Eunhyuk oppa, Siwon oppa, Ryeowook oppa, Kibum oppa, dan uri magnae Kyuhyun oppa serta Zhoumi oppa dan Henry oppa. J

.

“Ya, Hae, kau apa kan Donghwa, hah?”

Aku mendengar eomma sedang mengomeli oppa. Aku tersenyum geli. Rasakan....kekekekkek.

“Aku tidak melakukan apa pun eomma? Sejak dia pulang dari taman, dia sudah menangis. Mungkin dia kesambet penunggu taman,” kali suara oppa yang terdengar di telinga. Huh, lagi-lagi dia asal jawab.

Aku keluar kamar dan memeluk oppa dari belakang. Ada sedikit perasaan lega. Meski Sungyoung unni tidak datang ke konser Super Junior dan menolak ku belikan tiket, setidaknya dia masih mau menerima uang tabunganku. Aku mengatakan padanya agar untuk biaya pengobatan adiknya. Aku tahu itu sangat sedikit tapi aku senang membantunya.

“Ada apa ini? Gara-gara kau, aku kena semprot eomma tahu?” omel oppa.

Aku tersenyum di balik punggungnya tak menjawab apa pun.

“Hei, Donghwa...” panggil oppa.

“Ne?”

“Mau nonton konser Super Junior bersamaku? Hari ini hari terakhir lho?” oppa melambai-lambaikan dua buah tiket di depan mataku.

Mataku mengerjap memperhatikannya. Kemudian aku menggeleng mantap. “Tidak mau.”

Oppa mengenyitkan dahinya heran, “Eomma bilang kau rela menabung untuk menonton konser ini. Donghae akan marah kalau tahu kau tidak mau datang.”

“Coba saja,” tantangku santai. Aku tahu namja itu tidak akan bisa marah padaku. Sekali dia marah maka habislah dia, tidak akan punya dongsaeng seimut aku...kekekekekeke. “Aku tidak mau nonton kalau Sungyoung unni tidak melihatnya juga. Lagi pula kalau aku nonton bareng Hae oppa, yang nyanyi di atas panggung siapa?”

“Siapa Sungyoung? Selingkuhanmu?”

“Enak saja. Dia adalah satu diantara fans yang sedikit kurang beruntung.”

Oppa terlihat berpikir, “Jadi ada ELF yang seperti itu ya?”

Aku mengangguk. Aku yakin ada banyak fans yang sedikit kurang beruntung seperti Sungyoung unni tapi meski begitu mereka akan tetap mencintai idola mereka sepenuh hati dan akan terus mewujudkan mimpi mereka dengan cara masing-masing.

‘You don’t have to be an ELF from the beginning, you just have to be an ELF until the end’

Aku mendapat banyak hal dari Sungyoung unni yang mungkin tidak akan aku dapat di bangku sekolah manapun. Aku beruntung mengenalnya.

“Oppa kapan SuShow akan ada lagi? Aku ingin menontonnya.”

“Aku berharap sampai tua kami akan tetap mengadakan SuShow. Apa kau akan menabung juga  seperti kemarin?”

“Tentu saja. Aku akan melakukannya untuk Sungmin oppa...heheheheehe”

“Ya, kau! Yang oppa-mu itu aku......”

.

Maaf karena aku menyerah sekarang. Bukan karena aku tidak berusaha tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tahu siapa diriku. Maaf karena aku hanya sampai di sini dan tak mampu meraihmu. Tapi ketahuilah bahwa aku sangat beruntung mengenalmu. Kau mengubah cara pandang dan hidup. Terima kasih telah mau hadir di duniaku yang kecil ini.


~e.n.d~ 

note : 
lagi-lagi dari kisah nyata dengan bumbu dapur. ini gara-gara author lagi UTS pas ada SS4 INA....dengan gak rela terpaksa author gak nonton....nasib.....
kata maaf mampir buat Lee Donghwa oppa....waktu cerita ini dibuat author sama sekali gak tahu klo sodaranya Donghae oppa itu namanya Donghwa....
mianhe.....

happy reading ^^

The Reason


The Reason
.

.

.

.
Meski aku bisa melihatnya, aku tak pernah bisa menyentuhnya. Bagai bayangan yang datang dan pergi. Sekali saja aku ingin bertemu dan mengatakan terima kasih itu.

.

.

.

Pintu berwarna putih itu terbuka lebar. Seorang gadis berjalan masuk. Langkah kakinya anggun, gerakannya lembut, dan mata cokelatnya berbinar terang bagai bintang.

Seulas senyum terukir di bibir tipisnya. Ada rasa senang yang membucah saat dia sampai ke tempat itu. Tempat yang menurut orang lain mengerikan. Bagi gadis itu, tempat dengan dominan warna putih itu memiliki banyak arti. Di sana dia telah melewati berbagai hal sulit dan menjalani waktu yang mengerikan.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Bagian dari tempat itu, bagian dimana dia bisa menyebutnya sebuah kamar. Meski kamar itu bukan miliknya setidaknya dia pernah tinggal di sana.

Di sudut ruangan, gadis berambut hitam ikal itu mengulurkan tangannya yang putih untuk menyentuh sebuah lukisan. Sebuah lukisan yang bagi orang lain tak berharga. Lukisan yang telah menjadi bagian hidupnya, menjadi semangatnya, dan menjadi pusat dunianya.

Berapa harga dan darimana lukisan itu tak ada yang tahu. Gadis manis itu tak sengaja menemukan lukisan itu di gudang belakang saat dia kabur. Dia telah jatuh saat pertama kali melihat lukisan usang itu.

Dalam lukisan itu tergambar seorang pemuda berkulit putih dengan mata yang sangat indah. Meski dalam lukisan itu sang pemuda tak menunjukkan senyumnya, tetap saja matanya yang bermanik hitam itu dapat menjebak dalam dimensi tersendiri. Kesempurnaan yang diciptakan Tuhan untuk pemuda itu tergambar jelas dalam lukisan itu.

Lama gadis itu menatap lukisan yang sudah dianggap miliknya. Senyum manisnya telah berganti senyum pahit entah sejak kapan. Sorot kesedihan terpancar jelas di matanya. Beberapa bulir kristal bening meluncur mulus di pipinya yang merona. Gadis itu teringat saat pertama kali dia datang ke tempat itu.



~

Aura gelap menguar saat pertama kali gadis itu menginjakkan kakinya di tempat yang biasa disebut rumah rehabilitasi itu. Gadis itu bernama Dae Hye, Min Dae Hye. Tak ada yang tahu alasan kenapa gadis semanis itu bisa masuk ke tempat itu.

Dae Hye terlihat santai saat dia baru datang. Waktu itu ia langsung ditempatkan di ruang isolasi. Seingat Dae Hye, dia tidak gila, dia sehat tapi kenapa dia harus berada di tempat terkutuk ini. Kenapa?

Selama seminggu Dae Hye hanya berdiam diri di tempat yang bisa disebut kamarnya saat ini. Dia tak mau keluar berbaur dengan yang lain. Makanan kesukaannya pun tak tersentuh. Dia hanya menatap jendela dengan tatapan dingin dan tak terbaca. Tak ada kehangatan yang terpancar dari wajah gadis itu.

Sebenarnya tak ada yang berbeda antara Dae Hye dengan gadis seusianya. Dilihat dari fisiknya, dia lumayan. Meski tergolong mungil, Dae Hye memiliki kulit seputih salju, rambut hitam legam yang sedikit ikal, wajah yang manis, dan penampilan bisa dibilang rapi. Sekilas dia terlihat tak ada yang aneh dengan gadis itu.

Namun saat ada yang mengajaknya bicara barulah terlihat apa yang membedakannya dari gadis lain di luar sana. Tak ada kehangatan yang terpancar dari kedua bola matanya. Sinarnya redup dan sayu. Dia punya kepribadian yang sangat dingin dan tak peduli sekelilingannya. Kata kelembutan jauh dari dirinya. Tak ada gambaran gadis anggun dan lembut dari diri Dae Hye.

Dae Hye telah kehilangan kedua orang tuanya sekitar 2 tahun yang lalu. Ketika itu dia baru berusia 17 tahun. Dia sendirian. Tak ada satu pun anggota keluarga dari kedua orang tuanya yang datang pemakaman orang tuanya. Gadis itu benar-benar sendiri.

Di sekolah, Dae Hye cukup pintar. Dia juga cukup dikenal sebagai siswi yang aktif. Sebelum orang tuanya meninggal, Dae Hye mempunyai banyak sahabat. Namun setelah kecelakaan mobil itu, Dae Hye akhirnya tahu bahwa selama ini hanya dimanfaatkan saja. Kini orang yang bisa disebut sahabat tak ada lagi. Semuanya menjauh saat orang tua Dae Hye tiada.

Sejak itu Dae Hye tak lagi percaya pada kata cinta, ketulusan, dan persahabatan. Dia tumbuh menjadi gadis yang sanggup membekukan sekitarnya. Dari seorang gadis yang periang manjadi seorang pendiam. Dae Hye tak lagi menjalin hubungan dengan orang-orang sekitarnya. Dia tak mau dimanfaatkan dan tak mau dikasihani.

Baginya ketiga kata di atas hanyalah sebuah kebohongan. Dae Hye hanya mengenal cinta untuk Tuhan dan kedua orang tuanya. Hanya ada ketulusan yang dari hubungannya dengan Tuhan dan orang tuanya. Namun untuk persahabatan, Dae Hye merasa tak ada lagi alasan untuk percaya.

Lalu apa hanya itu alasan Dae Hye yang membuatnya masuk ke tempat itu? Ternyata semua itu bukan keinginan gadis mungil itu. Alasan utama kenapa Dae Hye ada di sana adalah neneknya. Neneknya-lah yang sengaja memasukkannya ke tempat itu. Mungkin wanita setengah baya itu tak lagi sanggup merawat gadis sedingin Dae Hye. Tapi Dae Hye punya alasan lain untuk neneknya. Dia tahu bahwa neneknya hanya ingin harta peninggalan kedua orangtuannya. Untuk itu lah kenapa dia disingkirkan.

Kemudian apa hubungan Dae Hye dengan lukisan pemuda yang telah disebut di atas?

Di suatu sore yang hujan dan dingin. Dae Hye merasa lelah terus berada di tempat mengerikan itu. Seluruh tubuhnya remuk redam bekas rehabilitasi. Karena itu Dae Hye kabur dari kamarnya. Dia tak tahu harus pergi kemana, dia hanya menginginkan tempat berdiam diri yang tenang. Bukan dalam artian kabur yang sebenarnya karena tempat rehabilitasi itu terpencil dan sangat luas.

Akhirnya Dae Hye masuk ke sebuah gudang belakang gedung tempatnya tinggal. Tempat itu tak terlalu gelap. Meski disebut gudang, tempat itu tertata dan bersih hanya mungkin jarang didatangi saja.

Dae Hye melangkahkan kakinya mengelilingi gudang. Ada sesuatu yang menarik dari gudang tersebut karena itu dia melihat-lihat banyak barang yang ada di sana. Hingga akhirnya kedua matanya tertuju oleh sebuah lukisan yang tergeletak di dinding, tersembunyi oleh meja dan lemari. Penasaran, Dae Hye mengangkat lukisan yang tidak terlalu besar itu, menyibak kain putih yang menutupinya, dan membersihkan debu yang menempel.

Kedua mata cokelat Dae Hye terbelalak lebar saat melihat gambar yang ada dilukisan itu. Gambar close up seorang pemuda. Kulitnya putih, matanya hitam, berhidung mancung, rambutnya segelap matanya, pipinya merona. Dan dengan bibir tipis dan mungil yang sedikit terbuka, lukisan pemuda itu terlihat mengagumkan.

Bola mata Dae Hye bergerak liar mangamati lukisan pemuda itu. Belum pernah dia melihat yang  sesempurna ini, ada kehangatan yang menjalar dari dalam dirinya. Entah kenapa tubuhnya bergetar karena senang. Nafasnya memburu tak percaya. Dan untuk pertama kalinya Dae Hye tersenyum dengan manis.

Ckleeeek..... 

Terdengar sebuah alunan musik terdengar. Ternyata ada sebuah tape recorder yang tak sengaja Dae Hye senggol saat mengambil lukisan tadi. Suara dalam lagu sangat lembut bagaikan malaikat.

Suara pintu gudang terbuka. Dae Hye menoleh dan senyumnya telah hilang berganti rasa tak suka. Buru-buru dia mematikan tape recorder tadi. Seorang pemuda berbadan kurus dan tinggi datang menghampirinya. Rambut pemuda itu berwarna cokelat dan sedikit ikal. Baju yang dikenakannya tetap kering walaupun tetesan hujan yang tak kunjung berhenti di luar sana.

“Wow, aku pikir tak ada yang akan datang ke sini,” katanya menatap Dae Hye takjub.

Dae Hye hanya diam, tak merespon omongan pemuda itu. Kedua matanya mengamati pemuda itu dengan seksama. Terlihat sekali kewaspadaannya sangat tinggi.

“Tak perlu seperti itu. Eh, kau menemukannya ya?” pemuda itu terkejut saat melihat lukisan yang ada ditangan Dae Hye. “Apa kau suka?”

Sekali lagi hanya Dae Hye hanya bisa diam. Pemuda itu jadi ikutan diam menatap Dae Hye. Namun sedetik kemudian dia kembali tersenyum. “Dingin sekali,” pemuda itu kemudian dia menyalakan musik dari ponselnya. 

“Ini lagu dari pemuda yang ada di lukisan itu. Tadinya aku ke sini karena mencari ketenangan, tenyata ada kau,” ujar pemuda itu sambil mendudukkan dirinya di sofa kecil yang usang. “Sudah berapa lama kau di sini?”

Dae Hye hanya mengerjapkan matanya. Mulutnya terkunci rapat sekedar untuk memberi jawaban singkat untuk pemuda itu. Meski bagitu Dae Hye tak lagi merasa terganggu dengan kehadiran pemuda jangkung itu.

“Namaku Kyuhyun. Aku dulu juga pernah tinggal di sini, sama sepertimu. Kau tahu kenapa?” mata pemuda bernama Kyuhyun itu menerawang saat dimulai menceritakan dirinya sendiri. “Aku di sini karena pemuda yang ada di lukisan itu.”

“Eh...” Dae Hye menoleh pada Kyuhyun. “Dia ada?” tanyanya menunjuk ke lukisan itu.

Kyuhyun terkekeh geli. “Tentu saja. Kau kira apa? Pemuda yang ada di lukisan itu namanya Sungmin. Jung Sungmin. Dia seorang artis, penyanyi, aktor, dan lainnya...hehehehehe.”

“Jadi kau penggemarnya?”

“Mungkin. Bisa dibilang penggemar nomor satunya mungkin,” jawab Kyuhyun mencebikkan bibirnya.

“Dibawa kemari hanya karena seorang artis. Itu sedikit aneh.”

Kali ini Kyuhyun tergelak oleh kata-kata Dae Hye. “Sungmin itu kakakku. Lukisan itu juga aku yang buat. Aku masuk kemari karena setelah dia jadi artis, aku menjadi kesepian. Makanya aku sedikit mengalami masalah. Karena sejak kecil selalu bersama saat dia pergi aku jadi kehilangan.”

“Kau kan bisa menemuinya? Tidak harus masuk kemari,” ucap Dae Hye polos.

“Kami ini hanya dua bersaudara. Orang tua kami sering pergi untuk bisnis. Aku sudah terbiasa bersamanya. Awalnya aku tak masalah, dia jadi artis. Toh, aku adiknya jadi aku tetap bisa menemuinya. Tapi kenyataannya tidak. Jadwalnya sangat padat dan sibuk. Dia sama sekali tak sempat menemuiku, aku pun tak bisa menemuinya. Aku merasa kehilangan dirinya, kasih sayangnya, dan perhatiannya.”

“Brothercomplex?” tanya Dae Hye hati-hati.

“Mungkin begitu, hanya saja aku tak menyadarinya. Sejak itu aku jadi kesepian. Aku menutup diri dan tak peduli pada sekitarku lagi. Hingga akhirnya sampai kemari.”

Dae Hye menatap Kyuhyun dengan seksama. “Lalu apa yang membuatmu keluar dari sini?”

“Aku pikir kau betah di sini?” goda Kyuhyun pada Dae Hye.

Gadis mungil itu menggeleng. “Tempat ini membuatku muak. Aku merasa sesak di sini.”

“Aku tahu,” jawab Kyuhyun sambil terkekeh. “Yang membuatku keluar adalah orang yang sama dengan yang membuatku masuk ke tempat ini.”

“Dia...Sungmin...” tunjuk Dae Hye pada lukisan yang sudah berganti berada di tangan Kyuhyun entah sejak kapan.

Pemuda itu mengangguk, “Benar. Sepertinya dia tahu kenapa aku bisa datang ke tempat ini. Dia merasa bersalah dan berusaha mengunjungiku meski dia lelah. Dari situ aku tahu kalau kakakku masih menyayangiku, memikirkanku, dan memperhatikanku. Waktu itu dia bilang jika aku merindukannya maka aku harus memikirkannya. Dia mengirimiku foto-fotonya dan juga video-video kegiatannya,” cerita Kyuhyun senang.

“Hubungan kalian sedikit mengerikan...” komentar Dae Hye.

“Hei, bagaimana rasanya kalau keluargamu menghilang tanpa kabar? Kakakku sama sekali tidak mengirimiku kabar ketika dia menjadi artis. Dengan melihat foto dan videonya, aku jadi tahu apa yang dilakukannya dan apa dia baik-baik saja atau tidak. Kalau sempat aku biasa mencari jadwalnya di search engine. Kan dia artis jadi pasti ketemu.”

“Kalau sudah tahu bisa dicari di search engine kenapa kau harus stress?”

“Itulah bodohnya aku. Kurang memanfaatkan teknologi.....hehehehehe. Oh ya, tujuan lain aku datang kemari adalah untuk mengambil lukisan itu,” ucap Kyuhyun.

“Kau akan mengambilnya?” tanya Dae Hye yang entah kenapa terdengar tak rela.

Kyuhyun mengangguk, “Benar. Aku akan memajangnya saat pameran lukisan pertamaku.”

“Begitu ya?”

Dae Hye kembali diam sambil menundukkan kepalanya. Saat dia diabaikan oleh keluarga dan teman-temannya rasanya tak sesedih ini. Tapi ini hanya karena lukisan yang pertama kali dilihatnya, airmata Dae Hye bahkan sampai jatuh.

“Kalau begitu lukisan ini untukmu saja,” Kyuhyun mengulurkan lukisannya pada Dae Hye. “Jadikan dia alasanmu untuk keluar dari tempat membosankan ini. Buka dirimu, lihat sekelilingmu. Ada hal yang indah di luar sana. Jangan menutup mata karena kau bisa kehilangan cahaya.”

“Tapi bagaimana aku bisa menjadikannya alasan? Dia bahkan tak mengenalku. Menjadi fansnya saja tidak,” kata Dae Hye sambil menatap lekat-lekat wajah pemuda di lukisan itu.

Kyuhyun tersenyum lalu mengacak-acak rambut Dae Hye. “Kata kakakku, tidak perlu menjadi fans sejak awal tapi jadilah fans sampai akhir. Dia juga pernah bilang kalau dia milik semua orang. Jadi meski kakakku tidak mengenalmu, dia akan tetap menyanyangimu sama seperti yang lain. Dia akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu senang dan tersenyum. Dia akan menghiburmu bagaimana pun caranya. Jadi jangan berpikir kau sendirian. Di luar sana masih ada banyak orang yang bersamamu.”

“......” Dae Hye tidak mengatakan apa pun. Dengan seksama dia mendengarkan semua yang Kyuhyun katakan. Seperti disiram air, perasaan Dae Hye menjadi sangat tenang.

“Meski begitu jangan lupakan Tuhanmu. Jadikan dia alasan utamamu untuk hidup lebih baik. Isilah hidup yang telah diberikan-Nya dengan sesuatu yang bermanfaat.”

Dae Hye mengangguk. Matanya masih menatap lekat pada lukisan itu. “Aku janji akan menjadi lebih baik setelah ini,” janji Dae Hye. Dia kemudian tersenyum tulus kearah Kyuhyun. “Terima kasih.”

Pemuda bermata hitam itu mengangguk, “Sama-sama. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang kakakku katakan saat mengunjungiku pertama kali.”

“Apa setelah ini kau akan kemari lagi?” tanya Dae Hye. Ada sedikit harapan di mata indahnya.

“Mungkin tidak,” ucap Kyuhyun sedih. “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di beberapa tempat. Kalau pun kemari akan butuh waktu yang lama. Oh ya, jangan berpikir kau akan menemuiku di sini. Aku tak mau. Kalau pun aku kembali ke kota ini, aku tak mau menemuimu di tempat ini. Kau harus sembuh dan menemuiku di luar tempat ini.”

“Jika aku bisa sembuh dan berhasil keluar dari tempat ini, aku bisa bertemu dengan Sungmin?” tanya Dae Hye polos.

Kyuhyun tersenyum lembut, “Tentu saja. Eh, namamu siapa ya?”

“Dae Hye. Min Dae Hye.....” jawab Dae Hye tegas.

“Aku akan mengingatnya. Sepertinya sudah malam, aku harus pergi. Jaga lukisan kakakku baik-baik ya dan cepatlah sembuh,” Kyuhyun beranjak dari duduknya. “Mau aku antar ke kamarmu?”

Dae Hye mengangguk cepat seperti anak kecil. Dia kemudian mengikuti langkah Kyuhyun dan terus mengobrol. Sebelum pergi Kyuhyun meninggalkan sebuah laptop untuk Dae Hye dan berpesan untuk menjaganya baik-baik.

“Meski kau tak percaya pada kata cinta, ketulusan, dan persahabatan, setidaknya kau harus mempercayai Tuhan dan dirimu sendiri,” pesan Kyuhyun.

Setelah itu Kyuhyun tak pernah lagi ke tempat rehabilitasi lagi. Namun pertemuannya dengan Dae Hye membawa perubahan besar bagi gadis itu. Dae Hye mulai membuka dirinya. Sikapnya juga tak sedingin sebelumnya. Tujuan utamanya adalah sembuh dan keluar dari rumah rehabilitasi itu hingga dia bisa berjuang untuk bisa bertemu dengan pemuda yang bernama Sungmin itu.

Dae Hye tak lagi peduli pandangan keluarganya dan teman-teman lamanya. Apa dia kembali diterima atau tetap diabaikan? Dae Hye tak lagi memikirkan hal itu. Dia percaya Tuhan akan menuntunnya dan menunjukkan jalan untuknya. Mimpinya adalah bertemu Sungmin dan jika beruntung dia akan bertemu Kyuhyun kembali. Di luar itu Dae Hye berhasil menjadi gadis yang tegar karena pelajaran di masa lalunya.



~

Dae Hye terkikik geli  sambil menutup mulutnya agar suara tawanya sedikit teredam. Di depannya sebuah laptop menyala dan menampilkan sebuah acara yang menurut orang lain buang-buang waktu saja untuk dilihat. Dalam acara itu ada Sungmin dan beberapa member group lain.

Laptop yang dipakai Dae Hye adalah pemberian Kyuhyun waktu itu. Setahun lalu Dae Hye keluar dari rumah rehabilitasi lebih cepat dari yang diperkirakan. Berkat pertemuannya dengan Kyuhyun dan kehadiran Sungmin dalam hidupnya. Tak terlalu istimewa tapi itu cukup membuat Dae Hye menata hidupnya. Memberi gadis itu kekuatan untuk bertahan.

Kedatangan Dae Hye ke tempat rehabilitasi itu adalah untuk berkunjung sekaligus mengambil lukisan Sungmin yang masih tertinggal di sana. Dae Hye berhasil membuat senyum Sungmin menjadi senyumnya dan semangat Kyuhyun sebagai semangatnya. Walaupun sampai kini Dae Hye belum bisa bertemu Sungmin dan menemukan Kyuhyun kembali, gadis itu tetap percaya kalau mereka bersamanya. Karena itu pusat dunianya.

“Dae Hye, sudah malam. Ayo, pulang....” ajak Minho, kekasih Dae Hye.

Gadis itu mengangguk. Dia mematikan laptopnya dan menjinjingnya bersama lukisan Sungmin. Sebelum benar-benar pergi Dae Hye sempat membalikkan badannya melihat kamarnya untuk terakhir kalinya. “Aku ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih untuk kalian,” gumam Dae Hye menatap lukisan Sungmin dan laptop pemberian Kyuhyun.

“Aku berhasil mendapatkan informasi tentang Kyuhyun, adik dari Jung Sungmin,” kata Minho saat mereka dalam perjalanan pulang.

Dae Hye menoleh kearah pemuda tinggi itu. “Benarkah dimana dia sekarang?” tanggap Dae Hye bersemangat.

“Jung Kyuhyun adik Sungmin sudah meninggal 2 tahun lalu.”

“Tak mungkin. Aku masih bertemu dengannya 2 tahun lalu. Ingat saat aku cerita...kau percaya padaku kan, Minho?” bantah Dae Hye tak percaya.

“Aku percaya, ”Minho berusaha menenangkan kekasihnya, “Tapi itu yang terjadi. Dia kecelakaan saat akan mengambil salah satu lukisan yang akan ia pamerkan saat pameran pertamanya.”

Kedua mata Dae Hye bergerak liar. Bergantian dia menatap lukisan Sungmin dan laptop pemberian Kyuhyun yang ada dipangkuannya. Semua terdengar aneh, orang yang memberinya motivasi dan semangat itu tak pernah ada. Hanya lukisan Sungmin yang tertinggal. Kalau Kyuhyun meninggal 2 tahun lalu lantas siapa yang ditemui Dae Hye waktu itu?

Kalau Kyuhyun meninggal bagaimana Dae Hye bisa mengucapkan rasa terima kasihnya? Sungmin? Kemungkinan Dae Hye bertemu dengan Sungmin sangat kecil. Lalu setelah ini bagaimana cara Dae Hye menyampaikan rasa terima kasihnya pada dua orang pemuda yang telah mengubah dunianya itu?

Di tempat lain yang tak tersentuh, Kyuhyun menatap sendu ke arah Sungmin, kakaknya. “Aku sudah menyampaikan pesan kakak untuk semua penggemarmu. Tapi kenapa aku tak juga bisa kembali padamu dan mengucapkan terima kasihku?”

.

Meski aku bisa melihatnya, aku tak pernah bisa menyentuhnya. Bagai bayangan yang datang dan pergi. Sekali saja aku ingin bertemu dan mengatakan terima kasih itu.

~e.n.d~ 

note :
diangkat dari kisah nyata dengan sedikit bumbu dapur dan menyebabkan sakit perut karena kebanyakan cabe *author mulai ngawur*
asli dari tetesan ide author yang gak waras, jadi aku mohooooooooon.....jangan copy and paste *nyanyi lagu boa*

happy reading ^^

Template by:

Free Blog Templates