![]() |
that man that women by danhobak
inspired by : 4men ft Mi - That Man That Women with litte changes for my imagination.warning : fast and confusing plot
if you don't like, don't read
don't bash the author or any character in this story
happy reading ^_^
.
.
.
.
That Man
That Woman
Sungmin
menatap makanan di depannya hambar. Diletakkan sendok di tangannya dan beralih
menatap kursi kosong di depannya. Sungmin menghela nafasnya berat, matanya
terpejam, berusaha menampik rasa sepinya.
Sebenarnya
Sungmin sangat lapar saat ini, namja itu baru saja selesai bekerja part time di
sebuah minimarket dekat rumahnya. Tapi namja
mungil itu lebih memilih meninggalkan jatah makanannya dan beranjak keluar. Ada
rasa dingin yang merasuki hatinya.
Langkah
Sungmin terhenti di sebuah lapangan. Mata hitamnya tertuju pada beberapa namja yang sedang bertanding basket. Sungmin
memutuskan untuk duduk menonton pertandingan itu untuk sekedar mengurangi
penatnya. Tapi dia masih merasa sepi meski lapangan itu sangat ramai.
Merasa
tak nyaman, namja berkulit putih itu melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sepanjang jalan, mata Sungmin nyalang melihat sekelilingnya. Kosong yang dia
lihat, ada yang kurang, entah itu apa.
Jika
boleh mengungkapkan isi hatinya sekarang, Sungmin benci sendirian. Dia tidak
suka sendiri. Baginya sendiri adalah sesak, sepi, kosong, dan terasa ada yang
kurang. Sungmin mengacak-acak rambutnya frustasi. Ingin rasanya dia berteriak
kalau dia benci seperti ini. Tapi itu percuma.
.
Ini
sudah beberapa kali Sungmin berusaha untuk tidur tapi gagal. Berkali-kali pula
dia
mengubah posisi tidurnya tapi matanya sama sekali tak mau terpejam. Tanpa
ekspresi Sungmin menatap tempat kosong di sampingnya. Dingin, itu yang namja itu rasakan. Wajar saja bantal
berwarna biru laut itu memang sudah beberapa waktu ini tidak digunakan
pemiliknya untuk tidur.
Sungmin
menatap langit-langit kamarnya merana. Tubuhnya sama sekali tidak merespon rasa
kantuk dan lelah yang mendera. Tangan kirinya meremas kuat-kuat seprai tempat
tidurnya, matanya terpejam meredam rasa sesak yang menyiksa.
Namja itu itu
akhirnya memilih bangkit dari tempat tidurnya dan keluar. Di depan pintu
kamarnya, Sungmin kembali menatap nanar keadaan sekelilingnya. Entah kenapa
terasa berbeda. Tidak ada rasa hangat lagi di sana karena saat ini dia hanya
sendirian.
Terus
teringat bahwa dia sendirian sekarang membuat perasaannya terasa sakit dan
terluka. Tak sanggup lagi, Sungmin memilih duduk di meja makan yang ada di
dekatnya tanpa mengalihkan matanya dari foto keluarga kecilnya yang terpajang
di dinding. Airmata Sungmin perlahan turun saat menatap wajah yeoja dengan senyum mengembang yang
bersamanya di foto itu.
Dengan
kasar Sungmin menghapus airmata yang mengalir di pipi chubbynya. Kepala namja
itu tertunduk, punggungnya bergerak naik turun mengisyaratkan dia masih terus
menangis.
.
Sungmin
meletakkan dua mangkok ramyeon di
meja. Namja itu masih berpikir bahwa
dia masih bersama kekasihnya. Saat tersadar, dia hanya terdiam menatap dua
mangkok ramyeon di depannya tanpa
sedikit pun ingin memakannya. Yang ada airmatanya yang tiba-tiba jatuh. Sungmin
menangis lagi.
Dengan
rakus Sungmin meneguk air putih di meja. Dia sedikit berharap bisa mendinginkan
kepalanya sehingga merasa sedikit lebih baik. Sayangnya hal itu tidak
membuatnya menjadi lebih baik. Rasa nyeri di dadanya malah semakin menjadi. Sungmin
masih mengingat bagaimana sebagian dari dirinya pergi. Ingatan itu terus
berputar bagai film di kepalanya, semakin lama semakin menyiksa.
.
Hari
ini, Sungmin memutuskan untuk pergi dengan teman-temannya. Hanya jalan-jalan
biasa saja namun namja manis itu
berharap hal itu sedikit mengurangi bebannya. Sampailah mereka di sebuah kedai
di pinggir jalan.
Sungmin
meminum sojunya tak tahu itu botol
yang keberapa, dia tidak peduli. Entah kenapa dia tiba-tiba merindukan
kekasihnya. Sungmin terus minum untuk melupakan perasaannya itu. Tapi sebanyak
apa pun ia minum, dirinya tetap sadar. Sadar bahwa dia sendiri, sadar bahwa dia
membutuhkan kekasihnya, dan sadar bahwa dia sangat merindukannya saat ini.
Entah
ini apa pengaruh soju yang dia minum
atau memang kenyataan, Sungmin tidak bisa membedakannya lagi. Saat ini, di
hadapannya, berdiri seorang yeoja
manis yang sangat dirindukannya. Mata Sungmin mengerjap tak percaya. Namja itu bangkit dari duduknya dan
mendekat pada yeoja itu. Tangannya
terulur mengusap pipi chubby itu,
lembut. Tanpa sadar Sungmin menghapus jarak diantara mereka. Dengan lembut dia
mencium yeoja itu, manis dan memabukkan. Nyata atau mimpi, Sungmin tidak peduli lagi. Namja itu hanya tahu bahwa dia menginginkan yeoja dalam dekapannya itu sekarang kembali kepadanya.
.
.
.
Aku menatap
pemandangan di luar jendela dengan bosan. Kemudian mataku beralih pada
teman-temanku yang terus mengobrol heboh. Aku tidak tahu apa yang mereka
bicarakan. Lagipula aku juga tidak mau tahu, aku tidak peduli.
Layar komputer di
depanku terus menyala minta di sentuh entah itu sekadar untuk bermain game. Di
layarnya sekarang terpampang banyak pesan masuk dari keluarga, teman, dan
kenalan. Tapi aku tidak peduli, aku sama sekali tidak berminat untuk membalas
semua pesan itu. Aku jauh lebih suka menatap foto keluarga yang berdiri di atas
meja daripada layar komputer itu.
Kudengar
ibuku terus mengomel di dapur. Aku tidak tahu dia mengomel tentang apa, aku
malas mendengar dan menanyakannya. Dengan santai aku mengambil air dingin dari
kulkas dan melewatinya begitu saja.
Rasa sakit
dan sesak ini membuatku tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di
sekelilingku. Perasaan itu terus menyiksa dan membuatku tidak baik. Tidak
peduli apa pun yang sudah aku lakukan bayangannya terus saja mengikuti dan
berputar di kepalaku.
Tangan
kananku tanpa sadar memukul-mukul dadaku yang terasa sesak, berharap bisa
sedikit lega. Namun yang terjadi adalah rasa sakit dan sesak itu terus memenuhi
dadaku. Tubuhku ambruk ke lantai bersamaan dengan airmata yang jatuh. Aku
menangis lagi, entah untuk keberapa kalinya. Aku tidak peduli. Karena apa pun
yang aku lakukan, sekeras apa pun aku melupakannya, itu sama sekali tidak
berguna.
.
Aku
mendapati diriku menyisir rambutku di depan cermin dan itu terlihat sangat rapi
serta manis, hanya saja aku merasa tidak suka dengan semua itu. Terasa ada yang
hilang dan itu membuatku percuma menyisir rambutku sebaik ini.
Airmata itu
jatuh tanpa permisi saat aku menyadari apa yang telah hilang. Seseorang yang
memujiku ketika aku ber dandan cantik seperti ini, tidak ada. Seseorang yang biasanya akan
pura-pura cemberut saat aku mulai menyombongkan betapa manisnya diriku itu
tidak ada di sampingku lagi. Airmataku semakin deras saat menyadari bahwa aku
sangat menyukainya. Apa
pun tentangnya.
.
Aku tidak
akan mau datang ke tempat ini kalau bukan gara-gara diseret secara paksa oleh
teman-temanku yang brutal. Tempat ini terlalu banyak orang terutama sepasang
kekasih. Aku tidak suka. Aku tidak suka melihat pasangan kekasih lain tersenyum
bahagia dan tertawa bersama-sama seakan tidak ada beban. Aku benar-benar tidak
suka. Hatiku terasa sakit melihatnya.
Entah ini
pengaruh dari semua kegilaanku atau memang kenyataan. Mataku terpaku menatap
pada sosok yang sangat aku kenal. Seseorang yang telah hilang dan aku
merindukannya. Tanpa sadar kakiku melangkah mendekatinya.
Dia terlihat
frustasi.
Namja manis itu terlihat menyedihkan sama
sepertiku. Aku tahu kenapa dia seperti ini. Namja itu terus menyebut namaku di tengah-tengah acara minum. Semakin
terlihat bahwa kami sama-sama tersiksa dan sangat menyedihkan.
Mata kami
tiba-tiba bertemu, ingin sekali aku berbalik pergi tapi kakiku sepertinya
sedang tidak ingin membantu apa pun. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan
mendekatiku. Tangannya yang halus terulur mengusap pipi. Jarak diantara kami
semakin berkurang. Mataku terpejam saat ada sesuatu yang basah menyentuh
bibirku. Meski ada bau alkohol yang menguar, aku tidak peduli, bagiku rasanya
tetaplah lembut dan manis seperti biasanya.
Ini gila
tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku menyadari benar bahwa aku
merindukannya. Kueratkan pelukanku padanya. Hidungku menghirup aroma tubuhnya
yang lembut. Aku menyukainya dan aku merindukannya. Aku benar-benar
menginginkannya.
~e.n.d~
I hope to get RCL from reader .....
Thank's ^_^

0 komentar:
Posting Komentar