Sabtu, 24 Maret 2012

That Man That Women



that man that women by danhobak
inspired by : 4men ft Mi - That Man That Women with litte changes for my imagination.

warning : fast and confusing plot

if you don't like, don't read
don't bash the author or any character in this story
happy reading ^_^

.
.
.
.

That Man That Woman



Sungmin menatap makanan di depannya hambar. Diletakkan sendok di tangannya dan beralih menatap kursi kosong di depannya. Sungmin menghela nafasnya berat, matanya terpejam, berusaha menampik rasa sepinya.

Sebenarnya Sungmin sangat lapar saat ini, namja itu baru saja selesai bekerja part time di sebuah minimarket dekat rumahnya. Tapi namja mungil itu lebih memilih meninggalkan jatah makanannya dan beranjak keluar. Ada rasa dingin yang merasuki hatinya.

Langkah Sungmin terhenti di sebuah lapangan. Mata hitamnya tertuju pada beberapa namja yang sedang bertanding basket. Sungmin memutuskan untuk duduk menonton pertandingan itu untuk sekedar mengurangi penatnya. Tapi dia masih merasa sepi meski lapangan itu sangat ramai.

Merasa tak nyaman, namja berkulit putih itu melanjutkan perjalanan pulangnya. Sepanjang jalan, mata Sungmin nyalang melihat sekelilingnya. Kosong yang dia lihat, ada yang kurang, entah itu apa.

Jika boleh mengungkapkan isi hatinya sekarang, Sungmin benci sendirian. Dia tidak suka sendiri. Baginya sendiri adalah sesak, sepi, kosong, dan terasa ada yang kurang. Sungmin mengacak-acak rambutnya frustasi. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia benci seperti ini. Tapi itu percuma.

.

Ini sudah beberapa kali Sungmin berusaha untuk tidur tapi gagal. Berkali-kali pula dia 
mengubah posisi tidurnya tapi matanya sama sekali tak mau terpejam. Tanpa ekspresi Sungmin menatap tempat kosong di sampingnya. Dingin, itu yang namja itu rasakan. Wajar saja bantal berwarna biru laut itu memang sudah beberapa waktu ini tidak digunakan pemiliknya untuk tidur.

Sungmin menatap langit-langit kamarnya merana. Tubuhnya sama sekali tidak merespon rasa kantuk dan lelah yang mendera. Tangan kirinya meremas kuat-kuat seprai tempat tidurnya, matanya terpejam meredam rasa sesak yang menyiksa.

Namja itu itu akhirnya memilih bangkit dari tempat tidurnya dan keluar. Di depan pintu kamarnya, Sungmin kembali menatap nanar keadaan sekelilingnya. Entah kenapa terasa berbeda. Tidak ada rasa hangat lagi di sana karena saat ini dia hanya sendirian.

Terus teringat bahwa dia sendirian sekarang membuat perasaannya terasa sakit dan terluka. Tak sanggup lagi, Sungmin memilih duduk di meja makan yang ada di dekatnya tanpa mengalihkan matanya dari foto keluarga kecilnya yang terpajang di dinding. Airmata Sungmin perlahan turun saat menatap wajah yeoja dengan senyum mengembang yang bersamanya di foto itu.

Dengan kasar Sungmin menghapus airmata yang mengalir di pipi chubbynya. Kepala namja itu tertunduk, punggungnya bergerak naik turun mengisyaratkan dia masih terus menangis.

.

Sungmin meletakkan dua mangkok ramyeon di meja. Namja itu masih berpikir bahwa dia masih bersama kekasihnya. Saat tersadar, dia hanya terdiam menatap dua mangkok ramyeon di depannya tanpa sedikit pun ingin memakannya. Yang ada airmatanya yang tiba-tiba jatuh. Sungmin menangis lagi.

Dengan rakus Sungmin meneguk air putih di meja. Dia sedikit berharap bisa mendinginkan kepalanya sehingga merasa sedikit lebih baik. Sayangnya hal itu tidak membuatnya menjadi lebih baik. Rasa nyeri di dadanya malah semakin menjadi. Sungmin masih mengingat bagaimana sebagian dari dirinya pergi. Ingatan itu terus berputar bagai film di kepalanya, semakin lama semakin menyiksa.

.

Hari ini, Sungmin memutuskan untuk pergi dengan teman-temannya. Hanya jalan-jalan biasa saja namun namja manis itu berharap hal itu sedikit mengurangi bebannya. Sampailah mereka di sebuah kedai di pinggir jalan.

Sungmin meminum sojunya tak tahu itu botol yang keberapa, dia tidak peduli. Entah kenapa dia tiba-tiba merindukan kekasihnya. Sungmin terus minum untuk melupakan perasaannya itu. Tapi sebanyak apa pun ia minum, dirinya tetap sadar. Sadar bahwa dia sendiri, sadar bahwa dia membutuhkan kekasihnya, dan sadar bahwa dia sangat merindukannya saat ini.

Entah ini apa pengaruh soju yang dia minum atau memang kenyataan, Sungmin tidak bisa membedakannya lagi. Saat ini, di hadapannya, berdiri seorang yeoja manis yang sangat dirindukannya. Mata Sungmin mengerjap tak percaya. Namja itu bangkit dari duduknya dan mendekat pada yeoja itu. Tangannya terulur mengusap pipi chubby itu, lembut. Tanpa sadar Sungmin menghapus jarak diantara mereka. Dengan lembut dia mencium yeoja itu, manis dan memabukkan. Nyata atau mimpi, Sungmin tidak peduli lagi. Namja itu hanya tahu bahwa dia menginginkan yeoja dalam dekapannya itu sekarang kembali kepadanya.  

.

.

.

Aku menatap pemandangan di luar jendela dengan bosan. Kemudian mataku beralih pada teman-temanku yang terus mengobrol heboh. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Lagipula aku juga tidak mau tahu, aku tidak peduli.

Layar komputer di depanku terus menyala minta di sentuh entah itu sekadar untuk bermain game. Di layarnya sekarang terpampang banyak pesan masuk dari keluarga, teman, dan kenalan. Tapi aku tidak peduli, aku sama sekali tidak berminat untuk membalas semua pesan itu. Aku jauh lebih suka menatap foto keluarga yang berdiri di atas meja daripada layar komputer itu.

Kudengar ibuku terus mengomel di dapur. Aku tidak tahu dia mengomel tentang apa, aku malas mendengar dan menanyakannya. Dengan santai aku mengambil air dingin dari kulkas dan melewatinya begitu saja.

Rasa sakit dan sesak ini membuatku tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Perasaan itu terus menyiksa dan membuatku tidak baik. Tidak peduli apa pun yang sudah aku lakukan bayangannya terus saja mengikuti dan berputar di kepalaku.  

Tangan kananku tanpa sadar memukul-mukul dadaku yang terasa sesak, berharap bisa sedikit lega. Namun yang terjadi adalah rasa sakit dan sesak itu terus memenuhi dadaku. Tubuhku ambruk ke lantai bersamaan dengan airmata yang jatuh. Aku menangis lagi, entah untuk keberapa kalinya. Aku tidak peduli. Karena apa pun yang aku lakukan, sekeras apa pun aku melupakannya, itu sama sekali tidak berguna.

.

Aku mendapati diriku menyisir rambutku di depan cermin dan itu terlihat sangat rapi serta manis, hanya saja aku merasa tidak suka dengan semua itu. Terasa ada yang hilang dan itu membuatku percuma menyisir rambutku sebaik ini.

Airmata itu jatuh tanpa permisi saat aku menyadari apa yang telah hilang. Seseorang yang memujiku ketika aku ber dandan cantik seperti ini,  tidak ada. Seseorang yang biasanya akan pura-pura cemberut saat aku mulai menyombongkan betapa manisnya diriku itu tidak ada di sampingku lagi. Airmataku semakin deras saat menyadari bahwa aku sangat menyukainya. Apa 
pun tentangnya.

.

Aku tidak akan mau datang ke tempat ini kalau bukan gara-gara diseret secara paksa oleh teman-temanku yang brutal. Tempat ini terlalu banyak orang terutama sepasang kekasih. Aku tidak suka. Aku tidak suka melihat pasangan kekasih lain tersenyum bahagia dan tertawa bersama-sama seakan tidak ada beban. Aku benar-benar tidak suka. Hatiku terasa sakit melihatnya.

Entah ini pengaruh dari semua kegilaanku atau memang kenyataan. Mataku terpaku menatap pada sosok yang sangat aku kenal. Seseorang yang telah hilang dan aku merindukannya. Tanpa sadar kakiku melangkah mendekatinya.

Dia terlihat frustasi. Namja manis itu terlihat menyedihkan sama sepertiku. Aku tahu kenapa dia seperti ini. Namja itu terus menyebut namaku di tengah-tengah acara minum. Semakin terlihat bahwa kami sama-sama tersiksa dan sangat menyedihkan. 

Mata kami tiba-tiba bertemu, ingin sekali aku berbalik pergi tapi kakiku sepertinya sedang tidak ingin membantu apa pun. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekatiku. Tangannya yang halus terulur mengusap pipi. Jarak diantara kami semakin berkurang. Mataku terpejam saat ada sesuatu yang basah menyentuh bibirku. Meski ada bau alkohol yang menguar, aku tidak peduli, bagiku rasanya tetaplah lembut dan manis seperti biasanya.

Ini gila tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku menyadari benar bahwa aku merindukannya. Kueratkan pelukanku padanya. Hidungku menghirup aroma tubuhnya yang lembut. Aku menyukainya dan aku merindukannya. Aku benar-benar menginginkannya.

~e.n.d~


I hope to get RCL from reader .....
Thank's ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates