Jumat, 16 Maret 2012

Memories_Love is Pain

.
.
.
Terlambat.  Sudah terlambat bagimu karena telah berjalan terlalu jauh. Kau sudah terlanjur mendekatinya. Sialnya, kau mendekatinya hanya untuk menjawab rasa penasaranmu saja.

Kau berhasil. Ya, kau berhasil bersamanya namun saat itu mulailah muncul masalah yang tak pernah kau prediksi sebelumnya.

Kau menjadi terlalu dekat dengannya. Terlalu dekat untuk ukuran teman biasa. Meski kau tidak tau apa arti dirimu baginya. Kau hanya selalu berpikir dan menekan semua perasaan untuk dirimu sendiri.

Hingga di suatu malam kau tersadar akan suatu hal, rasa inginmu berteman dengannya kini telah berganti. Perlahan kau mulai menginginkannya lebih dari sebelumnya.

 oOo

Setiap siang seperti biasa, kau mendengar celotehnya tentang banyak hal. Kau sesekali mengangguk dan tersenyum dengan sedikit komentar. Bukankah terlihat seperti benar-benar kurang kerjaan?

Dia adalah gadis yang membuatmu kagum karena rasa pedulinya pada mereka. Meski kadang cara yang digunakannya salah sehingga dia dibenci oleh mereka, teman-teman yang dia sayangi. Teman-teman yang selalu mengatakan padamu bahwa dia bukan orang baik. Tapi, sekali lagi kau hanya memasukkan kata-kata mereka melalui telinga kiri dan mengeluarkannya lagi melalui telinga kanan. Kau tidak tau apa yang sedang terjadi pada dirimu.

Dia orang baik , itulah kata hatimu. Meski dia sering membuatmu sedih, jengkel, dan kecewa tapi kau menganggapnya itu bukan salahnya melainkan kesalahanmu. Yah, itu mungkin akibat dari kau terlalu menginginkannya lebih. Tapi sekali lagi kau akan selalu menyangkalnya di depan semua orang bahkan di depan dirimu sendiri.

Hingga suatu ketika, kau berpikir untuk menjauhinya saja saat kau mendengar mereka membicarakan tentang hubungan kalian. Kau berpikir itu baik untuk mencegah mereka berbicara terlalu jauh dan kau juga ingin menjaga perasaannya dan salah seorang temanmu yang juga menyukainya. Kau berusaha menekan semua yang kau rasakan untuknya dan temanmu itu.

Kau takut terlalu menyakitkan  jika kau terus berharap lebih dan tentu itu juga akan membuatmu kehilangannya. Akhirnya, kau memilih memakai topengmu meski terasa sakit dan sering membuatmu menangis dalam diam.

Kau pikir mudah untuk menjauhinya, hingga menyadari ternyata kau salah. Menjauhinya adalah sama dengan kehilangannya. Dan kau tidak bisa melakukannya, itu terlalu menyakitkan. Melihatnya bersandar pada yang lain membuatmu terluka.

Akhirnya, kau abaikan semua perasaanmu dan berusaha membuktikan kalau mereka salah. Kau tidak lagi peduli apa yang dikatakan mereka hingga akhirnya aku harus kehilangan salah satu temanmu itu. Kau tidak tau alasannya karena kau juga tidak peduli.

Dengan keras kau katakan pada dirimu sendiri bahwa kau tidak mau kehilangan teman sepertinya. Kau benar-benar ingin berteman, hanya itu, selebihnya biar kau sendiri yang menyimpannya.

oOo

Waktu itu akhirnya datang juga. Waktu dimana kita harus meninggalkan kenangan masa lalu dan hanya merekatnya di ingatan. Kita akan menjalani pilihan hidup kita secara terpisah. Membuka buku baru untuk mencatat kenangan lain di dalamnya.

Saat waktu itu datang, kau mulai kehilangan sosoknya dan itu membuatmu kebingungan. Meski sejak lama kau mempersiapkan diri untuk hal ini tapi kau tetap merasa sampai kapan pun kau belum siap. Kau terus mengutuki perasaanmu sendiri.

Andai dulu kau tidak mencoba mendekatinya dan membiarkan semuanya mengalir seperti air, semuanya tidak akan seperti ini. Meski begitu tidak tampak sedikit pun penyesalan. Kau menganggapnya adalah teman yang dikirimkan Tuhan untukmu. Agar kau tau bagaimana rasanya pertemanan yang sejati J


0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates