.
.
.
Terlambat.
Sudah terlambat bagimu karena telah
berjalan terlalu jauh. Kau sudah terlanjur mendekatinya. Sialnya, kau
mendekatinya hanya untuk menjawab rasa penasaranmu saja.
Kau
berhasil. Ya, kau berhasil bersamanya namun saat itu mulailah muncul masalah yang
tak pernah kau prediksi sebelumnya.
Kau
menjadi terlalu dekat dengannya. Terlalu dekat untuk ukuran teman biasa. Meski
kau tidak tau apa arti dirimu baginya. Kau hanya selalu berpikir dan menekan
semua perasaan untuk dirimu sendiri.
Hingga
di suatu malam kau tersadar akan suatu hal, rasa inginmu berteman dengannya kini
telah berganti. Perlahan kau mulai menginginkannya lebih dari sebelumnya.
oOo
Setiap
siang seperti biasa, kau mendengar celotehnya tentang banyak hal. Kau sesekali
mengangguk dan tersenyum dengan sedikit komentar. Bukankah terlihat seperti benar-benar
kurang kerjaan?
Dia
adalah gadis yang membuatmu kagum karena rasa pedulinya pada mereka. Meski
kadang cara yang digunakannya salah sehingga dia dibenci oleh mereka,
teman-teman yang dia sayangi. Teman-teman yang selalu mengatakan padamu bahwa
dia bukan orang baik. Tapi, sekali lagi kau hanya memasukkan kata-kata mereka
melalui telinga kiri dan mengeluarkannya lagi melalui telinga kanan. Kau tidak
tau apa yang sedang terjadi pada dirimu.
Dia
orang baik , itulah kata hatimu. Meski dia sering membuatmu sedih, jengkel, dan
kecewa tapi kau menganggapnya itu bukan salahnya melainkan kesalahanmu. Yah,
itu mungkin akibat dari kau terlalu menginginkannya lebih. Tapi sekali lagi kau
akan selalu menyangkalnya di depan semua orang bahkan di depan dirimu sendiri.
Hingga
suatu ketika, kau berpikir untuk menjauhinya saja saat kau mendengar mereka
membicarakan tentang hubungan kalian. Kau berpikir itu baik untuk mencegah
mereka berbicara terlalu jauh dan kau juga ingin menjaga perasaannya dan salah
seorang temanmu yang juga menyukainya. Kau berusaha menekan semua yang kau
rasakan untuknya dan temanmu itu.
Kau
takut terlalu menyakitkan jika kau terus
berharap lebih dan tentu itu juga akan membuatmu kehilangannya. Akhirnya, kau
memilih memakai topengmu meski terasa sakit dan sering membuatmu menangis dalam
diam.
Kau
pikir mudah untuk menjauhinya, hingga menyadari ternyata kau salah. Menjauhinya
adalah sama dengan kehilangannya. Dan kau tidak bisa melakukannya, itu terlalu
menyakitkan. Melihatnya bersandar pada yang lain membuatmu terluka.
Akhirnya,
kau abaikan semua perasaanmu dan berusaha membuktikan kalau mereka salah. Kau
tidak lagi peduli apa yang dikatakan mereka hingga akhirnya aku harus
kehilangan salah satu temanmu itu. Kau tidak tau alasannya karena kau juga
tidak peduli.
Dengan
keras kau katakan pada dirimu sendiri bahwa kau tidak mau kehilangan teman
sepertinya. Kau benar-benar ingin berteman, hanya itu, selebihnya biar kau
sendiri yang menyimpannya.
oOo
Waktu
itu akhirnya datang juga. Waktu dimana kita harus meninggalkan kenangan masa
lalu dan hanya merekatnya di ingatan. Kita akan menjalani pilihan hidup kita
secara terpisah. Membuka buku baru untuk mencatat kenangan lain di dalamnya.
Saat
waktu itu datang, kau mulai kehilangan sosoknya dan itu membuatmu kebingungan. Meski
sejak lama kau mempersiapkan diri untuk hal ini tapi kau tetap merasa sampai
kapan pun kau belum siap. Kau terus mengutuki perasaanmu sendiri.
Andai
dulu kau tidak mencoba mendekatinya dan membiarkan semuanya mengalir seperti
air, semuanya tidak akan seperti ini. Meski begitu tidak tampak sedikit pun
penyesalan. Kau menganggapnya adalah teman yang dikirimkan Tuhan untukmu. Agar
kau tau bagaimana rasanya pertemanan yang sejati J
0 komentar:
Posting Komentar