Noona, Neomu
Yeppo
Written by: MVP
Aku
melihatnya lagi. Gadis itu di tempat yang sama. Garis di dasinya menunjukkan
bahwa ia berada di 2 tingkat di atasku. Umurnya mungkin lebih tua dariku tapi
aku merasa aku lah yang lebih tua darinya.
Melihatnya
membuka lembaran buku dan menyisir rambutnya dengan jemarinya membuatku gila.
Beberapa kali ia terlihat melintas di lapangan basket tempatku berlatih. Memang
ia tidak melihatku tapi aku melihatnya.
“sampai
kapan kau hanya bisa menatapnya?” Mario melingkarkan tangannya,”woman killer.”
Dia tertawa.
“itu
kan karena kaulah yang Girl killer.”
Sahutku. Woman memang sengaja dipakai oleh Mario untuk menyebut wanita yang
lebih tua.
***
“halo?”
tanya seorang gadis.
Ken
menarik sedikit buku yang sengaja ia pergunakan untuk menutup wajahnya. “oh!”
ia berjingkat dan berdiri.
“kau
tidur?” tanyanya menatap Hani lekat-lekat,”oh—kau dari kelas 1 ya?” ia
tersenyum.
Ken tidak bisa menjawabnya dan hanya
tersenyum. Jantungnya berdegup cepat, mungkin kalau berdegup lebih cepat lagi,
jantungnya bisa meloncat keluar dari tubuhnya. Cairan di otaknya memanas. Ia
tidak bisa menahan ekspresinya, tersenyum dan salah tingkah.
“aku
kira tempat ini hanya milikku. Tapi, kau juga tahu tempat seperti ini di
sekolah kita.” Keluhnya kecewa,”hah~ aku bosan sekali.” Ia menyandarkan diri di
dinding dan menoleh ke luar jendela.
“ke-ke-“
Ken menghela nafasnya,”kenapa kakak bosan?” ia juga menyandarkan diri di
dinding lainnya menghadap gadis itu.
Gadis
itu memutar bola matanya. “tidak tahu juga. Hehehe” ia tertawa lalu memejamkan
matanya,”koridor kecil ini tempat paling nyaman kalau kau ingin merenung.”
Ken
mengangguk pelan. Ia menatap gadis di depannya. Ia pendek, kira-kira hanya
setinggil bahunya. Itu juga karena Ken seorang atlit basket sekolah. Tinggi
badannya melebihi laki-laki di kelasnya. Tangannya bergerak ingin menyentuh
rambut kecoklatan gadis itu.
“aku…”
gadis itu membuka matanya.
Ken
meletakkan tangannya di dinding tepat di atas kepala gadis itu.
Ia
dapat menatap jelas wajah Ken dari dekat. Bibirnya terlalu kaku untuk sekedar
mengatakan ‘apa yang sedang kau lakukan?’.
“oh!
Ahahaha!” Ken menarik tangannya,”tadi aku melihat ada serangga. Tapi seperti
sudah pergi.”
“eh?
Oh.. begitu.” Gadis itu mengangguk-angguk.
“em—kakak, apa pendapatmu
tentang menyukai orang yang lebih tua?”
Gadis itu
bingung. Mengusap dahinya kemudian tertawa kecil sambil mengayun-ayunkan
kakinya. “bagaimana ya? Aku bingung. Hahaha” mengadahkan wajahnya untuk dapat
menatap wajah Ken,”sepertinya itu bagus. Tidak masalah kau tua atau muda.
Selama kau bisa memperlakukan dia dengan baik. Aku rasa itu baik.”
“benarkah?”
wajah Ken terlihat senang.
“kenapa? Apa
seleraku aneh?” tanyanya.
Ken menangkap
satu kata ‘selera’ dan semakin membuatnya senang. “oh—aku sepertinya harus
latihan. Nanti sore, ada pertandingan lagi. Mau kah kakak datang?”
“tentu.” Ia
mengulurkan tangannya,”Hani. Hani Safira.”
Ken
menjabatnya,”aku—“
“Yuhiko Ken
Anggara.” Sahutnya cepat.
“bagaimana
kakak—“
“kau pemain
basket. Semuanya kenal kau.” Ia tersenyum,”apa kau benar-benar blasteran
Jepang?”
“sepertinya
bagimana?” Ken membuka flap ponselnya,”iya~. Aku tahu. Sebentar lagi aku turun.
Baik.”
“pergilah. Aku
masih ingin disini beberapa menit lagi.” katanya.
Ken berjalan
menjauhinya. Menoleh sebentar kebelakang dan kemudian memunggingnya. ‘Hani,
atau… Honey’, gumamnya senang.
***
Pertandingan
sudah hampir berjalan setengahnya. Ken masih tidak bisa menemukannya di barisan
penonton. ‘mungkin dia tidak datang. Untuk apa datang hanya untuk melihatku.’
Gumamnya membesarkan hatinya.
“KENN!” Mario
berteriak memberikan umpan.
Ken menangkapnya
dengan baik dan berlari menuju ring. Masuk!
Waktu terus
berjalan. Hani memang sepertinya tidak akan datang. Hingga akhirnya peluit di
bunyikan.
“permainan berakhir!
40-55! SMAN 11 pemenangnya!” sahut MC dari luar lapangan.
“kenapa tidak
senang?” Mario mendekati sahabatnya.
Ken menggeleng
dan segera mengambil tasnya. “duluan ya.”
***
Hani
melangkahkan kakinya keluar ruangan latihan tapi seseorang tiba-tiba saja muncul.
“kenapa kemarin tidak datang?”
“oh!” Hani
berjingkat mundur, mengedipkan matanya kaget,”oh—ah Ken, maaf ya. Aku kemarin
ada hal penting.”
Ken masuk
kedalam ruangan itu. Melihat sekeliling. Ruangan dengan kaca besar. “apa ini
tempat latihan menari?” ia menoleh ke arahnya lalu mendekati rak penyimpan
kaset,”aku rasa aku tahu beberapa lagu di rak ini.”
Gadis itu
mendekatinya. “benarkah? Kau bisa menari juga?” katanya sambil mengikat rambut
panjangnya.
“bagaimana ya?”
tanyanya sambil memasukkan sebuah kaset ke dalam Tape,”ambil tempat dimana
kau bisa melihat ke tampananku ya.” Katanya sambil melepas jas sekolahnya.
Hani tertawa
mendengarnya dan mengambil tempat tepat di depannya. Duduk dan memandangnya.
“…ini…” Hani mengenal lagu itu,”SHINee – Replay”
Ken mulai dengan
gerakan pelan lalu dengan lincahnya bergerak menggambarkan arti dari
masing-masing lirik lagu itu dan sedikit menyanyikannya. “¯kakakY cantik sekali~¯” katanya membahasa Indonesiakan arti lirik yang berbahasa korea
itu,”…¯Replay Replay Replay… Thingking about u¯ Hey
girl!”
Matanya tidak
bisa berkedip sedikit pun. Tangannya terlalu kaku untuk bertepuk tangan. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak terlalu
kencang. Adik kelasnya yang ada di depannnya saat ini benar-benar mengagumkan
untuknya dan mungkin lebih tepatnya…
“kakak,
aku—ehhm… aku menyukaimu. bagaimana kalau kita pacaran saja?” Ken berjongkok di
depannya.
Hani masih belum
bisa percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
“ahh~” keluhnya
dengan nafas besar dan menggaruk kepalanya kasar,”memandangimu diam-diam setiap
hari membuatku gila. Apa kakak tidak bisa membantuku menjadi normal?”
“aku—“ tangannya
gemetar,”ta-ta-tapi aku..”
Ken menanggak
maskud Hani berbeda. Ia segera bangkit dan mengambil jasnya yang tergeletak di
lantai. “sepertinya aku mengerti. Aku minta maaf. Kakak bisa lupakan saja ini.
Permisi.”
Ken
memunggunginya. Berjalan menuju pintu. “ehg—Ken, bisa bantu aku?” panggilnya
dan membuat Ken berbalik,”sepertinya kakiku kesemutan. Ehh—bisa bantu aku
berjalan?”
Melihatnya duduk
disana dengan kaki kesemutan membuat Ken tidak bisa untuk tidak membantunya. Ia
menghampirinya dan memapahnya. “kenapa bisa kesemutan?” keluh Ken.
“haduh—jantungku…”
Ken menatapnya aneh,”eh? Oh, ahaha bukan. Eh, bagaimana kalau mulai sekarang
kita pergi dan pulang sekolah bersama?”
Tanda tanya
besar jatuh mengenai kepala Ken. “apa?” jawabnya cepat.
“mulai sekarang
jemput aku ya. Kau juga harus sering-sering menghubungiku. Akan ku usahakan
datang untuk melihat pertandinganmu.” Cicit Hani.
Ken menangkap maksudnya.
“oh! Ahaha.” Ia tertawa sambil terus memapahnya,”em, kenapa pacarku bisa
secantik ini ya? ¯nunna nomu yeppo~”
Hani menutupi
wajah malunya dengan telapak tangannya, sementara Ken terus saja menyanyikan
lagu SHINee – Replay untuknya.
***

0 komentar:
Posting Komentar