.
.
.
Suatu malam airmatamu kembali turun. Kau
menangis tanpa sebab hanya karena hal konyol yang kau lakukan. Malam itu, kau
membaca sebuah cerita yang tiba-tiba mengingatkanmu pada dia yang jauh. Malam
itu kau juga menyadari kau telah terlalu lama menunggu dan bertanya apa ini
sudah terlambat?
Jawabannya adalah lagi-lagi kau
terlambat menyadari sesuatu. Kau terlambat menyadari perasaanmu padanya. Kau
terlambat mengakuinya. Dan kau juga terlambat menyadari kalau dia telah menjauh.
Kau tidak hanya terlambat tapi juga lambat.
Saat Tuhan memberitahumu, kau berusaha
menyangkalnya karena kau takut sakit. Tapi Tuhan terus memberitahumu hingga kau
menyadari bahwa ada sesuatu. Dan kau tidak tau harus melakukan apa setelahnya.
Dadamu terasa sesak saat kau tidak
bisa mengatakan perasaanmu. Dadamu terasa sakit saat tau bahwa dia telah
menyukai orang lain, bahwa dia telah tak tergapai lagi darimu, dan bahwa dia
telah tak menghiraukanmu lagi. Ingin rasanya kau terus menyangkal tapi
kenyataan yang telah menjawabnya. Dia memang tidak lagi bisa kau raih. Dan
lagi-lagi hanya penyesalan yang datang dalam hatimu.
Mau tidak mau kau harus mengakui bahwa
sebenarnya kau tidak berarti apa-apa baginya. Kau bukan sesuatu yang penting
baginya sehingga dengan mudah dilupakan olehnya. Sekali lagi kau dikecewakan
dan kau hanya bisa menangis dalam kesendirianmu.
Seiring berjalannya waktu kau mulai
menyadari satu hal lagi. Kalau kau kecewa bukan
hanya tidak dapat menjangkaunya
lagi tapi lebih karena dia telah menghancurkan satu-satunya harapanmu.
Kau merasa dia adalah satu-satunya
orang dari masa lalumu yang dapat membuatmu kembali percaya dan memberitahumu
bahwa kau salah besar akan pemikiranmu atas masa lalu. Tapi lagi-lagi kau
salah. Dia bukan orang yang kau harapkan. Bukan dia orangnya. Karena dia sama
saja dengan yang ada di masa lalumu. Sekali lagi kau dikecewakannya.
Penantian dan pengorbananmu selama 4
tahun ini berakhir sia-sia. Dia memang bukan orang yang tepat yang bisa
membuatmu kembali dan menyukai masa lalu. Meski begitu kau berusaha tersenyum
dalam sakitmu. Karena itulah yang diajarkan Tuhan padamu.
0 komentar:
Posting Komentar