.
.
.
Kau mencoba bertahan dengan perasaanmu
untuknya. Betapa bodohnya kau ini. Kau pernah berkata pada temanmu, untuk apa
tetap bersama orang yang sudah menyakiti kita berulang kali. Tapi apa yang kau
lakukan sekarang? Bukankah kau sama saja dengan orang-orang bodoh itu? Bertahan
meski berulang kali disakiti.
Saat kau berusaha keras untuk
melupakan segalanya, dia kembali datang memberimu harapan. Lagi-lagi seperti
itu dan terus seperti itu berulang kali. Kau ingin mempercayai harapannya tapi
kau takut kembali sakit. Kau akhirnya memilih diam.
Dia terus datang dan itu membuatmu
semakin kesal. Sekian lama kau telah diabaikan olehnya, dia datang dan
memintamu untuk sabar dan mengerti akan dirinya. Bukankah itu sesuatu yang
gila? Untuk apa dia kembali setelah menganggapmu tidak ada? Untuk apa dia
kembali kalau kedatangannya hanya bisa membuatmu sakit? Bukankah itu adalah
sesuatu yang tak berguna?
Berulangkali dia menjelaskan alasan
kenapa dia mengabaikanmu? Dia bilang itu sementara. Untuk saat ini. Dia bilang
masih mengingatmu, masih tau keberadaanmu, dan masih mengerti keadaanmu. Dia
mengatakan masih tetap menjadi dia yang dulu, yang ada untukmu. Dan itu membuatmu menangis
sekali lagi.
Alasan apa yang bisa kau percayai
untuk tetap pada perasaanmu? Alasan apa yang bisa membuatmu bertahan untuk
tetap menunggunya? Kau mulai berpikir kenapa dia tidak melepaskanmu saja toh
hubungan kalian hanya sebatas teman?
Akhirnya kau putuskan bahwa dirimulah
yang akan melepaskannya. Itu jauh lebih mudah daripada terus bertahan di
sisinya. Kau akhirnya mengakhiri cerita yang belum selesai ini. Bukan tidak
ingin menyelesaikannya tapi inilah akhir cerita ini. Dulu kaulah yang
memulainya maka kau jugalah yang harus mengakhirinya.
Kau sudah cukup lama menunggu hanya
demi sesuatu yang konyol. Kau merasa harus kembali menjalani hidup tanpa dia.
Perasaanmu sudah berubah, kau mengatakan tidak membencinya hanya perasaanmu
sudah berubah. Karena kau tau bagaimana caramu membenci seseorang maka kau
tidak ingin membenci siapa pun sekarang.
Kini, saat dia kembali datang. Kau
hanya diam. Kau berusaha menjadi sepertinya juga, datang saat membutuhkan bukan
datang saat dibutuhkan. Kau merasa akan adil jika seperti itu.
Perasaanmu telah menguar habis. Kau
kembali mati rasa seperti dulu meski berusaha mengendalikan rasa tidak sukamu.
Bagaimana pun orang tau kalau kalian dulu punya hubungan baik dan kau tidak
ingin merusaknya?
Kau merasa cukup di sini. Kau tidak
bisa menerimanya kembali itulah yang kau tau. Kau berterima kasih untuk hal-hal
yang dilakukannya untukmu. Meski ini bukan akhir yang sesungguhnya tapi cerita
ini memang sudah berakhir.
0 komentar:
Posting Komentar