Let’s Not
By : danhobak15
Inspired by : Super
Junior song – Let’s Not
.
.
.
“Hai....bagaimana kabarmu? Kau tahu sekarang
musim dingin. Kau senang? Apa? Oh, baiklah, aku akan memainkannya untukmu.”
Seorang
pemuda berambut cokelat keemasan itu mengeluarkan sebuah biola dari tasnya.
Nama pemuda itu adalah Kim Jinwoon, seorang pemain biola berbakat di sebuah orkestra
yang sangat terkenal.
Kemudian
mulailah terdengar suara biola yang mengalun lembut. Suara biola itu terdengar
menyayat, setiap gesekan senarnya menggambarkan betapa terlukanya hati Jinwoon.
Airmata itu menetes tanpa disadari.
Setiap kali pemuda itu datang, dia selalu
seperti itu. Memainkan biolanya dengan lagu yang sama dan untuk orang yang
sama. Tak peduli orang menganggapnya gila, Jinwoon tak peduli.
“Kau senang?” tanya Jinwoon setelah dia
selesai memainkan biola. “Kau ingat
tentang hari ini? Benar, hari ini tanggal 24 Desember, besok hari Natal. Kau
mau hadiah apa dariku?” Jinwoon terus saja berbicara sampai hatinya puas.
~flashback
~
*2
tahun yang lalu*
Jinwoon
bergegas mengemasi barang-barangnya. Pemuda itu ingin sekali cepat pulang,
selain karena udara sangat dingin, hari ini adalah tanggal 24 Desember, malam
Natal, Jinwoon ingin berkumpul bersama keluarganya di malam itu.
Derap
langkah Jinwoon menggema keras saat dia berlari melintasi lorong di lantai 2
tempat latihannya. Langkah itu tiba-tiba berhenti saat tanpa sengaja Jinwoon
mendengar dentingan piano dari ruang latihan orkestra. Karena rasa ingin tahunya
Jinwoon mengintipnya dari celah pintu yang terbuka.
Betapa
terkejutnya pemuda itu. Seorang gadis berambut hitam lurus terlihat terampil
memainkan tuts-tuts piano itu. Tanpa disadari Jinwoon melangkah masuk dan
mendekati gadis itu.
“Eun Hwa, kenapa di sini?” tanya
Jinwoon.
Gadis
bernama Eun Hwa itu berhenti memainkan pianonya dan memandangi Jinwoon sambil
tersenyum. “Aku menunggumu...”
“Menungguku?” Jinwoon menunjuk dirinya
sendiri. “Untuk apa? Memangnya kau sudah
sembuh?”
Eun
Hwa mengangguk. “Aku bosan berbaring
terus lagi pula aku ingin melewati malam Natal ini bersamamu. Kau mau kan?”
“Ehmm...” Jinwoon menggaruk tengkuknya
yang tak gatal, “Sebenarnya aku sudah ada
janji dengan adikku,” kata Jinwoon merasa tak enak.
Tak
mau menyerah Eun Hwa terus membujuk Jinwoon, “Ayolah, aku mohon. Aku janji padamu ini yang terakhir kalinya. Kamu
mau kan?”
“Bagaimana ya? Adikku sudah menunggu...”
“Jinwoon, aku mohon, kali ini saja. Aku
jamin Natal tahun depan aku tak akan mengganggumu lagi. Mau ya...???” mohon
Eun Hwa.
Jinwoon
terdiam. Tak biasanya memohon hingga seperti itu padanya. “Baiklah, aku mau,” kata Jinwoon akhirnya.
“Yeiy~ akhirnya. Aku mau mengajakmu makan di
restoran langgananku, kau mau kan?” ajak Eun Hwa bersemangat dan buru-buru
menarik Jinwoon pergi.
“Hya~~ kenapa seperti kau mengajakku
berkencan saja??” protes Jinwoon yang tak didengar oleh Eun Hwa.
.
“Kenapa kau malah mengajakku ke sini? Kau
bilang mau makan di restoran bukan mau piknik di taman?” tanya Jinwoon
bingung saat Eun Hwa mengajaknya duduk di bangku taman .
“Tidak apa-apa. Aku suka di sini. Dari sini
aku bisa melihat salju.”
“Tapi ini dingin sekali Eun Hwa, memangnya
kau tak kedinginan,” kata Jinwoon sambil mengeratkan mantelnya.
Eun
Hwa menggeleng. “Selama aku bersamamu,
aku akan merasa hangat,” balas Eun Hwa tersenyum.
“Kau pikir aku ini pemanas ruangan apa?”
Jinwoon menanggapi sahabatnya itu dengan candaan.
“Jinwoon, apa artiku bagimu?” tanya Eun
Hwa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jinwoon.
Alis
Jinwoon mengenyit tak mengerti, “Apa
maksudmu?”
“Selama ini kau menganggapku apa?”
“Apa ya?” Jinwoon terlihat berpikir. “Kau adalah teman terbaik yang pernah aku
miliki,” terang Jinwoon dengan seulas senyum tulus di bibirnya.
Eun
Hwa bangkit dari tepatnya bersandar. “Hanya
itu?” tanyanya dengan nada kecewa.
Jinwoon
yang sama sekali tak menyadari perubahan nada bicara Eun Hwa, mengangguk
mengiyakan, “Kau adalah sahabatku. Kau
sudah seperti keluarga untukku. Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”
“Tidak ada. Apa ada gadis yang kau sukai?”
Kepala
Jinwoon menggeleng pelan, “Saat ini tak
ada. Kalau kau? Adakah pemuda yang kau sukai?” kata Jinwoon balik bertanya.
Eun
Hwa menggigit bibir bawahnya, “Bolehkah
aku bercerita padamu?”
Sekali
lagi Jinwoon mengangguk, “Cerita saja,
kita kan teman.”
“Aku menyukai seorang pemuda. Hanya
saja...dia...dia...” Eun Hwa tak melanjutkan kata-katanya dan terlihat
berpikir.
“Dia kenapa?” tanya Jinwoon antusias.
“Aku tidak tahu dia juga menyukaiku atau
tidak. Selama ini dia hanya menganggapku sama dengan temannya yang lain. Aku
sudah suka padanya sejak lama, tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut
dia marah dan meninggalkanku. Aku takut dia membenciku. Aku tidak mau
sendirian. Aku.....” kali ini Eun Hwa tak sanggup melanjutkan kata-katanya
lagi. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, menyembunyikan setiap isakan
yang keluar dari mulutnya. “Aku harus
bagaimana? Jantungku seperti ingin meledak karena menyimpan ini terlalu
lama...”
Tangan
Jinwoon terulur menghapus airmata yang mengalir di pipi Eun Hwa. “Jangan menangis, Eun Hwa. Katakan saja
padanya, aku yakin dia akan mengerti. Kalau pun nantinya dia tak menerimamu
setidaknya kau sudah mengatakannya. Itu akan membuatmu lebih baik,” nasehat
Jinwoon sambil menepuk-nepuk punggung Eun Hwa.
“Sayangnya itu tak mungkin. Kami ada di
tempat berbeda sekarang,” kata Eun Hwa sedih. “Dia tak mungkin melihatku lagi.”
“Maksudmu?”
Eun
Hwa mengangguk. “Itulah yang terjadi.
Tragis sekali bukan?” gadis itu tertawa mengejek dirinya sendiri. “Selamanya dia tidak akan tahu kalau aku
menyukainya.”
“Sudahlah, jangan bersedih. Sebagai gantinya
bagaimana kalau kau mengatakannya padaku?” hibur Jinwoon yang tak tega
sahabatnya itu bersedih.
“Benarkah?” tanya Eun Hwa tak percaya. “Kau mau?”
Jinwoon
mengangguk. “Anggap saja aku pemuda yang
kau sukai itu.”
“Aku tidak siap, Jinwoon-ah...”
“Tarik nafasmu dan katakan saja.”
Eun Hwa menarik nafasnya sesuai intruksi
Jinwoon dan berkata, “Jinwoon-ah, saranghae. Jeongmal saranghae. Aku menyukaimu
sejak pertama kali kita masuk ke SMA. Aku....” Eun Hwa bingung harus
berkata apalagi.
“Nado saranghae....,” balas Jinwoon dan
langsung memeluk sahabatnya itu.
“Jeongmal saranghae, Jinwoon-ah,” ulang Eun
Hwa sekali lagi. Hatinya terasa tercabik saat mengatakan itu. “Mau kah kau jadi pacarku?” tanya Eun
Hwa lembut.
Mata
Jinwoon membulat sempurna, “Apa? Tentu
saja aku mau.” Dari mata itu terlihat kalau pemuda itu benar-benar tulus
menghibur Eun Hwa. “Aku mau ja....”
CHU~
Lagi-lagi
Jinwoon terkejut karena tiba-tiba Eun Hwa menciumnya. Ada rasa hangat yang
menjalar keseluruhan tubuhnya saat Eun Hwa melakukannya. Entah kenapa jantung Jinwoon
berdetak kencang seakan mau meledak.
“Maaf....” kata Eun Hwa setelah
melepaskan ciuman mereka. Kepala gadis itu menunduk tak berani memandang ke
arah Jinwoon. “Seharusnya aku....”
“Tak masalah apa pun asal kau lebih baik,”
kata Jinwoon tetap tersenyum. “Pasti
pemuda yang kau sukai itu beruntung sekali, andai pemuda itu aku,” andai
Jinwoon sambil menengadah ke langit.
‘Pemuda itu kau, Jinwoon,’ kata Eun Hwa
dalam hati. Gadis itu hanya bisa menatap sedih ke arah Jinwoon. “Boleh aku minta satu hadiah Natal darimu?”
Jinwoon
menoleh pada Eun Hwa, “Hadiah Natal? Kau
mau apa dariku?” tanya Jinwoon antusias.
“Kau mau?”
Jinwoon
mengangguk. “Apa pun untukmu? Asal tidak
membuatku bangkrut saja,” candanya yang membuat Eun Hwa tersenyum simpul.
“Aku ingin kau mainkan biola untukku,”
minta Eun Hwa dengan sangat. “Kali ini
saja, hanya untukku.”
“Tak masalah, kapan pun kau minta aku mau
memainkannya khusus untukmu,” Jinwoon segera mengeluarkan biolanya. “Mau lagu apa?”
“Lagu yang kau mainkan saat pertama kali
kita tampil di orkestra.”
“Kau menyukainya?”
Eun
Hwa mengangguk. “Sangat menyukainya,”
jawab Eun Hwa, ‘Sama seperti aku menyukai
orang yang memainkannya,’ tambahnya dalam hati.
Jinwoon
pun mulai memainkan lagu yang diminta Eun Hwa. Suara biola itu mengalun merdu.
Siapa pun yang mendengar pasti akan terhanyut dalam nada-nada yang terangkai
indah di dalamnya.
.
Saying that this moment is the last to you
whom I loved so much
Even
if you try to turn it back, even
if you hold onto me crying
I was the one who said no and big our farewell
I always act strong but I’m a cowardly man
Didn’t have the confidence to protect you forever and left
.
“Eun Hwa kau kenapa?” tanya Jinwoon
khawatir saat melihat gadis yang bersamanya itu mulai menggigil.
“Dingin, Jinwoon,” keluh Eun Hwa.
“Kita pulang sekarang,” Jinwoon lekas
menyimpan kembali biolanya dan berjongkok di depan Eun Hwa.
“Naiklah, aku akan menggendongmu sampai
rumah.”
“Aku bisa jalan sendiri...” tolak Eun
Hwa.
“Sudah ayo naik,” paksa Jinwoon.
Mau
tak mau akhirnya Eun Hwa menurut saja. Sebenarnya gadis itu sudah tak sanggup
berjalan lagi. Penyakit yang ada di tubuhnya sudah terlalu lama merongrongnya.
Eun Hwa mulai tak yakin bahwa dia bisa bertahan setelah ini. Semua yang dia
punya telah terenggut tanpa sedikit pun perlawanan darinya. Tubuhnya, jiwanya,
bahkan cintanya, semua itu tak dia miliki sekarang. mungkin adalah saatnya.
Saat dia menyerah.
.
Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much they
can’t go a day without you. Please!
.
“Jinwoon,” bisik Eun Hwa terdengar
parau. “Aku mengantuk. Boleh aku tidur di
punggungmu?”
“Tidurlah, Eun Hwa, sampai rumah aku akan
membangunkanmu,” kata Jinwoon.
“Terima kasih. Jinwoon...”
“Ehmp, ada apa?”
“Kau akan selalu bahagia kan? Mau kah kau
memainkan lagu itu untukku lagi besok?”
“Tentu saja. Kapan pun kau mau aku akan
memainkannya.”
“Terima kasih, Jinwoon. Kau baik sekali.
Saranghae, Jinwoon-ah. Jeongmal saranghae.”
“Nado, Eun Hwa. Sekarang tidurlah.....”
Setelah
itu tak ada lagi percakapan lagi antara Jinwoon dan Eun Hwa, entah itu besok,
lusa, minggu depan, atau pun tahun depan. Itulah malam Natal terakhir bagi Eun
Hwa. Gadis itu telah menyerah. Menyerah pada penyakitnya dan juga menyerah pada
cintanya.
.
Hurting, you try to hold me back
But I’m a cowardly man who doesn’t have the confidence to give happines to anymore beside him
Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much they
can’t go a day without you
~flashback
end~
Jinwoon
menyeka airmatanya menggunakan ujung lengan mantelnya. Dengan senyum mengembang
pemuda itu menatap batu nisan bertuliskan nama “Jung Eun Hwa” yang berdiri di
hadapanya sekarang. “Kenapa kau lakukan
ini padaku, Eun Hwa? Kenapa kau meninggalkanku seperti ini?”
“Aku pernah berkata bahwa kalau aku akan
sangat beruntung jika pemuda yang kau sukai itu aku. Lalu kenapa kau tak
mengatakannya? Kenapa kau hanya diam dan menyembunyikan semuanya? Kenapa aku
harus tahu dari ibumu dan itu setelah 2 tahun? Katakan kenapa, Eun Hwa?”
“Maaf kan aku, Eun Hwa. Maaf kan aku,”
sesal Jinwoon. Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya di tanah, dengan bertumpu pada
lututnya, Jinwoon menunduk memohon maaf dari Eun Hwa. “Maaf kan aku yang tak peka atas kehadiranmu. Maaf kan aku yang tak
menyadari perasaanmu. Maaf kan aku, Eun Hwa. Maafkan aku yang tak bisa
menjagamu dengan baik. Mau kan kau memaafkanku? Aku mohon, Eun Hwa, maafkan
aku.....”
“Oppa....” terdengar suara gadis yang
memanggil Jinwoon. Dengan susah payah gadis itu berjalan mendekati Jinwoon. “Oppa....” panggil gadis itu terdengar
manja, tangan gadis itu terus saja mengusap perutnya yang membuncit.
“Sebentar lagi, Hye Joo,” kata Jinwoon
pada gadis itu. “Eun Hwa, kenalkan. Dia
istriku, Kim Hye Joo. Kami menikah tahun ini, Eun Hwa. Seperti katamu waktu
itu, aku bahagia, Eun Hwa.”
Hye
Joo memegang bahu Jinwoon lembut. “Salam
kenal, Eun Hwa. Maafkan aku baru mengunjungimu sekarang,” ujarnya.
“Sekali lagi maafkan aku, Eun Hwa,” ucap
Jinwoon. “Semoga bahagia di sana, Eun
Hwa. Tunggulah sampai aku menemuimu nanti, aku akan memainkan biola untukmu
setiap hari. Selama itu jagalah dirimu dengan baik.”
.
Even
if we are ever to regret our break up
I
can’t do anything but give you our farewell
Don’t
cry in pain counting the time that’s
passed
Don’t
miss a foolish love that’s already passed
One
who looks at you and needs only you
Meet
someone who loves you so much they can’t stand a day without you
Please,
I hope that you’ll be happy
Let’s
never meet again
~e.n.d~


