Sabtu, 31 Maret 2012

Let's Not




 Let’s Not

By : danhobak15

Inspired by : Super Junior song – Let’s Not
.
.
.
“Hai....bagaimana kabarmu? Kau tahu sekarang musim dingin. Kau senang? Apa? Oh, baiklah, aku akan memainkannya untukmu.”

Seorang pemuda berambut cokelat keemasan itu mengeluarkan sebuah biola dari tasnya. Nama pemuda itu adalah Kim Jinwoon, seorang pemain biola berbakat di sebuah orkestra yang sangat terkenal.

Kemudian mulailah terdengar suara biola yang mengalun lembut. Suara biola itu terdengar menyayat, setiap gesekan senarnya menggambarkan betapa terlukanya hati Jinwoon. Airmata itu menetes tanpa disadari. 

Setiap kali pemuda itu datang, dia selalu seperti itu. Memainkan biolanya dengan lagu yang sama dan untuk orang yang sama. Tak peduli orang menganggapnya gila, Jinwoon tak peduli.

“Kau senang?” tanya Jinwoon setelah dia selesai memainkan biola. “Kau ingat tentang hari ini? Benar, hari ini tanggal 24 Desember, besok hari Natal. Kau mau hadiah apa dariku?” Jinwoon terus saja berbicara sampai hatinya puas.

~flashback ~

*2 tahun yang lalu*

Jinwoon bergegas mengemasi barang-barangnya. Pemuda itu ingin sekali cepat pulang, selain karena udara sangat dingin, hari ini adalah tanggal 24 Desember, malam Natal, Jinwoon ingin berkumpul bersama keluarganya di malam itu.

Derap langkah Jinwoon menggema keras saat dia berlari melintasi lorong di lantai 2 tempat latihannya. Langkah itu tiba-tiba berhenti saat tanpa sengaja Jinwoon mendengar dentingan piano dari ruang latihan orkestra. Karena rasa ingin tahunya Jinwoon mengintipnya dari celah pintu yang terbuka.

Betapa terkejutnya pemuda itu. Seorang gadis berambut hitam lurus terlihat terampil memainkan tuts-tuts piano itu. Tanpa disadari Jinwoon melangkah masuk dan mendekati gadis itu.

“Eun Hwa, kenapa di sini?” tanya Jinwoon.

Gadis bernama Eun Hwa itu berhenti memainkan pianonya dan memandangi Jinwoon sambil tersenyum. “Aku menunggumu...”

“Menungguku?” Jinwoon menunjuk dirinya sendiri. “Untuk apa? Memangnya kau sudah sembuh?”

Eun Hwa mengangguk. “Aku bosan berbaring terus lagi pula aku ingin melewati malam Natal ini bersamamu. Kau mau kan?”

“Ehmm...” Jinwoon menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Sebenarnya aku sudah ada janji dengan adikku,” kata Jinwoon merasa tak enak.

Tak mau menyerah Eun Hwa terus membujuk Jinwoon, “Ayolah, aku mohon. Aku janji padamu ini yang terakhir kalinya. Kamu mau kan?”

“Bagaimana ya? Adikku sudah menunggu...”

“Jinwoon, aku mohon, kali ini saja. Aku jamin Natal tahun depan aku tak akan mengganggumu lagi. Mau ya...???” mohon Eun Hwa.

Jinwoon terdiam. Tak biasanya memohon hingga seperti itu padanya. “Baiklah, aku mau,” kata Jinwoon akhirnya.

“Yeiy~ akhirnya. Aku mau mengajakmu makan di restoran langgananku, kau mau kan?” ajak Eun Hwa bersemangat dan buru-buru menarik Jinwoon pergi.

“Hya~~ kenapa seperti kau mengajakku berkencan saja??” protes Jinwoon yang tak didengar oleh Eun Hwa.

.

“Kenapa kau malah mengajakku ke sini? Kau bilang mau makan di restoran bukan mau piknik di taman?” tanya Jinwoon bingung saat Eun Hwa mengajaknya duduk di bangku taman .

“Tidak apa-apa. Aku suka di sini. Dari sini aku bisa melihat salju.”

“Tapi ini dingin sekali Eun Hwa, memangnya kau tak kedinginan,” kata Jinwoon sambil mengeratkan mantelnya.

Eun Hwa menggeleng. “Selama aku bersamamu, aku akan merasa hangat,” balas Eun Hwa tersenyum.

“Kau pikir aku ini pemanas ruangan apa?” Jinwoon menanggapi sahabatnya itu dengan candaan.

“Jinwoon, apa artiku bagimu?” tanya Eun Hwa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jinwoon.

Alis Jinwoon mengenyit tak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Selama ini kau menganggapku apa?”

“Apa ya?” Jinwoon terlihat berpikir. “Kau adalah teman terbaik yang pernah aku miliki,” terang Jinwoon dengan seulas senyum tulus di bibirnya.

Eun Hwa bangkit dari tepatnya bersandar. “Hanya itu?” tanyanya dengan nada kecewa.

Jinwoon yang sama sekali tak menyadari perubahan nada bicara Eun Hwa, mengangguk mengiyakan, “Kau adalah sahabatku. Kau sudah seperti keluarga untukku. Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Tidak ada. Apa ada gadis yang kau sukai?”

Kepala Jinwoon menggeleng pelan, “Saat ini tak ada. Kalau kau? Adakah pemuda yang kau sukai?” kata Jinwoon balik bertanya.

Eun Hwa menggigit bibir bawahnya, “Bolehkah aku bercerita padamu?”

Sekali lagi Jinwoon mengangguk, “Cerita saja, kita kan teman.”

“Aku menyukai seorang pemuda. Hanya saja...dia...dia...” Eun Hwa tak melanjutkan kata-katanya dan terlihat berpikir.

“Dia kenapa?” tanya Jinwoon antusias.

“Aku tidak tahu dia juga menyukaiku atau tidak. Selama ini dia hanya menganggapku sama dengan temannya yang lain. Aku sudah suka padanya sejak lama, tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut dia marah dan meninggalkanku. Aku takut dia membenciku. Aku tidak mau sendirian. Aku.....” kali ini Eun Hwa tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, menyembunyikan setiap isakan yang keluar dari mulutnya. “Aku harus bagaimana? Jantungku seperti ingin meledak karena menyimpan ini terlalu lama...”

Tangan Jinwoon terulur menghapus airmata yang mengalir di pipi Eun Hwa. “Jangan menangis, Eun Hwa. Katakan saja padanya, aku yakin dia akan mengerti. Kalau pun nantinya dia tak menerimamu setidaknya kau sudah mengatakannya. Itu akan membuatmu lebih baik,” nasehat Jinwoon sambil menepuk-nepuk punggung Eun Hwa.

“Sayangnya itu tak mungkin. Kami ada di tempat berbeda sekarang,” kata Eun Hwa sedih. “Dia tak mungkin melihatku lagi.”

“Maksudmu?”

Eun Hwa mengangguk. “Itulah yang terjadi. Tragis sekali bukan?” gadis itu tertawa mengejek dirinya sendiri. “Selamanya dia tidak akan tahu kalau aku menyukainya.”

“Sudahlah, jangan bersedih. Sebagai gantinya bagaimana kalau kau mengatakannya padaku?” hibur Jinwoon yang tak tega sahabatnya itu bersedih.

“Benarkah?” tanya Eun Hwa tak percaya. “Kau mau?”

Jinwoon mengangguk. “Anggap saja aku pemuda yang kau sukai itu.”

“Aku tidak siap, Jinwoon-ah...”

“Tarik nafasmu dan katakan saja.”

Eun Hwa menarik nafasnya sesuai intruksi Jinwoon dan berkata, “Jinwoon-ah, saranghae. Jeongmal saranghae. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita masuk ke SMA. Aku....” Eun Hwa bingung harus berkata apalagi.

“Nado saranghae....,” balas Jinwoon dan langsung memeluk sahabatnya itu.

“Jeongmal saranghae, Jinwoon-ah,” ulang Eun Hwa sekali lagi. Hatinya terasa tercabik saat mengatakan itu. “Mau kah kau jadi pacarku?” tanya Eun Hwa lembut.

Mata Jinwoon membulat sempurna, “Apa? Tentu saja aku mau.” Dari mata itu terlihat kalau pemuda itu benar-benar tulus menghibur Eun Hwa. “Aku mau ja....”

CHU~

Lagi-lagi Jinwoon terkejut karena tiba-tiba Eun Hwa menciumnya. Ada rasa hangat yang menjalar keseluruhan tubuhnya saat Eun Hwa melakukannya. Entah kenapa jantung Jinwoon berdetak kencang seakan mau meledak.

“Maaf....” kata Eun Hwa setelah melepaskan ciuman mereka. Kepala gadis itu menunduk tak berani memandang ke arah Jinwoon. “Seharusnya aku....”

“Tak masalah apa pun asal kau lebih baik,” kata Jinwoon tetap tersenyum. “Pasti pemuda yang kau sukai itu beruntung sekali, andai pemuda itu aku,” andai Jinwoon sambil menengadah ke langit.

‘Pemuda itu kau, Jinwoon,’ kata Eun Hwa dalam hati. Gadis itu hanya bisa menatap sedih ke arah Jinwoon. “Boleh aku minta satu hadiah Natal darimu?”

Jinwoon menoleh pada Eun Hwa, “Hadiah Natal? Kau mau apa dariku?” tanya Jinwoon antusias.

“Kau mau?”
 
Jinwoon mengangguk. “Apa pun untukmu? Asal tidak membuatku bangkrut saja,” candanya yang membuat Eun Hwa tersenyum simpul.

“Aku ingin kau mainkan biola untukku,” minta Eun Hwa dengan sangat. “Kali ini saja, hanya untukku.”

“Tak masalah, kapan pun kau minta aku mau memainkannya khusus untukmu,” Jinwoon segera mengeluarkan biolanya. “Mau lagu apa?”

“Lagu yang kau mainkan saat pertama kali kita tampil di orkestra.”

“Kau menyukainya?”

Eun Hwa mengangguk. “Sangat menyukainya,” jawab Eun Hwa, ‘Sama seperti aku menyukai orang yang memainkannya,’ tambahnya dalam hati.

Jinwoon pun mulai memainkan lagu yang diminta Eun Hwa. Suara biola itu mengalun merdu. Siapa pun yang mendengar pasti akan terhanyut dalam nada-nada yang terangkai indah di dalamnya.

.

Saying that this moment is the last to you whom I loved so much

Even if you try to turn it back, even if you hold onto me crying

I was the one who said no and big our farewell

I always act strong but I’m a cowardly man

Didn’t have the confidence to protect you forever and left

.

“Eun Hwa kau kenapa?” tanya Jinwoon khawatir saat melihat gadis yang bersamanya itu mulai menggigil.

“Dingin, Jinwoon,” keluh Eun Hwa.

“Kita pulang sekarang,” Jinwoon lekas menyimpan kembali biolanya dan berjongkok di depan Eun Hwa.  
“Naiklah, aku akan menggendongmu sampai rumah.”

 “Aku bisa jalan sendiri...” tolak Eun Hwa.

“Sudah ayo naik,” paksa Jinwoon.

Mau tak mau akhirnya Eun Hwa menurut saja. Sebenarnya gadis itu sudah tak sanggup berjalan lagi. Penyakit yang ada di tubuhnya sudah terlalu lama merongrongnya. Eun Hwa mulai tak yakin bahwa dia bisa bertahan setelah ini. Semua yang dia punya telah terenggut tanpa sedikit pun perlawanan darinya. Tubuhnya, jiwanya, bahkan cintanya, semua itu tak dia miliki sekarang. mungkin adalah saatnya. Saat dia menyerah.

.

Don’t love someone like me again

Don’t make someone to miss again

One who looks at only you and needs only you

Meet someone who loves you so much they can’t go a day without you. Please!

.

“Jinwoon,” bisik Eun Hwa terdengar parau. “Aku mengantuk. Boleh aku tidur di punggungmu?”

“Tidurlah, Eun Hwa, sampai rumah aku akan membangunkanmu,” kata Jinwoon.

“Terima kasih. Jinwoon...”

“Ehmp, ada apa?”

“Kau akan selalu bahagia kan? Mau kah kau memainkan lagu itu untukku lagi besok?”

“Tentu saja. Kapan pun kau mau aku akan memainkannya.”

“Terima kasih, Jinwoon. Kau baik sekali. Saranghae, Jinwoon-ah. Jeongmal saranghae.”

“Nado, Eun Hwa. Sekarang tidurlah.....”

Setelah itu tak ada lagi percakapan lagi antara Jinwoon dan Eun Hwa, entah itu besok, lusa, minggu depan, atau pun tahun depan. Itulah malam Natal terakhir bagi Eun Hwa. Gadis itu telah menyerah. Menyerah pada penyakitnya dan juga menyerah pada cintanya.

.

Hurting, you try to hold me back

But I’m a cowardly man who doesn’t have the confidence to give happines to anymore beside him

Don’t love someone like me again

Don’t make someone to miss again

One who looks at only you and needs only you

Meet someone who loves you so much they can’t go a day without you

~flashback end~

Jinwoon menyeka airmatanya menggunakan ujung lengan mantelnya. Dengan senyum mengembang pemuda itu menatap batu nisan bertuliskan nama “Jung Eun Hwa” yang berdiri di hadapanya sekarang. “Kenapa kau lakukan ini padaku, Eun Hwa? Kenapa kau meninggalkanku seperti ini?”

“Aku pernah berkata bahwa kalau aku akan sangat beruntung jika pemuda yang kau sukai itu aku. Lalu kenapa kau tak mengatakannya? Kenapa kau hanya diam dan menyembunyikan semuanya? Kenapa aku harus tahu dari ibumu dan itu setelah 2 tahun? Katakan kenapa, Eun Hwa?”

“Maaf kan aku, Eun Hwa. Maaf kan aku,” sesal Jinwoon. Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya di tanah, dengan bertumpu pada lututnya, Jinwoon menunduk memohon maaf dari Eun Hwa. “Maaf kan aku yang tak peka atas kehadiranmu. Maaf kan aku yang tak menyadari perasaanmu. Maaf kan aku, Eun Hwa. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik. Mau kan kau memaafkanku? Aku mohon, Eun Hwa, maafkan aku.....”

“Oppa....” terdengar suara gadis yang memanggil Jinwoon. Dengan susah payah gadis itu berjalan mendekati Jinwoon. “Oppa....” panggil gadis itu terdengar manja, tangan gadis itu terus saja mengusap perutnya yang membuncit.

“Sebentar lagi, Hye Joo,” kata Jinwoon pada gadis itu. “Eun Hwa, kenalkan. Dia istriku, Kim Hye Joo. Kami menikah tahun ini, Eun Hwa. Seperti katamu waktu itu, aku bahagia, Eun Hwa.”

Hye Joo memegang bahu Jinwoon lembut. “Salam kenal, Eun Hwa. Maafkan aku baru mengunjungimu sekarang,” ujarnya.

“Sekali lagi maafkan aku, Eun Hwa,” ucap Jinwoon. “Semoga bahagia di sana, Eun Hwa. Tunggulah sampai aku menemuimu nanti, aku akan memainkan biola untukmu setiap hari. Selama itu jagalah dirimu dengan baik.”

.

Even if we are ever to regret our break up

I can’t do anything but give you our farewell

Don’t cry in pain counting the time that’s passed

Don’t miss a foolish love that’s already passed

One who looks at you and needs only you

Meet someone who loves you so much they can’t stand a day without you

Please, I hope that you’ll be happy

Let’s never meet again

~e.n.d~

Kamis, 29 Maret 2012

Noona, Neomu Yeppo


Noona, Neomu Yeppo
Written by: MVP

                Aku melihatnya lagi. Gadis itu di tempat yang sama. Garis di dasinya menunjukkan bahwa ia berada di 2 tingkat di atasku. Umurnya mungkin lebih tua dariku tapi aku merasa aku lah yang lebih tua darinya.

                Melihatnya membuka lembaran buku dan menyisir rambutnya dengan jemarinya membuatku gila. Beberapa kali ia terlihat melintas di lapangan basket tempatku berlatih. Memang ia tidak melihatku tapi aku melihatnya.

                “sampai kapan kau hanya bisa menatapnya?” Mario melingkarkan tangannya,”woman killer.” Dia tertawa.

                “itu kan karena kaulah yang Girl killer.” Sahutku. Woman memang sengaja dipakai oleh Mario untuk menyebut wanita yang lebih tua.

***

                “halo?” tanya seorang gadis.

                Ken menarik sedikit buku yang sengaja ia pergunakan untuk menutup wajahnya. “oh!” ia berjingkat dan berdiri.

                “kau tidur?” tanyanya menatap Hani lekat-lekat,”oh—kau dari kelas 1 ya?” ia tersenyum.

                 Ken tidak bisa menjawabnya dan hanya tersenyum. Jantungnya berdegup cepat, mungkin kalau berdegup lebih cepat lagi, jantungnya bisa meloncat keluar dari tubuhnya. Cairan di otaknya memanas. Ia tidak bisa menahan ekspresinya, tersenyum dan salah tingkah.

                “aku kira tempat ini hanya milikku. Tapi, kau juga tahu tempat seperti ini di sekolah kita.” Keluhnya kecewa,”hah~ aku bosan sekali.” Ia menyandarkan diri di dinding dan menoleh ke luar jendela.

                “ke-ke-“ Ken menghela nafasnya,”kenapa kakak bosan?” ia juga menyandarkan diri di dinding lainnya menghadap gadis itu.

                Gadis itu memutar bola matanya. “tidak tahu juga. Hehehe” ia tertawa lalu memejamkan matanya,”koridor kecil ini tempat paling nyaman kalau kau ingin merenung.”

                Ken mengangguk pelan. Ia menatap gadis di depannya. Ia pendek, kira-kira hanya setinggil bahunya. Itu juga karena Ken seorang atlit basket sekolah. Tinggi badannya melebihi laki-laki di kelasnya. Tangannya bergerak ingin menyentuh rambut kecoklatan gadis itu.

                “aku…” gadis itu membuka matanya.

                Ken meletakkan tangannya di dinding tepat di atas kepala gadis itu.

                Ia dapat menatap jelas wajah Ken dari dekat. Bibirnya terlalu kaku untuk sekedar mengatakan ‘apa yang sedang kau lakukan?’.

                “oh! Ahahaha!” Ken menarik tangannya,”tadi aku melihat ada serangga. Tapi seperti sudah pergi.”

                “eh? Oh.. begitu.” Gadis itu mengangguk-angguk.

“em—kakak, apa pendapatmu tentang menyukai orang yang lebih tua?”

Gadis itu bingung. Mengusap dahinya kemudian tertawa kecil sambil mengayun-ayunkan kakinya. “bagaimana ya? Aku bingung. Hahaha” mengadahkan wajahnya untuk dapat menatap wajah Ken,”sepertinya itu bagus. Tidak masalah kau tua atau muda. Selama kau bisa memperlakukan dia dengan baik. Aku rasa itu baik.”

“benarkah?” wajah Ken terlihat senang.

“kenapa? Apa seleraku aneh?” tanyanya.

Ken menangkap satu kata ‘selera’ dan semakin membuatnya senang. “oh—aku sepertinya harus latihan. Nanti sore, ada pertandingan lagi. Mau kah kakak datang?”

“tentu.” Ia mengulurkan tangannya,”Hani. Hani Safira.”

Ken menjabatnya,”aku—“

“Yuhiko Ken Anggara.” Sahutnya cepat.

“bagaimana kakak—“

“kau pemain basket. Semuanya kenal kau.” Ia tersenyum,”apa kau benar-benar blasteran Jepang?”

“sepertinya bagimana?” Ken membuka flap ponselnya,”iya~. Aku tahu. Sebentar lagi aku turun. Baik.”

“pergilah. Aku masih ingin disini beberapa menit lagi.” katanya.

Ken berjalan menjauhinya. Menoleh sebentar kebelakang dan kemudian memunggingnya. ‘Hani, atau… Honey’, gumamnya senang.

***

Pertandingan sudah hampir berjalan setengahnya. Ken masih tidak bisa menemukannya di barisan penonton. ‘mungkin dia tidak datang. Untuk apa datang hanya untuk melihatku.’ Gumamnya membesarkan hatinya.

“KENN!” Mario berteriak memberikan umpan.

Ken menangkapnya dengan baik dan berlari menuju ring. Masuk!

Waktu terus berjalan. Hani memang sepertinya tidak akan datang. Hingga akhirnya peluit di bunyikan.

“permainan berakhir! 40-55! SMAN 11 pemenangnya!” sahut MC dari luar lapangan.

“kenapa tidak senang?” Mario mendekati sahabatnya.

Ken menggeleng dan segera mengambil tasnya. “duluan ya.”

***

Hani melangkahkan kakinya keluar ruangan latihan tapi seseorang tiba-tiba saja muncul. “kenapa kemarin tidak datang?”

“oh!” Hani berjingkat mundur, mengedipkan matanya kaget,”oh—ah Ken, maaf ya. Aku kemarin ada hal penting.”

Ken masuk kedalam ruangan itu. Melihat sekeliling. Ruangan dengan kaca besar. “apa ini tempat latihan menari?” ia menoleh ke arahnya lalu mendekati rak penyimpan kaset,”aku rasa aku tahu beberapa lagu di rak ini.”

Gadis itu mendekatinya. “benarkah? Kau bisa menari juga?” katanya sambil mengikat rambut panjangnya.

“bagaimana ya?” tanyanya sambil memasukkan sebuah kaset ke dalam Tape,”ambil tempat dimana kau bisa melihat ke tampananku ya.” Katanya sambil melepas jas sekolahnya.

Hani tertawa mendengarnya dan mengambil tempat tepat di depannya. Duduk dan memandangnya. “…ini…” Hani mengenal lagu itu,”SHINee – Replay”

Ken mulai dengan gerakan pelan lalu dengan lincahnya bergerak menggambarkan arti dari masing-masing lirik lagu itu dan sedikit menyanyikannya. “¯kakakY cantik sekali~¯” katanya membahasa Indonesiakan arti lirik yang berbahasa korea itu,”…¯Replay Replay Replay… Thingking about u¯ Hey girl!”

Matanya tidak bisa berkedip sedikit pun. Tangannya terlalu kaku untuk bertepuk tangan.  Ia bisa merasakan jantungnya berdetak terlalu kencang. Adik kelasnya yang ada di depannnya saat ini benar-benar mengagumkan untuknya dan mungkin lebih tepatnya…

“kakak, aku—ehhm… aku menyukaimu. bagaimana kalau kita pacaran saja?” Ken berjongkok di depannya.

Hani masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.

“ahh~” keluhnya dengan nafas besar dan menggaruk kepalanya kasar,”memandangimu diam-diam setiap hari membuatku gila. Apa kakak tidak bisa membantuku menjadi normal?”

“aku—“ tangannya gemetar,”ta-ta-tapi aku..”

Ken menanggak maskud Hani berbeda. Ia segera bangkit dan mengambil jasnya yang tergeletak di lantai. “sepertinya aku mengerti. Aku minta maaf. Kakak bisa lupakan saja ini. Permisi.”

Ken memunggunginya. Berjalan menuju pintu. “ehg—Ken, bisa bantu aku?” panggilnya dan membuat Ken berbalik,”sepertinya kakiku kesemutan. Ehh—bisa bantu aku berjalan?”

Melihatnya duduk disana dengan kaki kesemutan membuat Ken tidak bisa untuk tidak membantunya. Ia menghampirinya dan memapahnya. “kenapa bisa kesemutan?” keluh Ken.

“haduh—jantungku…” Ken menatapnya aneh,”eh? Oh, ahaha bukan. Eh, bagaimana kalau mulai sekarang kita pergi dan pulang sekolah bersama?”

Tanda tanya besar jatuh mengenai kepala Ken. “apa?” jawabnya cepat.

“mulai sekarang jemput aku ya. Kau juga harus sering-sering menghubungiku. Akan ku usahakan datang untuk melihat pertandinganmu.” Cicit Hani.

Ken menangkap maksudnya. “oh! Ahaha.” Ia tertawa sambil terus memapahnya,”em, kenapa pacarku bisa secantik ini ya? ¯nunna nomu yeppo~”

Hani menutupi wajah malunya dengan telapak tangannya, sementara Ken terus saja menyanyikan lagu SHINee – Replay untuknya.
***

Sabtu, 24 Maret 2012

That Man That Women



that man that women by danhobak
inspired by : 4men ft Mi - That Man That Women with litte changes for my imagination.

warning : fast and confusing plot

if you don't like, don't read
don't bash the author or any character in this story
happy reading ^_^

.
.
.
.

That Man That Woman



Sungmin menatap makanan di depannya hambar. Diletakkan sendok di tangannya dan beralih menatap kursi kosong di depannya. Sungmin menghela nafasnya berat, matanya terpejam, berusaha menampik rasa sepinya.

Sebenarnya Sungmin sangat lapar saat ini, namja itu baru saja selesai bekerja part time di sebuah minimarket dekat rumahnya. Tapi namja mungil itu lebih memilih meninggalkan jatah makanannya dan beranjak keluar. Ada rasa dingin yang merasuki hatinya.

Langkah Sungmin terhenti di sebuah lapangan. Mata hitamnya tertuju pada beberapa namja yang sedang bertanding basket. Sungmin memutuskan untuk duduk menonton pertandingan itu untuk sekedar mengurangi penatnya. Tapi dia masih merasa sepi meski lapangan itu sangat ramai.

Merasa tak nyaman, namja berkulit putih itu melanjutkan perjalanan pulangnya. Sepanjang jalan, mata Sungmin nyalang melihat sekelilingnya. Kosong yang dia lihat, ada yang kurang, entah itu apa.

Jika boleh mengungkapkan isi hatinya sekarang, Sungmin benci sendirian. Dia tidak suka sendiri. Baginya sendiri adalah sesak, sepi, kosong, dan terasa ada yang kurang. Sungmin mengacak-acak rambutnya frustasi. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia benci seperti ini. Tapi itu percuma.

.

Ini sudah beberapa kali Sungmin berusaha untuk tidur tapi gagal. Berkali-kali pula dia 
mengubah posisi tidurnya tapi matanya sama sekali tak mau terpejam. Tanpa ekspresi Sungmin menatap tempat kosong di sampingnya. Dingin, itu yang namja itu rasakan. Wajar saja bantal berwarna biru laut itu memang sudah beberapa waktu ini tidak digunakan pemiliknya untuk tidur.

Sungmin menatap langit-langit kamarnya merana. Tubuhnya sama sekali tidak merespon rasa kantuk dan lelah yang mendera. Tangan kirinya meremas kuat-kuat seprai tempat tidurnya, matanya terpejam meredam rasa sesak yang menyiksa.

Namja itu itu akhirnya memilih bangkit dari tempat tidurnya dan keluar. Di depan pintu kamarnya, Sungmin kembali menatap nanar keadaan sekelilingnya. Entah kenapa terasa berbeda. Tidak ada rasa hangat lagi di sana karena saat ini dia hanya sendirian.

Terus teringat bahwa dia sendirian sekarang membuat perasaannya terasa sakit dan terluka. Tak sanggup lagi, Sungmin memilih duduk di meja makan yang ada di dekatnya tanpa mengalihkan matanya dari foto keluarga kecilnya yang terpajang di dinding. Airmata Sungmin perlahan turun saat menatap wajah yeoja dengan senyum mengembang yang bersamanya di foto itu.

Dengan kasar Sungmin menghapus airmata yang mengalir di pipi chubbynya. Kepala namja itu tertunduk, punggungnya bergerak naik turun mengisyaratkan dia masih terus menangis.

.

Sungmin meletakkan dua mangkok ramyeon di meja. Namja itu masih berpikir bahwa dia masih bersama kekasihnya. Saat tersadar, dia hanya terdiam menatap dua mangkok ramyeon di depannya tanpa sedikit pun ingin memakannya. Yang ada airmatanya yang tiba-tiba jatuh. Sungmin menangis lagi.

Dengan rakus Sungmin meneguk air putih di meja. Dia sedikit berharap bisa mendinginkan kepalanya sehingga merasa sedikit lebih baik. Sayangnya hal itu tidak membuatnya menjadi lebih baik. Rasa nyeri di dadanya malah semakin menjadi. Sungmin masih mengingat bagaimana sebagian dari dirinya pergi. Ingatan itu terus berputar bagai film di kepalanya, semakin lama semakin menyiksa.

.

Hari ini, Sungmin memutuskan untuk pergi dengan teman-temannya. Hanya jalan-jalan biasa saja namun namja manis itu berharap hal itu sedikit mengurangi bebannya. Sampailah mereka di sebuah kedai di pinggir jalan.

Sungmin meminum sojunya tak tahu itu botol yang keberapa, dia tidak peduli. Entah kenapa dia tiba-tiba merindukan kekasihnya. Sungmin terus minum untuk melupakan perasaannya itu. Tapi sebanyak apa pun ia minum, dirinya tetap sadar. Sadar bahwa dia sendiri, sadar bahwa dia membutuhkan kekasihnya, dan sadar bahwa dia sangat merindukannya saat ini.

Entah ini apa pengaruh soju yang dia minum atau memang kenyataan, Sungmin tidak bisa membedakannya lagi. Saat ini, di hadapannya, berdiri seorang yeoja manis yang sangat dirindukannya. Mata Sungmin mengerjap tak percaya. Namja itu bangkit dari duduknya dan mendekat pada yeoja itu. Tangannya terulur mengusap pipi chubby itu, lembut. Tanpa sadar Sungmin menghapus jarak diantara mereka. Dengan lembut dia mencium yeoja itu, manis dan memabukkan. Nyata atau mimpi, Sungmin tidak peduli lagi. Namja itu hanya tahu bahwa dia menginginkan yeoja dalam dekapannya itu sekarang kembali kepadanya.  

.

.

.

Aku menatap pemandangan di luar jendela dengan bosan. Kemudian mataku beralih pada teman-temanku yang terus mengobrol heboh. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Lagipula aku juga tidak mau tahu, aku tidak peduli.

Layar komputer di depanku terus menyala minta di sentuh entah itu sekadar untuk bermain game. Di layarnya sekarang terpampang banyak pesan masuk dari keluarga, teman, dan kenalan. Tapi aku tidak peduli, aku sama sekali tidak berminat untuk membalas semua pesan itu. Aku jauh lebih suka menatap foto keluarga yang berdiri di atas meja daripada layar komputer itu.

Kudengar ibuku terus mengomel di dapur. Aku tidak tahu dia mengomel tentang apa, aku malas mendengar dan menanyakannya. Dengan santai aku mengambil air dingin dari kulkas dan melewatinya begitu saja.

Rasa sakit dan sesak ini membuatku tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Perasaan itu terus menyiksa dan membuatku tidak baik. Tidak peduli apa pun yang sudah aku lakukan bayangannya terus saja mengikuti dan berputar di kepalaku.  

Tangan kananku tanpa sadar memukul-mukul dadaku yang terasa sesak, berharap bisa sedikit lega. Namun yang terjadi adalah rasa sakit dan sesak itu terus memenuhi dadaku. Tubuhku ambruk ke lantai bersamaan dengan airmata yang jatuh. Aku menangis lagi, entah untuk keberapa kalinya. Aku tidak peduli. Karena apa pun yang aku lakukan, sekeras apa pun aku melupakannya, itu sama sekali tidak berguna.

.

Aku mendapati diriku menyisir rambutku di depan cermin dan itu terlihat sangat rapi serta manis, hanya saja aku merasa tidak suka dengan semua itu. Terasa ada yang hilang dan itu membuatku percuma menyisir rambutku sebaik ini.

Airmata itu jatuh tanpa permisi saat aku menyadari apa yang telah hilang. Seseorang yang memujiku ketika aku ber dandan cantik seperti ini,  tidak ada. Seseorang yang biasanya akan pura-pura cemberut saat aku mulai menyombongkan betapa manisnya diriku itu tidak ada di sampingku lagi. Airmataku semakin deras saat menyadari bahwa aku sangat menyukainya. Apa 
pun tentangnya.

.

Aku tidak akan mau datang ke tempat ini kalau bukan gara-gara diseret secara paksa oleh teman-temanku yang brutal. Tempat ini terlalu banyak orang terutama sepasang kekasih. Aku tidak suka. Aku tidak suka melihat pasangan kekasih lain tersenyum bahagia dan tertawa bersama-sama seakan tidak ada beban. Aku benar-benar tidak suka. Hatiku terasa sakit melihatnya.

Entah ini pengaruh dari semua kegilaanku atau memang kenyataan. Mataku terpaku menatap pada sosok yang sangat aku kenal. Seseorang yang telah hilang dan aku merindukannya. Tanpa sadar kakiku melangkah mendekatinya.

Dia terlihat frustasi. Namja manis itu terlihat menyedihkan sama sepertiku. Aku tahu kenapa dia seperti ini. Namja itu terus menyebut namaku di tengah-tengah acara minum. Semakin terlihat bahwa kami sama-sama tersiksa dan sangat menyedihkan. 

Mata kami tiba-tiba bertemu, ingin sekali aku berbalik pergi tapi kakiku sepertinya sedang tidak ingin membantu apa pun. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekatiku. Tangannya yang halus terulur mengusap pipi. Jarak diantara kami semakin berkurang. Mataku terpejam saat ada sesuatu yang basah menyentuh bibirku. Meski ada bau alkohol yang menguar, aku tidak peduli, bagiku rasanya tetaplah lembut dan manis seperti biasanya.

Ini gila tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku menyadari benar bahwa aku merindukannya. Kueratkan pelukanku padanya. Hidungku menghirup aroma tubuhnya yang lembut. Aku menyukainya dan aku merindukannya. Aku benar-benar menginginkannya.

~e.n.d~


I hope to get RCL from reader .....
Thank's ^_^

Jumat, 23 Maret 2012

SHINee 샤이니_Sherlock•셜록 (Clue + Note)_Music Video




Yeah,, akhirnya ini abang-abang nongol juga.....
Setelah nunggu ampe jamuran dan keriting akhirnya SHINee is BACK......!!!!!!

Tambah bikin syok aja.....hehehehehe
Hanya saja kayaknya aku harus usaha ekstra keras buat belajar dance mereka yang ini.....secara namja banget, eoh....!!!!!
Tapi harus tetep semangat kan...????
For Shawol yang ada dimana aja,, tetaplah mencintai mereka dan mendukung mereka...
HWAITING......!!!!

Jumat, 16 Maret 2012

Memories_Ending


.
.
.

Kau mencoba bertahan dengan perasaanmu untuknya. Betapa bodohnya kau ini. Kau pernah berkata pada temanmu, untuk apa tetap bersama orang yang sudah menyakiti kita berulang kali. Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Bukankah kau sama saja dengan orang-orang bodoh itu? Bertahan meski berulang kali disakiti.

Saat kau berusaha keras untuk melupakan segalanya, dia kembali datang memberimu harapan. Lagi-lagi seperti itu dan terus seperti itu berulang kali. Kau ingin mempercayai harapannya tapi kau takut kembali sakit. Kau akhirnya memilih diam.

Dia terus datang dan itu membuatmu semakin kesal. Sekian lama kau telah diabaikan olehnya, dia datang dan memintamu untuk sabar dan mengerti akan dirinya. Bukankah itu sesuatu yang gila? Untuk apa dia kembali setelah menganggapmu tidak ada? Untuk apa dia kembali kalau kedatangannya hanya bisa membuatmu sakit? Bukankah itu adalah sesuatu yang tak berguna?

Berulangkali dia menjelaskan alasan kenapa dia mengabaikanmu? Dia bilang itu sementara. Untuk saat ini. Dia bilang masih mengingatmu, masih tau keberadaanmu, dan masih mengerti keadaanmu. Dia mengatakan masih tetap menjadi dia yang dulu,  yang ada untukmu. Dan itu membuatmu menangis sekali lagi.

Alasan apa yang bisa kau percayai untuk tetap pada perasaanmu? Alasan apa yang bisa membuatmu bertahan untuk tetap menunggunya? Kau mulai berpikir kenapa dia tidak melepaskanmu saja toh hubungan kalian hanya sebatas teman?

Akhirnya kau putuskan bahwa dirimulah yang akan melepaskannya. Itu jauh lebih mudah daripada terus bertahan di sisinya. Kau akhirnya mengakhiri cerita yang belum selesai ini. Bukan tidak ingin menyelesaikannya tapi inilah akhir cerita ini. Dulu kaulah yang memulainya maka kau jugalah yang harus mengakhirinya.

Kau sudah cukup lama menunggu hanya demi sesuatu yang konyol. Kau merasa harus kembali menjalani hidup tanpa dia. Perasaanmu sudah berubah, kau mengatakan tidak membencinya hanya perasaanmu sudah berubah. Karena kau tau bagaimana caramu membenci seseorang maka kau tidak ingin membenci siapa pun sekarang.

Kini, saat dia kembali datang. Kau hanya diam. Kau berusaha menjadi sepertinya juga, datang saat membutuhkan bukan datang saat dibutuhkan. Kau merasa akan adil jika seperti itu.

Perasaanmu telah menguar habis. Kau kembali mati rasa seperti dulu meski berusaha mengendalikan rasa tidak sukamu. Bagaimana pun orang tau kalau kalian dulu punya hubungan baik dan kau tidak ingin merusaknya?

Kau merasa cukup di sini. Kau tidak bisa menerimanya kembali itulah yang kau tau. Kau berterima kasih untuk hal-hal yang dilakukannya untukmu. Meski ini bukan akhir yang sesungguhnya tapi cerita ini memang sudah berakhir.

Template by:

Free Blog Templates