Infinite – Only Tears
Song-Fiction that inspired by A song
of Infinite
Written by M.V.P
Alunan Piano di dalam café mengalun merdu. Tuts-tuts
berdenting menyanyikan lagu ballad. Banyak pasangan yang sedang berteduh di
café ini sambil menikmati secangkir coklat panas. Kaca-kaca di jendela berembun
dan jalanan kelihatannya sangat basah malam ini. Walaupun hujan tidak terlalu
deras, tapi ini sudah berlangsung sejak tadi pagi. Hujan ini seperti
mencerminkan suasana hati seseorang.
“Oppa~ waeyo? Kau
tidak ingin pesan sesuatu?” tanya Seo
Jin.
Laki-laki berambut coklat kemerahan itu hanya menyeringai dan
memandangi keluar jendela.
“Eh, aku pesan coklat panasnya saja dua. Oh! Dan waffle
madu,” kata Seo Jin pada pelayanan pria itu.
Lagu yang dimainkan selanjutnya adalah lagu Infinite – Only
Tears versi Piano. Pianis muda itu tampaknya berbakat sekali dalam menekan
tuts-tuts itu, memainkan lagu Infinite dalam versi Piano-nya. Seluruh
pengunjung terpaku pada permainannya. Menantap dirinya tanpa berkedip.
“Yoon Shik, Oppa~
kau mau kemana?” tanya Seo Jin yang menahan lengan laki-laki berambut coklat
kemerahan itu dengan nama Yoon Shik.
Yoon Shik melepaskan tangan Seo Jin,”aku tidak suka lagunya.”
“Oppa, bukankah itu
berlebihan?” tanya Seo Jin lagi tapi Yoon Shik tidak menghiraukannya,”Oppa!”
Pianis itu berhenti memainkan pianonya. Yoon Shik dan Pianis
itu saling bertatap muka seperti sudah pernah mengenal sebelumnya. “Min- Min Kyung-ssi?” kata Yoon Shik terbata-bata.
“Min Kyung-ssi? Namaku Eun Jung. Kau mengganggu permainanku.
Harusnya kau menunggu sampai aku selesai bermain,” kata pianis berparas cantik
mirip dengan Lizzy After School.
Yoon Shik bingung harus melakukan apa. Gadis itu benar-benar
sangat mirip dengan seseorang dalam ingatannya. “Maaf~” katanya pelan sambil
membungkukkan badan.
“Min Kyung eonni? Cih~ Oppa,
apa yang kau akan lakukan kalau dia benar-benar Min Kyung eonni?” Seo Jin menanggapi sikap Yoon Shik dengan berapi-api saat
dia baru saja kembali ke tempat duduknya,”sampai sekarang kau masih
mengingatnya?”
Yoon Shik memilih untuk tidak menanggapi kemarahan Seo Jin.
“Ayo diminum, kalau dingin tidak enak,” kata Yoon Shik sambil mengangkat
gelasnya.
Bibir Seo Jin menipis, menyeringai pada Yoon Shik,”bukankah
Ommo-nim sudah menyuruhmu untuk melupakannya?”
“Seo Jin-ah, aku tidak ingin membahasnya.”
“Oppa, tidak bisa
kah kau mengerti perasaanku? Aku tunanganmu. Kenapa kau tidak pernah mencoba
mecintaiku?” Seo Jin tetap melayangkan protesnya.
“Geumanhae, Seo
Jin-ah.”
“Sekali pun kau tidak menghargai aku sebagai tunanganmu. Kau
selalu memikirkan gadis itu. kenapa kau seperti ini?”
“Han Seo Jin~!”
“Aku selalu ingin berada di posisi nya dalam hatimu. Wae?
Kenapa Oppa hanya menempatkanku
sebagai permintaan Ayahmu?!” Seo Jin kali ini mengeraskan suaranya.
“Geumanhae, Han Seo Jin!”
Yoon Shik berteriak padanya,”lihat? semua orang memandangi kita. Kau suka? Itu
yang kau harapkan?”
Seo Jin melihat keseliling, menahan kepalanya yang berat
karena penuh dengan kemarahan. Tangan
Yoon Shik menyentuh punggung tangan Seo Jin. Menepuknya pelan untuk membuat Seo
Jin lebih tenang.
“Cepat minum coklat panas-mu,” kata Yoon Shik pelan.
“Aku rasa, aku tidak enak badan. Aku mau pulang saja,” kata
Seo Jin yang langsung berdiri dengan membawa tasnya.
Yoon Shik menghela nafas panjang melihat tingkah Seo Jin.
“Tunggu aku di mobil. Eh~, paman tolong bill-nya!”
***
Riak-riak air berputar mengelilingi kaki Seo Jin. Segerombolan
ikan kecil berlari menghampiri kakinya. Remah roti pagi ini di tabur Seo Jin di
kolam. Sudah beberapa hari ini, Seo Jin menolak untuk makan. Setiap hari hanya
minum susu dan memakan 3-4 buah Tomat Cherry. Kedua orang tuanya sudah berusaha membujuknya
untuk makan, tapi Seo Jin tetap tidak mau makan.
“Ah!” jari telunjuk Seo Jin terluka karena semak berduri di
dekat kolam ikan.
Darah Seo Jin berenang di air kolam ikan saat telunjuknya
mengaduk air di sekitar kakinya.
“Siapa yang mengajarimu membasuh luka dengan air kolam?” tiba-tiba
saja Yoon Shik datang dengan masih memakan pakaian Dokternya,”maaf aku tidak
bisa datang kemarin. Sibuk sekali karena Rumah sakit sedang sangat ramai.”
Seo Jin menarik kembali tangannya dari tangan Yoon Shik. “Aku
tidak memintamu datang. Temui Ibu lalu pulanglah,” katanya dingin dan datar.
“Seo Jin~” sebut Yoon Shik.
Gadis itu menyeka dahinya dengan tangan kirinya dan
mengayun-ayunkan kakinya di dalam kolam. “Aku tidak suka di kasihani,” kata Seo
Jin pelan.
“Kau bukan pengemis, untuk apa aku mengasihanimu?” tanya Yoon
Shik, menarik paksa tangan Seo Jin dan menempelkan plester Pororo,”kau makanlah
sesuatu, baru aku akan pulang.”
Seo Jin menitikkan air mata tapi berusaha menutupinya dengan
melihat ke ke dalam kolam agar Yoon Shik tidak tahu. “Aku tahu mengapa aku
sangat menyukai Oppa sampai seperti
ini. Geundae, hanboman eh~ Sekali saja, aku ingin tahu rasanya ada di posisi Min
Kyung eonni. Dengan begitu aku akan
puas.”
Angin berhembus pelan di sekitar mereka. Langit tidak begitu
cerah, tapi tidak terlihat akan turun hujan juga. Sepertinya alam pun memberikan
sedikit dukungan untuk menyelesaikan masalah ini. Hari ini, semuanya akan
berakhir dengan…
CLUUPPP~
Yoon Shik merendam kakinya juga dan duduk di samping Seo Jin.
“Umm… Han Seo Jin, Aku minta maaf. Aku rasa kau mengerti bagaimana perasaanku lebih
dari orang lain. Sulit sekali bagiku
untuk melupakannya, tapi juga sulit untuk tidak menerimamu dengan baik. Walaupun,
sering terlihat kalau aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Seo Jin-ah, beri
aku sedikit ruang. Satu-satunya yang bisa kata-kata yang bisa kukatakan pada
Min Kyung hanyalah ‘Missing You’,
lalu selebihnya. Semua kata-kataku untukmu adalah tulus padamu. ‘Saranghae’, ‘Mianhada’,’Gomapta’, semua
kata-kataku itu kelak akan sering aku katakan padamu,” Yoon Shik memetik
ilalang berkapas di sampingnya dan meniupnya,”seperti kapas ini. Biarkan
kemarahan dan kebencianmu terbang, lalu biarkan aku melakukan selebihnya. Menjadi
yang terbaik untukmu.”
Butiran kapas itu terbang bersama angin. Mata sembab Seo Jin
menangkap pemandangan di depannya. Begitu indah karena semua Ilalang Kapas di
sekitar kolam juga ikut terbang. Mengkosongkan hati yang penuh-penat dengan beban,
setelah ini hati akan terasa lebih tenang dan nyaman. “Mi—mianhae~, jeongmal mianhe. Aku minta maaf, Yo—Yoon Shik Oppa,”
Seo Jin membuang mukanya untuk menyembunyikan air matanya,”Aku yang
begitu buruk karena memaksamu. Itu… Min Kyung eonni, Min Kyu~”
Yoon Shik sudah buru-buru menariknya dalam dekapan. Menepuk punggung
Seo Jin pelan, sementara Seo Jin menangis dalam pelukannya. “Tidak, Tidak… Oppa yang salah tidak bisa mengerti
perasaanmu. Mianhae, Oppa yang salah. Oppa janji akan menjagamu dengan baik. Jadi, berhentilah menangis.
Euh? Seo Jin-ah… aigoo, apa yang
harus aku lakukan?”
Min Kyung-ah, kau baik-baik saja?
Maaf karena aku tidak bisa melakukan
apapun untukmu
Anak ini, benar-benar tidak bisa aku
biarkan seperti ini
Min Kyung-ah, setelah ini aku akan
melakukan yang terbaik
Untuk Seo Jin dan dirimu…
Tapi, setelah ini juga
Aku hanya bisa mengirimu kata ‘Missing
You’ dari dalam hatiku
Hiduplah dengan baik demi pria malang
ini
Goo Yoon Shik~
***


2 komentar:
huaaaaah~~~ sedih bgt unni T_T
aku boleh ikutan nangis gak???
slruuuup.....*ngelap ingus*
lanjutt yang unni....aku mau lagi...kekekekeke
pyoooong~~~
Goo Yoon Shik itu kayak bad boy tapi juga good boy yaa?
jadi inget Kim Sunggyu
^00^ Infinite fighting!
Posting Komentar