Kamis, 10 Mei 2012

SF_ONLY TEARS_Infinite


Infinite – Only Tears
Song-Fiction that inspired by A song of Infinite
Written by M.V.P




Alunan Piano di dalam café mengalun merdu. Tuts-tuts berdenting menyanyikan lagu ballad. Banyak pasangan yang sedang berteduh di café ini sambil menikmati secangkir coklat panas. Kaca-kaca di jendela berembun dan jalanan kelihatannya sangat basah malam ini. Walaupun hujan tidak terlalu deras, tapi ini sudah berlangsung sejak tadi pagi. Hujan ini seperti mencerminkan suasana hati seseorang.

Oppa~ waeyo? Kau tidak ingin pesan sesuatu?” tanya  Seo Jin.
Laki-laki berambut coklat kemerahan itu hanya menyeringai dan memandangi keluar jendela.

“Eh, aku pesan coklat panasnya saja dua. Oh! Dan waffle madu,” kata Seo Jin pada pelayanan pria itu.

Lagu yang dimainkan selanjutnya adalah lagu Infinite – Only Tears versi Piano. Pianis muda itu tampaknya berbakat sekali dalam menekan tuts-tuts itu, memainkan lagu Infinite dalam versi Piano-nya. Seluruh pengunjung terpaku pada permainannya. Menantap dirinya tanpa berkedip. 

“Yoon Shik, Oppa~ kau mau kemana?” tanya Seo Jin yang menahan lengan laki-laki berambut coklat kemerahan itu dengan nama Yoon Shik.

Yoon Shik melepaskan tangan Seo Jin,”aku tidak suka lagunya.”

Oppa, bukankah itu berlebihan?” tanya Seo Jin lagi tapi Yoon Shik tidak menghiraukannya,”Oppa!”

Pianis itu berhenti memainkan pianonya. Yoon Shik dan Pianis itu saling bertatap muka seperti sudah pernah mengenal sebelumnya. “Min- Min Kyung-ssi?” kata Yoon Shik terbata-bata. 

“Min Kyung-ssi? Namaku Eun Jung. Kau mengganggu permainanku. Harusnya kau menunggu sampai aku selesai bermain,” kata pianis berparas cantik mirip dengan Lizzy After School.

Yoon Shik bingung harus melakukan apa. Gadis itu benar-benar sangat mirip dengan seseorang dalam ingatannya. “Maaf~” katanya pelan sambil membungkukkan badan.

“Min Kyung eonni? Cih~ Oppa, apa yang kau akan lakukan kalau dia benar-benar Min Kyung eonni?” Seo Jin menanggapi sikap Yoon Shik dengan berapi-api saat dia baru saja kembali ke tempat duduknya,”sampai sekarang kau masih mengingatnya?”

Yoon Shik memilih untuk tidak menanggapi kemarahan Seo Jin. “Ayo diminum, kalau dingin tidak enak,” kata Yoon Shik sambil mengangkat gelasnya.

Bibir Seo Jin menipis, menyeringai pada Yoon Shik,”bukankah Ommo-nim sudah menyuruhmu untuk melupakannya?”

“Seo Jin-ah, aku tidak ingin membahasnya.”

Oppa, tidak bisa kah kau mengerti perasaanku? Aku tunanganmu. Kenapa kau tidak pernah mencoba mecintaiku?” Seo Jin tetap melayangkan protesnya.

Geumanhae, Seo Jin-ah.”

“Sekali pun kau tidak menghargai aku sebagai tunanganmu. Kau selalu memikirkan gadis itu. kenapa kau seperti ini?”

“Han Seo Jin~!”

“Aku selalu ingin berada di posisi nya dalam hatimu. Wae? Kenapa Oppa hanya menempatkanku sebagai permintaan Ayahmu?!” Seo Jin kali ini mengeraskan suaranya.

Geumanhae, Han Seo Jin!” Yoon Shik berteriak padanya,”lihat? semua orang memandangi kita. Kau suka? Itu yang kau harapkan?”

Seo Jin melihat keseliling, menahan kepalanya yang berat karena penuh dengan kemarahan.  Tangan Yoon Shik menyentuh punggung tangan Seo Jin. Menepuknya pelan untuk membuat Seo Jin lebih tenang. 

“Cepat minum coklat panas-mu,” kata Yoon Shik pelan.

“Aku rasa, aku tidak enak badan. Aku mau pulang saja,” kata Seo Jin yang langsung berdiri dengan membawa tasnya.

Yoon Shik menghela nafas panjang melihat tingkah Seo Jin. “Tunggu aku di mobil. Eh~, paman tolong bill-nya!”


***
 Riak-riak air berputar mengelilingi kaki Seo Jin. Segerombolan ikan kecil berlari menghampiri kakinya. Remah roti pagi ini di tabur Seo Jin di kolam. Sudah beberapa hari ini, Seo Jin menolak untuk makan. Setiap hari hanya minum susu dan memakan 3-4 buah Tomat Cherry.  Kedua orang tuanya sudah berusaha membujuknya untuk makan, tapi Seo Jin tetap tidak mau makan.

“Ah!” jari telunjuk Seo Jin terluka karena semak berduri di dekat kolam ikan.
Darah Seo Jin berenang di air kolam ikan saat telunjuknya mengaduk air di sekitar kakinya.

“Siapa yang mengajarimu membasuh luka dengan air kolam?” tiba-tiba saja Yoon Shik datang dengan masih memakan pakaian Dokternya,”maaf aku tidak bisa datang kemarin. Sibuk sekali karena Rumah sakit sedang sangat ramai.”

Seo Jin menarik kembali tangannya dari tangan Yoon Shik. “Aku tidak memintamu datang. Temui Ibu lalu pulanglah,” katanya dingin dan datar.
“Seo Jin~” sebut Yoon Shik.

Gadis itu menyeka dahinya dengan tangan kirinya dan mengayun-ayunkan kakinya di dalam kolam. “Aku tidak suka di kasihani,” kata Seo Jin pelan.

“Kau bukan pengemis, untuk apa aku mengasihanimu?” tanya Yoon Shik, menarik paksa tangan Seo Jin dan menempelkan plester Pororo,”kau makanlah sesuatu, baru aku akan pulang.”

Seo Jin menitikkan air mata tapi berusaha menutupinya dengan melihat ke ke dalam kolam agar Yoon Shik tidak tahu. “Aku tahu mengapa aku sangat menyukai Oppa sampai seperti ini. Geundae, hanboman eh~ Sekali saja, aku ingin tahu rasanya ada di posisi Min Kyung eonni. Dengan begitu aku akan puas.”

Angin berhembus pelan di sekitar mereka. Langit tidak begitu cerah, tapi tidak terlihat akan turun hujan juga. Sepertinya alam pun memberikan sedikit dukungan untuk menyelesaikan masalah ini. Hari ini, semuanya akan berakhir dengan…

CLUUPPP~


Yoon Shik merendam kakinya juga dan duduk di samping Seo Jin. “Umm… Han Seo Jin, Aku minta maaf. Aku rasa kau mengerti bagaimana perasaanku lebih dari orang lain.  Sulit sekali bagiku untuk melupakannya, tapi juga sulit untuk tidak menerimamu dengan baik. Walaupun, sering terlihat kalau aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Seo Jin-ah, beri aku sedikit ruang. Satu-satunya yang bisa kata-kata yang bisa kukatakan pada Min Kyung hanyalah ‘Missing You’, lalu selebihnya. Semua kata-kataku untukmu adalah tulus padamu. ‘Saranghae’, ‘Mianhada’,’Gomapta’, semua kata-kataku itu kelak akan sering aku katakan padamu,” Yoon Shik memetik ilalang berkapas di sampingnya dan meniupnya,”seperti kapas ini. Biarkan kemarahan dan kebencianmu terbang, lalu biarkan aku melakukan selebihnya. Menjadi yang terbaik untukmu.”

Butiran kapas itu terbang bersama angin. Mata sembab Seo Jin menangkap pemandangan di depannya. Begitu indah karena semua Ilalang Kapas di sekitar kolam juga ikut terbang. Mengkosongkan hati yang penuh-penat dengan beban, setelah ini hati akan terasa lebih tenang dan nyaman. “Mi—mianhae~, jeongmal mianhe. Aku minta maaf, Yo—Yoon Shik Oppa,”  Seo Jin membuang mukanya untuk menyembunyikan air matanya,”Aku yang begitu buruk karena memaksamu. Itu… Min Kyung eonni, Min Kyu~”

Yoon Shik sudah buru-buru menariknya dalam dekapan. Menepuk punggung Seo Jin pelan, sementara Seo Jin menangis dalam pelukannya. “Tidak, Tidak… Oppa yang salah tidak bisa mengerti perasaanmu. Mianhae, Oppa yang salah. Oppa janji akan menjagamu dengan baik. Jadi, berhentilah menangis. Euh? Seo Jin-ah… aigoo, apa yang harus aku lakukan?”

Min Kyung-ah, kau baik-baik saja?
Maaf karena aku tidak bisa melakukan apapun untukmu
Anak ini, benar-benar tidak bisa aku biarkan seperti ini
Min Kyung-ah, setelah ini aku akan melakukan yang terbaik
Untuk Seo Jin dan dirimu…
Tapi, setelah ini juga
Aku hanya bisa mengirimu kata ‘Missing You’ dari dalam hatiku
Hiduplah dengan baik demi pria malang ini
Goo Yoon Shik~


***

2 komentar:

evilmagnae mengatakan...

huaaaaah~~~ sedih bgt unni T_T
aku boleh ikutan nangis gak???
slruuuup.....*ngelap ingus*

lanjutt yang unni....aku mau lagi...kekekekeke

pyoooong~~~

kabeombumpoem mengatakan...

Goo Yoon Shik itu kayak bad boy tapi juga good boy yaa?
jadi inget Kim Sunggyu
^00^ Infinite fighting!

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates