Perfect Boy Falls In Love Remake
.
.
.
Summary
Seorang aktor tampan yang
berniat menutup mulut tetangga barunya dengan cara mengencaninya. Berhasilkah?
Cast
Choi Minho; Lee Dae Hye; Baro; Jinyoung; Hyomin
Genre
Romance, Comedy (?) *mungkin*
Warning
Typo(s), penulisan yang masih jauh dari rata-rata dan semakin lama
semakin jelek. Jika tidak suka segera tinggalkan saja kerena danhobak tidak
menanggung efek sampingnya.
a/n
Remake dari sebuah manga Jepang milik Shiumi Saki yang berjudul sama “Perfect
Boy Falls in Love”. Danhobak hanya merubah beberapa adegan dan sedikit
alur cerita namun tidak mengubah konsep cerita yang sebenarnya. Karena ingin
menyesuaikan dengan gaya penulisan danhobak sendiri.
.
.
.
.
Dae Hye sedikit melirik ke arah apartemen
sebelahnya. “Orang baru?” gumamnya tak antusias. Dia menghela nafasnya tak
peduli sambil membuka pintu apartemennya sendiri.
Blaaam...
Da Hye menutup pintunya keras. Hari ini sangat
melelahkan baginya jadi ia ingin cepat-cepat istirahat. Diletakkan tasnya di
sofa sembarang. Saat akan mengistirahatkan tubuhnya, terdengar suara bunyi bel
mengganggunya.
‘Nugu?’ tanyanya dalam hati. Dengan gotai Dae
Hye menyeret kakinya untuk membuka pintu.
Saat Dae Hye membuka pintu, di depannya ada
seorang pemuda tinggi dan tampan. “Siapa? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Dae
Hye merasa tak mengenal pemuda berbadan atletis itu.
“Maaf, aku baru pindah,” jawab pemuda itu
membetulkan letak kacamatanya.
“Lalu?” Dae Hye mulai merasa tak sabar karena
pemuda di hadapannya itu terlalu basa basi.
“Ini,” sebuah kantong terulur pada Dae Hye.
“Aku rasa ini milikmu. Tadi terjatuh di depan pintu apartemenku.”
Mata Dae Hye terbelalak kaget. Segera dia
merebut kantong kertas kecil berwarna cokelat itu. Wajahnya memerah malu.
“Terima kasih,” ujarnya ketus. Setelah itu ia cepat-cepat menutup pintu.
“Sial,” umpatnya sambil melempar kantong
cokelat itu hingga isinya keluar. Hanya karena sebungkus pembalut wanita yang
baru dia beli, Dae Hye harus mendapatkan malu.
Karena bosan Dae Hye memilih menyalakan TV.
Kebetulan ada sebuah acara yang harus ia ikuti untuk tugas kuliahnya. Namun
detik pertama ia melihat acara itu, Dae Hye langsung tersedak. Bahkan air minum
di tangannya langsung tumpah.
“Apa-apa’an ini?” teriaknya tak percaya.
Di layar TV tampak seorang pemuda yang mirip
dengan pemuda yang tadi menemukan benda pribadi Dae Hye. Beruntungnya pemuda
itu sedang bercerita tentang moment saat ia menemukan barang rahasia wanita
itu.
Muka Dae Hye langsung memerah seketika. Tanpa
menunggu lama lagi ia langsung mematikan TV dan memilih masuk ke kamarnya.
Persetan dengan tugas kuliahnya. Namun langkah terhenti saat menyadari
kemiripan wajah pemuda yang ditemuinya tadi dengan yang ada di TV. “Apa dia
artis?” gumamnya. “Ah, siapa peduli....” sangkalnya kemudian.
.
Dae Hye mengacak-acak rambutnya kesal.
Gara-gara ia tidak mengerjakan tugas ulasan acara di TV kemarin, Dae Hye
terpaksa mendapat tugas tambahan, yaitu membuat kliping seorang artis yang
sedang naik daun. Choi Minho, seorang aktor muda yang sangat berbakat.
“Sial, kenapa harus kliping Choi Minho, sih?
Apa tidak ada yang lain?” Dae Hye menghentak-hentakkan kakinya tanpa menyadari
kalau ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. “Jangan-jangan Prof. Kim
itu fans namja angkuh itu lagi. Argh...sial..sial....” umpat Dae Hye menjambak
rambutnya frustasi.
“Apa Choi Minho seburuk itu di matamu?” sebuah
tangan terulur memeluk Dae Hye dari belakang.
Sontak gadis berambut cokelat itu memberontak
dan beringsut menjauh. Bahkan Dae Hye sampai menempelkan badannya ke tembok.
“Kau.....” matanya kembali membulat saat tahu siapa pelakunya. “Mau apa lagi?”
“Aku bisa membantu untuk mengerjakan tugasmu
tadi,” tawarnya dengan senyum ramah.
“Sigh...” cibir Dae Hye. “ Sekali pun kau itu
Choi Minho, aku tidak tertarik.”
“Benarkah? Gratis deh atau kau mau belikan
pembalut yang lebih banyak lagi,” pemuda itu berpura-pura sedih.
Dae Hye melirik sinis ke pemuda yang juga
berambut cokelat itu. “Kau mengejekku?” tanyanya sarkatis. “Ke neraka saja,”
Dae Hye langsung kabur dengan masuk ke apartemennya.
Ckleeeek..
“Gyah~~ mau apa kau ke sini?” teriak Dae Hye
tak suka. Jelas saja ia melakukan itu karena pemuda tadi malah mengikutinya
dengan masuk ke apartemen Dae Hye.
“Hari ini aku tidak ada jadwal dan aku bosan,”
jawabnya manja. “Aku ingin membantu mengerjakan tugasmu yang tadi, sepertinya
menarik.”
Dae Hye menatap datar ke arah pemuda di
hadapannya itu. “Siapa kau?” tanyanya dingin.
Pemuda berhidung mancung itu mendekatkan
wajahnya tepat di depan Dae Hye. “Aku...Choi Minho,” jawabnya tenang. Seulas
senyum terbentuk dari bibirnya.
Tak ada
jawaban. Dae Hye tidak beraksi apa pun. “Pergilah,” balasnya kemudian.
“Tapi aku ingin membantumu,” kata Minho sekali
lagi.
“Tidak. Terima kasih,” tolak Dae Hye.
“Ayolah.....” bujuk Minho memasang puppy eyes-nya
pada Dae Hye. “Atau kita pergi berkencan saja. aku rasa itu menarik,” terlihat
sekali Minho begitu bersemangat. Pemuda itu segera menarik tangan Dae Hye untuk
pergi.
“Gya~~ lepaskan aku....”
.
Ternyata Minho mengajak Dae Hye ke sebuah
restoran, tempat banyak artis yang berkumpul di sana. Mulai dari penyanyi
seperti Kangta hingga Sungmin dan Kyuhyun Super Junior pun juga ada di sana.
Semua orang melihat ke arah Minho dan Dae Hye saat keduanya masuk.
Kepala Dae Hye tertunduk malu. Penampilannya
sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang ada di sana. Ia hanya mengenakan
baju yang tadi dia pakai ke kampus. Berbeda jauh dengan pakaian artis-artis itu
yang elegan dan glamour.
“Kajja...” Minho menarik tangan Dae Hye lembut.
“Minho...” seorang gadis cantik mendekati
Minho. Dia adalah Sulli. “Kamu bersama yeoja ini? Apa tak salah? Dia tidak
cocok dan tidak pantas,” kata Sulli meremehkan.
Dae Hye semakin tertunduk. Ia merasa tidak ada
apa-apanya dibanding dengan Sulli yang cantik dan mempesona.
“Ah, aku tahu,” seru Sulli tiba-tiba. “Kamu ,
yeoja yang dibicarakan oleh Minho itu kan?”
Muka Dae Hye semakin memerah karena malu
mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Minho.
“Bukan urusanmu,” bela Minho menarik Dae Hye ke
pelukannya. “Dia adalah orang yang sangat penting bagiku. Tidak akan ku maafkan
siapa pun yang menyakitinya.
Sulli menghentakkan kakinya tidak terima. Gadis
itu kesal karena Minho lebih membela Dae Hye. “Kau menyebalkan,” tudingnya pada
Minho dan langsung berlalu.
“Maaf...” gumam Dae Hye lirih setelah Sulli
pergi. “Gara-gara aku, kau harus mengatakan hal itu.” Gadis berambut ikal itu
kemudian melangkah pergi.
“Mau kemana? Bukankah seharusnya kita
berkencan?” cegah Minho.
“Aku tak pantas di sini.”
Karena tidak ingin Dae Hye pergi, Minho kembali
menarik Dae Hye ke pelukannya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Minho memeluk
Dae Hye dengan erat. Seperti takut gadis itu menghilang kalau dia tidak ada
dalam pelukannya.
Drtt...drtt...drtt...
Ponsel Minho bergetar mengintrupsi acara
pemiliknya. Dae Hye buru-buru mendorong Minho menjauh.
“Yeoboseo, hyung?” Minho terdengar berbicara
dengan manajernya. “Ada apa?”
“.....”
“Apa? Aish, sial.....”
“.....”
“Baiklah. Tenang saja.”
Minho menutup telponnya dan mendekati Dae Hye.
“Kita keluar lewat pintu belakang,” katanya menggenggam tangan Dae Hye.
“Ada apa?”
“Ada yang membuntuti kita,” jelas Minho. “Nah,
masuklah ke mobil duluan.” Minho mendorong Dae Hye ke dekat mobilnya yang sudah
menunggu. Sedangkan dia sendiri berjalan ke arah yang berlawanan. Mendekati
sebuah mobil yang tak jauh dari mobilnya.
Dae Hye menatap Minho tak mengerti.
Minho mengetuk kaca mobil yang dia maksud
sambil tersenyum. “Tolong jangan difoto ya,” pintanya pada sopir mobil itu.
“Eh.....” senyum Minho menghilang saat melihat sopir mobil itu. “Babo dari Top
Eleven,” katanya datar.
“Namaku Baro bukan Babo~~ Jangan ganti-ganti
nama orang seenaknya,” semprot wartawan itu berang.
Dae Hye melihat pertengkaran dua orang itu dari
kejauhan. Ia kemudian memilih mengikuti instruksi Minho untuk masuk ke mobil.
“Eh....” Dae Hye cukup terkejut. Ternyata di dalam mobil Minho ada manajer yang
merangkap sebagai supir Minho.
“Kajja, kita pergi...” kata Jinyoung, manajer
Minho.
“Tapi Minho.....”
“Tenang saja. Dia jago olahraga...” Jinyoung
mulai menjalankan mobilnya dengan tenang. “Pasti sebentar lagi akan menyusul.”
Sebuah smirk muncul di bibir manajer bermata sipit itu.
Dan benar tak lama kemudian terlihat Minho
berlari melompati pagar pembatas jalan dan masuk ke dalam mobil tepat di
tikungan pertama. “Lama ya?” tanyanya dengan senyum andalannya.
Dae Hye menatap Minho tak mengerti. Dan semakin
tidak mengerti saat Minho tiba-tiba memeluk Dae Hye dan menyembunyikannya di
balik tubuhnya yang telungkup. “Pegangan yang erat. Kita diikuti si Babo,”
jelas Minho yang tetap pada posisinya. Menindih Dae Hye.
“Si Babo?” tanya Dae Hye bingung.
“Wartawan gosip yang membuntutiku kemana-mana.”
Setelah tak terkejar, Minho segera bangkit dari
posisinya. “Maaf membuatmu kaget,” katanya sambil memegang bahu Dae Hye. Sebuah
senyuman manis ia berikan untuk menenangkan gadis yang bersamanya itu. ‘Tenang
aku akan melindungimu.’
.
“Sial, tak terkejar,” gerutu Baro seorang diri.
Pemuda itu mengacak-acak rambutnya yang sejak awal memang sudah berantakan.
Tak lama kemudian tangan Baro mengepal kuat-kuat.
“Tapi lain kali, aku akan berhasil memfotomu. Awas kau, Choi Minho...!!!” seru
Baro berapi-api.
.
“Sudah sampai,” kata Jinyoung memberitahu kalau
mereka sudah sampai di apartemen Minho dan Dae Hye.
“Sstt....” Minho meletakkan telunjuknya di bibirnya.
“Dia tertidur,” ujarnya pelan. Minho menatap ke arah Dae Hye penuh arti.
Sedangkan Jinyoung hanya memperhatikannya dari
kaca dashbord. “Kau sudah menutup mulutnya?” tanya Jinyoung. “Kau tidak mau
tempat tinggalmu terbongkar kan?”
Minho sedikit terkejut mendengar pertanyaan
dari Jinyoung. Tak lama kemudian dia mulai menguasai emosi. “Iya, makanya aku
mengajaknya kencan. Yeoja itu gampang. Tinggal dibuat jatuh cinta, maka dia
akan mendengarkan semua perkataan kita.”
“Minho....” sela Dae Hye bangun. Ternyata gadis
itu mendengar semua pembicaraan Minho dan Jinyoung. “Tenang...” katanya sambil
tersenyum.
“Dae Hye....” ujar Minho terkejut. Tak
menyangka kalau Dae Hye akan mendengar apa yang dia katakan.
“Aku akan tutup mulut....” Dae Hye terus saja
tersenyum. Dia lalu keluar dari dalam mobil. “Dan aku juga akan melupakan
semuanya,” katanya kemudian berlari masuk ke apartemennya.
“Dae Hye...” panggil Minho yang tak diindahkan
oleh Dae Hye. Gadis itu terus berlari. Minho hanya bisa menatap sedih punggung
Dae Hye yang lama-lama menghilang.
“Tidak dikejar?” tanya Jinyoung dari balik
kemudi.
Minho terdiam. “Tidak usah. Dia bilang akan
tutup mulut kan? Jadi sudah tidak apa-apa.” Air mukanya tak tergambarkan
sekarang.
“Yakin?”
“.....”
Jinyoung masih memperhatikan air muka Minho
yang langsung berubah. “Tapi kenapa mukamu tidak terlihat seperti itu?” gumam
manajer berkulit putih itu lirih.
.
Dae Hye membuka kulkasnya dan mengambil sebotol
air dingin dari sana. “Huaaaaah~~~ leganya...” serunya sambil menatap
pemandangan luar dari berandanya. “Dari awal memang sudah aneh. Untung aku tak
percaya.... Tapi....”
“Meski begitu kenapa aku merasa sakit saat babo
namja itu mengatakannya? Kenapa aku merasa sangat ingin percaya padanya?” Tanpa
disadari airmata Dae Hye mulai berjatuhan. Gadis itu tertunduk sedih.
“Lee Dae Hye....” panggil seseorang.
Dae Hye menoleh. “Gya~~~....” jeritnya nyaris
terjengkang saking kagetnya. “Mau apa kesini? Bukankah aku sudah bilang akan
tutup mulut?”
Minho yang datang ke beranda Dae Hye dengan
melompat dari beranda apartemennya sendiri itu hanya diam. Namun ia lalu
melangkah mendekati Dae Hye. “Aku sendiri tidak mengerti,” artis tampan itu
mulai membuka mulutnya.“Awalnya memang hanya ingin menutup mulut. Tapi .....”
“Di tengah-tengah aku lupa tujuanku. Reaksimu
yang menolak pesonaku membuatku ingin terus di sisimu.”
Dae Hye menelan ludahnya. Dia menatap tak
percaya pada Minho. Gadis itu juga tidak bereaksi apa-apa saat Minho semakin
mendekat ke arahnya.
“Kalau kau tidak percaya. Larilah.....” ujar
Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Dae Hye. Mencoba menghapus jarak mereka.
Dae Hye masih terdiam. Matanya terkunci oleh
mata Minho yang berwarna hitam pekat. Saat Minho mulai menciumnya, Dae Hye
tidak menerima tapi juga tidak menolak.
“DAE HYE....AKU DATANG.....” teriak seseorang
dari arah masuk.
Seketika tautan Minho dan Dae Hye terlepas.
Keduanya sama-sama kaget.
“Dae Hye...oppa-mu yang tampan ini datang....”
“Oppa?” tuntut Minho.
Dae Hye terlihat kebingungan. “Itu...kakak
sepupu dari ibuku, Baro, yang tinggal di dekat sini,” jelas Dae Hye.
“Apa?” Minho terkejut mendengar penjelasan Dae
Hye. “Si babo....” gumamnya kemudian.
“Eh?”
Minho menoleh pada Dae Hye. “Orang yang ngotot
membuntutiku kemana-mana!”
“Hah?! Seingatku dia itu fotografer majalah
hewan,” jelas Dae Hye polos.
“Bohong...” bantah Minho menatap garang pada
Dae Hye. “Kau tahu ini dan menutupinya dariku,” tuduh Minho sembarangan.
Dae Hye berjengit mendengar tuduhan Minho.
Gadis itu melotot tidak terima. “Kenapa menyalahkanku? Aku benar-benar tidak tahu,”
sungutnya sengit. “Jadi aku sama tidak me....gyaaa~~~~~....” jerit Dae Hye yang
terpeleset.
“Awas?!” Minho segera meraih Dae Hye agar tidak
terjatuh. Malangnya keduanya malah terjatuh dengan posisi yang sangat elit. Dae
Hye malah tertindih oleh Minho dengan tak ikhlas.
“Appo...” rengek Dae Hye.
Suara derap langkah Baro mulai terdengar. Namun
Minho dan Dae Hye masih saja terpaku di tempat masing-masing. “Dae Hye kau ada
di luar???”
‘Bagaimana ini? Ketahuan?!’
.
Aku tidak
tahu semua terjadi begitu cepat. Terlalu banyak yang terjadi hingga membuatku
bingung. Perasaan sedih, senang, hatiku beraksi lebih cepat dari logika. Apa
ini? Apakah ini yang disebut cinta?
.
“Da.....”
Dueng!!!!
“Maaf aku salah kamar,” kata Baro langsung
berlari pergi. Pemuda berambut pirang itu kaget melihat Dae Hye dan Minho
hingga mengira kalau ia salah masuk apartemen.
Baru saat berada di depan pintu, Baro menyadari
kalau dia tidak salah masuk. “Lho? Aku benarkan?” matanya melotot melihat nomor
apartemen Dae Hye. Namun saat Baro masuk kembali, di beranda Dae Hye sudah
tidak ada siapa pun. “Lho?!”
Baro mengitari beranda kecil itu dengan
seksama. “Itu tadi cuma ilusiku saja ya? Atau jangan-jangan......”
Di balik pagar beranda sebelah, Minho semakin
mengeratkan pelukannya pada Dae Hye. Khawatir kalau-kalau Baro menemukan
mereka.
“Hantuuuuuuu..........!!!!!” teriak Baro panik
dan berlari masuk ke dalam rumah.
Barulah saat itu Minho dan Dae Hye bisa
bernafas lega. “Untung dia itu babo...” ujar Minho sambil membantu Dae Hye
berdiri. “Kajja, masuk dulu,” Minho menuntun Dae Hye masuk ke rumahnya.
“Aku pulang saja.... Maaf....” tolak Dae Hye.
“Pulang? Dengan gemetaran seperti itu?
Masuklah...” putus Minho final.
.
Minho menyodorkan segelas air mineral pada Dae
Hye. “Sudah baikan?” tanyanya khawatir.
Tidak ada jawaban dari Dae Hye. Gadis itu sibuk
menegak minumannya sampai habis. Kemudian kepalanya tertunduk sedih. “Maaf
sudah membuatmu marah, Min...” sesal Dae Hye.
“Daripada marah aku lebih mengkhawatirkanmu
tahu?!” teriak Minho keras.
Mata hezel Dae Hye seketika terkunci menatap
Minho. Pandangan yang tak tergambarkan terlihat jelas di sana. “Aku....”
“Saranghae, Lee Dae Hye. Jeongmal saranghae...”
ungkap Minho dengan sendu.
Dae Hye terpaku. Ia tidak tahu harus melakukan
atau mengatakan apa? “Aku pulang dulu,” itulah kata yang malah keluar dari
mulutnya.
“Bisakah kau tetap di sini, sebentar saja?”
minta Minho menyandarkan kepalanya di pangkuan Dae Hye.
Kedua insan itu terdiam. Mereka sibuk dengan
pikiran masing-masing. Mengartikan kejadian yang mereka lalui ini dengan cara
tersendiri.
“Minho...” panggil Dae Hye sebelum gadis
berambut cokelat keemasan itu keluar. “Bisakah kita bertemu lagi?”
Minho tersenyum tulus. “Tentu saja. Bahkan kau
bisa datang kemari kapan saja...”
Senyuman Dae Hye terlihat sebelum ia menutup
pintu apartemen Minho. Setelah Dae Hye pergi, Minho menyandarkan kepalanya di
bantalan sofa. Tangan kanannya memijat pelipisnya. “Gawat...kenapa dia manis
sekali?” gumam Minho.
.
Dae Hye menemukan Baro sedang terkapar tak
jelas di pintu masuk apartemennya. “Baro oppa, apa yang kau lakukan?” tanyanya
heran.
Mendengar Dae Hye datang, Baro segera bangkit
dan mencengkram bahu adik sepupunya itu. “Kau...sudah punya namjachingu ya?”
tuntut Baro dengan pandangan berlebihan.
“Hah?” Dae Hye berjengit kaget. Tak menyangka
Baro akan menanyakan hal seperti itu secepat ini.
“Tadi aku melihat ilusi aneh,” terang Baro
berapi-api. “Jadi kepikiran...”
Dae Hye hanya terdiam. Sebagian dari dirinya
tidak tahu harus melakukan apa sedangkan sebagian lagi ketakutan kalau-kalau
Baro tahu hubungannya dengan Minho.
“Kalau kau punya namjachingu juga tidak
apa-apa, kok,” Baro menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Asal kau bahagia
saja.”
Dae Hye tertunduk merasa bersalah. Namun hal
itu segera ditepisnya karena ada hal lain yang ingin ia tanyakan. “Ehm,
oppa....”
“Ya?”
“Baro oppa wartawan artis ya?” tanya Dae
Hye tanpa basa-basi.
“Lho aku belum bilang ya?” Baro mengerjapkan
matanya. “Aku pindah dari majalah hewan ke Top Eleven. Sekarang aku sedang
mengejar skandal Choi Minho. Tapi dia berhasil kabur.”
Tangan Baro terkepal kuat-kuat. “Dia terus saja
memperolokku. Namja yang paling aku benci di dunia,” geram Baro sambil
mengacungkan kepalan tangannya ke udara. Dae Hye sampai bergidik ngeri
dibuatnya. “Kenapa tiba-tiba tanya?” tanya Baro melembut.
Dae Hye menggelengkan kepalanya. Diurungkan
niat awalnya untuk berterus terang pada Baro. Keadaannya sangat tidak
memungkinkan. “Aku ke kamar dulu, oppa,” pamit Dae Hye yang dibalas anggukan
kepala oleh Baro.
.
Keesokan harinya, Baro melangkah santai
memasuki ruang redaksi. “Pagi...” sapanya ramah pada pegawai lain.
“Baro-yah...” panggil pimpinan redaksi Top
Eleven dengan penuh semangat.
Baro menoleh dan berjalan menghampiri atasannya
itu. “Ada apa, Bos?”
“Ini....” pimpinan redaksi itu meletakkan
sebuah foto di atas mejanya. Itu adalah foto seorang yeoja. “Kabarnya Choi
Minho sedang dekat yeoja ini.”
Baro terdiam mengamati foto di tangannya itu.
Dia terlampau kaget karena itu foto Dae Hye.
“Ambil foto mereka ya,” perintah pimpinan redaksi
bersemangat. “Kalau kita muat di edisi selanjutnya pasti laku keras.”
Baro masih terdiam. Tangannya meremas kuat-kuat
foto itu hingga tak berbentuk. Ingatannya melayang pada kejadian kemarin sore
di aparetemen Dae Hye. Itu bukan ilusi. Itu nyata. Pemuda yang sedang memeluk
Dae Hye waktu itu adalah Minho. Jadi, Choi Minho adalah namjachingu sepupunya
itu.
.
Minho baru saja pulang dari jadwal syutingnya.
Pemuda jangkung itu masuk ke lobi apartemennya ditemani Jinyoung di
belakangnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Baro yang menghalangi
jalannya. “Annyeong, si Babo....” sapa Minho sedikit meremehkan.
Tangan Baro semakin mengepal kuat-kuat. “Namaku
Baro,” ucap Baro dingin.
“Masih mengincar beritaku?” tanya Minho santai.
“Bukan.....” jawab Baro.
BRUGGG...!!!
Wartawan gosip itu menjatuhkan dirinya ke
lantai. Bersimpuh memohon di depan Minho. “Jebal, jangan libatkan
dongsaeng-ku,” mohonnya.
Wajah Minho langsung menegang seketika. Namun
dia berusaha menguasai situasi. “Memangnya orang sepertimu punya dongsaeng?
Malangnya dongsaengmu itu...” Minho berpura-pura tenang.
“Masalah kau dan dongsaeng-ku sudah ketahuan
media,” ujar Baro keras tak mempedulikan ejekan Minho. Pemuda itu masih belum
beranjakan dari posisinya. “Kalau masalah ini menjadi serius, kau tahu apa
akibatnya bagi Dae Hye kan?”
Minho memejamkan matanya sejenak. Air mukanya
sudah mengeras sejak tadi. Dia tahu betul apa akibat bagi Dae Hye jika
keberadaan gadis itu diketahui media. Dan Minho tidak menginginkan itu. Tanpa
mengatakan apa pun Minho berbalik, membatalkan niatnya untuk pulang ke
apartemennya.
“Sekarang belum terlambat,” teriak Baro dari
belakang Minho. “Jika kau menyukai Dae Hye, jangan temui dia lagi....”
Minho berusaha menulikan telinganya terhadap
permintaan Baro. Dia menahan kuat-kuat pemberontakan dalam dirinya. “Kita
pergi....” mintanya pada Jinyoung yang sudah ada di belakang kemudi.
Di tempat lain. Tepatnya di depan apartemen
Minho, ada Dae Hye yang memandang ragu ke arah pintu yang tertutup rapat itu.
Tangannya terulur ragu untuk memencet bel. “Mungkin dia sibuk,” hiburnya pada
diri sendiri. Dan membatalkan niatnya.
.
Dae Hye terus meruntuki kebodohannya. Untuk
kesekian kalinya dalam seminggu ini, dia selalu terpaku menatap pintu apartemen
Minho yang jelas-jelas terkunci rapat. Sebanyak apa pun Dae Hye mau menolak
tapi di sisi lain ia benar-benar ingin menemui aktor tampan itu.
“Tidak ada lagi?” gumam Dae Hye sedih. “Sesibuk
apa pun pasti dia pulang kan?” ia lalu berbalik menuju apartemennya sendiri.
“Atau jangan-jangan dia menghindariku?”
Jarum jam menunjukkan pukul 12 malam, Minho baru saja selesai syuting drama terbarunya. Selama di dalam mobil pemuda itu hanya diam memandang ke luar jendela. Jinyoung menjadi khawatir melihat itu. Ini bukanlah Minho yang biasanya.
Pemuda itu sekarang telah berubah semenjak memutuskan tidak menemui Dae Hye lagi. “Tidak pulang ke apartemen lagi?” tanya Jinyoung.
“Iya,” jawab Minho singkat. Perhatiannya terus saja teralih ke luar jendela. Pikirannya melayang mengingat Dae Hye. ‘Aku tidak akan menemui Dae Hye lagi,’ batinnya terus menguatkan diri.
~ dua minggu kemudian ~
Dae Hye duduk melamun di rumahnya. Pandangannya kosong. Berulang kali ia menggeleng tapi gadis itu sama sekali tidak bisa menepis bayangan Minho dari otaknya. “Aish, apa yang aku lakukan?” runtuknya kesal. Mengacak-acak rambutnya yang sudah tak ia sisir selama 3 hari.
“Aigooo~~~ Dae Hye!!! Apa-apa’an ini?” jerit Hyomin histeris. Bagaimana tidak, apartemen temannya itu seperti kapal pecah. Berantakan di sana-sini. Bukan kebiasaan Dae Hye yang suka kebersihan.
Dae Hye tidak menoleh. Dia hanya diam tak beraksi. Gadis itu baru bergerak saat Hyomin menyalakan TV dan melihat iklan terbaru Minho. Tanpa banyak kata, Dae Hye langsung merebut remote dari Hyomin dan mematikan TV-nya. “Jangan pernah melihat acaranya di sini,” kata Dae Hye memperingatkan.
“Wae? Bukankah kau juga suka padanya?”
“Aku membencinya. Sangat membencinya....” desis Dae Hye berbahaya.
Hyomin mencebik tak percaya. “Kalau kau
membencinya, kenapa membeli majalah tentangnya waktu itu?”
Tatapan membunuh Dae Hye langsung melayang ada Hyomin. “Kalau kau mau ambil saja, itu di tempat sampah....” ujar Dae Hye sambil menunjukkan kepalanya ke pojok ruangan.
Hyomin berjengit ngeri melihatnya. Nasib majalah yang dibeli Dae Hye beberapa hari yang lalu itu sangat mengenaskan. Terongok begitu saja, menjadi penghuni tempat sampah dengan sobek di sana-sini. “Kau yang melakukan ini?” tanya Hyomin hati-hati.
“Sudah ku bilangkan kalau aku membencinya....” Dae Hye masuk ke kamarnya. Tubuhnya terduduk lemas di lantai. “Kenapa aku seperti ini?” tanya Dae Hye pada dirinya sendiri. Air matanya malah sudah turun tanpa izin sejak tadi. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Beberapa kilometer dari apartemen Dae Hye,
Minho baru saja menyelesaikan pemotretan untuk sebuah produk. Dia melakukannya
dengan sangat baik. Tidak tampak sedang mempunyai masalah.
“Minho, sempurna sekali. Daebak....” puji sang fotografer.
Minho tersenyum dan membungkukkan badannya. “Terima kasih,” balasnya ramah.
Dari kejauhan Jinyoung terus saja memperhatikan sikap artisnya itu. Dia tahu benar kalau Minho berbohong. Senyum yang ditunjukkannya itu bukan senyum tulus tapi hanya sebuah kedok. ‘Kau terlalu memaksakan diri.’
“Jinyoung hyung,” panggil Minho menepuk bahu Jinyoung. “Kajja.....”
Jinyoung mengangguk. Kedua pemuda itu berjalan beriringan menuju ke mobil. Tapi saat akan masuk mobil, Minho malah hanya berdiri mematung. “Ada apa?” tanya Jinyoung.
“Boneka itu.....” Minho mengarahkan tatapannya pada sebuah boneka kelinci yang dipeluk anak kecil di parkiran. “Mirip seperti Dae Hye....” gumamnya lirih.
‘Mwo? Parah?!’ batin Jinyoung. “Sudahlah, ayo masuk. Kita bisa membelinya jika kau mau...” hibur Jinyoung yang dibalas anggukan kepala oleh Minho.
Sepanjang perjalanan Minho terus saja mengoceh. Mulai dari kue mochi yang ia makan sampai orang-orang yang mereka lewati, semua ia komentari. Minho menyamakan semua itu dengan Dae Hye. Sepertinya pemuda berhidung mancung itu sangat merindukan kekasihnya. Benar-benar parah!
.
“Mau apa kau mengajakku ke sini?” berontak Dae Hye dari Hyomin yang memegangi tangannya erat sekali.
Tak menggubris protes Dae Hye, Hyomin terus
saja menyeretnya ke gedung bioskop. “Kita mau nonton film-nya Minho...” jelas
Hyomin.
Mendengar itu Dae Hye menghentakkan tangannya kuat-kuat hingga pegangan Hyomin terlepas. “Shireo...sudah aku katakan kalau aku membencinya. Kalau mau nonton, sendiri saja....” tolak Dae Hye keras.
“Tidak bisa...kau harus ikut denganku,” Hyomin tidak mundur. Dia terus saja menyeret Dae Hye masuk. “Tunggu di sini. Jangan coba-coba kabur,” kata Hyomin memperingatkan. Kemudian ia melangkah untuk membeli tiket.
Dae Hye menghela nafasnya pelan. Matanya memandang nanar poster film yang ada di depannya. Dia meringis menahan sakit yang tiba-tiba menghujam dadanya saat melihat wajah Minho. Tanpa sadar air matanya lolos keluar.
“Hei, nona manis mau nonton denganku?” goda seorang pemuda.
Dae Hye menoleh. “Tidak, terima kasih,” tolaknya dingin. Kemudian bermaksud menyingkir. Sayangnya pemuda yang menggodanya itu malah menahannya.
“Mau kemana? Ayolah, kita bisa bersenang-senang,” pemuda itu mencekal tangan Dae Hye.
Dae Hye berusaha memberontak. “Lepaskan
aku.....”
“Bagaimana kalau aku ti....”
BUAAAAAKK.....
Rayuan tak berguna pemuda itu terputus karena pukulan yang mendarat di pipinya. Pemuda itu jatuh tersungkur.
“Jangan sentuh dia....” kata seseorang dengan nada dingin dan menusuk. Tangannya memeluk Dae Hye protektif.
Dae Hye menoleh ke arah orang yang menyelematnya. Betapa terkejutnya dia saat tahu kalau Minho-lah yang menolongnya.
“Hei...itu bukannya Choi Minho....” seru pengunjung bioskop.
Menyadari dirinya dikenali Minho segera menarik Dae Hye dan membawanya berlari pergi. menghindar dari orang-orang itu.
.
“Mau apa lagi?” tanya Dae Hye sarkatis. Saat ini mereka ada di dalam lift. Hanya berdua.
“Aku melihatmu dari dalam mobil, kau sedang
digoda pemuda itu. Refleks aku keluar dan....”
“Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu,” potong Dae Hye. “Jika kau ingin pergi, lakukan saja. Jangan bersikap baik padaku.”
Minho merasakan dadanya berdenyut nyeri mendengar penolakan Dae Hye terhadapnya. Ini menyakitkan untuknya. Dengan sekali gerakan, Minho menarik Dae Hye dalam pelukannya. Berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.
Tanpa diketahui Minho, Dae Hye kembali menangis.
“Aku membencimu...” isak Dae Hye.
Minho tertegun mendengarnya.
“Aku membencimu karena sudah membuatku sakit. Aku membencimu karena sudah membuat jantungku berdetak cepat. Ak....hmppp......”
Minho tidak tahan lagi. Minho tak sanggup mendengar penderitaan Dae Hye lebih dari ini, maka ia memilih membungkam gadis itu dengan menciumnya.
“Kau ingin membunuhku?” Dae Hye mendorong Minho karena kekurangan oksigen.
“Mianhe....” kekeh Minho menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Eh, mau kemana?” cegahnya saat Dae Hye akan melangkah pergi.
Dae Hye tersenyum. “Aku harus kembali kalau tidak Hyomin yang akan membunuhku,” terang Dae Hye. “Oh ya, meski ini terlalu cepat....” Dae Hye mendekat ke Minho dan menangkupkan tangannya ke wajah Minho. “Besok ulang tahunmu kan?”
“Darimana kau tahu?” tanya Minho heran.
Dae Hye mengerlingkan matanya lucu. “Aku rasa tugas Mr. Kim untuk membuat kliping tentangmu itu sangat membantu,” jawab Dae Hye sambil tersenyum. “Chuk...”
“Diam dulu...” Minho membungkam mulut Dae Hye dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi seseorang. “Hyung....batalkan semua jadwalku besok,” minta Minho tanpa basa-basi.
“%$%@$%$^!&^*&@*(?PO)(**^&^.....” Minho menjauhkan ponselnya karena ocehan Jinyoung di seberang sana bisa menulikan telinganya.
“Pokoknya batalkan!” ucap Minho final. Segera dia memutuskan telponnya dan menoleh ke arah Dae Hye dengan senyum merekah.
Dae Hye hanya diam tak mengerti.
“Ucapan selamatnya besok saja,” Minho menghampiri Dae Hye dan kembali memeluk gadis itu. “Karena besok kita akan bersama seharian,” bisiknya tepat di telinga Dae Hye.
.
Selama ini semua orang di sekelilingku selalu mengenakan topeng. Begitu juga aku. Aku ahli mengontrol diriku. Hingga tak ada satu pun orang yang menolakku. Begitu awalnya yang aku pikirkan. Sampai aku bertemu denganmu yang mengacuhkan pesonaku dan terang-terangan mengatakan kau membenciku.
Meski awalnya aku ingin menutup mulutmu dan membuatmu jatuh dalam pesonaku. Pada akhirnya akulah yang bertekuk lutut padamu. Ini pertama kalinya untukku. Apa pun yang menyangkut tentang dirimmu, aku langsung hilang kendali. Badanku bergerak sendiri. Sangat tidak keren tapi diriku yang seperti ini pun, mungkin tidak jelek.
.
“Choi Minho dimana?” terdengar teriakan dari
sudut ruangan.
“Cepat cari dia...” sahut yang lain.
“Cepat temukan dia.”
“Kalau sampai ketahuan media, bisa gawat....!!!”
Begitulah pagi yang kacau di kantor agensi Minho. Seperti yang diketahui kalau pemuda itu menghilang tepat di hari ulang tahunnya.
~ airport~
Dae Hye berjalan tergesa-gesa, tangannya digenggam erat-erat oleh Minho. “Kita mau kemana, sih?” tanyanya kesal. Pagi-pagi sudah di bangunkan dan diseret paksa ke bandara.
“Lihat saja nanti..” jawab Minho tanpa menoleh.
“Kau tidak berniat menculikku kan, Minho?”
Kali ini Minho berbalik. Menatap Dae Hye lekat-lekat. “Bagaimana kalau benar?”
“Gya~~~ lepaskan aku...” ronta Dae Hye yang tidak dipedulikan oleh Minho.
Minho mondar-mandir di depan toilet. Menunggu
Dae Hye yang dari 10 menit lalu belum juga keluar dari toilet. “Minho.....”
terdengar Dae Hye memanggilnya. “Mianhe, menunggu lama....”
“Apa kau sakit?” tanya Minho khawatir. Dae Hye menggeleng. “Kau lelah?” tanya Minho sekali lagi.
“Tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Dae Hye dengan senyum terbaiknya.
Minho merasa lega mendengar itu. Ia kemudian
mengaduk isi tasnya dan menyerahkan benda yang dicarinya pada Dae Hye.
“Penutup mata?” tanya Dae Hye bingung.
“Pakai saja. Akan ada kejutan untukmu,” jelas Minho.
Dae Hye diam terperangah. “Hah?”
Tanpa banyak pertanyaan lagi, MMInho segera membantu Dae Hye menutup matanya. Pemuda itu tersenyum senang. Sayangnya keadaan sedang tidak berpihak padanya saat ini.
“Sial! Dimana, sih?” terdengar suara Baro yang tertangkap oleh telinga Minho.
Pemuda itu segera menggendong Dae Hye mengingat mata gadis itu sedang tertutup. Minho kemudian membawa Dae Hye berlari pergi. “Pegangan yang erat,” pesannya pada Dae Hye yang ingin memberontak.
“Hei, tunggu...” seru Baro yang menyadari buruannya kabur. Ternyata Baro sudah mengikuti Minho sejauh ini. “Sial...” makinya saat tahu kalau Minho sudah pergi dengan taksi. Wartawan gosip itu segera menyusul dengan mengayuh sepeda yang entah ia temukan dimana.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Dae Hye penasaran sekaligus bingung.
“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin buru-buru saja,” jawab Minho sekenanya. Tanpa menyadari ia telah melukai Dae Hye sekali lagi. “Kajja...” Minho buru-buru menarik Dae Hye begitu mereka turun dari taksi.
Lagi-lagi Dae Hye kaget. “Kenapa terburu-buru, sih?” protesnya. Dia bingung di bawa oleh Minho kemana, apalagi matanya tertutup sekarang.
“Jangan bicara,” kata Minho singkat.
Baro meletakkan sepedanya sembarangan. Dia terus berlari mengejar Minho. Sayangnya, ia telah kehilangan jejak. “Tadi mereka turun di sini kan?” tanyanya pada diri sendiri. Baro berusaha keras menajamkan pendengarannya.
Di balik tembok sebuah gudang yang tak jauh dari Baro. Minho bersembunyi. Dengan protektif ia memeluk Dae Hye yang tak tahu apa-apa. “Minho....” panggil Dae Hye takut-takut.
“Ehm?”
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Sudah jangan dipikirkan,” bisik Minho menenangkan.
Dae Hye langsung mendorong Minho dan membuka penutup matanya. “Apa kau bilang? Tidak apa-apa?” pekiknya kesal. “Tentu saja ini apa-apa untukku. Bagaimana kalau kau benar-benar men......”
“Dae Hye...” Minho membungkam mulut Dae Hye untuk menghentikan protesnya. Sayangnya sia-sia karena gadis itu terus memberontak.
“YAAA~ LEE DAE HYE....” panggil Baro yang tiba-tiba berdiri di belakang Dae Hye.
Dae Hye langsung berjengit begitu pula Minho.
“Dasar! Dari tadi kabur terus,” gerutu Baro.
“Jangan-jangan daritadi kita itu kabur dari Baro oppa ya?” otak cerdas Dae Hye mulai bekerja. Dia menatap Baro dan Minho bergantian. “Kenapa tidak bi....” niat awal Dae Hye menuntut penjelasan dari Minho terhenti saat melihat wajah pemuda itu yang memerah. “Minho, kau sakit?” tanya Dae Hye cemas.
“Anni...”
“Lalu?” kejar Dae Hye.
Minho tersenyum miris. “Ternyata Baro tetap ngotot seperti biasa ya?” candanya mengejek Baro.
“Baro?!” yang punya nama malah terbelalak kaget. “Tumben benar?! Kau benar-benar demam ya?”
“Berisik,” bentak Minho tiba-tiba. “Itu bukan urusanmu.”
“Gyahh~~ kenapa kau aneh sekali?” balas Baro tak terima.
Dae Hye hanya diam memperhatikan pertengkaran Minho dan Baro. ‘Jangan-jangan.....’ sepertinya otak jenius Dae Hye benar-benar bekerja dengan sangat baik. Hanya dari melihat wajah Minho yang seperti itu, ia sudah tahu apa yang terjadi.
“Ugh...” Minho terlihat menertawai dirinya sendiri. “Aku gagal melindungimu lagi....” sesalnya.
‘Benar?!’ batin Dae Hye karena dugaannya tepat. Perlahan tangan Dae Hye menggenggam jemari Minho untuk menguatkan pemuda itu.
Baro yang menyadari dirinya dijadikan obat nyamuk segera mencairkan suasana.”Hei, bukan saatnya bermesraan seperti itu,” sindirnya tajam. “Sebentar lagi akan banyak media yang datang ke sini.”
“Eh?” Minho dan Dae Hye sama-sama terkejut.
“Karena kau membatalkan semua jadwal, semua media jadi mengincar kalian,” jelas Baro. “Cepat pergi da.....”
“Hei, itu kan?” terdengar suara dari arah belakang mereka.
Baro langsung panik dibuatnya. “Palli, pergi dari sini?!” perintahnya.
“Tapi.....” Dae Hye masih bertahan.
“Jangan khawatirkan aku,” kata Baro pada Dae Hye.
“Lho? Baro dari Top Eleven,” sapa dua orang yang menenteng kamera kemana-mana itu menghampiri Baro. “Kau juga mengejar Choi Minho?”
Baro mengangguk mantap agar tidak ada yang curiga. “Yup! Benar sekali,” candanya. “Tapi sayangnya mereka tidak ada di sini,” ujarnya kemudian.
“Oh, begitu ya?! Baiklah, terima kasih,” ucap kedua orang itu dan berlalu pergi.
Minho dan Dae Hye keluar dari tempat persembunyian mereka. Dan menatap Baro dengan perasaan yang tak tergambarkan. “Jangan salah sangka! Aku melakukan ini demi Dae Hye,” kata Baro.
“Terima kasih,” Minho membungkukkan badannya pada Baro.
Baro terdiam, berdiri membelakangi Minho dan Dae Hye. “Cepat pergi!” usirnya kesal.
Minho mengangguk. Ia segera menarik Dae Hye menjauh. Kedua orang itu terus berlari menyusuri jalan setapak. “Ehm, aku rasa dari sini kau harus menutup matamu,” kata Minho sambil menggendong Dae Hye.
“Tidak mau,” tolak Dae Hye mentah-mentah. Dia tidak mau dibohongi untuk kedua kalinya. Meski begitu ia tetap menutup matanya dengan bersembunyi di ceruk leher Minho.
Minho terus berjalan dengan senyum merekah di bibirnya. “Sudah sampai...” katanya setelah berjalan agak lama.
Dae Hye membuka matanya. Dan langsung terperangah melihat pemandangan di depannya. Laut dangkal yang terbentang luas dengan langit biru yang terpantul indah di dalamnya.
.
Aku seperti akan dihisap oleh langit biru yang terpantul di permukaan laut yang dangkal dan tak berujung ini. Sama seperti dirimu yang membuatku tenggelam dalam pesonamu yang tak tergambarkan.
.
“Sejak melihat foto tempat ini, aku bertekad akan membawa orang yang ku sukai kemari,” cerita Minho sesekali melirik ke arah Dae Hye yang masih dalam gendongannya.
Mata hezel Dae Hye sama sekali tak berkedip. “Indahnya....” puji Dae Hye tanpa sadar.
Minho segera menurunkan Dae Hye. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Kedua terdiam cukup lama. Tanpa disadari Minho memperpendek jarak mereka. Dan.....
“A...airnya bersih ya?” Dae Hye menghindar dan menjauh dari Minho. Mati-matian dia menutupi kegugupan yang tiba-tiba menyergapnya. “Ku...kulit kerangnya lucu sekali,” kata Dae Hye terkekeh. Berjongkok untuk mengambil kulit kerang yang baru dilihatnya itu.
Minho tersenyum melihatnya dan berjalan mendekati Dae Hye yang memunggunginya. “Bagiku bukan kulit kerang......” Minho memeluk Dae Hye dari belakang. “Tapi yeoja yang ada dalam pelukanku sekarang,” bisiknya tepat di telinga Dae Hye. Membenamkan kepalanya di ceruk leher Dae Hye.
Dae Hye langsung membeku dibuatnya. Pikirannya seketika kosong. Dia bingung harus mengatakan apa. Tanpa sadar Minho sudah membalik tubuhnya dan....
Pluuung...
Kulit kerang yang dipegang Dae Hye kembali terjatuh ke air bersamaan dengan Minho yang menciumnya dengan lembut.
Seorang gadis berjalan sesantai mungkin sambil menenteng tasnnya. Tangannya sesekali memperbaiki kacamata yang bertengger di hidungnya. Berharap kalau penyamarannya tak terbongkar. Dia tahu kalau semua gerak-geriknya diamati oleh wartawan yang mengutitnya sejak tadi. Tepat di tikungan, gadis itu segera berlari secepat kilat.
“Lhoh? Kemana dia?” wartawan-wartawan itu kebingungan karena kehilangan jejak buruannya.
Dae Hye yang melihatnya langsung tertawa meledak. Tangannya merogoh saku mantelnya dan menelpon seseorang. “Hyomin, gomawo, ne...” katanya sebelum menutup telponnya. Kemudian dia melangkah tenang masuk ke apartemennya.
Greeeep...
“Kau jadi pintar mengecoh ya sekarang?” puji Minho yang tiba-tiba memeluk Dae Hye dari belakang. Tidak ada yang tahu darimana pemuda itu muncul.
Dae Hye sedikit kaget namun kemudian ia tersenyum manis. “Yeojachingu siapa dulu? Apa gunanya aku punya teman kuliah dari jurusan tata rias?”
“Tentu saja karena aku yeojachingu seorang Choi Minho,” gumam Minho. “Tapi apa tak apa-apa memanfaatkan temanmu, ehm?”
Dae Hye menggeliat kegelian karena Minho menciumi lehernya tanpa izin. “Gyaaah~~ menyingkir kau artis mesum,” dorongnya sampai Minho menabrak dinding. “Tidak lihat kita ada dimana sekarang?”
“Di depan pintu apartemenku ,” dengan polos Minho menunjuk ke apartemennya, “Dan apartemenmu juga.”
Dae Hye menghela nafasnya sebal. Tak habis pikir kalau namjachingu-nya itu sepolos ini. “Pulang sana. Aku mau istirahat,” usir Dae Hye kasar sambil membuka pintu apartemennya.
“Tidak mau,” kata Minho malah mengikuti Dae Hye masuk. “Aku mau di sini,” jelasnya berjalan ke beranda dan mengamati pemandangan kota di malam hari.
“Terserah,” jawab Dae Hye sekenanya. Dia memilih menyibukkan dirinya di dapur.
Minho tersenyum saat ia mengingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Dae Hye. Sungguh tak disangka-sangka. Tangan Minho merogoh tasnya dan mengeluarkan naskah drama miliknya. Kebiasaannya saat ada di beranda untuk menunggu Dae Hye.
“Kau lelah?” tanya Dae Hye yang datang dengan dua cangkir cokelat panas. Setelah meletakkan kedua cangkir itu di meja, tangannya terulur memijat bahu Minho. “Pasti sangat lelah...”
Minho menggeleng dengan senyum di bibirnya. “Tidak juga. Aku harus bekerja keras agar bisa menikah denganmu,” kata Minho tanpa beban.
“Percaya diri sekali. Siapa juga yang mau menikah denganmu, hah?” Dae Hye memukul bahu Minho keras-keras. “Aku masih ingin melakukan banyak hal,” terangnya sambil menerawang menatap langit.
“Aku akan menunggu,” komentar Minho sambil memeluk Dae Hye. “Spshdugggru......” kemudian ia membisikkan sesuatu di telinga Dae Hye.
Gadis itu terkejut dibuatnya. Menatap ke arah Minho lekat-lekat dan tersenyum. “Nado saranghae...” balasnya lalu menghadiahi sebuah ciuman lembut di pipi aktor tampan itu.
~ end ~
oOo
Gyaaaah~~ jadinya kenapa sangat mengerikan??
Alurnya cepet gak ketulungan. Namanya juga komik (=_=”). Okelah, danhobak
menerima kritik dan saran. Jangan lupakan itu! Pyooong~~~ (^_~)
*danhobak harus buru-buru kabur....*
*danhobak harus buru-buru kabur....*









