That eyes make me crazy
Make me a loser but it’s lovely
This sense is not perfect
But that’s become perfect when we
fill in
I like you, my innocent eyes
Forever
.
.
.
The Innocent Eyes
.
.
.
“Oppa, saranghae...” kata salah seorang hobae pada Gunwoo. Entah itu yang
keberapa kalinya untuk satu minggu ini. Gunwoo mendesah pelan dan mengalihkan
pandangannya pada seorang yeoja yang
berdiri tak jauh darimu. Pemilik mata innocent
yang selalu menggoda namja berambut hitam pekat itu. Gunwoo menatap yeoja itu untuk meminta pertimbangan
namun yeoja itu hanya berdiri diam berbalik menatapnya datar.
“Mianhe....” itulah kata-kata yang
akhirnya keluar dari mulut Gunwoo, entah yang keberapa kalinya juga. Hobae itu mengangguk mengerti dan
akhirnya meninggalkan Gunwoo dengan perasaan hancur. Hobae itu adalah yeoja
yang kesekian kalinya yang ditolak Gunwoo dalam seminggu ini belum terhitung minggu-minggu
sebelumnya.
Gunwoo lalu
menghampiri yeoja bermata innocent yang dari tadi menatapnya.
“Ditolak
lagi?” tanya yeoja itu sambil
memiringkan kepalanya, lucu.
Tak ada kata
yang keluar dari mulut Gunwoo. Namja
itu hanya menatap mata yeoja di
depannya itu dan membiarkan dirinya tersesat jauh ke dalam mata cokelat itu. ‘Selalu
begitu’, batin Gunwoo.
Kenapa mata
itu sama sekali tidak menunjukkan kilatan marah atau cemburu padanya? Yang ada
dalam mata cokelat gelap itu adalah perasaan tulus yang menyenangkan bagi Gunwoo.
“Ayo pulang...” ajak Gunwoo. Yeoja itu
mengangguk riang tanpa ada beban sedikit pun.
oOo
Gunwoo buka
pintu apartemennya. Gelap! Itulah hal yang pertama tertangkap oleh namja jangkung itu. Tidak biasanya. ‘Apa
dia pergi belanja?’ tanya Gunwoo dalam hati.
Gunwoo tetap
membiarkan apartemennya dalam kegelapan. Tidak ada niat sedikit pun darinya
untuk menyalakan lampu. Dia lalu berjalan ke balkon saat menyadari orang yang
dicarinya ada di sana. Gunwoo lalu memanggil kekasihnya, “Yeobo....”
Benar yeoja itu memang ada di balkon. Dia
tersenyum di bawah sinar bulan. “Kau sudah datang,” sapanya pada Gunwoo.
“Kenapa?”
tanya Gunwoo sambil memeluk tubuh ramping yeoja
itu dari belakang. Membenamkan kepalanya di ceruk leher kekasihnya.
Menyesap setiap aroma yang menguar dari tubuh berkulit putih itu. “Kenapa
lampunya tidak dinyalakan?” tanyanya lembut.
Lagi-lagi kekasih
Gunwoo itu tersenyum memamerkan deretan gigi kelincinya. “Boleh aku memelukmu?”
tanyanya penuh harapan.
Gunwoo
tertawa. “Kenapa harus bertanya? Aku milikmu, kau boleh memelukku kapan saja?” Namja itu lalu mendekap yeoja itu erat dan berbagi kehangatan.
Dalam hati Gunwoo,
dia selalu bertanya, apa hanya dirinya yang merasakan kenyamanan dan kehangatan
ini? Apa hanya dirinya yang menjadi milik yeoja
berparas manis itu tanpa dia bisa menjadi milik Gunwoo juga?
Dalam benak Gunwoo
dipenuhi keraguan pada kekasihnya itu, hanya karena mata innocent yang tak pernah menghalanginya didekati yeoja lain. Gunwoo menginginkan yeoja itu menahannya agar bisa terus di
sisinya.
Namun
lagi-lagi mata itu tak pernah menunjukkan apa pun. Gunwoo mulai meragukan semua
yang dia lakukan. Apa keputusannya menikahi yeoja
bermata innocent 8 bulan lalu itu
sudah tepat?
oOo
Tanpa Gunwoo
tahu, sebenarnya mata innocent itu
selalu berkilat kesedihan setiap ada yeoja
yang mendekati namja tampan itu. Gunwoo
tidak tahu bahwa mata innocent itu
selalu marah saat ada yeoja
menyatakan perasaannya pada Gunwoo. Gunwoo juga tidak tahu kalau mata innocent itu hanya tenang dalam
jangkauannya. Dan Gunwoo benar-benar tidak pernah tahu bagaimana mata innocent itu menyembunyikan semua
perasaan yang muncul terhadapnya.
Mata innocent itu berhasil menyembunyikan
setiap detak jantungnya yang selalu meneriakkan nama kekasihnya. Dan lagi-lagi Gunwoo
tidak pernah tahu itu. Mata innocent
itu hanya bisa menyembunyikan semua perasaannya tanpa bisa mengatakannya. Jadi
sebenarnya bukan sepenuhnya salah pemilik mata innocent itu jika Gunwoo tak mengerti.
oOo
Gunwoo menyibak
rambut yang menutupi wajah polos kekasihnya yang tertidur pulas seperti anak
kecil di pelukannya. Jejak airmata terlihat samar di pipi chubby yeoja itu. Meski begitu Gunwoo tetap
bisa melihat guratan yang sudah menganak sungai itu di bawah sinar bulan.
Namja itu terkejut. Dalam hati dia bertanya apa yang membuat mata innocent kesayangannya itu mengeluarkan
airmata? Adakah sesuatu yang menyakitinya? Dan Gunwoo tak tahu itu?
Yeoja itu menggeliat pelan dan mulai membuka matanya. Gunwoo
tersenyum saat dia minta maaf karena tertidur.
“Ada yang
ingin aku tanyakan?” tanya Gunwoo lembut.
“Apa?”
jawabnya tanpa beranjak. Sepertinya dia sangat suka berada dalam jangkauan Gunwoo.
Di dalam dekapan kekasihnya.
“Kenapa
menangis?”
Yeoja itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Gunwoo. Dia tak
menjawab apa pun, hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.
Gunwoo
mengira kekasihnya itu tak mau bercerita. Gunwoo sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya
yeoja itu tertunduk untuk menyembunyikan
rona merah di pipinya. “Kenapa?” tuntut Gunwoo sekali lagi.
Dia tetap
diam. Gunwoo mulai gusar. Hingga akhirnya namja
itu merasakan bibirnya menjadi hangat. Pemilik mata innocent itu menciumnya dan Gunwoo sangat senang akan hal itu.
“Saranghae,” bisiknya pelan tepat di
telinga Gunwoo. “Aku menangis karena menjadi yeoja yang buruk untukmu. Banyak yeoja di luar sana yang mendekatimu dan semuanya lebih baik dari
aku. Aku sungguh tak pantas. Aku juga ingin memilikimu tanpa berbagi pada siapa
pun,” katanya jujur.
Dada Gunwoo
seakan meledak saat mendengar pengakuan kekasihnya itu. Ternyata mata innocent itu tetap memperhatikannya. Memastikan
Gunwoo tetap dalam pandangannya. Mata innocent
itu benar-benar menyesatkan seperti harapan namja
itu. Dan tentu saja Gunwoo senang akan hal itu.
Gunwoo
kemudian menarik yeoja itu dalam
dekapannya dan berbisik, “Nado saranghae.
Aku menyukai dirimu yang seperti ini dan tetaplah seperti ini karena aku
milikmu.”
Malam ini di
bawah sinar bulan dan diiringi desiran angin, Gunwoo menikmati perasaannya yang
bergejolak. Saat malam terus menua, Gunwoo mengajak kekasihnya itu masuk dan
melanjutkan perjalanan perasaan itu bersamanya di peraduan mereka.
~e.n.d~
Ngeeek~~~ what this?? Mian, ini cerita hasil danhobak bongkar-bongkar file. Jujur saja cerita ini tak pantas keluar karena pendek dan danhobak gak sempet ngedit lagi. Alasannya, danhobak cuma lagi pingin posting tapi gak ada ide mau posting apa...hehehehehe. Jadinya, terpaksa bongkar file bulukan dan nemuin ini. Semoga readers ada yang suka.....amien.
Please comment and happy reading....
#kabuuuuuur
#kabuuuuuur








0 komentar:
Posting Komentar