Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah
Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat aku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku telah jauh darimu
(Seventeen - Ayah)
.
.
.
Ayah
.
.
.
Inilah kalau
udah kesambet hantu pohon taoge. Inspirasi datang mana saja dan ingat apa aja
kecuali hutang...wkwkwkwkwk. Well, kali ini tiba-tiba danhobak keinget sama
appa yang lagi ada di rumah. Jadi, kali ini danhobak akan mengangkat tema
tentang orang tua laki-laki kita itu. Bagaimana kita memanggilnya?
Bapak?
Ayah?
Papa
Papi?
Appa?
Abeoji?
Dad?
Apa saja
panggilan kita itu bukanlah yang terpenting tapi bagaimana kita menyanyanginya
itulah yang paling penting? Di dalam agama danhobak dikatakan bahwa orang yang
harus kita hormati dan kita harus tunduk padanya adalah ibu, ibu, ibu, kemudian
bapak.
Memang benar,
alasannya karena ibu adalah orang yang mengandung kita selama 9 bulan 10 hari –
waktu normal – dengan susah payah, melahirkan kita dengan pertaruhan nyawa, dan
ibu yang melakukan banyak hal lagi. Namun, di samping seorang ibu pasti ada ayah.
Ayah juga
mempertaruhkan nyawanya untuk menafkahi keluarganya dan menanggung keluarganya
di sepanjang hidupnya. Banyak gambaran tentang sosok ayah. Dia adalah orang
yang bertanggung jawab, tegas, keras, berwibawa, dan masih banyak hal lainnya
yang tidak bisa dikatakan. Meski kadang digambarkan sebagai orang yang keras,
dibalik itu semua sebenarnya ayah adalah orang yang lembut dan sabar. Porsinya hampir
sama dengan ibu.
Sepuluh menit
yang lalu, di depan danhobak, ada seorang ayah yang membawa sebuah nampan yang
berisi dua porsi makanan. Awalnya, danhobak kira itu adalah untuknya tapi
ternyata salah. Makanan itu diberikan pada dua orang anaknya yang sudah
menunggu dari tadi. Setelah meletakkan makanan itu di meja, sosok ayah itu
kemudian duduk. Dia tidak makan dan memilih memperhatikan anak-anaknya yang
makan dengan lahap sambil sesekali melempar candaan.
Melihat itu,
danhobak langsung ingat pada ayah danhobak yang berada jauh berkilo-kilo meter
dari tempat danhobak sekarang. Apa yang dilakukan bapak tadi sama seperti apa
yang ayah danhobak lakukan di rumah? Beliau banyak mengalah pada kami, anak-anaknya.
Kadang meski ayah lapar, beliau tetap rela memberikan jatah makannya untuk
dongsaeng danhobak yang kayak evil dan tukang makan itu.
Ayah rela
menahan dan menanggung penderitaan agar bisa melihat anaknya bahagia. Dia tidak
peduli bagaimana caranya asal anak-anaknya bisa mendapatkan yang terbaik. Dia tidak
peduli jika harus menerima cacian dari orang lain, dia bahkan rela merendahkan
harga dirinya asal bukan anaknya yang diperlakukan seperti itu.
Danhobak bersyukur
karena mempunyai ayah yang pengertian dan jauh dari kesan kaku. Jika teman-teman
danhobak menggunakan bahasa yang formal dan sopan ketika berbicara dengan orang
tuanya terutama ayah, danhobak malah berbicara seperti dengan teman sendiri. Justru
terasa aneh jika danhobak menggunakan bahasa formal dan sopan, parahnya lagi
biasanya danhobak diketawain sama ayahnya sendiri. Pasti dikatain ada maunya. (=_=”)
Seumpama nih,
readers tiba-tiba kesasar dan gak tahu jalan, siapa yang pertama kali readers
hubungi dan minta bantuan?
Kalau danhobak
sih jelas telpon ayah-lah. Karena mau siapa lagi yang bisa dimintain bantuan
sama danhobak? Bahkan tanpa diberitahu pun ayah danhobak biasanya langsung tahu
kalau danhobak lagi dalam masalah. Begitu dapat masalah, tinggal tunggu
hitungan detik aja, pasti orang rumah langsung telpon....hahahahaha. Kecuali
urusan jatah bulanan yang belum datang. Biasanya kalau yang itu, danhobak
duluan yang telpon. Kebiasaan orang rumah adalah pura-pura lupa kalau mau
ngasih jatah (-_-“)
Balik lagi ke
sosok ayah. Dari kecil sampai sekarang, sosok ayah selalu mengagumkan bagi
danhobak. Alasannya adalah – sepertinya – seorang ayah itu selalu tahu
segalanya. Mulai dari nama jalan sampai sampai sudut kota. Gak itu aja di
setiap tempat biasanya dia memiliki banyak kenalan. Keren...!!!
Karena
itulah, dari dulu danhobak mau seperti ayah danhobak. Tahu semuanya meski
jarang kemana-mana. Banyak pengalaman mulai dari baik sampai yang buruk, gak
banyak omong *yang ini gagal*, dan memiliki kepribadian serta bertanggung
jawab.
Ibu adalah
orang yang menggendong kita saat kecil, tapi ayah mengangkat kita setinggi yang
dia bisa. Bersama ibu, ayah memberikan segalanya yang dia punya. Cintanya,
kasihnya, sayangnya, pikirannya, tenaganya, bahkan uangnya pun dia berikan
untuk kita.
Bagaimana seorang
ayah membuat kita menjadi sosok yang kuat dan tangguh? Menjaga saat kita sakit.
Menopang kita saat jatuh. Membimbing kita saat tersesat. Mengajarkan apa yang
tidak kita tahu. Mewujudkan apa yang kita inginkan. Seorang ayah itu sama
berartinya seperti ibu.
Dalam beberapa
kasus, termasuk danhobak, jika anaknya pergi jauh bukan ibu yang sedih tapi
malah ayah-lah yang menangis. Bahkan sampai urusan terkecil pun justru ayah
yang tahu daripada ibu. Bagaimana bisa begitu, danhobak juga tidak tahu?
Seperti apa
pun seorang ayah – asal bukan kriminal aja – dia adalah sosok yang selalu ada
di belakang anaknya untuk mendorong. Ada di samping anaknya sebagai teman. Dan ada
di depan anaknya sebagai pelindung. Dia adalah sosok yang bisa diandalkan. Penanggung
beban berat yang tak pernah mengeluh sedikit pun. Dia rela sakit demi
keluarganya.
Appa,
jeongmal saranghae.....



0 komentar:
Posting Komentar