Sabtu, 16 Juni 2012

About Dad..... ^_^


Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat aku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku telah jauh darimu
(Seventeen - Ayah)
.
.
.

Ayah
.
.
.
Inilah kalau udah kesambet hantu pohon taoge. Inspirasi datang mana saja dan ingat apa aja kecuali hutang...wkwkwkwkwk. Well, kali ini tiba-tiba danhobak keinget sama appa yang lagi ada di rumah. Jadi, kali ini danhobak akan mengangkat tema tentang orang tua laki-laki kita itu. Bagaimana kita memanggilnya?

Bapak?

Ayah?

Papa

Papi?

Appa?

Abeoji?

Dad?

Apa saja panggilan kita itu bukanlah yang terpenting tapi bagaimana kita menyanyanginya itulah yang paling penting? Di dalam agama danhobak dikatakan bahwa orang yang harus kita hormati dan kita harus tunduk padanya adalah ibu, ibu, ibu, kemudian bapak.

Memang benar, alasannya karena ibu adalah orang yang mengandung kita selama 9 bulan 10 hari – waktu normal – dengan susah payah, melahirkan kita dengan pertaruhan nyawa, dan ibu yang melakukan banyak hal lagi. Namun, di samping seorang ibu pasti ada ayah.

Ayah juga mempertaruhkan nyawanya untuk menafkahi keluarganya dan menanggung keluarganya di sepanjang hidupnya. Banyak gambaran tentang sosok ayah. Dia adalah orang yang bertanggung jawab, tegas, keras, berwibawa, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa dikatakan. Meski kadang digambarkan sebagai orang yang keras, dibalik itu semua sebenarnya ayah adalah orang yang lembut dan sabar. Porsinya hampir sama dengan ibu.

Sepuluh menit yang lalu, di depan danhobak, ada seorang ayah yang membawa sebuah nampan yang berisi dua porsi makanan. Awalnya, danhobak kira itu adalah untuknya tapi ternyata salah. Makanan itu diberikan pada dua orang anaknya yang sudah menunggu dari tadi. Setelah meletakkan makanan itu di meja, sosok ayah itu kemudian duduk. Dia tidak makan dan memilih memperhatikan anak-anaknya yang makan dengan lahap sambil sesekali melempar candaan.

Melihat itu, danhobak langsung ingat pada ayah danhobak yang berada jauh berkilo-kilo meter dari tempat danhobak sekarang. Apa yang dilakukan bapak tadi sama seperti apa yang ayah danhobak lakukan di rumah? Beliau banyak mengalah pada kami, anak-anaknya. Kadang meski ayah lapar, beliau tetap rela memberikan jatah makannya untuk dongsaeng danhobak yang kayak evil dan tukang makan itu.

Ayah rela menahan dan menanggung penderitaan agar bisa melihat anaknya bahagia. Dia tidak peduli bagaimana caranya asal anak-anaknya bisa mendapatkan yang terbaik. Dia tidak peduli jika harus menerima cacian dari orang lain, dia bahkan rela merendahkan harga dirinya asal bukan anaknya yang diperlakukan seperti itu.

Danhobak bersyukur karena mempunyai ayah yang pengertian dan jauh dari kesan kaku. Jika teman-teman danhobak menggunakan bahasa yang formal dan sopan ketika berbicara dengan orang tuanya terutama ayah, danhobak malah berbicara seperti dengan teman sendiri. Justru terasa aneh jika danhobak menggunakan bahasa formal dan sopan, parahnya lagi biasanya danhobak diketawain sama ayahnya sendiri. Pasti dikatain ada maunya. (=_=”)


Seumpama nih, readers tiba-tiba kesasar dan gak tahu jalan, siapa yang pertama kali readers hubungi dan minta bantuan?

Kalau danhobak sih jelas telpon ayah-lah. Karena mau siapa lagi yang bisa dimintain bantuan sama danhobak? Bahkan tanpa diberitahu pun ayah danhobak biasanya langsung tahu kalau danhobak lagi dalam masalah. Begitu dapat masalah, tinggal tunggu hitungan detik aja, pasti orang rumah langsung telpon....hahahahaha. Kecuali urusan jatah bulanan yang belum datang. Biasanya kalau yang itu, danhobak duluan yang telpon. Kebiasaan orang rumah adalah pura-pura lupa kalau mau ngasih jatah (-_-“)

Balik lagi ke sosok ayah. Dari kecil sampai sekarang, sosok ayah selalu mengagumkan bagi danhobak. Alasannya adalah – sepertinya – seorang ayah itu selalu tahu segalanya. Mulai dari nama jalan sampai sampai sudut kota. Gak itu aja di setiap tempat biasanya dia memiliki banyak kenalan. Keren...!!!

Karena itulah, dari dulu danhobak mau seperti ayah danhobak. Tahu semuanya meski jarang kemana-mana. Banyak pengalaman mulai dari baik sampai yang buruk, gak banyak omong *yang ini gagal*, dan memiliki kepribadian serta bertanggung jawab.

Ibu adalah orang yang menggendong kita saat kecil, tapi ayah mengangkat kita setinggi yang dia bisa. Bersama ibu, ayah memberikan segalanya yang dia punya. Cintanya, kasihnya, sayangnya, pikirannya, tenaganya, bahkan uangnya pun dia berikan untuk kita.

Bagaimana seorang ayah membuat kita menjadi sosok yang kuat dan tangguh? Menjaga saat kita sakit. Menopang kita saat jatuh. Membimbing kita saat tersesat. Mengajarkan apa yang tidak kita tahu. Mewujudkan apa yang kita inginkan. Seorang ayah itu sama berartinya seperti ibu.

Dalam beberapa kasus, termasuk danhobak, jika anaknya pergi jauh bukan ibu yang sedih tapi malah ayah-lah yang menangis. Bahkan sampai urusan terkecil pun justru ayah yang tahu daripada ibu. Bagaimana bisa begitu, danhobak juga tidak tahu?

Seperti apa pun seorang ayah – asal bukan kriminal aja – dia adalah sosok yang selalu ada di belakang anaknya untuk mendorong. Ada di samping anaknya sebagai teman. Dan ada di depan anaknya sebagai pelindung. Dia adalah sosok yang bisa diandalkan. Penanggung beban berat yang tak pernah mengeluh sedikit pun. Dia rela sakit demi keluarganya.

Appa, jeongmal saranghae.....

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates