Kamis, 08 November 2012

A Words : When I Live as Cactus


Inilah yang terjadi saat memikirkan sebuah ide di waktu yang tidak tepat. Dimana pun dan kapan pun, ide itu hadir, maka harus segera diselesaikan jika tak ingin insomnia semalaman.

Inti dari tulisan ini berasal dari pertanyaan yang diajukan oleh seorang teman lama. Pertanyaan sederhana namun sulit dijawab yang hanya berupa, "Bagaimana rasanya menjadi Mr. Kaktus yang ada di drama Korea ini?" 

Sial, memangnya siapa yang peduli, seperti apa rasanya menjadi Mr. Kaktus itu. Aneh sekali mengingat temanku yang satu ini pernah marah hanya karena aku mengabaikannya dan memilih menonton drama Korea dibanding mendengarkan ocehannya. Sekarang dia bertanya pertanyaan yang bisa saja ia jawab dengan sendirinya. Bukankah dia dan Mr. Kaktus sama-sama laki-laki? Mengapa harus bertanya padaku yang tak pernah peduli?

Jawaban awalku adalah panas. Benarkan?

Aku yang sejak lama mendapatkan julukan 'manusia kutub' akan sulit menjadi kaktus yang bertahan di tempat yang panas dan kekurangan sumber air itu.

Namun, pada akhirnya aku kembali memikirkan jawabanku. Entah mengapa, aku hanya merasa ada sesuatu yang ingin teman bodohku sampaikan.

kaktus adalah jenis tumbuhan yang dapat bertahan hidup di daerah ekstrim meski memiliki kadar air yang sedikit, seperti gurun pasir. Penampilan kaktus yang aneh dengan duri-duri di sekujur tubuhnya, membuatnya semakin terlihat aneh. Meski begitu, kaktus berperan sebagai oasis bagi hewan-hewan kecil gurun. Karena kaktus menyimpan cadangan air pada batangnya dan itu sangat berguna untuk makhluk gurun lainnya.

Mungkin itu salah satu alasan diciptakannya tokoh Mr. Kaktus dalam drama Korea itu.

Mr. Kaktus adalah tipikal second lead male. Tokoh pria yang menyukai tokoh utama wanita secara diam-diam tanpa mampu mengatakannya ataupun menunjukkan dirinya. Dia hanya melihat dan menjaga wanita yang disukainya itu dari kejauhannya. Menjadi sosok teman yang akan berdiri mendukung orang yang sayanginnya dan menopangnya saat ia jatuh.

Tetapi mungkin, Mr. Kaktus lupa akan satu hal saat ia menyimpan rasa sukanya. Ia melewatkan pilihan wanitanya yang lebih menyukai pria lain dibanding dirinya. Pada akhirnya, Mr. Kaktus hanya bisa menyesal dan meratapi rasa patah hatinya dengan diam-diam pula. Dia hanya mampu memberikan pot berisi pohon kaktus sebagai lambang dari hatinya. Benar-benar aneh!

Apakah Mr. Kaktus benar-benar tak memiliki keberanian atau memang bodoh? Jika ia menyukai tokoh utama wanita itu mengapa ia berlaku layaknya seorang pengecut? Apa yang ia tunggu?

Saat Mr. Kaktus ingin menunjukkan dirinya, ia sudah terlambat. Dia terlalu lamban karena bersembunyi di balik status sebagai seorang teman. Kisahnya berakhir dengan merelakan wanita yang ia sukai untuk tokoh utama pria. Dan dia berujung pada penyesalan yang dirasakan seorang diri.

Akhir cerita yang sering kali dialami seorang second lead male di dalam sebuah drama. Mengapa begitu?
Jawabannya ada pada penulis skenario-nya....hahahahahaha.

Tetapi, kisah itu bisa saja dialami di kehidupan nyata. Aku tak bohong jika berada dalam salah satunya.

Terkadang seseorang, terutama orang yang cuek sepertiku, membutuhkan sebuah tindakan yang nyata untuk bisa melihat suatu hal. Tak terkecuali untuk mengalihkan pandangan pada orang yang menyukai kita. Akan lebih menarik jika tindakan itu hanya ditunjukkan pada kita saja....hahahahaha. #abaikan.

Mungkin itulah alasan mengapa rata-rata tokoh utama pria atau wanita dalam drama adalah pribadi yang menarik dan nyentrik. Berperangai keras, suka marah-marah tanpa alasan, dan kasar. Siapa yang tak memperhatikannya? Minimal pasti ingin menjitak kepalanya atau melempar kepalanya dengan sepatu...kekekeke.

Tetapi sifat yang seperti itu terkadang menjadi cara berbeda untuk menunjukkan perhatiaan dan perasaan pada seseorang yang disukainya. Bukankah setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menarik perhatian orang lain?

Jika dipikir-pikir ulang, dengan analisis di atas, pertanyaan 'Bagaimana rasanya menjadi Mr. Kaktus?'
Jawabannya adalah menyedihkan!

Rasional saja. Menyukai seseorang dalam kurun waktu tiga tahun, memendamnya sendirian, dan hanya bisa mendekat sebagai teman meski hati menginginkan hal lain. Kemudian, tersenyum ikhlas saat ia memilih orang lain, bukankah itu menyiksa dan menyakitkan? Percayalah waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.

Namun, mungkin saja ada yang orang yang lebih kuat dariku, seperti Mr. Kaktus. Sosok yang kuat memendam perasaannya, mendukung orang yang ia sukai dengan sepenuh hati, dan tentu saja berbesar hati saat merelakannya untuk orang lain.

Jika aku menjadi Mr. Kaktus, tentu aku akan menangis keras dan tak mungkin tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Setelah apa yang aku lakukan, tentu aku menginginkan balasannya. Terdengar egois. Tetapi bukankah menyakitkan dimana kita ingin tertawa akan kebodohan diri sendiri? Itu tak mudah. Sungguh!

Love is Blind.

Benar! Cinta bisa membutakan atau memang telah buta, tetapi tetap saja harus menggunakan logika. Sekalipun, tidak ada penyesalan atas menyukai seseorang dan tidak menyalahkan takdir karenya. Menjadi sosok Mr. Kaktus yang berbesar hati, itu sangat sulit. Terlihat bodoh, menyedihkan, sekaligus bahagia di saat bersamaan. Hanya orang-orang yang terpilihlah yang mampu melakukannya. Dan aku mungkin bukan salah satunya. Jika iya, mungkin aku anggap sebagai fase kehidupan.

Seperti yang sudah-sudah, tulisanku selalu melenceng dari intinya dan sangat diragukan apakah bisa menjawab pertanyaan yang ada. Kurasa cukup sebelum semakin kemana-mana.

Akhir kata, maaf jika ada yang kurang berkenan atas tulisan yang aku buat. Jika ada tambahan silahkan tambahkan sendiri...hahahaha. Pyoooong~~~ ^^





Sidoarjo, 08.11.12

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates