Minggu, 09 Desember 2012

Angel




Angel 

Inspired by : EXO-K song - Angel
 
This moment feels like I was born as a child who knew nothing
I closed my eyes again in case it would be a dream
You were standing in front of my desperate self and praying
Just once, I want to walk side by side with you

Gadis itu menatap sendu selembar foto yang terbingkai indah dalam genggaman tangannya itu, seulas senyum manis terulas di bibir tipisnya. Seolah mengingat, ia memutar kejadian dia pertama kali bertemu dengan malaikatnya. Hari dimana dia merasakan surga dan berputar di langit dengan sayap yang terkepak sempurna. Sebelum hari dimana musim gugur itu tiba dan musim dingin perlahan membekukannnya.



~ angel ~

Onew sedang memainkan piano saat beberapa anak berpakaian seragam sekolah masuk ke ruang musik tempat dia mengajar. Lee Jinki atau biasa dipanggil Onew itu adalah seorang mahasiswa seni tingkat 6 yang mengambil kerja sampingan sebagai guru piano yang mengajar di salah satu tempat kursus musik di dekat rumahnya.

Ketika semua muridnya datang, pemuda berkulit putih itu menghentikan jemarinya dan menoleh pada mereka yang masih berdiri di dekat pintu. “Cepat masuk,” perintahnya.

“Iya hyung....” ketiga anak itu mengangguk dan duduk di tempat mereka masing-masing.

Onew bangkit dan bermaksud menutup pintu ruangannya jika saja tidak melihat seorang gadis berlarian menyusuri lorong dan menuju ke arahnya. Dahinya langsung mengenyit bingung. Seingatnya murid kelasnya sudah lengkap tapi kenapa gadis itu menuju ke tempatnya. Onew merasa pemilik tempat kursus ini juga tidak memberitahu tentang adanya anggota baru. “Apa kita kedatangan teman baru?” tanya Onew pada murid-muridnya.

Beberapa dari mereka terdiam, ada lagi yang saling berpandangan. Sepertinya tak ada satu pun dari mereka yang tahu jawaban dari pertanyaan Onew.

Braaaak...

Suara keras seperti sesuatu menabrak pintu membuat mereka menoleh. Dan benar saja, seorang gadis sedang terlihat menggosok-gosok dahinya yang memar karena baru saja beradu dengan pintu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Onew cepat-cepat menolong gadis berambut cokelat itu.

Gadis itu mengangguk. “Apa aku terlambat?” tanyanya sambil terengah-engah. Pandangannya menuju lantai karena dia memang hampir mati kehabisan nafas.

Onew menggelengkan kepalanya dengan wajah yang dihiasi senyum menawan. “Kami masih belum mulai,” jawabnya ramah sembari menolong gadis itu untuk berdiri. “Siapa namamu?”

“Ah, namaku Song Min-Ah,” jawab gadis tersebut membungkukkan badannya. “Ini hari pertamaku di sini.”

Pemuda berambut kecokelatan itu mengangguk paham. Kemudian Onew berdiri di depan kelas dengan Min-Ah di sampingnya. “Baiklah, ini adalah teman baru kita. Namanya Song Min-Ah. Aku harap kalian mau membantunya,” Onew memperkenalkan Min-Ah di depan kelas. “Semoga kau nyaman di sini, Min-Ah-ssi.”

Min-Ah mengangguk mengerti dan mengambil tempat duduk di pojok belakang. Ditatapnya Onew yang memulai pelajaran di depan kelas. Sepertinya pemuda itu sedang menjelaskan tentang lagu baru yang akan mereka bawaan di festival musim semi nanti. Tanpa sadar pipi Min-Ah merona setiap menatap tutor barunya itu. Kisah yang baru yang akan tumbuh bersama dengan datangnya musim semi.

~ angel ~

Gadis bernama Min-Ah itu seakan meruntuki dirinya sendiri setiap kali teringat pertama kalinya dia bertemu Onew, pemuda yang dia anggap sebagai malaikat. Dengan kulit seputih salju, senyum selembut kapas, mata kecokelatan yang berbinar, dan jangan lupakan suara emas pemuda itu yang sanggup meruntuhkan siapa saja, bukankah dia sangat sempurna? Entah mengapa dia selalu saja terlihat bodoh ketika berhadapan dengan Onew, tutornya di kelas piano. Selalu saja dia tenggelam dalam pesona pemuda itu dan bersikap seperti anak kecil yang baru terlahir. Onew telah membuat Min-Ah melihat dunianya dengan cara yang lain.

Min-Ah memejamkan matanya dan menghela nafasnya perlahan. Terbayang olehnya Onew yang datang menghampirinya. Katakanlah semua itu adalah mimpinya, namun Min-Ah tidak menyesalinya. Dia bersyukur bertemu dengan Onew. Onew, pemuda yang selalu saja mengisi mimpinya, menolongnya ketika Min-Ah benar-benar membutuhkan bantuan, dan menggenggam tangannya ketika ia ketakutan. Dia bagaikan malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk Min-Ah.

~ angel ~

“Kau tak apa?” tanya Onew ketika menemukan Min-Ah terjatuh dari tangga tempat kursusnya. “Bagaimana kau ceroboh seperti ini?” dengan perhatian Onew membantu Min-Ah berdiri dan memapah gadis itu ke kursi yang tak jauh dari sana.

Min-Ah hanya terdiam, menikmati wajah Onew yang dihiasi semburat kemerahan tipis. Tanpa ia sadari wajahnya ikut merona hebat. “Aku tidak apa-apa..” kata Min-Ah tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah tampan Onew.

“Bagaimana tidak apa-apa jika lututmu sampai berdarah?” tangan Onew dengan cekatan mengobati lutut Min-Ah yang berdarah. Tak hayal hal itu membuat senyum Min-Ah semakin lebar. Ada binar bahagia di mata gadis mungil itu ketika Onew memperlakukannya dengan lembut. Seakan dia benar-benar diharapkan. Salahkah Min-Ah merasa seperti itu?

~ angel ~

Min-Ah menatap Onew tak percaya. Ada sarat tuntutan di manik kelam gadis itu, menghujam tepat di mata kecokelatan milik tutornya. Tubuhnya bergetar menyembunyikan emosinya yang siap meledak kapan saja. “Mengapa?” tanyanya lirik diantara keheningan.

“Maafkan aku, bukan aku yang berhak memutuskan itu. Seandainya saja...”

“Aku sudah berlatih keras untuk itu,” Min-Ah memotong penjelasan Onew. “Festival ini harapan terbesarku, aku ingin tampil di depan ayahku. Tapi...” cairan bening itu akhirnya meluncur bebas di pipi chubby Min-Ah.

Onew menatap sedih ke arah Min-Ah. “Kau bisa mencobanya lain kali, akan ada banyak kesempatan yang datang padamu nanti,” hiburnya.

“Belum tentu ayah akan melihatku, dia selalu saja sibuk sendiri. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah, aku yakin dia akan lebih memperhatikan keluarga barunya dan mengindahkan aku lagi..”

“Jangan menangis,” terus saja Onew menghibur Min-Ah. Gadis yang entah sejak kapan menjadi berarti untuknya. Gadis ceroboh yang terlihat kuat namun rapuh di dalamnya. Perlahan Onew membawa Min-Ah kepelukannya, mencoba berbagi kekuatan. “Masih ada aku di sini...”

Min-Ah hanya pasrah saja dalam dekapan Onew. Ditumpahkan semua airmatanya pada pemuda itu, tanpa peduli jika kaos putih bergambar kelinci yang dipakai Onew akan basah karena ulahnya. “Apa permainan pianoku sangat buruk?”

Dapat Min-Ah rasakan Onew menggelengkan kepalanya. “Permainanmu sangat bagus. Kau menunjukkan banyak kemajuan dibanding yang lain,” jawab Onew membesarkan hati gadis yang berada di dekapannya itu.

“Mengapa aku tidak terpilih?”

Onew melepaskan pelukannya agar ia bisa melihat wajah Min-Ah. Ditangkupkan kedua tangannya pada wajah bulat Min-Ah. “Dengarkan aku, meskipun kau tidak tampil di acara festival itu, kau adalah pianist terhebat untukku. Apa kau mengerti?”

Min-Ah mengangguk pelan dan kembali menangis dalam perlindungan Onew. Sebegitu nyaman kah dekapan Onew untuk Min-Ah, hingga gadis itu betah berlama-lama menyesap kehangatan yang dibagi Onew untuknya. Seperti apakah Onew sehingga Min-Ah begitu nyaman berada di dekatnya dan mendengar setiap kata yang Onew katakan padanya?

~ angel ~

Min-Ah tersenyum tipis ketika ia membayangkannya kehangatan yang Onew berikan padanya di setiap pelukannya. Onew adalah pemuda yang selalu memberikan tangannya untuk Min-Ah genggam. Dia tempat yang tepat untuk bersandar. Onew-nya adalah yang terbaik yang pernah ada. Min-Ah pernah berjanji bahwa dia akan mengikuti kemanapun Onew pergi dan akan terus berada di sisi pemuda itu, meski pun itu hanya sekali.

Taken by the soft wind to your world
You asked me brightly where I came from to your side
And I told you that It was a secret
Wherever we walk together
Will be paradise

Sepasang anak muda itu berjalan bersama menyusuri jalan setapak dengan tangan yang saling bertaut. Jika tanpa sengaja bertemu pandang akan ada senyum tersipu di antara keduanya. Musim semi yang indah bukan? Di bawah jejeran pohon sakura yang bermekaran, ada sebuah kisah yang akan berkembang bersamanya.

“Kita akan kemana, oppa?” tanya Min-Ah penasaran. Sedari tadi ia hanya mengikuti langkah Onew yang membawanya berkeliling taman yang ramai karena festival musim semi.

Onew tersenyum lembut, selembut angin yang bertiup yang menggerakkan rambut kecokelatannya. Genggaman tangannya pada jemari Min-Ah semakin erat. Mata kecokelatan itu memancarkan sinar yang akan menjatuhkan siapa yang menatapnya. Lembut namun menghanyutkan. “Haruskah aku memberitahumu kita akan kemana?”

Min-Ah mengerucutkan bibirnya ketika pemuda yang bersamanya itu mulai menggodanya. “Sejak kapan Onew oppa merahasiakan sesuatu padaku?” tanyanya sebal.

“Sejak saat ini,” ucap Onew sembari mengecup lembut pipi kenyal milik Min-Ah.

“Ck, oppa menyebalkan!”

Onew hanya terkekeh mendengar Min-Ah yang terus protes. Haruskah Onew menjawab pertanyaan Min-Ah jika ia menganggap kemanapun dia melangkah asal itu bersama Min-Ah, semuanya akan menjadi surga baginya? Haruskah? Katakan pada Onew jika memang dia harus mengatakannya pada gadis kesayangannya tersebut!

“Aku menyukaimu,” bisik Onew tepat di telinga Min-Ah.

Sesuai perkiraan Onew, gadis di hadapannya ini langsung menatapnya tak percaya. Matanya membulat kaget. “Onew oppa bilang apa?” tanyanya seakan meyakinkan pendengarannya.

“Aku menyukaimu, Min-Ah,” sekali lagi Onew mengulangi perkataannya, bukan, pernyataannya. Jika dia diminta mengulangi kalimat itu beribu kali, dengan senang hati Onew akan mengatakannya.

Sedetik kemudian Min-Ah berhambur memeluk Onew. Senyum kebahagiaan menghiasi wajah cantiknya. “Aku juga menyukaimu, oppa,” balas Min-Ah riang. Betapa leganya ketika perasaan yang dimiliki terbalaskan.

“Benarkah?”

Min-Ah mengangguk pasti. “Aku benar-benar menyukaimu, Onew oppa.”

Sungguh, Onew ingin sekali senyum dan tawa itu terus berada di wajah cantik Min-Ah. Karena dengan begitu Onew merasa dirinya lebih hidup. Onew bersumpah akan membuat Min-Ah tersenyum seperti itu selama bersamanya. Kebahagiaan dan perasaan itu adalah  surganya. Surga untuk Onew dan juga untuk keduanya.

You are an eye-blinding entity compared to Michael
Who would remember you, I will not forgive it
Like the beginning when stepping into Eden
Believing you every day from the bottom of my heart

Min-Ah menggebrak meja Hyorin dengan keras. Nafasnya memburu, kedua matanya seperti memancarkan kilatan api yang siap membakar siapa saja. “Untuk apa kau mendekati Onew oppa?” desisnya tajam.

“Min-Ah, hentikan!” Onew buru-buru menarik Min-Ah menjauh sebelum gadis itu benar-benar menelan Hyorin bulat-bulat. Salahnya adalah membiarkan Hyorin mendekatinya sehingga membuat Min-Ah terbakar karenanya.

“Ya~ lepaskan aku, oppa. Mengapa Onew oppa membelanya?” berontak Min-Ah tidak terima. Hei, siapa yang akan terima jika kekasihmu digoda oleh gadis lain?

Onew menatap Min-Ah dengan lembut. Perlahan dilepaskan genggamannya pada pergelangan Min-Ah. “Apa yang membuatmu seperti ini, ehm? Kau seperti bukan Min-Ah yang aku kenal.”

“Hyorin selalu saja mendekati Onew oppa dan aku tidak suka itu. Apa aku salah? Onew oppa itu milikku.”

Pemuda berkulit seputih salju itu hanya tersenyum mendengar celotehan kekesalan kekasihnya. Dengan lembut diusapnya surai kehitaman milik Min-Ah, ada kasih sayang yang terpancar dari setiap sentuhannya. “Tidak perlu sekeras itu, aku akan tetap milikmu dan akan terus bersamamu,” ucap Onew tidak sekedar bualan semata. “Aku berjanji itu padamu, kau percaya padaku kan?”

Mau tidak mau Min-Ah mengangguk mengiyakan apa yang Onew katakan padanya. Semua yang Onew berikan padanya membuat Min-Ah mempercayai setiap yang Onew katakan tentang perasaannya. Tatapan itu, senyum itu, pelukan itu, dan sentuhan itu hanya miliknya. Benar, semua itu hanya akan Onew berikan untuk Min-Ah bukan untuk gadis lain. Dengan semua itu Onew selalu saja meredam Min-Ah setiap gadis itu berontak. Jadi biarkanlah sepasang malaikat itu terus berada di tempatnya dan berbagi kasih sayang seperti yang mereka rasakan. Bukankah dengan itu surga diciptakan. Kasih sayang dan kepercayaan yang selalu bersama.

I always want to protect you
So that even the small things won’t tired you out, I’m eternally in love

Ada hal yang selalu saja membuat Onew menyalahkan dirinya sendiri. Salah satunya adalah melihat airmata yang mengalir dari mata cantik kekasihnya. Onew selalu saja meruntuki kebodohannya ketika membuat Min-Ah menangis. Bukankah dia sudah berjanji akan selalu membuat gadisnya tersenyum?

Benar, Onew sudah menjalankan janjinya sebelum hari itu tiba. Hari dimana ibunya memperkenalkan calon suami barunya sekaligus keluarga barunya. Jika pemuda itu boleh memohon maka ia berharap hari itu tidak pernah terjadi. Apa yang akan dilakukan jika calon ayah tirinya adalah ayah dari kekasihmu sendiri? Onew merasa dirinya hilang ketika mengetahui hal tersebut.

Lekat dalam ingatannya ketika Min-Ah menatapnya dengan penuh keterkejutan. Bukan hanya gadis itu, Onew juga sangat terkejut. Ingin sekali dia mengatakan pada ibunya bahwa calon adik tirinya itu adalah kekasihnya. Namun semua itu tertelan bulat-bulat ketika melihat pancaran kebahagiaan dari wajah ibunya. Akankah kedua malaikat itu menukar kebahagiaan mereka untuk orang lain? Dan meninggalkan surga yang sekian lama mereka tinggali?

~ angel ~

“Lalu bagaimana dengan kita?” tanya Min-Ah hampir menangis. Mata indahnya sudah berkaca-kaca dan siap pecah kapan saja. Tangannya menggenggam erat kedua tangannya Onew, berharap pemuda itu mau berbagi kekuatan seperti biasa.

Onew menghela nafasnya sejenak. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya sembari mengelus sayang punggung tangan Min-Ah yang ada di genggamannya. “Apa kau ingin ibu dan ayah bahagia?” tanyanya masih dengan nada lembut seperti biasa meski tidak tertutupi rasa kebingungan yang sama seperti Min-Ah.

Min-Ah menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Setiap anak pasti menginginkan kebahagiaan untuk orang tuanya tapi......hiks.....” akhirnya tangisan itu keluar juga untuk mengatakan betapa sakitnya hati sang pemilik.

Entah karena tangisan Min-Ah yang pilu atau memang berasal dari lubuk hatinya, untuk pertama kalinya pemuda tampan itu menangis. Malaikat itu mulai mempertanyakan takdirnya. Dia tahu harus membuat pilihan namun mengapa semuanya terasa berat untuk ditentukan. Haruskah dia menyerah ataukah dia tetap bertahan? Tidak adakah pilihan lain selain itu?

~ angel ~

Di sinilah kedua malaikat itu sekarang, tetap tinggal dalam surga yang mereka ciptakan bersama. Keduanya tetap bersama, tangan itu tetap bertautan, dan senyum itu tetap tercipta. Hanya saja semuanya sudahlah tidak sama. Surga yang mereka tempati sekarang telah berbeda dari sebelumnya. Segalanya telah berubah, ikatan yang ada telah terburai dan terjalin menjadi simpul yang lain.

“Nah, kita sudah sampai. Semoga kau menyukai rumah ini, Onew,” Tuan Song, ayah baru Onew, menatap putranya itu dengan haru. Terpancar kebahagiaan di wajah pria paruh baya itu. “Appa, benar-benar senang akhirnya memiliki putra sepertimu,” katanya bangga.

Onew hanya mengangguk dan tersenyum atas pujian yang terlontar untuknya. Meski ada derak-derak kehancuran itu di hatinya, pemuda itu terus saja bersikap seolah tidak pernah terjadi apa pun. Dia sengaja melakukan itu agar gadis yang menjadi adik barunya itu tetap bertahan.

“Min-Ah, antarkan oppa-mu ke kamarnya. Pastikan dia nyaman dengan kamar barunya,” minta Tuan Song pada putri tunggalnya.

Min-Ah hanya mengangguk pasrah mendengar perkataan ayahnya. Gadis itu tidak tahu harus bagaimana bersikap sekarang. “O-onew oppa...” panggilnya penuh kegugupan.

Tuan Song dan Nyonya Song terkekeh melihat tingkah canggung kedua anak mereka. Tentu saja, siapa saja yang melihat Onew dan Min-Ah sekarang akan beranggapan sama dengan Tuan dan Nyonya Song. Keduanya bukan lagi terlihat seperti sepasang kekasih tetapi seperti kedua orang yang baru dipertemukan dan diharuskan bersama. Canggung dan kaku!

Namun, kedua malaikat itu mengabaikan semuanya. Mereka telah menyerah dan mengikuti takdir. Mengabaikan retakan-retakan yang menghancurkan surga mereka dan tidak menyadari bahwa hal itu bisa saja membunuh mereka secara perlahan. Tidak adakah harapan untuk keduanya?

“Aku akan tetap bersamamu dan menjagamu apa pun yang terjadi,” ucap Onew menggenggam tangan Min-Ah dengan erat ketika keduanya berada di kamar baru Onew.

Min-Ah hanya mengangguk menanggapi perkataan Onew baginya semua saja sekarang. “Aku akan tetap mendengarkanmu, oppa,” balas Min-Ah.

Onew tersenyum dan membawa Min-Ah ke dalam pelukannya. “Bertahanlah. Aku tahu ini tidak akan berakhir, setidaknya dengan begini kita akan tetap bersama,” ujar Onew terus saja menenangkan kekasihnya. Dia sama sekali melupakan bagaimana hatinya yang sudah berdarah-darah saat ini.

“Aku menyukaimu, oppa,” bisik Min-Ah seperti oasis di padang pasir bagi Onew. Gadis itu selalu saja tahu bagaimana mendinginkan hati Onew yang terbakar.

Onew menatap lembut Min-Ah, “Aku juga akan selalu menyukaimu, Min,” ucapnya sebelum mempertemukan bibir tipis Min-Ah yang telah menjadi kesukaannya itu. Tanpa keduanya sadari, airmata mereka ikut jatuh menetes. Kisah yang seharusnya terus tumbuh, terpaksa harus mengering bersama datangnya musim gugur. Tidakkah ini terlalu kejam?

As your guardian, I will block the stiff wind
Even though people turn their backs to you
If I could become the person
Who can wipe your tears on a tiring day
It will be paradise

Onew memejamkan matanya saat ia memainkan piano di kamarnya. Dia berusaha menikmati setiap nada yang tercipta dari sentuhan jemarinya. Tanpa dia sadari, Onew mengeluarkan airmata yang keluar dari sudut matanya.

“Oppa....” panggil seseorang yang dari luar. Onew langsung menghentikan  permainan jemarinya yang beradu dengan tuts-tust piano. “Boleh aku masuk?” suara itu kembali terdengar.

Onew menghapus airmatanya yang tadi sempat keluar. “Masuk saja,” jawabnya dengan suara serak.

Pintu kamar Onew terbuka dan Min-Ah berjalan masuk. “Kau baik-baik saja, oppa?” tanyanya khawatir.

Onew mengangguk pasti dan mengulurkan tangannya pada Min-Ah. Dia lalu membimbing Min-Ah agar duduk di sampingnya. Senyumnya merekah tak menampakkan seberapa berat masalah yang ia hadapi sekarang.

“Kenapa oppa memilih pergi? Bukankah oppa bilang akan tetap bersamaku?”

“Maaf...” sesal Onew meski senyumnya belum hilang. “Awalnya ku kira semuanya akan baik-baik saja. Ternyata...aku tak menyangka akan seberat ini,” Onew menundukkan kepalanya. “Aku mengira terus bersamamu sebagai keluarga itu akan baik tapi entah mengapa saat aku terus melihatmu sebagai adikku justru sangat menyakitkan. Aku tak bisa menahan perasaanku yang selalu meluap-luap saat berdekatan denganmu. Aku sudah menahan ini semua tapi tetap tak bisa.”

“Jadi oppa menyesal?”

Onew menggelengkan kepalanya. “Demi kebahagiaan ibu dan ayah, aku tidak menyesal melakukan ini. Karena apa pun yang terjadi kau tetap bersamaku,” ucap Onew kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Min-Ah. Menumpukan rasa lelahnya di sana.

“Meski aku sebagai adikmu?”

“Ehm, kau sudah tahu jawabannya kan?” genggaman tangan Onew semakin erat mengikat tangan Min-Ah, seolah tidak ingin terpisahkan.

“Tapi mengapa oppa memilih pergi? Onew oppa tahu betapa terkejutnya aku saat ibu memberitahuku? Tidak hanya terkejut, aku juga merasakan sakit di sini,” ujar Min-Ah sambil menyentuh dadanya. “Pergi dari rumah sama saja Onew oppa pergi meninggalkanku,” gadis manis kesayangan Onew itu mulai menangis. Dia mengatakan semua perasaannya, berharap Onew membatalkan niat untuk kepergiannya.

Onew menegakkan kepalanya dan menatap lekat-lekat Min-Ah. Tangannya terulur menghapus airmata yang mengalir di pipi chubby adiknya itu. “Sssh, jangan menangis~....kau adalah rumahku, tempatku untuk kembali. Kau adalah surga bagiku. Kau tahu itu kan?”

“Sekalipun begitu tapi kau tetap kembali sebagai kakakku bukan sebagai kekasihku,” protes Min-Ah tidak terima. Dia segera bangkit dari duduknya, melepaskan diri dari sisi Onew. Sungguh dia tidak bisa lagi menerima semua itu. Haruskah membiarkan cintanya ikut jatuh bersama daun-daun kering yang berjatuhan di musim gugur?

“Apa kau ingin menyakiti eomma dan appa?” tanya Onew berusaha keras membujuk Min-Ah, mengindahkan rasa sesak yang memenuhi paru-parunya. Di sini tidak hanya Min-Ah yang terluka, dirinya juga karena dirinya yang menanggung sebagian besar dari pilihan yang mereka ambil.

Min-Ah tak menjawab. Yang terdengar hanyalah isak tangis gadis itu, berulangkali ia memukul-mukul dadanya yang terasa penuh. “Aku harus bagaimana oppa?” ulangnya terus menerus sambil terus terisak. “Rasanya di sini sangat sakit. Sakit sekali.”

Pertahanan Onew langsung runtuh begitu mendengar pengakuan sakit hati dari adiknya itu. Airmatanya kembali menetes. Tangannya mengepal kuat-kuat menahan amarah yang tertuju pada dirinya sendiri. Karena dia tidak berhasil melawan perasaannya sendiri dan dia tak mampu menjaga Min-Ah sebagai kekasih ataupun adiknya. Onew tetap membuat Min-Ah menangis karenanya. “Maaf.....” ucapnya. Punggung Onew terus bergetar. Pemuda itu menangis. Menangis untuk cintanya dan untuk kebahagiaan keluarganya. Kedua kakak beradik yang dulunya sepasang kekasih itu sama-sama terpuruk pada perasaan mereka sendiri. Sayap kedua malaikat itu telah patah bersama derak keruntuhan surga mereka.

Tak lama kemudian Onew merasakan kalau Min-Ah memeluknya dari belakang. Gadis itu melingkarkan tangannya di leher Onew dan meletakkan dagunya di kepala kakaknya. “Jangan menangis, oppa. Bukankah oppa dulu pernah bilang kalau kita harus kuat demi kebahagiaan ayah dan ibu?” gumam Min-Ah tanpa melonggarkan dekapannya tersebut.

Onew mengangguk. “Ne, kau benar.” Pemuda Lee, bukan, pemuda Song itu berusaha tersenyum setelah tangisnya. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. “Demi ayah dan ibu,” Onew menggulang ucapan Min-Ah padanya. Menguatkan keyakinannya bahwa pilihannya tidaklah salah.

“Aku akan menerima apa pun keputusan oppa tapi.....”

“Tapi apa?” tanya Onew karena Min-Ah menggantungkan kalimatnya. Dari cermin besar yang berada di depan piano milikknya, Onew dapat melihat raut sedih Min-Ah dengan jelas. Tangannya mencengkram erat lengan Min-Ah yang masih melingkar di lehernya itu.

“Bolehkah aku memelukmu malam ini sebagai kekasihku? Setidaknya sebelum kau pergi dan untuk terakhir kalinya?” mohon Min-Ah penuh harap.

Onew mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Min-Ah kemudian ia kembali tersenyum sambil mengangguk. “Aku rasa tidak masalah...” ujarnya senang. Bagaimana pun Onew juga merindukan Min-Ah sebagai kekasihnya setelah kedua orang tua mereka menikah.

Mendengar jawaban Onew, Min-Ah langsung tersenyum senang. “Terima kasih, oppa,” katanya mempererat pelukannya. Onew memejamkan matanya meresapi kehangatan yang mengalir di seluruh tubuhnya.

“Ehm, oppa?” tanya Min-Ah memecah lamunan Onew.

“Apa?”

“Kenapa kau selalu hangat?”

Onew terdiam, terlihat berpikir. “Mungkin karena kau terus memelukku seperti ini?”

Min-Ah tertawa pelan. “Benarkah? Rambutmu juga wangi? Kau pakai shampoo apa?”

“Entahlah, aku pakai apa saja yang eomma beri padaku,” jawab Onew sekenanya. Kebahagiaan membuncah keluar dari dadanya. Sudah lama dia dan Min-Ah tidak mengobrol sesantai ini. “Kau ingat lagu yang selalu aku nyanyikan untukmu dulu?” tanya Onew.

Min-Ah mengangguk sambil mencium pucuk kepala Onew. “Bukankah Onew oppa tetap menyanyikannya untukku setiap malam saat aku tertidur...” ciuman Min-Ah kemudian beralih di pipi putih Onew yang lembut seperti tahu itu.

“Darimana kau tahu?” tanya Onew heran. Seingatnya kamarnya dan kamar Min-Ah jaraknya cukup jauh dan dia selalu dengan bersenandung dengan nada yang hampir tak terdengar.

Min-Ah menjauhkan wajahnya dari pipi Onew dan menjawab, “Karena angin selalu membawa suara malaikat oppa itu padaku.” Senyuman kembali terulas di bibir mungil gadis itu.

Rona merah langsung menghiasi pipi Onew. “Benarkah?” ujarnya tak percaya. Tangan Onew terulur meraih tengkuk Min-Ah dan...

Rasanya manis dan hangat itu langsung melumer menjadi satu di bibirnya. Rasanya yang sangat dirindukannya setelah sekian lama. Onew akan menyimpan rasa manis ini dalam-dalam di memorinya. Mungkin saja ini adalah terakhir kalinya dia bisa merasakannya. Besok dia akan melepas semua perasaannya dengan bebas. ‘Aku harap malam ini tidak berjalan dengan cepat...’

Tanpa Onew ataupun Min-Ah sadari nyonya Song, eomma Onew, berada dibalik pintu sambil mendekap mulutnya kuat-kuat. Berusaha keras agar isakannya tidak sampai keluar. Sejak tadi nyonya Song memang mendengar apa pun yang dibicarakan kedua buah hatinya itu. Sebagai seorang ibu, dia juga ikut merasakan sakit yang diderita Onew dan Min-Ah.

I, who has fallen in love with no other place to
Go back, my wings have been talen away (oh no)
Even though I lost my everlasting life, the reason to my happiness
You are my eternity Eternally Love

(EXO-K – Angel)

“Jadi mau sampai kapan kau akan terus memandangi fotoku seperti itu? Ayolah, aku bahkan belum berangkat ke bandara,” sebuah suara mengintrupsi kegiatan Min-Ah yang masih saja memandangi foto Onew di tangannya.

Min-Ah mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang menganggunya itu. Sejenak seulas senyum menghiasi wajah cantiknya. “Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk, Onew oppa,” protesnya.

Onew hanya terkekeh mendengarnya. “Baiklah, aku minta maaf tapi...”

“Apa?” tanya Min-Ah panasaran ketika Onew dengan sengaja memotong kalimatnya.

“Berjanjilah padaku untuk tidak menangis seperti ini lagi,” dengan lembut jemari Onew menghapus airmata yang membasahi pipi Min-Ah. “Kau tahu kan aku tidak menyukai ini?”

Min-Ah mengangguk patuh dan memaksa untuk tersenyum di depan Onew. “Aku menyukaimu, oppa,” ucapnya sebelum mengecup bibir Onew sekilas.

“Aku juga,” balas Onew dan kembali mempertemukan bibir mereka. Biarkanlah mereka kembali merasakan surga mereka sebentar lagi meski semuanya tidak akan pernah kembali.

~ angel ~

Keramaian bandara dan orang yang terus berlalu lalang tak bisa menelan begitu saja kesedihan yang mendera keluarga Song yang melepas kepergian Onew ke Inggris. Ibu Onew terus saja menggenggam erat tangan kanan putranya itu dan ayah Onew merangkul dengan sayang Onew seakan tidak rela kalau anak lelakinya itu pergi. Sedangkan Min-Ah hanya mendengus kesal di belakang mereka. Dia sama sekali tidak diberi celah untuk berdekatan dengan Onew sama sekali.

Panggilan keberangkatan membuat sepasang orang tua itu rela melepaskan kontak fisik mereka dengan Onew. “Ayolah, appa, eomma, jangan seperti ini...” hibur Onew memandangi ayah dan ibunya secara bergantian. “Aku kan pergi tidak untuk bersenang-senang.”

Tuan Song mengangguk mengerti meski raut wajahnya mengatakan tidak. Begitu pula Nyonya Song  yang malah cemberut tak jelas. “Cepatlah kembali, kami akan sangat merindukanmu..” titah kepala keluarga Song tersebut.

“Dan jika libur panjang pulanglah ke rumah, sering-sering juga menghubungi kami,” kali ini nyonya Song yang memberi perintah.

Onew mengangguk dan memeluk orang yang melahirkannya itu erat-erat. “Aku janji appa, eomma,” katanya. Kemudian pemuda itu ganti memeluk ayahnya.

“Hem... lalu giliranku kapan?” tegur Min-Ah yang dari tadi merasa diabaikan. Dia sengaja memasang muka kesal stadium akhir. “Aku sudah mulai berkarat di sini.”

Onew terkekeh sambil menghampiri Min-Ah. “Aigo~ my little dongsaeng, aku pasti akan sangat merindukanmu di sana nanti,” godanya. Onew dan Min-Ah berusaha bersikap normal sesuai perjanjian mereka semalam.

“Harus. Awas saja kalau tidak...” ancam Min-Ah sambil memeluk Onew erat-erat.

“Jaga dirimu baik-baik. Eomma dan appa juga...” pesan Onew membalas pelukan Min-Ah. Dihirupnya aroma Min-Ah yang menguar dari tubuhnya. Dia pasti akan merindukan saat-saat seperti ini. Pasti!

Min-Ah mengangguk, “Aku janji akan menjaga diriku baik-baik tapi kalau eomma dan appa, aku tak jamin...” kata Min-Ah sembarangan yang langsung berhadiah jitakan dari ayahnya.

“Gyah~ anak nakal....” serunya.

Onew tertawa melihat pertengkaran ayah dan putrinya itu. Dia kemudian mengacak-acak rambut Min-Ah. “Jangan melawan appa dan eomma...” nasehatnya. “Ah~ sudah saatnya...” kata Onew saat mendengar panggilan operator bandara. “Jangan pernah menungguku Min...” Onew menunduk dan mencium sekilas sudut bibir Min-Ah. “Aku menyukaimu.”

Bukan Min-Ah yang terkejut saat Onew melakukan itu tapi Nyonya Song-lah yang kaget. “Hei~ hei~ cepat berangkat anak usil..” omelnya.

“Ah~ eomma gak asyik...” keluh Onew bersiap. “Aku akan benar-benar merindukan kalian...” ucapnya sambil melambaikan tangannya.

Tuan dan Nyonya Song membalas lambaian Onew sampai pemuda itu hilang ditelan keramaian. Hanya Min-Ah yang terdiam menatap punggung Onew. Semua ini terasa menyakitkan dan menyedihkan. Min-Ah sudah tidak bisa menangis lagi. Setelah hari ini, setelah detik ini, hidupnya akan berubah dan tak akan sama lagi.

Mata Min-Ah tertutup untuk mengingat kenangannya bersama Onew yang kini telah menjadi kakaknya. Begitu kelopak mata itu terbuka dan mata indah berwarna cokelat itu tak lagi menampakkan sinar kehangatan lagi. Tatapan dingin dan datar yang menggantikannya seolah menyambut musim dingin yang akan tiba. Hati gadis Song itu telah pergi. Pergi bersama senyum pemuda yang telah menjadi malaikat dan surga baginya. Kisah yang tumbuh di musim semi itu telah membeku mendahului musim dingin yang belum menjelang.



~e.n.d~







Note :
Seharusnya ini menjadi cerita yang memang biasa tumbuh di musim semi bukan berujung kebekuan seperti musim dingin. Aku sendiri tidak tahu mengapa jadinya malah seperti ini padahal aku mengawali semuanya dengan senyuman namun malah mengakhirnya dengan sebuah airmata. Padahal Baekhyun sudah berbaik hati menyanyikan lagu ini dengan sangat berbunga-bunga. Anggap saja ini bukan spesialisasiku. Sejujurnya aku merasa geli ketika menulis bagian awal, bukan khas aku...hehehehehe.

Kamis, 08 November 2012

A Words : When I Live as Cactus


Inilah yang terjadi saat memikirkan sebuah ide di waktu yang tidak tepat. Dimana pun dan kapan pun, ide itu hadir, maka harus segera diselesaikan jika tak ingin insomnia semalaman.

Inti dari tulisan ini berasal dari pertanyaan yang diajukan oleh seorang teman lama. Pertanyaan sederhana namun sulit dijawab yang hanya berupa, "Bagaimana rasanya menjadi Mr. Kaktus yang ada di drama Korea ini?" 

Sial, memangnya siapa yang peduli, seperti apa rasanya menjadi Mr. Kaktus itu. Aneh sekali mengingat temanku yang satu ini pernah marah hanya karena aku mengabaikannya dan memilih menonton drama Korea dibanding mendengarkan ocehannya. Sekarang dia bertanya pertanyaan yang bisa saja ia jawab dengan sendirinya. Bukankah dia dan Mr. Kaktus sama-sama laki-laki? Mengapa harus bertanya padaku yang tak pernah peduli?

Jawaban awalku adalah panas. Benarkan?

Aku yang sejak lama mendapatkan julukan 'manusia kutub' akan sulit menjadi kaktus yang bertahan di tempat yang panas dan kekurangan sumber air itu.

Namun, pada akhirnya aku kembali memikirkan jawabanku. Entah mengapa, aku hanya merasa ada sesuatu yang ingin teman bodohku sampaikan.

kaktus adalah jenis tumbuhan yang dapat bertahan hidup di daerah ekstrim meski memiliki kadar air yang sedikit, seperti gurun pasir. Penampilan kaktus yang aneh dengan duri-duri di sekujur tubuhnya, membuatnya semakin terlihat aneh. Meski begitu, kaktus berperan sebagai oasis bagi hewan-hewan kecil gurun. Karena kaktus menyimpan cadangan air pada batangnya dan itu sangat berguna untuk makhluk gurun lainnya.

Mungkin itu salah satu alasan diciptakannya tokoh Mr. Kaktus dalam drama Korea itu.

Mr. Kaktus adalah tipikal second lead male. Tokoh pria yang menyukai tokoh utama wanita secara diam-diam tanpa mampu mengatakannya ataupun menunjukkan dirinya. Dia hanya melihat dan menjaga wanita yang disukainya itu dari kejauhannya. Menjadi sosok teman yang akan berdiri mendukung orang yang sayanginnya dan menopangnya saat ia jatuh.

Tetapi mungkin, Mr. Kaktus lupa akan satu hal saat ia menyimpan rasa sukanya. Ia melewatkan pilihan wanitanya yang lebih menyukai pria lain dibanding dirinya. Pada akhirnya, Mr. Kaktus hanya bisa menyesal dan meratapi rasa patah hatinya dengan diam-diam pula. Dia hanya mampu memberikan pot berisi pohon kaktus sebagai lambang dari hatinya. Benar-benar aneh!

Apakah Mr. Kaktus benar-benar tak memiliki keberanian atau memang bodoh? Jika ia menyukai tokoh utama wanita itu mengapa ia berlaku layaknya seorang pengecut? Apa yang ia tunggu?

Saat Mr. Kaktus ingin menunjukkan dirinya, ia sudah terlambat. Dia terlalu lamban karena bersembunyi di balik status sebagai seorang teman. Kisahnya berakhir dengan merelakan wanita yang ia sukai untuk tokoh utama pria. Dan dia berujung pada penyesalan yang dirasakan seorang diri.

Akhir cerita yang sering kali dialami seorang second lead male di dalam sebuah drama. Mengapa begitu?
Jawabannya ada pada penulis skenario-nya....hahahahahaha.

Tetapi, kisah itu bisa saja dialami di kehidupan nyata. Aku tak bohong jika berada dalam salah satunya.

Terkadang seseorang, terutama orang yang cuek sepertiku, membutuhkan sebuah tindakan yang nyata untuk bisa melihat suatu hal. Tak terkecuali untuk mengalihkan pandangan pada orang yang menyukai kita. Akan lebih menarik jika tindakan itu hanya ditunjukkan pada kita saja....hahahahaha. #abaikan.

Mungkin itulah alasan mengapa rata-rata tokoh utama pria atau wanita dalam drama adalah pribadi yang menarik dan nyentrik. Berperangai keras, suka marah-marah tanpa alasan, dan kasar. Siapa yang tak memperhatikannya? Minimal pasti ingin menjitak kepalanya atau melempar kepalanya dengan sepatu...kekekeke.

Tetapi sifat yang seperti itu terkadang menjadi cara berbeda untuk menunjukkan perhatiaan dan perasaan pada seseorang yang disukainya. Bukankah setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menarik perhatian orang lain?

Jika dipikir-pikir ulang, dengan analisis di atas, pertanyaan 'Bagaimana rasanya menjadi Mr. Kaktus?'
Jawabannya adalah menyedihkan!

Rasional saja. Menyukai seseorang dalam kurun waktu tiga tahun, memendamnya sendirian, dan hanya bisa mendekat sebagai teman meski hati menginginkan hal lain. Kemudian, tersenyum ikhlas saat ia memilih orang lain, bukankah itu menyiksa dan menyakitkan? Percayalah waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.

Namun, mungkin saja ada yang orang yang lebih kuat dariku, seperti Mr. Kaktus. Sosok yang kuat memendam perasaannya, mendukung orang yang ia sukai dengan sepenuh hati, dan tentu saja berbesar hati saat merelakannya untuk orang lain.

Jika aku menjadi Mr. Kaktus, tentu aku akan menangis keras dan tak mungkin tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Setelah apa yang aku lakukan, tentu aku menginginkan balasannya. Terdengar egois. Tetapi bukankah menyakitkan dimana kita ingin tertawa akan kebodohan diri sendiri? Itu tak mudah. Sungguh!

Love is Blind.

Benar! Cinta bisa membutakan atau memang telah buta, tetapi tetap saja harus menggunakan logika. Sekalipun, tidak ada penyesalan atas menyukai seseorang dan tidak menyalahkan takdir karenya. Menjadi sosok Mr. Kaktus yang berbesar hati, itu sangat sulit. Terlihat bodoh, menyedihkan, sekaligus bahagia di saat bersamaan. Hanya orang-orang yang terpilihlah yang mampu melakukannya. Dan aku mungkin bukan salah satunya. Jika iya, mungkin aku anggap sebagai fase kehidupan.

Seperti yang sudah-sudah, tulisanku selalu melenceng dari intinya dan sangat diragukan apakah bisa menjawab pertanyaan yang ada. Kurasa cukup sebelum semakin kemana-mana.

Akhir kata, maaf jika ada yang kurang berkenan atas tulisan yang aku buat. Jika ada tambahan silahkan tambahkan sendiri...hahahaha. Pyoooong~~~ ^^





Sidoarjo, 08.11.12

Template by:

Free Blog Templates