Angel
Inspired by : EXO-K song - Angel
This moment feels
like I was born as a child who
knew nothing
I closed my eyes again in case it would be a dream
You were standing in front of my desperate self and praying
Just once, I want to walk side by side with you
Gadis itu menatap sendu selembar foto
yang terbingkai indah dalam genggaman tangannya itu, seulas senyum manis
terulas di bibir tipisnya. Seolah mengingat, ia memutar kejadian dia pertama
kali bertemu dengan malaikatnya. Hari dimana dia merasakan surga dan berputar
di langit dengan sayap yang terkepak sempurna. Sebelum hari dimana musim gugur
itu tiba dan musim dingin perlahan membekukannnya.
~
angel ~
Onew
sedang memainkan piano saat beberapa anak berpakaian seragam sekolah masuk ke
ruang musik tempat dia mengajar. Lee Jinki atau biasa dipanggil Onew itu adalah
seorang mahasiswa seni tingkat 6 yang mengambil kerja sampingan sebagai guru
piano yang mengajar di salah satu tempat kursus musik di dekat rumahnya.
Ketika
semua muridnya datang, pemuda berkulit putih itu menghentikan jemarinya dan
menoleh pada mereka yang masih berdiri di dekat pintu. “Cepat masuk,”
perintahnya.
“Iya
hyung....” ketiga anak itu mengangguk dan duduk di tempat mereka masing-masing.
Onew
bangkit dan bermaksud menutup pintu ruangannya jika saja tidak melihat seorang
gadis berlarian menyusuri lorong dan menuju ke arahnya. Dahinya langsung
mengenyit bingung. Seingatnya murid kelasnya sudah lengkap tapi kenapa gadis
itu menuju ke tempatnya. Onew merasa pemilik tempat kursus ini juga tidak
memberitahu tentang adanya anggota baru. “Apa kita kedatangan teman baru?”
tanya Onew pada murid-muridnya.
Beberapa
dari mereka terdiam, ada lagi yang saling berpandangan. Sepertinya tak ada satu
pun dari mereka yang tahu jawaban dari pertanyaan Onew.
Braaaak...
Suara
keras seperti sesuatu menabrak pintu membuat mereka menoleh. Dan benar saja,
seorang gadis sedang terlihat menggosok-gosok dahinya yang memar karena baru
saja beradu dengan pintu.
“Kau
tidak apa-apa?” tanya Onew cepat-cepat menolong gadis berambut cokelat itu.
Gadis itu
mengangguk. “Apa aku terlambat?” tanyanya sambil terengah-engah. Pandangannya
menuju lantai karena dia memang hampir mati kehabisan nafas.
Onew
menggelengkan kepalanya dengan wajah yang dihiasi senyum menawan. “Kami masih
belum mulai,” jawabnya ramah sembari menolong gadis itu untuk berdiri. “Siapa
namamu?”
“Ah,
namaku Song Min-Ah,” jawab gadis tersebut membungkukkan badannya. “Ini hari
pertamaku di sini.”
Pemuda
berambut kecokelatan itu mengangguk paham. Kemudian Onew berdiri di depan kelas
dengan Min-Ah di sampingnya. “Baiklah, ini adalah teman baru kita. Namanya Song
Min-Ah. Aku harap kalian mau membantunya,” Onew memperkenalkan Min-Ah di depan
kelas. “Semoga kau nyaman di sini, Min-Ah-ssi.”
Min-Ah
mengangguk mengerti dan mengambil tempat duduk di pojok belakang. Ditatapnya
Onew yang memulai pelajaran di depan kelas. Sepertinya pemuda itu sedang
menjelaskan tentang lagu baru yang akan mereka bawaan di festival musim semi
nanti. Tanpa sadar pipi Min-Ah merona setiap menatap tutor barunya itu. Kisah
yang baru yang akan tumbuh bersama dengan datangnya musim semi.
~
angel ~
Gadis bernama Min-Ah itu seakan
meruntuki dirinya sendiri setiap kali teringat pertama kalinya dia bertemu
Onew, pemuda yang dia anggap sebagai malaikat. Dengan kulit seputih salju,
senyum selembut kapas, mata kecokelatan yang berbinar, dan jangan lupakan suara
emas pemuda itu yang sanggup meruntuhkan siapa saja, bukankah dia sangat
sempurna? Entah mengapa dia selalu saja terlihat bodoh ketika berhadapan dengan
Onew, tutornya di kelas piano. Selalu saja dia tenggelam dalam pesona pemuda
itu dan bersikap seperti anak kecil yang baru terlahir. Onew telah membuat Min-Ah
melihat dunianya dengan cara yang lain.
Min-Ah memejamkan matanya dan menghela
nafasnya perlahan. Terbayang olehnya Onew yang datang menghampirinya.
Katakanlah semua itu adalah mimpinya, namun Min-Ah tidak menyesalinya. Dia
bersyukur bertemu dengan Onew. Onew, pemuda yang selalu saja mengisi mimpinya,
menolongnya ketika Min-Ah benar-benar membutuhkan bantuan, dan menggenggam
tangannya ketika ia ketakutan. Dia bagaikan malaikat yang dikirimkan Tuhan
untuk Min-Ah.
~
angel ~
“Kau tak apa?” tanya Onew ketika menemukan Min-Ah terjatuh dari
tangga tempat kursusnya. “Bagaimana kau ceroboh seperti ini?” dengan perhatian
Onew membantu Min-Ah berdiri dan memapah gadis itu ke kursi yang tak jauh dari
sana.
Min-Ah hanya terdiam, menikmati wajah Onew yang dihiasi semburat
kemerahan tipis. Tanpa ia sadari wajahnya ikut merona hebat. “Aku tidak
apa-apa..” kata Min-Ah tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah tampan Onew.
“Bagaimana tidak apa-apa jika lututmu sampai berdarah?” tangan
Onew dengan cekatan mengobati lutut Min-Ah yang berdarah. Tak hayal hal itu
membuat senyum Min-Ah semakin lebar. Ada binar bahagia di mata gadis mungil itu
ketika Onew memperlakukannya dengan lembut. Seakan dia benar-benar diharapkan.
Salahkah Min-Ah merasa seperti itu?
~
angel ~
Min-Ah menatap Onew tak percaya. Ada sarat tuntutan di manik kelam
gadis itu, menghujam tepat di mata kecokelatan milik tutornya. Tubuhnya
bergetar menyembunyikan emosinya yang siap meledak kapan saja. “Mengapa?”
tanyanya lirik diantara keheningan.
“Maafkan aku, bukan aku yang berhak memutuskan itu. Seandainya
saja...”
“Aku sudah berlatih keras untuk itu,” Min-Ah memotong penjelasan
Onew. “Festival ini harapan terbesarku, aku ingin tampil di depan ayahku.
Tapi...” cairan bening itu akhirnya meluncur bebas di pipi chubby Min-Ah.
Onew menatap sedih ke arah Min-Ah. “Kau bisa mencobanya lain kali,
akan ada banyak kesempatan yang datang padamu nanti,” hiburnya.
“Belum tentu ayah akan melihatku, dia selalu saja sibuk sendiri.
Apalagi sebentar lagi dia akan menikah, aku yakin dia akan lebih memperhatikan
keluarga barunya dan mengindahkan aku lagi..”
“Jangan menangis,” terus saja Onew menghibur Min-Ah. Gadis yang
entah sejak kapan menjadi berarti untuknya. Gadis ceroboh yang terlihat kuat
namun rapuh di dalamnya. Perlahan Onew membawa Min-Ah kepelukannya, mencoba
berbagi kekuatan. “Masih ada aku di sini...”
Min-Ah hanya pasrah saja dalam dekapan Onew. Ditumpahkan semua
airmatanya pada pemuda itu, tanpa peduli jika kaos putih bergambar kelinci yang
dipakai Onew akan basah karena ulahnya. “Apa permainan pianoku sangat buruk?”
Dapat Min-Ah rasakan Onew menggelengkan kepalanya. “Permainanmu
sangat bagus. Kau menunjukkan banyak kemajuan dibanding yang lain,” jawab Onew
membesarkan hati gadis yang berada di dekapannya itu.
“Mengapa aku tidak terpilih?”
Onew melepaskan pelukannya agar ia bisa melihat wajah Min-Ah. Ditangkupkan
kedua tangannya pada wajah bulat Min-Ah. “Dengarkan aku, meskipun kau tidak
tampil di acara festival itu, kau adalah pianist terhebat untukku. Apa kau mengerti?”
Min-Ah mengangguk pelan dan kembali menangis dalam perlindungan
Onew. Sebegitu nyaman kah dekapan Onew untuk Min-Ah, hingga gadis itu betah
berlama-lama menyesap kehangatan yang dibagi Onew untuknya. Seperti apakah Onew
sehingga Min-Ah begitu nyaman berada di dekatnya dan mendengar setiap kata yang
Onew katakan padanya?
~
angel ~
Min-Ah tersenyum tipis ketika ia
membayangkannya kehangatan yang Onew berikan padanya di setiap pelukannya. Onew
adalah pemuda yang selalu memberikan tangannya untuk Min-Ah genggam. Dia tempat
yang tepat untuk bersandar. Onew-nya adalah yang terbaik yang pernah ada.
Min-Ah pernah berjanji bahwa dia akan mengikuti kemanapun Onew pergi dan akan
terus berada di sisi pemuda itu, meski pun itu hanya sekali.
Taken
by the soft wind to your world
You
asked me brightly where I came from to your side
And I
told you that It was a secret
Wherever
we walk together
Will
be paradise
Sepasang anak muda itu berjalan bersama menyusuri jalan setapak
dengan tangan yang saling bertaut. Jika tanpa sengaja bertemu pandang akan ada
senyum tersipu di antara keduanya. Musim semi yang indah bukan? Di bawah
jejeran pohon sakura yang bermekaran, ada sebuah kisah yang akan berkembang
bersamanya.
“Kita akan kemana, oppa?” tanya Min-Ah penasaran. Sedari tadi ia
hanya mengikuti langkah Onew yang membawanya berkeliling taman yang ramai
karena festival musim semi.
Onew tersenyum lembut, selembut angin yang bertiup yang
menggerakkan rambut kecokelatannya. Genggaman tangannya pada jemari Min-Ah
semakin erat. Mata kecokelatan itu memancarkan sinar yang akan menjatuhkan
siapa yang menatapnya. Lembut namun menghanyutkan. “Haruskah aku memberitahumu
kita akan kemana?”
Min-Ah mengerucutkan bibirnya ketika pemuda yang bersamanya itu
mulai menggodanya. “Sejak kapan Onew oppa merahasiakan sesuatu padaku?”
tanyanya sebal.
“Sejak saat ini,” ucap Onew sembari mengecup lembut pipi kenyal
milik Min-Ah.
“Ck, oppa menyebalkan!”
Onew hanya terkekeh mendengar Min-Ah yang terus protes. Haruskah
Onew menjawab pertanyaan Min-Ah jika ia menganggap kemanapun dia melangkah asal
itu bersama Min-Ah, semuanya akan menjadi surga baginya? Haruskah? Katakan pada
Onew jika memang dia harus mengatakannya pada gadis kesayangannya tersebut!
“Aku menyukaimu,” bisik Onew tepat di telinga Min-Ah.
Sesuai perkiraan Onew, gadis di hadapannya ini langsung menatapnya
tak percaya. Matanya membulat kaget. “Onew oppa bilang apa?” tanyanya seakan
meyakinkan pendengarannya.
“Aku menyukaimu, Min-Ah,” sekali lagi Onew mengulangi
perkataannya, bukan, pernyataannya. Jika dia diminta mengulangi kalimat itu
beribu kali, dengan senang hati Onew akan mengatakannya.
Sedetik kemudian Min-Ah berhambur memeluk Onew. Senyum kebahagiaan
menghiasi wajah cantiknya. “Aku juga menyukaimu, oppa,” balas Min-Ah riang.
Betapa leganya ketika perasaan yang dimiliki terbalaskan.
“Benarkah?”
Min-Ah mengangguk pasti. “Aku benar-benar menyukaimu, Onew oppa.”
Sungguh, Onew ingin sekali senyum dan tawa itu terus berada di
wajah cantik Min-Ah. Karena dengan begitu Onew merasa dirinya lebih hidup. Onew
bersumpah akan membuat Min-Ah tersenyum seperti itu selama bersamanya.
Kebahagiaan dan perasaan itu adalah
surganya. Surga untuk Onew dan juga untuk keduanya.
You
are an eye-blinding entity compared to Michael
Who
would remember you, I will not
forgive it
Like
the beginning when stepping
into Eden
Believing
you every day from the bottom of my heart
Min-Ah menggebrak meja Hyorin dengan keras. Nafasnya memburu,
kedua matanya seperti memancarkan kilatan api yang siap membakar siapa saja.
“Untuk apa kau mendekati Onew oppa?” desisnya tajam.
“Min-Ah, hentikan!” Onew buru-buru menarik Min-Ah menjauh sebelum
gadis itu benar-benar menelan Hyorin bulat-bulat. Salahnya adalah membiarkan
Hyorin mendekatinya sehingga membuat Min-Ah terbakar karenanya.
“Ya~ lepaskan aku, oppa. Mengapa Onew oppa membelanya?” berontak
Min-Ah tidak terima. Hei, siapa yang akan terima jika kekasihmu digoda oleh
gadis lain?
Onew menatap Min-Ah dengan lembut. Perlahan dilepaskan
genggamannya pada pergelangan Min-Ah. “Apa yang membuatmu seperti ini, ehm? Kau
seperti bukan Min-Ah yang aku kenal.”
“Hyorin selalu saja mendekati Onew oppa dan aku tidak suka itu.
Apa aku salah? Onew oppa itu milikku.”
Pemuda berkulit seputih salju itu hanya tersenyum mendengar
celotehan kekesalan kekasihnya. Dengan lembut diusapnya surai kehitaman milik
Min-Ah, ada kasih sayang yang terpancar dari setiap sentuhannya. “Tidak perlu
sekeras itu, aku akan tetap milikmu dan akan terus bersamamu,” ucap Onew tidak
sekedar bualan semata. “Aku berjanji itu padamu, kau percaya padaku kan?”
Mau tidak mau Min-Ah mengangguk mengiyakan apa yang Onew katakan
padanya. Semua yang Onew berikan padanya membuat Min-Ah mempercayai setiap yang
Onew katakan tentang perasaannya. Tatapan itu, senyum itu, pelukan itu, dan
sentuhan itu hanya miliknya. Benar, semua itu hanya akan Onew berikan untuk
Min-Ah bukan untuk gadis lain. Dengan semua itu Onew selalu saja meredam Min-Ah
setiap gadis itu berontak. Jadi biarkanlah sepasang malaikat itu terus berada
di tempatnya dan berbagi kasih sayang seperti yang mereka rasakan. Bukankah
dengan itu surga diciptakan. Kasih sayang dan kepercayaan yang selalu bersama.
I
always want to protect you
So
that even the small things won’t tired you out, I’m eternally in love
Ada hal
yang selalu saja membuat Onew menyalahkan dirinya sendiri. Salah satunya adalah
melihat airmata yang mengalir dari mata cantik kekasihnya. Onew selalu saja
meruntuki kebodohannya ketika membuat Min-Ah menangis. Bukankah dia sudah
berjanji akan selalu membuat gadisnya tersenyum?
Benar,
Onew sudah menjalankan janjinya sebelum hari itu tiba. Hari dimana ibunya
memperkenalkan calon suami barunya sekaligus keluarga barunya. Jika pemuda itu
boleh memohon maka ia berharap hari itu tidak pernah terjadi. Apa yang akan
dilakukan jika calon ayah tirinya adalah ayah dari kekasihmu sendiri? Onew
merasa dirinya hilang ketika mengetahui hal tersebut.
Lekat
dalam ingatannya ketika Min-Ah menatapnya dengan penuh keterkejutan. Bukan
hanya gadis itu, Onew juga sangat terkejut. Ingin sekali dia mengatakan pada
ibunya bahwa calon adik tirinya itu adalah kekasihnya. Namun semua itu tertelan
bulat-bulat ketika melihat pancaran kebahagiaan dari wajah ibunya. Akankah
kedua malaikat itu menukar kebahagiaan mereka untuk orang lain? Dan
meninggalkan surga yang sekian lama mereka tinggali?
~
angel ~
“Lalu
bagaimana dengan kita?” tanya Min-Ah hampir menangis. Mata indahnya sudah
berkaca-kaca dan siap pecah kapan saja. Tangannya menggenggam erat kedua
tangannya Onew, berharap pemuda itu mau berbagi kekuatan seperti biasa.
Onew menghela
nafasnya sejenak. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya sembari mengelus
sayang punggung tangan Min-Ah yang ada di genggamannya. “Apa kau ingin ibu dan ayah
bahagia?” tanyanya masih dengan nada lembut seperti biasa meski tidak tertutupi
rasa kebingungan yang sama seperti Min-Ah.
Min-Ah
menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Setiap anak pasti menginginkan
kebahagiaan untuk orang tuanya tapi......hiks.....” akhirnya tangisan itu
keluar juga untuk mengatakan betapa sakitnya hati sang pemilik.
Entah
karena tangisan Min-Ah yang pilu atau memang berasal dari lubuk hatinya, untuk
pertama kalinya pemuda tampan itu menangis. Malaikat itu mulai mempertanyakan
takdirnya. Dia tahu harus membuat pilihan namun mengapa semuanya terasa berat
untuk ditentukan. Haruskah dia menyerah ataukah dia tetap bertahan? Tidak
adakah pilihan lain selain itu?
~
angel ~
Di
sinilah kedua malaikat itu sekarang, tetap tinggal dalam surga yang mereka
ciptakan bersama. Keduanya tetap bersama, tangan itu tetap bertautan, dan
senyum itu tetap tercipta. Hanya saja semuanya sudahlah tidak sama. Surga yang
mereka tempati sekarang telah berbeda dari sebelumnya. Segalanya telah berubah,
ikatan yang ada telah terburai dan terjalin menjadi simpul yang lain.
“Nah,
kita sudah sampai. Semoga kau menyukai rumah ini, Onew,” Tuan Song, ayah baru
Onew, menatap putranya itu dengan haru. Terpancar kebahagiaan di wajah pria
paruh baya itu. “Appa, benar-benar senang akhirnya memiliki putra sepertimu,”
katanya bangga.
Onew
hanya mengangguk dan tersenyum atas pujian yang terlontar untuknya. Meski ada
derak-derak kehancuran itu di hatinya, pemuda itu terus saja bersikap seolah
tidak pernah terjadi apa pun. Dia sengaja melakukan itu agar gadis yang menjadi
adik barunya itu tetap bertahan.
“Min-Ah,
antarkan oppa-mu ke kamarnya. Pastikan dia nyaman dengan kamar barunya,” minta
Tuan Song pada putri tunggalnya.
Min-Ah
hanya mengangguk pasrah mendengar perkataan ayahnya. Gadis itu tidak tahu harus
bagaimana bersikap sekarang. “O-onew oppa...” panggilnya penuh kegugupan.
Tuan Song
dan Nyonya Song terkekeh melihat tingkah canggung kedua anak mereka. Tentu
saja, siapa saja yang melihat Onew dan Min-Ah sekarang akan beranggapan sama
dengan Tuan dan Nyonya Song. Keduanya bukan lagi terlihat seperti sepasang
kekasih tetapi seperti kedua orang yang baru dipertemukan dan diharuskan
bersama. Canggung dan kaku!
Namun,
kedua malaikat itu mengabaikan semuanya. Mereka telah menyerah dan mengikuti
takdir. Mengabaikan retakan-retakan yang menghancurkan surga mereka dan tidak
menyadari bahwa hal itu bisa saja membunuh mereka secara perlahan. Tidak adakah
harapan untuk keduanya?
“Aku akan
tetap bersamamu dan menjagamu apa pun yang terjadi,” ucap Onew menggenggam
tangan Min-Ah dengan erat ketika keduanya berada di kamar baru Onew.
Min-Ah
hanya mengangguk menanggapi perkataan Onew baginya semua saja sekarang. “Aku
akan tetap mendengarkanmu, oppa,” balas Min-Ah.
Onew
tersenyum dan membawa Min-Ah ke dalam pelukannya. “Bertahanlah. Aku tahu ini
tidak akan berakhir, setidaknya dengan begini kita akan tetap bersama,” ujar
Onew terus saja menenangkan kekasihnya. Dia sama sekali melupakan bagaimana
hatinya yang sudah berdarah-darah saat ini.
“Aku
menyukaimu, oppa,” bisik Min-Ah seperti oasis di padang pasir bagi Onew. Gadis
itu selalu saja tahu bagaimana mendinginkan hati Onew yang terbakar.
Onew
menatap lembut Min-Ah, “Aku juga akan selalu menyukaimu, Min,” ucapnya sebelum
mempertemukan bibir tipis Min-Ah yang telah menjadi kesukaannya itu. Tanpa
keduanya sadari, airmata mereka ikut jatuh menetes. Kisah yang seharusnya terus
tumbuh, terpaksa harus mengering bersama datangnya musim gugur. Tidakkah ini
terlalu kejam?
As
your guardian, I will block the stiff wind
Even
though people turn their backs to you
If I could become the person
Who
can wipe your tears on a tiring day
It
will be paradise
Onew
memejamkan matanya saat ia memainkan piano di kamarnya. Dia berusaha menikmati
setiap nada yang tercipta dari sentuhan jemarinya. Tanpa dia sadari, Onew
mengeluarkan airmata yang keluar dari sudut matanya.
“Oppa....”
panggil seseorang yang dari luar. Onew langsung menghentikan permainan jemarinya yang beradu dengan
tuts-tust piano. “Boleh aku masuk?” suara itu kembali terdengar.
Onew
menghapus airmatanya yang tadi sempat keluar. “Masuk saja,” jawabnya dengan
suara serak.
Pintu
kamar Onew terbuka dan Min-Ah berjalan masuk. “Kau baik-baik saja, oppa?”
tanyanya khawatir.
Onew
mengangguk pasti dan mengulurkan tangannya pada Min-Ah. Dia lalu membimbing
Min-Ah agar duduk di sampingnya. Senyumnya merekah tak menampakkan seberapa
berat masalah yang ia hadapi sekarang.
“Kenapa
oppa memilih pergi? Bukankah oppa bilang akan tetap bersamaku?”
“Maaf...”
sesal Onew meski senyumnya belum hilang. “Awalnya ku kira semuanya akan
baik-baik saja. Ternyata...aku tak menyangka akan seberat ini,” Onew
menundukkan kepalanya. “Aku mengira terus bersamamu sebagai keluarga itu akan
baik tapi entah mengapa saat aku terus melihatmu sebagai adikku justru sangat
menyakitkan. Aku tak bisa menahan perasaanku yang selalu meluap-luap saat
berdekatan denganmu. Aku sudah menahan ini semua tapi tetap tak bisa.”
“Jadi
oppa menyesal?”
Onew
menggelengkan kepalanya. “Demi kebahagiaan ibu dan ayah, aku tidak menyesal
melakukan ini. Karena apa pun yang terjadi kau tetap bersamaku,” ucap Onew
kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Min-Ah. Menumpukan rasa lelahnya di
sana.
“Meski
aku sebagai adikmu?”
“Ehm, kau
sudah tahu jawabannya kan?” genggaman tangan Onew semakin erat mengikat tangan
Min-Ah, seolah tidak ingin terpisahkan.
“Tapi mengapa
oppa memilih pergi? Onew oppa tahu betapa terkejutnya aku saat ibu
memberitahuku? Tidak hanya terkejut, aku juga merasakan sakit di sini,” ujar
Min-Ah sambil menyentuh dadanya. “Pergi dari rumah sama saja Onew oppa pergi
meninggalkanku,” gadis manis kesayangan Onew itu mulai menangis. Dia mengatakan
semua perasaannya, berharap Onew membatalkan niat untuk kepergiannya.
Onew
menegakkan kepalanya dan menatap lekat-lekat Min-Ah. Tangannya terulur
menghapus airmata yang mengalir di pipi chubby adiknya itu. “Sssh, jangan
menangis~....kau adalah rumahku, tempatku untuk kembali. Kau adalah surga
bagiku. Kau tahu itu kan?”
“Sekalipun
begitu tapi kau tetap kembali sebagai kakakku bukan sebagai kekasihku,” protes
Min-Ah tidak terima. Dia segera bangkit dari duduknya, melepaskan diri dari
sisi Onew. Sungguh dia tidak bisa lagi menerima semua itu. Haruskah membiarkan
cintanya ikut jatuh bersama daun-daun kering yang berjatuhan di musim gugur?
“Apa kau
ingin menyakiti eomma dan appa?” tanya Onew berusaha keras membujuk Min-Ah,
mengindahkan rasa sesak yang memenuhi paru-parunya. Di sini tidak hanya Min-Ah
yang terluka, dirinya juga karena dirinya yang menanggung sebagian besar dari
pilihan yang mereka ambil.
Min-Ah
tak menjawab. Yang terdengar hanyalah isak tangis gadis itu, berulangkali ia
memukul-mukul dadanya yang terasa penuh. “Aku harus bagaimana oppa?” ulangnya
terus menerus sambil terus terisak. “Rasanya di sini sangat sakit. Sakit
sekali.”
Pertahanan
Onew langsung runtuh begitu mendengar pengakuan sakit hati dari adiknya itu.
Airmatanya kembali menetes. Tangannya mengepal kuat-kuat menahan amarah yang
tertuju pada dirinya sendiri. Karena dia tidak berhasil melawan perasaannya
sendiri dan dia tak mampu menjaga Min-Ah sebagai kekasih ataupun adiknya. Onew
tetap membuat Min-Ah menangis karenanya. “Maaf.....” ucapnya. Punggung Onew
terus bergetar. Pemuda itu menangis. Menangis untuk cintanya dan untuk
kebahagiaan keluarganya. Kedua kakak beradik yang dulunya sepasang kekasih itu
sama-sama terpuruk pada perasaan mereka sendiri. Sayap kedua malaikat itu telah
patah bersama derak keruntuhan surga mereka.
Tak lama
kemudian Onew merasakan kalau Min-Ah memeluknya dari belakang. Gadis itu
melingkarkan tangannya di leher Onew dan meletakkan dagunya di kepala kakaknya.
“Jangan menangis, oppa. Bukankah oppa dulu pernah bilang kalau kita harus kuat
demi kebahagiaan ayah dan ibu?” gumam Min-Ah tanpa melonggarkan dekapannya
tersebut.
Onew
mengangguk. “Ne, kau benar.” Pemuda Lee, bukan, pemuda Song itu berusaha
tersenyum setelah tangisnya. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. “Demi ayah
dan ibu,” Onew menggulang ucapan Min-Ah padanya. Menguatkan keyakinannya bahwa
pilihannya tidaklah salah.
“Aku akan
menerima apa pun keputusan oppa tapi.....”
“Tapi
apa?” tanya Onew karena Min-Ah menggantungkan kalimatnya. Dari cermin besar
yang berada di depan piano milikknya, Onew dapat melihat raut sedih Min-Ah
dengan jelas. Tangannya mencengkram erat lengan Min-Ah yang masih melingkar di
lehernya itu.
“Bolehkah
aku memelukmu malam ini sebagai kekasihku? Setidaknya sebelum kau pergi dan
untuk terakhir kalinya?” mohon Min-Ah penuh harap.
Onew
mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Min-Ah kemudian ia kembali
tersenyum sambil mengangguk. “Aku rasa tidak masalah...” ujarnya senang.
Bagaimana pun Onew juga merindukan Min-Ah sebagai kekasihnya setelah kedua
orang tua mereka menikah.
Mendengar
jawaban Onew, Min-Ah langsung tersenyum senang. “Terima kasih, oppa,” katanya
mempererat pelukannya. Onew memejamkan matanya meresapi kehangatan yang
mengalir di seluruh tubuhnya.
“Ehm,
oppa?” tanya Min-Ah memecah lamunan Onew.
“Apa?”
“Kenapa
kau selalu hangat?”
Onew
terdiam, terlihat berpikir. “Mungkin karena kau terus memelukku seperti ini?”
Min-Ah
tertawa pelan. “Benarkah? Rambutmu juga wangi? Kau pakai shampoo apa?”
“Entahlah,
aku pakai apa saja yang eomma beri padaku,” jawab Onew sekenanya. Kebahagiaan
membuncah keluar dari dadanya. Sudah lama dia dan Min-Ah tidak mengobrol
sesantai ini. “Kau ingat lagu yang selalu aku nyanyikan untukmu dulu?” tanya
Onew.
Min-Ah
mengangguk sambil mencium pucuk kepala Onew. “Bukankah Onew oppa tetap
menyanyikannya untukku setiap malam saat aku tertidur...” ciuman Min-Ah
kemudian beralih di pipi putih Onew yang lembut seperti tahu itu.
“Darimana
kau tahu?” tanya Onew heran. Seingatnya kamarnya dan kamar Min-Ah jaraknya
cukup jauh dan dia selalu dengan bersenandung dengan nada yang hampir tak
terdengar.
Min-Ah
menjauhkan wajahnya dari pipi Onew dan menjawab, “Karena angin selalu membawa
suara malaikat oppa itu padaku.” Senyuman kembali terulas di bibir mungil gadis
itu.
Rona
merah langsung menghiasi pipi Onew. “Benarkah?” ujarnya tak percaya. Tangan
Onew terulur meraih tengkuk Min-Ah dan...
Rasanya
manis dan hangat itu langsung melumer menjadi satu di bibirnya. Rasanya yang
sangat dirindukannya setelah sekian lama. Onew akan menyimpan rasa manis ini
dalam-dalam di memorinya. Mungkin saja ini adalah terakhir kalinya dia bisa
merasakannya. Besok dia akan melepas semua perasaannya dengan bebas. ‘Aku harap
malam ini tidak berjalan dengan cepat...’
Tanpa
Onew ataupun Min-Ah sadari nyonya Song, eomma Onew, berada dibalik pintu sambil
mendekap mulutnya kuat-kuat. Berusaha keras agar isakannya tidak sampai keluar.
Sejak tadi nyonya Song memang mendengar apa pun yang dibicarakan kedua buah
hatinya itu. Sebagai seorang ibu, dia juga ikut merasakan sakit yang diderita
Onew dan Min-Ah.
I,
who has fallen in love with no other place to
Go
back, my wings have been talen away (oh no)
Even
though I lost my everlasting life, the reason to my happiness
You
are my eternity Eternally Love
(EXO-K
– Angel)
“Jadi mau sampai
kapan kau akan terus memandangi fotoku seperti itu? Ayolah, aku bahkan belum
berangkat ke bandara,” sebuah suara mengintrupsi kegiatan Min-Ah yang masih
saja memandangi foto Onew di tangannya.
Min-Ah
mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang menganggunya itu. Sejenak seulas
senyum menghiasi wajah cantiknya. “Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu
sebelum masuk, Onew oppa,” protesnya.
Onew hanya
terkekeh mendengarnya. “Baiklah, aku minta maaf tapi...”
“Apa?” tanya
Min-Ah panasaran ketika Onew dengan sengaja memotong kalimatnya.
“Berjanjilah
padaku untuk tidak menangis seperti ini lagi,” dengan lembut jemari Onew
menghapus airmata yang membasahi pipi Min-Ah. “Kau tahu kan aku tidak menyukai
ini?”
Min-Ah mengangguk
patuh dan memaksa untuk tersenyum di depan Onew. “Aku menyukaimu, oppa,”
ucapnya sebelum mengecup bibir Onew sekilas.
“Aku juga,” balas
Onew dan kembali mempertemukan bibir mereka. Biarkanlah mereka kembali
merasakan surga mereka sebentar lagi meski semuanya tidak akan pernah kembali.
~
angel ~
Keramaian bandara
dan orang yang terus berlalu lalang tak bisa menelan begitu saja kesedihan yang
mendera keluarga Song yang melepas kepergian Onew ke Inggris. Ibu Onew terus
saja menggenggam erat tangan kanan putranya itu dan ayah Onew merangkul dengan
sayang Onew seakan tidak rela kalau anak lelakinya itu pergi. Sedangkan Min-Ah
hanya mendengus kesal di belakang mereka. Dia sama sekali tidak diberi celah
untuk berdekatan dengan Onew sama sekali.
Panggilan
keberangkatan membuat sepasang orang tua itu rela melepaskan kontak fisik
mereka dengan Onew. “Ayolah, appa, eomma, jangan seperti ini...” hibur Onew
memandangi ayah dan ibunya secara bergantian. “Aku kan pergi tidak untuk
bersenang-senang.”
Tuan Song
mengangguk mengerti meski raut wajahnya mengatakan tidak. Begitu pula Nyonya Song
yang malah cemberut tak jelas. “Cepatlah
kembali, kami akan sangat merindukanmu..” titah kepala keluarga Song tersebut.
“Dan jika libur
panjang pulanglah ke rumah, sering-sering juga menghubungi kami,” kali ini
nyonya Song yang memberi perintah.
Onew mengangguk
dan memeluk orang yang melahirkannya itu erat-erat. “Aku janji appa, eomma,”
katanya. Kemudian pemuda itu ganti memeluk ayahnya.
“Hem... lalu
giliranku kapan?” tegur Min-Ah yang dari tadi merasa diabaikan. Dia sengaja memasang
muka kesal stadium akhir. “Aku sudah mulai berkarat di sini.”
Onew terkekeh
sambil menghampiri Min-Ah. “Aigo~ my little dongsaeng, aku pasti akan sangat
merindukanmu di sana nanti,” godanya. Onew dan Min-Ah berusaha bersikap normal
sesuai perjanjian mereka semalam.
“Harus. Awas saja
kalau tidak...” ancam Min-Ah sambil memeluk Onew erat-erat.
“Jaga dirimu
baik-baik. Eomma dan appa juga...” pesan Onew membalas pelukan Min-Ah.
Dihirupnya aroma Min-Ah yang menguar dari tubuhnya. Dia pasti akan merindukan saat-saat
seperti ini. Pasti!
Min-Ah
mengangguk, “Aku janji akan menjaga diriku baik-baik tapi kalau eomma dan appa,
aku tak jamin...” kata Min-Ah sembarangan yang langsung berhadiah jitakan dari ayahnya.
“Gyah~ anak
nakal....” serunya.
Onew tertawa melihat
pertengkaran ayah dan putrinya itu. Dia kemudian mengacak-acak rambut Min-Ah.
“Jangan melawan appa dan eomma...” nasehatnya. “Ah~ sudah saatnya...” kata Onew
saat mendengar panggilan operator bandara. “Jangan pernah menungguku Min...”
Onew menunduk dan mencium sekilas sudut bibir Min-Ah. “Aku menyukaimu.”
Bukan Min-Ah yang
terkejut saat Onew melakukan itu tapi Nyonya Song-lah yang kaget. “Hei~ hei~
cepat berangkat anak usil..” omelnya.
“Ah~ eomma gak
asyik...” keluh Onew bersiap. “Aku akan benar-benar merindukan kalian...”
ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Tuan dan Nyonya Song
membalas lambaian Onew sampai pemuda itu hilang ditelan keramaian. Hanya Min-Ah
yang terdiam menatap punggung Onew. Semua ini terasa menyakitkan dan
menyedihkan. Min-Ah sudah tidak bisa menangis lagi. Setelah hari ini, setelah
detik ini, hidupnya akan berubah dan tak akan sama lagi.
Mata Min-Ah
tertutup untuk mengingat kenangannya bersama Onew yang kini telah menjadi
kakaknya. Begitu kelopak mata itu terbuka dan mata indah berwarna cokelat itu
tak lagi menampakkan sinar kehangatan lagi. Tatapan dingin dan datar yang
menggantikannya seolah menyambut musim dingin yang akan tiba. Hati gadis Song
itu telah pergi. Pergi bersama senyum pemuda yang telah menjadi malaikat dan
surga baginya. Kisah yang tumbuh di musim semi itu telah membeku mendahului
musim dingin yang belum menjelang.
~e.n.d~
Note :
Seharusnya ini
menjadi cerita yang memang biasa tumbuh di musim semi bukan berujung kebekuan
seperti musim dingin. Aku sendiri tidak tahu mengapa jadinya malah seperti ini
padahal aku mengawali semuanya dengan senyuman namun malah mengakhirnya dengan
sebuah airmata. Padahal Baekhyun sudah berbaik hati menyanyikan lagu ini dengan
sangat berbunga-bunga. Anggap saja ini bukan spesialisasiku. Sejujurnya aku
merasa geli ketika menulis bagian awal, bukan khas aku...hehehehehe.


