Sabtu, 24 Mei 2014

Mood Swing



Aku menghela nafas. Rasanya begitu sulit hingga dadaku terasa sesak. Ini begitu rumit untuk dijelaskan dibanding rumus segitiga yang pernah kupelajari. Kuabaikan ponselku yang berbunyi nyaring menandakan ada panggilan masuk. Aku memilih menatap langit senja yang seolah mengejekku. ‘Maafkan aku.’

Aku bernafas lega ketika bunyi ponselku tak lagi terdengar. Aku tak peduli itu panggilan kesekian kalinya. Aku tidak bisa menghadapinya sekarang, di saat seperti ini.

Sekali lagi aku menatap sendu ke luar jendela. Aku sudah berpikir ratusan kali tentang hal ini. Mencari penyelesaian masalah yang kuhadapi sekarang. Berulang kali jiwa putus asaku mengatakan jika ini bukan takdirku. Tetapi nyatanya aku sudah terdampar terlalu jauh. Masalah ini, aku harus segera menyelesaikannya tanpa berbalik ke belakang sedikitpun. Aku tak memiliki banyak waktu.

Kuraih ponselku dan memantapkan hati. Namun, sekali lagi ketika melihat apa yang terpampang di layar komputer membuatku kembali ragu.

“Ck, tidak!” runtukku sembari melempar asal ponselku ke meja. Aku mengacak rambutku gusar. Sial! Aku ingin menangis.

Nada dering ponselku kembali berbunyi. ‘Jangan sekarang!’ aku semakin frustasi. Aku merasa diteror secara tidak langsung. Bahkan aku tidak memiliki satu pun ide pembicaraan dengannya. Otak pintarku menjadi tumpul karena masalah ini. Tetapi, bukankah aku tidak bisa mundur lagi?

“Iya...” aku memberanikan diri untuk menjawab panggilan darinya.

“Kemana saja? Kau membuatku khawatir...”

Aku memejamkan mataku ketika mendengarnya mencemaskanku.

“Hei, kau masih di sana?”

“Ehm..” gumamku tak bersemangat.

“Kau baik-baik saja? Haruskah aku....?”

Tidak jangan sekarang! Tanganku mendadak gemetar tanpa alasan. “Kak, dengarkan aku. Kau tahu ini tak mudah. Aku...”

“Kau terlalu lama. Kau tahu bukan aku tak bisa menunggu lagi.”

Aku menundukkan kepalaku dan terdiam beberapa saat. “Tidak bisakah kau menungguku sebentar?”

“Tidak ada waktu lagi. Ini sangat penting!”

“Aku lebih tidak ada waktu lagi!” bentakku. “Aku sedang merevisi proposal skripsiku sekarang. Jadi bisakah kau tenang dan tidak merengek untuk ditemani belanja?”

~e.n.d~



Tulisan ini disertakan dalam giveaway pertama blog newreffi.blogspot.com




2 komentar:

JIM mengatakan...

ending-nya twist...
sudah ku duga, kalo cerita awal-awalnya dilebih-lebihkan gitu, ending mesti kebanyakan twist...

Diah Dwi Arti mengatakan...

bagus ceritanya. skripsi bikin mumet ya

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates