False
Hope
.
.
.
Mata kecokelatan itu memandang sayu ke arah tubuh
yang berbaring di ranjang rumah sakit. Tanpa sadar ia menangis dalam diam.
Gadis berambut kelam itu terlihat sangat menyedihkan dengan jarum infus yang
menancap di tangan kirinya dan alat bantu pernafasan di mulutnya, serta suara
pendeteksi detak jantung yang memekak telinga.
Sosok itu merasa kasihan kepada dirinya sendiri.
Dengan raga yang tertidur selama 4 tahun di tempat tidur rumah sakit, membuatnya
tak bisa melakukan apa pun. Seseorang terus menahannya untuk mengakhiri
semuanya. Jiwanya menjadi tak tenang karenanya.
Suara pintu membuatnya mengalihkan perhatian. Tangan
pucat itu mengepal kuat saat seorang pemuda tampan masuk ke kamar rawat dan menghampiri
tubuh lemah miliknya. Pemuda bernama Kevin Alexander itulah yang membuat dirinya
tak tenang. Kevin sudah merenggut cahaya yang seharusnya menjadi haknya,
malaikat kecilnya.
Kevin tertunduk. Ia bisa melihat airmata yang
mengalir di pipi pemuda itu. Sebuah senyum meremehkan terukir untuk Kevin. Untuk
apa pemuda jahat itu menangis di depannya. Sandiwara apalagi yang tengah Kevin
mainkan sekarang.
“Bagaimana keadaannnya?” tanya seorang wanita paruh
baya pada Kevin.
“Masih tetap sama,” jawab Kevin setengah bergumam.
Suaranya tercekat karena terlalu banyak menangis.
Wanita yang dipanggil ibu oleh Kevin itu berjalan
mendekat. Tangan rentanya mengusap bahu Kevin untuk sekedar memberi kekuatan
pada putranya itu. “Sampai kapan?” tanya ibu Kevin yang ditanggapi gelengan
kepala oleh Kevin. “Ini sudah terlalu lama. Jika kamu sudah tak sanggup
bertahan, relakan dia. Ibu yakin Selena akan merasa sedih jika terus seperti
ini.”
Sosok yang masih saja berdiri di tempatnya itu
mengangguk setuju dengan pendapatan ibu Kevin. ‘Lepaskan alat-alat itu dari tubuhku agar aku bisa meninggalkanmu’.
Namun, Kevin menggelengkan kepalanya. Pemuda itu
benar-benar keras kepala. Sudah 4 tahun, gadis bernama Selena itu terbaring di
sana tanpa kepastian kapan akan terbangun. Dan selama itu pula Kevin terus
yakin Selena akan kembali padanya. “Aku yang membuatnya seperti ini. Aku yang
membiarkannya pergi terlalu jauh. Empat tahun tidak seberapa dibanding dengan
luka yang aku berikan pada Selena sebelumnya,” ujar Kevin tanpa menyadari bahwa
ada yang tidak terima dengan keinginannya itu.
‘Tak bisakah
kau membuat semua ini menjadi lebih mudah?’
**
“Aku akan menikah,” ucap Kevin penuh keyakinan di
depan ayah dan ibunya.
Ayah Kevin mengalihkan pandangannya dari koran yang
ia baca sedangkan ibu Kevin segera meletakkan pisau buah yang beliau pegang.
“Apa maksudmu?” tanya ayah Kevin. “Memangnya mau menikah dengan siapa?”
“Selena. Selena Alexander,” jawab Kevin tanpa
keraguan. Mata cokelatnya menghujam tajam pada sosok gadis yang
memperhatikannya dari lantai dua rumah mereka.
“Apa kau gila?” hardik kepala keluarga Song itu. “Selena
itu saudaramu.”
“Tidak!” bantah Kevin cepat.
“Tapi Selena sudah memiliki kekasih,” kali ini ibu Kevin
yang angkat bicara.
Kevin menggeleng pelan dengan ekspresi wajah yang
tidak bisa ditebak. “Tidak!” sekali lagi Kevin keras kepala. “Sejak dulu Selena
adalah milikku dan selamanya akan seperti itu.”
**
Selena menatap tak percaya ke arah Kevin. “Untuk apa
kamu lakukan itu? Memenuhi obsesimu, hah?” gadis itu terlihat marah. Wajah
memerah karena menahan emosi.
Kevin menatap datar ada Selena. “Karena aku
mencintaimu, apa itu cukup?”
“Kau tidak menyukaiku, Kevin,” bantah Selena.
“Bukankah sejak dulu, kamu adalah satu-satunya yang tidak menerima keberadaanku
di sini?”
Kevin mengusap telinganya santai. “Sudah selesai?
Terserah apa pun yang kau katakan, rencana itu akan tetap berjalan. Aku mau
tidur,” Kevin kemudian melangkah masuk ke kamarnya.
“Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!”
Langkah Kevin terhenti. Pemuda itu kembali
menghampiri Selena. “Itu karena kamu lebih memilih Arya dibanding aku,” ucap Kevin
yang diakhiri sebuah ciuman kecil di bibir Selena.
Selena menatap pintu kamar Kevin yang tertutup
dengan penuh kebencian. Kevin memang menyukainya tetapi hanya sebagai bahan
mainan. Kevin tak pernah sungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
**
Selena itu termenung menatap tubuhnya yang semakin
kurus. Ia tersenyum pedih ketika menyadari betapa miris hidupnya. Menjadi anak
angkat dari sebuah keluarga kaya tidak membuatnya bahagia, sebab kakak angkat
sekaligus putra tunggal keluarga itulah yang menghancurkannya secara perlahan.
Setiap melihat Kevin, rasanya Selena ingin lari dan tak ingin kembali lagi.
Alasan untuk bertahan di sisi pemuda itu sudah menghilang sejak 4 tahun yang
lalu.
Suara langkah kaki yang mendekat dan pintu yang
ditutup membuyarkan lamunan sosok tak kasat mata itu. Selena berdecih pelan
ketika Kevin melangkah mendekati tubuhnya yang masih tenang dalam tidur. Ia
menggeram marah kala Kevin menggenggam erat tangan kurus miliknya. ‘Jangan pernah menyentuhku, Kevin.’
“Bagaimana kabarmu, Selena?” tanya Kevin sembari
mencium punggung tangan Selena yang dingin. “Kamu tahu, hari ini sangat
melelahkan. Ada sedikit masalah di kantor,” cerita Kevin.
‘Tidak ada
hubungannya denganku.’
“Tapi aku berhasil menyelesaikannya. Kamu tahu
kenapa?” seulas senyum terukir di bibir Kevin ketika ia mengingat kejadian
siang tadi. “Aku selalu memikirkanmu karena itu aku bisa menyelesaikan semua
masalah,” ungkap Kevin yang membuat sosok Selena yang berdiri di dekat jendela
itu muak. “Kapan kamu bangun, sayang? Aku sangat merindukan teh madu buatanmu.”
‘Minta saja pada
Vanessa untuk membuatkannya. Bukankah kekasihmu itu sangat pintar membuat teh?’
“Tak ada yang bisa mengalahkan teh buatanmu, sayang.
Bahkan ibu membuatnya terlalu manis hingga aku merasa mual.”
‘Apa peduliku?’
Genggaman Kevin semakin menguat, setetes airmata
kemudian turun menuruni pipi mulusnya. “Aku merindukanmu, Selena. Sangat
merindukanmu,” isak Kevin diantara tangis tanpa suara miliknya. Meski ayah Kevin
selalu mengatakan pria pantang untuk menangis, hal itu tidak berlaku jika
berhubungan dengan Selena. Pemuda berambut kecokelatan itu akan selalu
mengeluarkan airmata ketika ia merindukan sosok yang dicintainya itu.
“Kembalilah, Selena, aku akan menunggumu. Aku sangat mencintaimu.”
Sosok itu terdiam. ‘Mencintaiku? Apa kamu sedang mabuk, Kevin?’
“Aku tidak mabuk, Selena. Sejak dulu aku memang
mencintaimu karena itu aku sangat marah ketika kamu lebih memilih Arya. Aku
begitu kesal saat kamu masih menemui laki-laki itu meski kita sudah menikah,”
sepertinya malam ini Kevin membuat suatu pengakuan. “Kamu milikku, Selena,
selamanya akan begitu.”
Jiwa Selena masih berdiri kaku dan matanya mengarah
pada Kevin yang sekarang berbaring memeluk tubuh lemah miliknya. Sinar mata Selena
menunggu penjelasan Kevin selanjutnya.
Namun, lama ditunggu, Kevin tak juga membuka suara.
Pemuda itu terlihat menikmati kedekatannya dengan Selena yang berada dalam
pelukannya kini. Meski tubuh gadis itu terasa dingin di kulit, tetapi Kevin
bisa merasakan kehangatan yang dibagi Selena padanya. Hati pemuda tampan itu
selalu menghangatkan kala berdekatan dengan sosok yang dicintainya tersebut.
“Aku merindukanmu, Selena. Sangat merindukanmu,” gumam Kevin hingga ia jatuh
tertidur.
‘Hentikan, Kevin.
Jangan pernah mengatakan kau merindukanku lagi. Aku mohon hentikan semua ini
dan biarkan aku pergi.’
**
Sosok itu tersenyum kecil ketika Kevin datang dengan
membawa sebuket bunga mawar putih di tangannya. Kevin terlihat lebih segar
dalam balutan sweater berwarna abu-abu dan celana jins putih sangat pas
membalut kaki jenjangnya. Penampilannya terlihat santai dibanding ketika ia
berkunjung selepas pulang dari kantor.
“Aku bawakan bunga kesukaanmu, apa kamu senang?”
tanya Kevin sebelum mengecup lembut dahi Selena. “Huh, baru beberapa jam saja
aku sudah merindukanmu, sayang,” ungkap Kevin tanpa menghentikan kegiatannya
mengisi air dalam vas bunga di meja nakas. Kevin baru beberapa jam lalu pulang
ke rumahnya setelah tiga hari penuh menginap di rumah sakit. “Ibu masih belum
pulang dari Jepang jadi jangan bosan jika aku terus menjagamu seminggu ini.”
Bibir mungil itu mengukir senyum kecil saat
mendengar candaan Kevin. Hatinya menghangat melihat betapa keras kepalanya Kevin
untuk mempertahankannya. Meski derak keretakan itu masih terdengar di
telinganya.
Namun, senyum indah itu tak bertahan terlalu lama.
Sebuah suara mengusik ketenangan yang terjadi diantara dirinya dan Kevin. Kevin
segera beranjak keluar ruangan ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya.
Wajahnya mengeras saat mendapati seorang anak kecil berlari memeluknya.
Buru-buru Kevin menutup pintu kamar rawat Selena,
seolah ia takut gadis kesayangannya itu tahu pembicaraan yang akan terjadi
antara anak kecil yang memeluknya dan seorang wanita berambut cokelat terang
yang berada di belakang anak kecil tadi.
“Papa....” lelaki kecil berusia 4 tahun itu merajuk
tanpa melepaskan pelukannya pada Kevin.
Kevin memejamkan matanya rapat-rapat untuk menahan
amarahnya. “Mengapa kamu membawa Romeo kemari, Vanessa? Bukankah aku sudah
melarangmu sebelumnya?” desis Kevin pada sosok Vanessa yang tertunduk bersalah.
“Maafkan aku, Kevin. Aku sudah melarangnya tetapi Romeo
bersikeras. Ia ingin bertemu ayahnya. Kamu tidak pulang tiga hari ini dan
ketika kamu berada di rumah tadi, ia sedang bermain di taman,” jelas Vanessa.
“Tapi kamu bisa menghubungiku dulu.”
“Papa jangan marah. Romeo yang memaksa untuk
menyusul ayah kemari,” rajuk Romeo yang menatap Kevin dengan mata bulatnya yang
berbinar-binar. “Romeo merindukan papa. Romeo tidak ada teman bermain jika papa
tidak pulang.”
Mau tak mau Kevin tersenyum lembut. Kevin memang tak
pernah menang saat Romeo menatapnya dengan tatapan memohon. Mata bulat anak itu
sangat mirip dengan mata indah milik Selena. “Baiklah, maaf diterima,” kata Kevin
yang kemudian membawa Romeo dalam gendongannya. “Vanessa, kamu bisa pulang. Tak
perlu khawatir, untuk hari ini Romeo akan bersamaku.”
Tanpa ada yang menyadari bahwa ada sosok lain yang
meringis melihat kejadian tersebut. Ia kembali menangis untuk kesekian kalinya.
‘Bagaimana aku melupakan kehadiran Vanessa
dan putera kalian? Jangan pernah lagi mengatakan kamu mencintaiku, Kevin. Jika
kamu tidak ingin mengakhirinya, biarkan aku yang melakukannya.’
Tubuh Kevin yang baru masuk ke dalam ruangan Selena
seketika menegang ketika mendapati tubuh istrinya itu mengejang. Seperti
kesetanan, ia memencet tombol di samping ranjang dengan brutal. Kevin tidak
lagi peduli dengan keberadaan Romeo yang sedang bersamanya. Telinga Kevin
seolah tuli dari suara tangisan Romeo yang ketakutan, kondisi Selena lebih
penting dari apa pun sekarang.
‘Buatlah semua
ini mudah, Kevin. Aku ingin pergi.’
Dekapan Kevin pada Romeo semakin mengerat. Wajah
tampan Kevin terlihat pias dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Sedangkan jemari mungil Romeo mencengkram kuat lengan sweater Kevin. Air muka
bocah laki-laki itu terlihat takut. Beberapa kali mata bulatnya menatap bergantian
ke arah Kevin dan pintu ruangan Selena yang masih tertutup rapat. Dokter yang
datang tadi belum juga keluar dari sana. “Jangan tinggalkan aku, Selena. Aku
mencintaimu,” gumam Kevin berulang-ulang seperti sebuah mantera.
**
‘Aku tidak
pernah menginginkan akhir yang seperti ini. Namun, aku kira ini yang terbaik,
tidak ada gunanya lagi kamu mempertahankanku. Itu akan menyakitkan untuk kita
berdua.’
Sosok itu menatap Kevin yang tertunduk di lantai
setelah dokter menjelaskan keadaan Selena. Ia bisa mendengar Kevin berteriak
untuk mempertahankannya untuk tetap hidup, tetapi nyatanya Selena sama sekali
tidak ingin bertahan. Meski ia juga menangis bersama Kevin ketika dokter
menggelengkan kepalanya untuk menolak keinginan Kevin. Inilah akhirnya.
‘Selamat
tinggal, Kevin.’
Suara pintu yang dibuka secara paksa membuat Selena
menoleh. Awalnya ia mengira Kevin yang memaksa masuk tetapi yang datang
ternyata Romeo. Sosok Selena terlihat kebingungan saat melihat Romeo yang
menangis meraung mengoncang-goncangkan tubuhnya yang tertidur. Bahkan bocah
kecil itu nekat naik ke atas tempat tidur dan memeluk Selena erat-erat seakan
takut Selena akan menghilang.
“Mama....” isak Romeo tanpa peduli lelehan cair dari
hidungnya telah bercampur menjadi satu dengan airmatanya. “Jangan pergi. Jangan
tinggalkan, Romeo. Apa mama tidak mau melihat Romeo dan bermain bersama Romeo?”
bocah laki-laki berusia 4 tahun itu semakin erat memeluk Selena.
“Mamaaaaaa......”
Selena mengerjap bingung, adakah yang terlewat
olehnya selama ini. Entah mengapa ia ikut menangis bersama Romeo. ‘Ma-Mama?’
Pada akhirnya suara pendeteksi detak jantung itu
berteriak mengerikan diiringi garis lurus yang tergambar di sana. Mesin itu
yang menjawab penantian Kevin dan tangisan Romeo, bukan suara Selena sesuai
harapan mereka.
I guess I loved
you. I am crying again. I hate you to death but I can’t erase you. Don’t look
at me with those eyes. Don’t say that you loved me, don’t do that. (False Hope
– Song Ji Eun)
****

0 komentar:
Posting Komentar